RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
bab 72. Jordan Genea


__ADS_3

Jordan Genea, seorang pria yang memiliki hati bagai iblis yang rela melakukan apapun demi harta dan tahta. Dia mendekati Putri Wiratama karena ada maksud dan tujuan bukan semata-mata karena dia cinta dan sayang. Dia tahu Wiratama hanya memiliki satu orang putri yang berwajah cantik dan juga berhati lembut. Sebelum Dia mendekati putri dari bosnya tersebut Jordan sangat pandai mengambil hati dari Wiratama hingga dia luluh dan mau mengenalkan Jordan kepada Putri tunggalnya dan dia sangat setuju jika Jordan menjadi suami dari putrinya tersebut.


"Papih harap, kamu bisa menjalin hubungan lebih serius lagi dengan Jordan. Dia anak baik. Dia pekerja keras, dan Papi yakin dia bisa memimpin perusahaan kita." Senyum lebar terukir di wajah Wiratama.


Awalnya putri dari Wiratama menolak. Namun, ketika ayahnya berbicara penuh dengan permohonan dan juga menaruh harapan besar, dia pun mulai luluh. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan ayahnya karena yang dia miliki di dunia ini hanyalah ayahnya. Orang yang selalu berkorban untuknya dan selalu ada untuknya. Sang ibu entah pergi ke mana. Dia tidak merasakan sentuhan hangat tangan seorang ibu sendiri dia kecil. Dia hanya merasakan sentuhan hangat dan kasih sayang yang tulus dari seorang ayah, yakni Wiratama.


Ketika sang putri sudah mulai jatuh cinta kepada Jordan. Wiratama mendapatkan kenyataan pahit tentang Jordan. Dia mendapat fakta tentang kehidupan Jordan Genea yang ternyata bukanlah seorang bujangan, melainkan seorang pria beristri dan beranak satu. Sungguh Wiratama sangat terkejut dan hampir terkena serangan jantung.


Sayangnya, dia mengetahui fakta tersebut sebulan sebelum pernikahan putri tunggalnya. Dia gamang apakah dia akan melanjutkan atau menyudahi hubungan putrinya bersama Jordan. Namun, melihat wajah putrinya yang selalu berseri setiap kali bertemu dengan Jordan, Wiratama merasa tidak tega jika harus memisahkan putrinya dengan Jordan. Dia mengambil sebuah keputusan jika dia yang akan membuat perjanjian dengan Jordan.


Sebelum perjanjian itu dibuat, Wiratama mencari tahu terlebih dahulu tentang keluarga kecil Jordan. Keluarga kecil mereka nampak bahagia apalagi ketika Jordan pulang bekerja dan disambut hangat oleh istri dan juga anaknya yang masih berusia 1 tahun. Wajah Jordan pun akan tersenyum gembira ketika melihat anaknya meminta digendong. Anak Jordan berjenis kelamin perempuan, dan sangat terlihat bahwa Jordan sangat menyayangi anak itu. Ternyata usut punya usut Jordan memang senang dengan anak perempuan dan lebih cenderung tidak menyukai anak laki-laki. Alasannya apa? Wiratama pun belum tahu.


Tak lama berselang, Wiratama memanggil Jordan untuk menghadapnya. Jordan tersenyum hangat ketika bertemu dengan Wiratama dan duduk di seberangnya. Namun, wajah Wiratama sudah sangat tegang dan terlihat emosi. Sebisa mungkin dia mencoba untuk menahannya. Wiratama melempar sebuah foto ke atas meja, sontak mata Jordan melebar dengan sempurna.


"Jelaskan!" Satu buah kata yang terdengar sangat menyeramkan. Jordan pun terdiam, dia belum bisa membuka mulut.


"Kamu sudah menikah. Kenapa kamu masih ingin dekat dengan putri saya? Dan malah meminta putri saya untuk menjadi istri kamu." Emosi sudah meluap, ingin rasanya dia menonjok wajah Jordan yang di matanya sudah sangat keterlaluan. Beraninya mencintaimputri tunggalnya sedangkan dia sendiri sudah memiliki istri dan anak.


