
BAWA ALEESA.
Mata dokter Rocki melebar membaca tulisan di atas secarik kertas yang ada di samping laptopnya. Dia mencari ke setiap sudut ruangan. Apakah ada orang di ruangan itu selain dirinya.
"Siapa yang menulis ini?" Dia memperhatikan tulisan tangan tersebut. Kedua alisnya menukik dengan begitu tajam.
"Ini 'kan tulisan gadis bisu kemari," gumamnya. Untuk kedua kalinya dokter Rocki mencari gadis itu ke setiap sudut. Namun, tidak ada.
"Apa maksudnya?"
Tengah asyik berpikir, ponselnya berdering dan nama Gemke yang tertera di sana.
"Ya."
Tubuh dokter Rocki menegang ketika mendengar ucapan dari Gemke. Bukan hanya dia yang mendapat tulisan tersebut. Gemke pun mendapatkan tulisan itu juga. Ketika diamati pun tulisannya sama seperti tulisan yang dia terima.
"Siapa yang menulisnya?" Pertanyaan besar yang masih memutari kepala Gemke.
"Saya juga tidak tahu."
"Lalu, bagaimana, Dok?" Gemke masih menunggu keputusan dari dokter Rocki.
"Ini sangat berbahaya," jawabnya. "Keluarga Restu dan Aleesa tengah diperhatikan." Apa yang dikatakan oleh dokter Rocki memang benar. Madam Zenith melakukan itu agar tidak ada yang bisa menemui Restu. Bahkan Bandara Zurich pun dijaga dengan sangat ketat.
"Pasti ada celah, Dok." Gemke menimpali. Dia harus berpikir ekstra sekarang ini.
Dokter Rocki menghela napas kasar setelah sambungan telepon berakhir. Dia bertemu dengan perempuan bisu itu ketika dia mau memasukkan mobilnya ke area rumah. Perempuan itu menunggu di depan pagar rumahnya. Otaknya segera terkoneksi dan menuju tempat di mana dia bertemu pertama kali dengan perempuan itu. Dia keluar dengan tergesa. Sedikit berlari menuju pagar rumahnya. Ketika dia melihat ke arah kanan orang yang tengah dia cari sudah berdiri dan menatap ke arahnya dengan memeluk buku di dada.
"Kamu siapa?" Dokter Rocki sudah menghampiri perempuan bisu tersebut. Dia hanya menggeleng. Dia membuka bukunya dan menuliskan sesuatu di sana.
ALEESA. BAWA DIA. RESTU MEMBUTUHKAN ALEESA.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut dokter Rocki. Dia menatap ke arah perempuan itu dengan tatapan tak terbaca.
"Sangat berbahaya. Saya tidak bisa melakukannya." Rocki berbicara kepada si perempuan tersebut.
AKU AKAN MENJAGANYA. AKU AKAN MELINDUNGI DIA. RESTU BUTUH DIA. PERCAYA PADAKU.
"Saya tidak akan mengorbankan nyawa orang lain untuk melindungi Restu." Sedikit lemah nada bicara dokter Rocki.
ALEESA ADALAH MALAIKAT PELINDUNG RESTU. ALEESA JAGA RESTU DAN AKU JAGA ALEESA.
Tidak ada jawaban dari dokter Rocki membuat si perempuan itu menuliskan sesuatu lagi.
AKU MOHON!
__ADS_1
Air matanya mulai mengalir begitu saja dan dokter Rocki tidak tega melihatnya. Dia menelisik perempuan yang ada di depannya ini. Dia terlihat amat tulus dan wajahnya mirip seseorang. Ada yang janggal dari segi pakaiannya.Dress putih panjang hingga menutup kaki.
AKU MOHON, OM.
Akhirnya, dokter Rocki pun mengangguk. Dia juga penasaran apa yang telah terjadi? Dokter yang dia suruh menangani Restu mengatakan kondisi Restu semakin membaik, tapi matanya enggan terbuka. Padahal, itu yang harusnya sedikit demi sedikit mata Restu sudah terbuka.
Dia segera menghubungi Rio. Meminta Rio mengumpulkan ayahnya dan juga ayah Aleesa juga orang-orang yang dapat dipercaya.
"Emangnya kenapa, Dok?" Rio mulai curiga.
"Kita bicarakan nanti, ya."
.
"Bagaimana dengan putraku?" Madam Zenith sudah berbicara dengan dokter Kaira. Sebenarnya dia ingin melihat Restu, tapi dia tidak tega.
