
"Sudah siap?" Aleesa mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
Aksa, Aska dan Iyan yang akan menemani Aleesa ke Zurich. Tentunya dengan skenario yang sudah mereka susun.
Kedua orang tua Aleesa, juga kedua orang tua angkat Restu melepas Alees pergi tanpa mereka. Mereka percaya tiga pria itu akan melindungi Aleesa.
Aleesa mencari-cari kembaran sang paman yang tidak ada di pesawat pribadi yang ditumpangi olehnya.
"Uncle, Om ke mana?" Aleesa mencari sosok Aska.
"Dia tidak naik pesawat ini." Jawaban santai yang keluar dari mulut Aksa.
"Lalu?"
"Kak Aska naik pesawat komersil." Iyan menimpali dengan mata yang fokus pada benda pipih yang tengah dia pegang.
"Kenapa?" Aleesa nampak bingung. Namun, kedua pamannya hanya menyunggingkan senyum penuh arti.
.
"Kenapa Ayah yang ditumbalkan?" Suara anak laki-laki sudah menggema. Ya, dia Arfan atau biasa dipanggil Apang. Anak ketiga dari Aska dan juga Jingga. Dia mendengar percakapan tujuh orang dewasa tersebut.
"Kalau Ayah kenapa-kenapa emangnya Daddy mau tanggung jawab?" Kini, anak perempuan Aska yang menambahkan. Bala-bala itulah nama panggilan dari Agha untuk Balqis, putri bungsu Aska dan Jingga.
Jingga sudah menenangkan kedua anaknya tersebut. Dia menggelengkan kepala menandakan Arfan dan Balqis tidak boleh berbicara lagi.
Aksa malah tertawa mendengar Omelan dari dua keponakannya. Dia menatap Arfan dan Balqis dengan senyum penuh arti.
"Dengar ya para keponakan Daddy," ujar Aksa. "Jika, terjadi sesuatu dengan ayah kalian. Daddy akan sepenuhnya bertanggung jawab kepada kalian. Hidup kalian juga pasti akan lebih bahagia dibandingkan ketika ayah kalian ada."
"Bang ke!" Aska sudah mengumpat kesal kepada sang Abang. Suasana tegang pun berubah riuh.
"Boleh gak Iam minta sesuatu sama Daddy?" Ahlam, putra kedua Aska sudah membuka suara. Dia masih sama seperti waktu kecil, selalu membayangi Agha.
"Apa?" Aksa menatap ke arah Ahlam tanpa takut
"Setiap ada luka di wajah Ayah, Daddy harus ganti rugi."
"Good job, Boy." Aska nampak senang mendengarnya. Dia mengangkat dua jempol tinggi-tinggi kepada Ahlam. "Balaskan dendam Ayah, Boy." Agha menatap jengah ke arah sang paman.
__ADS_1
"Berapa?" Aksa seakan menantang.
"Seribu dollar."
Aksa tersenyum. Dia menatap ke arah putranya yang tengah asyik bermain game di ponsel.
"Udah ketebak. Nih anak 'kan gak mau kalah dari Mas." Percaya diri sekali seorang Gavin Agha Wiguna dengan ucapannya. Semua orang pun tertawa.
"Gak usah sotoy, Mas." Ahlam nampak kesal
"Sotoy ayam apa sotoy sapi."
"ITU SOTO, MASS!!!"
Agha diserang oleh ketiga sepupunya, kecuali Dalla yang hanya tersenyum melihat tingkah ketiga adiknya dan juga kakak sepupunya.
"Untung ganteng, kalo jelek udah Aqis lelepin di kolam ikan piranha." Judesnya Balqis membuat orang yang ada di ruangan itu tak henti menahan tawa.
"Udah atuh ketawanya. Iam belum selesai bicara." Ahlam sudah melipat kedua tangannya di atas dada dengan wajah yang dia tekuk.
"Oke. Lanjut," kata Aksa.
"Setiap ada luka di wajah dan di tubuh ayah walaupun hanya sedikit, Daddy harus tanggung jawab. Satu luka seribu dollar Amerika."
Agha memukul kepala Ahlam dengan bantal sofa yang ada di pangkuannya. Agha sudah menatap tajam Ahlam.
"Apaan sih, Mas?" gerutu Ahlam kesal. "Cuma seribu dollar mah buat Daddy mah cetek." Aksa malah tertawa, tapi tidak untuk Agha.