"Karena saya mencintai putri, Bapak. Saya sungguh mencintainya, Pak." Jordan berkata dengan sangat serius. "Pernikahan saya dengan istri saya adalah pernikahan paksa. Saya dituntut untuk pura-pura bahagia di depan siapapun. Pada nyatanya, saya terkekang saya tidak bahagia. Saya ingin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan putri Bapak. Wanita yang saya cintai."


Jordan terus meyakini Wiratama dengan ucapan seriusnya. Wajah Jordan pun penuh dengan kejujuran.


"Apa benar yang dia katakan?"


"Saya sangat mencintai putri Bapak. Saya mohon jangan pisahkan kami, Pak. Saya bisa gila jika tidak bisa melihat putri Bapak. Saya sangat mencintainya." Jordan sampai bersujud di kaki Wiratama.


"Kami saling mencintai. Apakah Bapak tega memisahkan kami berdua hanya karena status saya yang tidak sendiri?" Posisi Jordan masih bersujud di ujung sepau Wiratama.


Wiratama hanya menghela nafas kasar. Dia sudah memikirkan ini secara matang. Sebuah keputusan yang sudah dia buat, yakni sebuah perjanjian di atas materai dengan seorang Jordan Genea.


"Baiklah. Jika, kamu mencintai putri saya, saya akan merestui kamu menikahi putri saya. Namun, dengan satu syarat." Tegas dan penuh penekanan ucaoan dari Wiratama tersebut.


"Apa Pak syaratnya?"" Jordan sangat antusias.


"Ceraikan istri pertama kamu."


Duar!


Sebuah syarat yang sulit untuk Jordan penuhi. Apalagi, sekarang Wiratama sudah menyodorkan sebuah kertas ke depan Jordan.


"SURAT PERJANJIAN."


Jordan tidak bisa berkutik. Melihat Jordan yang tidak bereaksi membuat Wiratama sedikit yakin jika Jordan akan menolaknya. Namun, dugaan Wiratama salah. Jordan menyanggupinya dan segera menandatangani surat perjanjian tersebut.


"Secepatnya saya akan mengurus perceraian saya dengan istri saya. Setelah selesai, saya akan segera menyerahkan akta cerai kepada bapak agar busa secepatnya bisa menikahi putri Bapak yang sangat saya cintai."


Jordan tidak main-main dengan ucapannya. Dua hari kemudian, dia menyerahkan akta cerai kepada Wiratama. Kegamangan Wiratama akhirnya sirna dan berubah menjadi percaya kembali. Di matanya, Jordan adalah pria sejati. Dia pria yang tidak banyak bicara, tapi lebih mengutamakan bukti. Wiratama pun sudah mencari tahu perihal istri dari Jordan kabar yang dia dapat ternyata benar mereka sudah bercerai dan istrinya sudah kembali ke kampung


Acara yang Jordan nantikan akhirnya terwujud. Dia berhasil menikahi Putri tunggal dari Wiratama yang nantinya akan menjadi penerus tunggal dari Wiratama grup. Raut bahagia terpancar di wajahnya begitu juga dengan sang istri tercinta. Melihat kebahagiaan sang putri tunggalnya membuat Wiratama menitikan air mata kebahagiaan. Bagaimana tidak, dia susah payah membesarkan sang putri seorang diri dan kini dia harus sudah melepasnya dengan ikhlas karena sang putri sudah menemukan kebahagiaannya.


