
Aleesa menghubungi Restu karena baru kali ini berkumpulnya dia dengan kedua saudaranya malah membawa ketidaknyamanan. Setengah jam berlalu, Restu sudah berada di rumah Aleesa. Wajah tunangannya sudah terlihat kesal.
"Kenapa?" Restu sudah menarik tangan Aleesa
agar masuk ke dalam pelukannya.
"Aku gak ingin di sini. Bawa aku pergi." Restu pun mengangguk.
"Aku ijin dulu sama Baba, ya."
.
Ayah mana yang tidak sedih melihat ketiga anaknya kini sudah tidak kompak lagi. Radit menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia tengah memandang foto ketiga anaknya yang masih berumur lima tahun, sangat kompak. Beda dengan sekarang.
"Kenapa kalian kini tidak seperti dulu? Baba rindu kalian, anak-anak kecil milik Baba." Radit menunduk dalam. Waktu seakan cepat sekali berputar. Anak-anaknya kini sudah besar dan sudah ada yang tunangan.
Hembusan napas kasar luar dari mulut Radit. Dia mengambil sesuatu di dalam laci meja kerjanya. Jika, mendengar rekaman ini hatinya akan sangat sakit.
"Baba janji akan melakukan yang terbaik untuk kamu, Kakak Na. Baba diam bukan Baba gak tahu, tapi belum saatnya Baba bertindak."
Ting! Sebuah pesan masuk dan Radit sedikit merasa lega ketika Aleena sudah bersama Rangga, anak angkat dari Aksara.
.
Wajah Aleesa sedari tadi ditekuk. Restu meraih tangan Aleesa dan mampu membuat Aleesa menoleh.
"Kok aku dicemberutin terus," ujarnya. Aleesa malah merangkul manja lengan Restu yang tengah melajukan mobil.
"Kita ke apartment aja, ya." Aleesa pun mengangguk.
Tibanya di sana, Restu memeluk tubuh Aleesa dari belakang. Meletakkan dagunya di bahu Aleesa.
"Besok aku mulai magang di kantor Papih." Aleesa menoleh ke arah Restu. Dia mulai membalikkan tubuhnya dan menatap Restu dengan begitu dalam.
"Kamu gak malu 'kan punya calon suami yang baru cari kerja?" Aleesa malah tertawa. Dia mencium gemas bibir Restu dengan singkat. Restu pun tersenyum.
"Aku gak malu, Bie. Karyawan magang, tapi punya apartment tiga puluh M." Restu malah tertawa dan mencium gemas ujung kepala Aleesa.
Restu sudah membopong tubuh Aleesa dan meletakkannya di atas tempat tidur besar di sana.
"Bie--" Ada raut takut di wajah Aleesa.
"Aku gak akan macam-macam Lovely. Kita hanya akan tidur berdua di sini. Hanya tidur dan tidak melakukan apa-apa." Dekapan hangat Restu membuat Aleesa yang masih terlihat ketakutan kini malah tertidur dengan begitu lelap. Restu tersenyum melihat tunangannya yang merasa nyaman.
"Ketika bersamaku tidak akan aku biarkan kamu kesal, sedih apalagi mengeluarkan air mata. Aku akan selalu buat kamu bahagia dan tertawa." Kecupan hangat Restu berikan di kening Aleesa.
.
Aleena, matanya sudah sembab dan tak berani untuk pulang. Dia pasti akan ditanya oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Makan dulu yuk." Rangga sudah membuka suara. Ya, laki-laki yang menawarkan punggungnya itu adalah Rangga. "Tapi, aku cuma bawa motor." Rangga takut jika Aleena akan menolak.
Aleena masih terdiam, tapi melihat tatapan mata Rangga membuatnya merasa memiliki hutang.
"Kalau gak mau, aku antar pulang." Rangga lupa jika Aleena bukanlah perempuan yang mudah diajak pergi.
"Aku telepon Baba dulu, ya. Takut Baba nyariin." Rangga tersenyum dan mengangguk. Sejenak Aleena terpesona akan ketampanan dari Rangga. Senyumnya begitu manis. Wajahnya pun semakin tampan.
Setelah ijin didapat, Rangga membawa Aleena menuju satu tempat di mana mereka bisa makan dengan suasana seru. Aleena terkejut ketika melihat Rangga melepas jaketnya dan memberikannya kepada Aleena.
"Masih bersih kok." Jaket Rangga belum diraih oleh Aleena.
"Kamu pakai apa?" tanya Aleena.
"Gak apa-apa. Itu kamu pakai aja. Udara di luar dingin apalagi kalau naik motor." Aleena terdiam mendengarnya. Betapa tulusnya seorang Rangga kepadanya.
Rangga merasa ini seperti mimpi, di mana dia bisa membonceng Aleena dan Aleena pun memakai jaket yang dia miliki.
"Jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini, Tuhan." .