"Mau gua cekek?" Agha sudah menatapnya dengan penuh kemarahan hingga membuat Ahlam mundur dengan teratur. Aksa malah tertawa begitu juga yang lain.
"Udah, Mas." Sang ayah sudah melerai. Aksa mengeluarkan dompetnya dan memberikan sepuluh lembar uang kertas dengan nominal 100$ kepada Ahlam.
"DP dulu, ya." Ahlam nampak senang.
"Daddy, yang namanya DP itu gak bisa diambil lagi, ya." Perihal uang Balqis sangatlah pandai.
"Iya." Ketiga anak Aska nampak sangat bahagia dan membuat semua orang tertawa.
#off.
Aska menyunggingkan senyum mengingat kejadian tadi. Skenario sudah dibuat dan dia harus melakukan itu. Meninggalkan keluarganya untuk membantu keponakannya dan juga calon keponakannya.
__ADS_1
Bandara yang ada di Swiss sudah dijaga ketat oleh anak buah madam Zenith. Rindra dan Radit beserta istri dari keduanya pun sudah ditandai. Tak main-main, tembak mati itu yang diperintahkan oleh madam Zenith. Perihal Aksara, nama itu tidak ada di dalam blacklist yang diberikan madam Zenith. Namun, sudah pasti wanita itu tidak mudah dibodohi.
"Gua pengen liat sambutan apa yang gua terima di sana," ujar Aska yang sudah duduk santai di business class. "Sependek apa sumbu otaknya?" Aska meremehkan sekali.
Aska memakai identitas palsu. Dia memakai identitas sang kakak. Dai tidak masalah harus berkorban sedikit untuk Aleesa. Apalagi, ini sudah menjadi keputusan mereka semua. Lagi pula Aska tidak sendiri. Ada lima orang bodyguard yang ada di belakang Aska. Namun, mereka tidak menonjolkan diri.
.
Pikiran Iyan masih tertuju pada sosok perempuan yang masih berada di samping Restu sampai saat ini. Dia seakan menjaga tubuh Restu dari orang-orang yang hendak mencelakainya.
Suntikan, obat, bebuih. Itulah yang dapat Iyan lihat. Dia mencoba semakin dalam masuk ke dalam dimensinya. Namun, pelukan dari sang keponakan membuatnya membuka mata karena terkejut.
"Sa--"
Tidak ada jawaban dari Aleesa. Tangannya terus melingkar di pinggang Iyan.
"Kak Restu ada di dalam bubble besar. Dia tidak sendiri, ada seorang kakek di sana." Aleesa menjelaskan dengan suara pelan.
"Lalu?" Aleesa menggeleng. Air matanya menetes kembali.
"Mampukah Sasa mengeluarkan Kak Restu dari bubble itu?"
.
Aksa, dia sudah mengatur rute perjalanan mereka. Tujuan mereka memang ke Zurich, tapi mereka akan mendarat di Jerman dan akan ke Zurich melalui jalur darat. Nama Aleesa ada di dalam blacklist bandara di Swiss.
"Anda begitu cerdik, Pak." Gemke memuji Aksa melalui sambungan telepon.
"Saya sudah meminta pihak keamanan Jerman untuk melindungi saya dan juga rombongan. Perihal rumah sakit di mana Restu dirawat pun saya sudah bekerja sama dengan mereka. Kamu jangan khawatir."
Dokter Rocki tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aksa. Dalam sekejap anak buah madam Zenith berubah haluan kepada Aksara. Namun, tetap saja dokter Rocki tidak diijinkan ke rumah sakit tersebut agar semuanya berjalan dengan lancar.
"Saya harap semut-semut kecil Anda bisa diajak kerja sama." Itulah yang Aksa katakan. Dia juga sudah mencari tahu perihal siapa dokter Kaira.
"Rupanya iblis berwajahkan manusia," gumamnya dengan senyum penuh arti. Aksa menarik napas cukup dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Baiklah, permainan akan dimulai." Aksa sudah terhubung dengan seseorang.
"SUDAHI MASA SEKARAT IBLIS PRIA ITU!" Perintah yang teramat tegas dan tak bisa terbantah.
Senyum kejahatan pun terukir di wajah Aksa. "Apa yang akan kamu lakukan, iblis wanita?"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong, udah dikasih yang ganteng itu.