Rumah tangga putrinya terlihat baik-baik saja dan cenderung mesra. Wiratama sangat bahagia ketika senyum putrinya tidak pernah luntur jika bersama dengan suaminya. Manjanya sang Putri tidak membuat jordan risih, Wiratama lega akan hal itu


"Nak, apa kamu bahagia dengan suami kamu? Apa kamu lebih bahagia sebelum menikah?" Wiratama sempat menanyakan hal itu kepada sang putri


Wanita cantik yang jarang bicara itu menjawab pertanyaan dari ayahnya dengan sebuah senyum yang begitu lebar, menandakan dia memang bahagia dia pun menggenggam tangan sang ayah. Orang tua satu-satunya yang dia miliki saat ini


"Aku sangat bahagia, Pih. Aku bahagia sekali bisa mengenal Jordan di dalam hidup aku. Dia memberikan cinta yang besar kepadaku dan sangat menyayangiku sama seperti Papih."

__ADS_1


Rumah tangga sang putri yang dikira Wiratama baik-baik saja, ternyata menyimpan kebohongan dari sisi Jordan. Hal itu terungkap ketika ada seorang wanita yang Wiratama ketahui datang ke rumahnya. Dia bersujud di kaki Wiratama dan mengatakan bahwa dia hamil anak kedua dari Jordan. Bak disambar petir di siang bolong, Wiratama shock.


"Maksudnya apa? Bukankah kalian sudah bercerai?" sergah Wiratama. Dia masih menyimpan akta cerai yang Jordan berikan.


"Tidak, Tuan. Kami tidak bercerai. Kami hanya menjalani hubungan jarak jauh. Saya di kampung dan Mas Jordan di sini."


"Kurang ajar!!" Wiratama sangat geram. Dia benar-benar marah sekarang.


Wiratama merasa dibohongi oleh menantunya sendiri. Satu jam berselang, dia mendapat kabar bahwa uang perusahaan di korupsi oleh Jordan. sungguh emosinya makin meletup-letup. Dia ingin marah, tapi dia masih menahan. Ketika istri Jordan datang, Ingin rasanya Dia memakai istri Jordan, tapi dia wanita. Tidak pantas seorang laki-laki mengatakan hal kasar kepada seorang wanita. Belum juga irama jantung Wiratama normal, sang putri mendekat ke arahnya. Dia tersenyum seraya membawa sesuatu yang dia sembunyikan di belakang.


"Bawa apa?" tanya Wiratama. Dia harus bisa mengatur emosinya.


Sang putri pun duduk di samping Wiratama. Kemudian, memberikan kotak berukuran sedang kepada sang ayah. Ketika Wiratama membuaknya, tubuhnya seketika menegang. Harusnya dia bahagia, tapi ini malah sebaliknya.


"Sebentar lagi Papih akan punya cucu." Sang putri terlihat sangat antusias.


"Ya Tuhan, kenapa ini bisa terjadi?" Wiratama mengerang di dalam hati.


Istri sah Jordan tengah hamil dan putrinya pun telah hamil. Apa yang harus dia lakukan?


Kemurkaan Wiratama terjadi ketika dia melihat Jordan. Tanpa kata dia segera menghajar wajah dan tubuh Jordan dengan membabi-buta. Hingga menyebabkan gigi Jordan patah.


"Laki-laki berengsek!" seru Wiratama.


Wiratama menginginkan putri tunggalnya berpisah dengan Jordan. Namun, melihat di sisi psikis juga cucunya kelak, dia mengurungkan niatannya. Dia tidak ingin sang cucu tidak memiliki ayah.


Tujuh bulan berselang, akhirnya cucu pertama Wiratama lahir ke dunia. Sayangnya, sang ayah tidak bisa melihat pertama kali darah dagingnya hadir ke dunia dengan berkulit merah dan berbola mata berwarna coklat. Dia beralasan sedang ada pekerjaan di luar. Pada nyatanya istri pertamanya juga sama sedang melahirkan anak kedua mereka. Dia lebih memilih istri pertama dibandingkan putri dari Wiratama.