"Keadaannya akan tetap koma karena setiap hari perawat di sana akan menyuntikkan obat yang saya bawa. Setelah obat itu habis, ingatannya akan hilang dan dia akan menjadi orang baru. Jelas, dia tidak akan mengingat apapun. Memori otaknga kembali baru."
Pada nyatanya setiap kali perawat akan menyuntikkan obat tersebut, obat itu akan tumpah dan berceceran ke lantai. Hanya saja mereka tidak membuka suara kepada dokter Kaira.
Madam Zenith hanya mengangguk. Itu akan lebih mempermudah dia untuk menaklukan Restu karena dia tahu Restu bukanlah orang yang mudah untuk dipengaruhi dan memiliki pendirian yang sangat kuat.
"Jangan lupakan janji Anda kepada saya," tekan dokter Kaira.
"Ya. Saya tahu itu."
.
🎶
Yojeum naneun eotten Jul Ani
(Apa kau tahu, bagaimana aku belakangan ini)
Pyeonhi jameul jal Sudo
(Aku tak bis tidur dengan nyaman)
Mwol samkyeonael Sudo eopseo
(Aku bahkan tidak bisa menelan apapun)
Neol baraboda
(Apa kau tahu )
__ADS_1
Jeomjeom manggajyeo ganeun nal algin halkka
(Bahwa aku semakin hancur, saat aku melihatmu)
Jugeul get gatado
(Aku merasa akan mati)
🎶
(If it is you-Jung Seung Hwan)
Air mata Aleesa menetes begitu saja ketika mendengar bait dari lagu tersebut. Lagu yang sering dia putar, lagu yang menggambarkan tentang kondisi hatinya sebenarnya. Dia menunduk dalam dengan tangan yang masih memegang liontin kalung tersebut.
Tawa Restu, keposesifan Restu yang dapat dia lihat ketika tangannya menyentuh liontin tersebut.
"Kamu adalah alasan utama ku untuk tetap hidup."
Punggung Aleesa semakin bergetar. Dia merasa sangat hancur. Ketika dia jatuh cinta pada orang yang seharusnya, malah ini yang terjadi pada dirinya..
"Berjanjilah untuk tetap hidup, Bie. Berjanjilah!" .
Langkah Rio terhenti ketika melihat sepupunya terisak cukup keras. Dia menoleh ke arah belakang di mana kedua orang tua Aleesa berdiri di sana. Mereka berdua mengangguk pelan.
Rio melangkahkan kaki dengan perlahan. Kehadiran Rio tidak diketahui oleh Aleesa karena dia tengah tenggelam dalam rasa sedih yang mendalam.
"Aku ingin bertemu kamu, Bie. Aku ingin tahu kondisi kamu." Suara itu begitu berat dan bergetar. Rio merasakan betapa sedihnya sepupunya tersebut. Bukan hanya kedua orang tuanya yang sangat sedih.
"Res, berjuanglah untuk tetap hidup. Banyak yang sayang sama lu. Banyak air mata yang mereka tumpahkan untuk lu. Gua mohon, hapuslah air mata mereka yang menyayangi lu dengan kabar yang membuat mereka bahagia dan lega. Gua mohon, Res."
Rio menundukkan kepalanya sejenak sebelum dia mendekat lagi kepada Aleesa. Rio menarik napas panjang sebelum dia menyentuh pundak Aleesa.
"Sa."
Usapan lembut dan suara yang begitu lemah membuat Aleesa terdiam sejenak. Dia berharap itu suara kekasihnya. Dia juga merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. Perlahan dia mencoba untuk menegakkan kepalanya. Masih berharap tangan itu adalah tangan Restu.
Aleesa mulai membalikkan tubuhnya sedikit demi sedikit dengan harapan yang sama jika itu adalah Restu. Namun, dia merasa kecewa dan matanya kembali meneteskan bulir bening.
"Kak Restu, Kak. Kak Restu--"
Aleesa menunduk lagi dan Rio berusaha untuk menahan laju air matanya. Dia memeluk tubuh sang sepupu dengan begitu erat.
"Bersiaplah! Kamu akan berangkat ke Zurich tengah malam nanti." Tubuh Aleesa pun menegang. Rio mulai memundurkan tubuh Aleesa perlahan. Sepupunya tengah menatapnya dengan dalam.
"Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Restu."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....