
Restu sudah panik ketika Aleesa mengeluh perutnya sakit. Ida segera memanggil dokter obgyn untuk datang ke kamar perawatan Abang Er. Setelah diperiksa itu hanyalah kontraksi palsu. Itu membuat Restu menghela napas lega.
"Jangan banyak pikiran ya, Bu. Jangan stres juga."
Aleesa mengangguk. Restu terus menggenggam tangan Aleesa sedari tadi. Abang Er masih terlelap karena pengaruh obat. Restu mengecup kening Aleena setelah dokter pergi.
"Mami istirahat, ya. Biarkan Papi yang jaga Abang Er."
Aleesa mengangguk. Tak lupa Restu pun mengusap lembut perut buncit Aleesa. Dia mencoba berinteraksi dengan anaknya yang masih berada di dalam kandungan.
"Jangan nakal ya, Nak. Kasihan Mami dan Abang Er. Papi janji Papi akan jaga kalian semua."
Hati istri mana yang tidak bahagia mendengar ucapan dari sang suami yang begitu lembut. Aleesa sangat bahagia mendengarnya.
Senyum hangat Abang Er tunjukkan di pagi hari dan itu membuat Restu tersenyum begitu lebar.
"Jagoan Papi udah bangun?" Anak itupun mengangguk. Dia meminta digendong dan Restu langsung menggendong tubuh Abang Er yang masih terpasang selang infus di tangannya.
"Kalau sakit bilang ya, Nak." Abang Er pun mengangguk.
Anak itu sangat nyaman berada di dalam gendongan sang ayah. Mata yang tadi sudah terbuka kini terpejam kembali. Restu malah tersenyum melihat putranya.
"Pi, dedek ban da ua."
__ADS_1
Anak itu mengoceh dengan mata yang tertutup rapat. Restu mengerutkan dahi ketika mendengar ocehan dari Erzan tersebut.
"Kamu bilang apa, Bang?"
Hanya ada suara dengkuran halus yang mampu Restu dengar dan itu membuat Restu menggelengkan kepala dengan senyum yang begitu indah.
"Manjanya anak Papi." Restu mencium ujung rambut sang putra yang masih wangi. Betapa sayangnya dia kepada Erzan. Putra kandungnya yang sangat mirip sekali dengan dirinya.
Pintu kamar perawatan terbuka, kedua orang tua Aleesa sudah datang. Sorot mata mereka seakan bertanya kenapa cucu mereka digendong oleh Restu.
"Bang Er tadi sudah bangun dan minta digendong." Radit segera memeriksa selang infusan. Takut jika darah Abang Er naik. Ternyata aman. Dia pun dapat menghela napas lega.
Echa menggelengkan kepala ketika melihat Aleesa masih terlelap. Dia hendak membangunkan sang putri, tapi dilarang oleh Restu.
Radit tersenyum mendengar ucapan dari Restu. Dia sangat melihat betapa Sempurnanya Restu menjalankan peran sebagai seorang ayah dan juga suami.
.
Siang hari Abang Er sudah bermain dengan sang ayah dan juga sang ibu. Dia amat terlihat bahagia. Tak Abang Er duga ternyata para sepupu sang ibu datang untuk menjenguknya.
"Mana?" Anak itu sudah menengadah ke arah Agha. Padahal yang datang bukan hanya Agha, ada empat anak Aska juga.
"Apaan?"
__ADS_1
"Ledo."
Lego, itulah mainan yang diminta oleh Abang Er. Agha bukannya memberi malah memukul tangan anak dari kakak sepupunya.
"Mas!" bentak Restu.
"Apa sih, Ahjussi." Hanya Agha yang tidak takut pada Restu. Dia malah menatap malas ke arah ayah dari Erzan tersebut.
Aleesa tertawa jika melihat Agha dan suaminya beradu tatap. Lucu sekali di matanya. Seperti tengah beradu api di sorot mata mereka berdua.
"Ana? Ledona?"
"Gak ada!"
Jangan memancing kemarahan seorang Abang Erzan. Balita itu kesabarannya hanya setipis tisu.
"Aarrghh!!"
Agha mengerang kesakitan karena Abang Er sudah menggigit tangan Agha dengan begitu cepat.
"Ahjussi! Tolongin! Tangan Mas rabies ini."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...