Melihat bayi laki-laki membuat Jordan merasa risih dan ingin menyingkirkan anak itu. Apalagi ketika seorang perawat menyuruhnya untuk menggendong sang putra. Ingin rasanya Dia melempar atau membanting bayi yang ada di tangannya. Namun, masih dia tahan demi sebuah harta dan juga tahta


Kebohongan Jordan masih Wiratama tutupi dari sang Putri. Satu tahun berlalu rumah tangga mereka masih adem ayem . Jarang terkena masalah ataupun bertengkar. Kehadiran sang putra membawa kebahagiaan tersendiri bagi anak Wiratama. Beda halnya dengan Jordan. Dia sangat tidak menyukai putranya. Dia ingin segera menyingkirkan putranya karena dia tahu esok, lusa, putranya yang akan menjadi penghalang untuknya.


"Enggak tahu atuh," jawab Jordan. "Kemarin juga nggak apa-apa kok."


Sekali dua kali hal itu terjadi, ibu dari anak itu merasa biasa apalagi anaknya bisa dibilang sangat aktif. Jadi, dia tidak bisa menyalahkan siapapun. Namun, ada sebuah luka yang membuatnya menukikan kedua alisnya dan berpikir sangat keras. Luka lebam yang begitu besar seperti luka dipukul oleh benda tumpul.


Pada usia anaknya jalan 2 tahun, putri dari Wiratama mendapati kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan yang begitu menyakitkan bahwa sang suami sudah memiliki istri dan memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya dengan wanita lain sebelumnya. Shock sudah pasti. Setahun pernikahannya dia mulai menaruh curiga kepada suaminya yang terlihat sangat perhatian jika menghubungi seseorang. Dia mencoba untuk membuka ponsel suaminya dan ternyata sebuah foto keluarga kecil yang menjadi wallpaper ponsel Jordan.


"Siapa mereka?" Dahi putri Wiratama mengkerut. Dia melihat ada kemiripan dari anak-anak yang seperti kembar yang tengah suaminya Gendong.


Rasa penasaran terus membuncah hingga dia menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu perihal wanita tersebut.


"Bapak sudah menikah, Bu. Itu istri dan kedua anaknya, yang paling kecil seusia putra Ibu."


Air mata menetes begitu saja. Hatinya sangat sakit mendengar itu semua. Dia hampir saja pingsan jika tidak ditahan.


"Kenapa dia begitu jahat?" Suaras istri Jordan mulai melemah.


"Tuan juga sudah tahu akan hal ini."


Duar!


Kanyataan apa lagi yang dia ketahui? Ayahnya tahu, tapi ayahnya menutup mulutnya. Semakin sakit hari sang putri.


Dengan wajah sembab, mata nanar, dia menemui ayahnya. Wiratama terkejut, dan bingung.


"Kamu kenapa, Nak?"

__ADS_1


"Kenapa Papih jahat? Kenapa Papih menyembunyikan kenyataan yang pahit dari aku? Kenapa Pih?"


Wiratama masih menayambungkan apa yang dimaksud ini. Dia masih belum mengerti. Hingga sang putri menunjukkan foto keluarga kecil suaminya dan Wiratama pun terkejut bukan main.


"Kalian jahat!!"


Anak dari Wiratama pergi begitu saja dengan wajah yang basah. Dia menyimpan. kekecewaan yang luar biasa. Hatinya sangat sakit hingga dia memutuskan untuk pergi dari rumah.


"Ma-mih. Mih-Mih."


Suara balita yang mengejarnya sebab lari kecil tak dia hiraukan. Dia pergi begitu saja dan membuat sang putra menangis keras.


"Maafkan Mamih, Nak. Berikan Mamih untuk menenangkan hati dan pikiran."


Wiratama dan Jordan sibuk mencari perempuan yang kabur sudah tiga hari berlalu. Semua anak buah Wiratama sudah dikerahkan. Namun, belum menemukan titik temu. Anak laki-laki terus menangis memanggil-manggil sang ibu. Itu membuat Jordan geram. Dia membawa anak kandungnya ke dalam kamar mandi. Memasukkannya ke dalam bak manis berisi air yang penuh hingga anak itu sulit bernapas.


"Ini semua karena kamu, Bocah siyalan!"