Tibanya di tempat yang cukup ramai itu Aleena sedikit terkejut. Tempat di mana ketika kecil dia selalu dibawa oleh sang paman untuk makan Aneka sate-satean di sini. Tempat yang masih sama dan juga ramai.
Rangga melihat Aleena melengkungkan senyum. Itu membuat Rangga ikut mengukirkan senyum kecil yang nyaris tak terlihat. Padahal hari biasa, tapi ramai pembeli hingga tubuh Aleena terdorong dan membentur punggung Rangga. Rangga dengan sigap langsung meraih tangan Aleena dan membawanya menjauh dari keramaian itu. Sedari tadi Aleena fokus pada tangan Rangga yang menggenggam tangannya. Dia terus memperhatikan tangannya yang tengah bertaut.
"Maaf."
Aleena sedikit terkejut dengan ucapan dari Rangga. Dia tidak menyangka jika Rangga sesopan itu. Aleena hanya menyunggingkan senyum.
"Aku mau pilih sendiri."
Rangga seperti melihat Aleena yang berbeda sekarang. Dia bagai anak kecil yang terlihat riang gembira.
"Makasih Om Aska, sudah memberitahu tempat di mana Aleena akan melupakan kesedihannya sejenak."
Rangga menggelengkan kepala ketika melihat isi piring Aleena. Namun, dia enggan berkata. Hanya bisa memandang dengan rasa bahagia.
"Tuhan, bisakah nanti aku mengulang momen ini lagi bersama dia?"
Sebuah doa yang penuh harap yang Rangga panjatkan. Dia kira dia seperti langit dan bumi dengan Aleena, tapi sekarang malah bisa sedekat ini.
"Mau gak? Enak loh." Aleena sudah menyodorkan satu tusuk sate kepada Rangga.
Banyak canda tawa yang tercipta di sana. Aleena seperti tengah melupakan apa yang dia rasakan. Ditambah pengamen jalanan yang menyanyikan lagu plesetan yang membuat Aleena dan Rangga tertawa bersama.
🎶
Kamu berbohong aku pun percaya
Kamu percaya aku bohongin
__ADS_1
Coba kau pikir
Kamu berbohong masa aku diemin
Kau tinggalkan aku
Kupersilahkan
Dengan yang lain kupersilahkan
Tak usah tanya kenapa
Aku pengennya udahan
Tawa Aleena begitu lepas dan membuat Rangga menatap kagum pada perempuan di sampingnya. Apalagi Aleena tertawa sampai memegang tangan Rangga.
"Tuhan, bisakah aku memilikinya?"
Jam satu malam Aleena baru tiba di rumah. Ada rasa takut di hatinya jika sang ayah akan marah. Namun, tidak ada masalah. Rangga pergi setelah Aleena masuk ke rumah dengan aman.
Namun, langkah Aleena terhenti di undakan anak tangga ketika melihat Aleeya yang sudah berada di undakan anak tangga paling atas.
"Apa di Singapura sering juga Kakak pulang malam seperti ini?" Pertanyaan sinis yang membuat Aleena menghela napas kesal.
"Sama laki-laki lagi." Aleeya menunjukkan foto kepada Aleena. Di mana Aleena tengah tertawa seraya melirik ke arah Rangga yang juga tengah tertawa.
Aleena tidak menggubris perkataan Aleeya. Dia memilih melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya. Namun, tangannya dicekal oleh Aleeya.
"Yaya kasih ke Baba, ya." Aleeya sudah mengancam.
"Silahkan. Sebelumnya aku sudah ijin ke Baba," jawabnya. "Asal kamu tahu, ya. Ketika aku di Singapura pun setiap aku keluar pasti ijin kepada Baba dan Bubu." Aleena pun pergi begitu saja. Dia adalah orang yang menghindari pertengkaran. Beda halnya dengan Aleesa.
.
Rangga baru saja mengantarkan adik bungsunya, yakni Ghea ke sekolah. Dia merajuk karena tidak ingin diantar oleh Pak Joe.
"Makasih, Kak Rangga." Anak yang begitu manis dan juga cantik.
"Belajar yang bener, ya." Ghea pun mengangguk.
Di perjalanan pulang, dia melihat jelas sebuah motor tengah dihadang oleh sebuah mobil hitam mengkilap. Dua orang berbadan tegap menahannya dan seorang pria paruh baya sudah keluar dari mobil dan memukulkan tomgkatnya ke tubuh pria itu. Rangga langsung menghentikan mobilnya. Dia merasa tidak asing dengan laki-laki yang dipukuli juga pria paruh baya yang memukulinya.
Cukup lama kejadian itu. Setelah laki-laki itu bersimba darah, rombongan dari mobil itupun pergi. Rangga segera turun dan menyeberang jalan untuk melihat siapa laki-laki itu. Dia melebarkan mata ketika melihat Restu yang dipukuli. Namun, pria itu masih sanggup berdiri.
"Kak Restu!"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...