Semenjak kepergian sang bunda anak itu sering mendapat perlakuan kasar. Wiratama yang memang fokus mencari putrinya sedikit melupakan sang cucu. Tubuh balita berusia dua tahun sudah penuh luka lebam. Dia kelaparan, dia kehausan dan dia dikurung di kamar. Tidak ada yang boleh memberinya makan. Itulah peringan Jordan kepada asisten rumah tangga rumah Wiratama.


Satu bulan berselang, akhirnya putri Wiratama ditemukan. Namun, dalam keadaan tewas di sebuah jurang. Mobil yang dia bawa sudah masuk ke dalam jurang dan memang ada kerangka manusia di sana. Hati orang tua mana yang tidak sakit. Begitulah yang dirasakan Wiratama. Jordan, dia tersenyum. Dia merasa sangat senang.


Ketika pemakaman selesai, Wiratama yang baru saja menginjakkan kaki di rumah mendapat kabar jikalau cucunya masuk rumah sakit karena lemas. Jika, terlambat dibawa ke rumah sakit sudah pasti hal fatal yang didapati. Melihat betapa sedihnya keadaan sang cucu membaut Wiatama sang murka.


"Jordan!!!"


Hasil visum mengatakan bahwa balita berusia dua tahun itu memang mengalami luka kekerasan. Banyak sekali luka membiru di tubuh anak itu. Tanpa berpikir panjang, Wiratama melaporkan Jordan dan alhasil dia dipenjara selama lima tahun.


Jordan menyimpan dendam kepada Wiratama. Selama di penjara dia menyusun startegi untuk menghabisi pria paruh baya itu. Strategi yang sangat epik dan tinggal dijalankan saja.


Lima tahun berlalu, Jordan Nisa menghirup udara bebas. Susunan startegi sudah dia siapkan. Tinggal eksekusi. Drama penculikan terjadi. Wiratama terus berteriak karena bukan hanya dia yang menjadi korban penculikan itu. Cucunya lun ikut serta diculik lelah ayah kandungnya.


"Berteriak lagi timah panas ini akan menembus kepala cucu Anda. " Jordan sudah mengarahkan pistol ke pelipis sebelah kiri sang putra.


"Kakek diam saja. Aku gak apa-apa." Jordan berdecih.


"Sok jadi pahlawan rupanya." Dia pun menendang kuat kaki sang putra hingga dia tersungkur dan sontak Wiratama berteriak. Dia mencaci maki Jordan hingga amarah Jordan keluar.


Dia menyuruh putranya berdiri dan menyuruh anak itu untuk memegang pistol. "Enggak, aku gak mau." Dia menolak, tapi Jordan tetap memaksa. Hingga sebuah kesempatan pun tiba.


Terdengarlah suara tembakan dan mata putra dari Jordan melebar ketika melihat kakeknya bersimbah darah.


"Kakek!"


"Wah, wah, wah. Kamu jahat sekali, membunuh Kakek mu sendiri."


"Bukan aku yang memantik pistol aku. Tanganku digerakkan oleh kamu." Anak itu mengelak.


"Tapi, lihatlah. Pistol itu ada di tangan kamu." Tubuh anak itu bergetar hebat. Ditambah dia melihat darah segar mengalir begitu deras.


"E-enggak. Ini kamu yang nyuruh."


Sirine mobil polisi pun terdengar. Jordan tersenyum penuh kemenangan. "Siap-siap menyusul Kakek kamu ke neraka."


...


Wajah Jordan sudah tak berbentuk. Para tahanan sangat senang karena bisa memukuli Jordan dengan sesuka hati. Sengaja, para orang yang pernah dirugikan oleh Jordan dan masuk ke dalam jeruji besi tanpa sebab yang jelas dikerahkan oleh orang suruhan Rindra untuk menghabisi Jordan. Bukan tanpa sebab, Rindra sudah muak karena Jordan mulai merusak psikis dan mental putra pertamanya.

__ADS_1


"Tidak akan pernah gua biarkan lu merusak apa yang ada di dalam diri anak gua."


__ADS_2