
Membawa goody bag berisi baju bridesmaid untuk Kemala dan Raina itulah yang sudah Aleesa persiapkan dari semalam. Tentu saja dia sudah dijemput oleh Restu yang akan mengantarnya ke tempat kuliah.
"Kayaknya aku pulang agak malam. Gak apa-apa 'kan ke rumah Yansennya malaman?" Restu sudah menatap Aleesa.
"Ya udah aku chat Yansen dulu, ya."
Aleesa benar-benar terbuka perihal Yansen. Dia tidak ingin calon suaminya terus curiga dan merasa cemburu. Aleesa sudah tidak memiliki perasaan kepada Yansen. Jika, Yansen masih memiliki perasaan yang sama kepadanya itu bukan salah Aleesa.
Aleesa pun menunjukkan isi pesan yang dia kirimkan kepada Restu. Anggukan yang menjadi jawaban.
"Aku berharap, kamu berdamai dengan rasa cemburu karena aku akan menjadi milikmu sampai aku menutup mata nanti."
Kalimat yang menghangatkan dan menyejukkan. Restu tersenyum dan mengecup kening Aleesa dengan begitu dalam. Aleeya yang sudah dua hari menyaksikan kemesraan sang kakak terus berdecak kesal.
"Carilah laki-laki yang tulus mencintai kamu. Bukan hanya memanfaatkan kamu saja."
Nasihat sang ayah membuat Aleeya terdiam. Aleesa dan Restu mulai menatap ke arah Aleeya hingga Aleeya merasa terintimidasi.
"Jangan pernah melakukan hal bodoh, Dek." Sebuah kalimat yang seperti alarm untuk Aleeya. Kalimat itu keluar dari mulut Aleesa begitu saja.
.
Kemala dan Raina terkejut mendengar ucapan Aleesa dan apa yang mereka terima. Mereka berdua tak percaya dan saling pandang.
"Serius?" Aleesa mengangguk.
"Sama laki-laki itu?" Iya, satu kata yang menjadi jawaban dari Aleesa. Kemala dan Raina pun memeluk tubuh Aleesa. Mereka berdua ikut bahagia.
"Gua gak nyangka lu akan secepat ini married," ujar Kemala disela pelukannya.
"Gimana dengan kuliah lu?" Raina mula bertanya.
"Akan tetap seperti biasa." Aleesa menjawab dengan wajah yang berbinar.
Dua teman Aleesa tida pernah melihat Aleesa sebahagia dan seceria ini. Wajah bahagia Aleesa sangat tulus dan apa adanya.
__ADS_1
"Yansen akan hadir?" Kemala sudah menanyakan mantan dari Aleesa.
"Gua udah hubungin dia dan nanti malam gua dan Kak Restu akan ke rumah Sensen." Kemala dan Raina tersenyum, walaupun hati mereka sedikit sakit.
Belum lama ini mereka menonton acara yang mana Yansen menjadi pengisi acara. Kalimat demi kalimat yang Yansen ucapkan membuat hati mereka sedih. Mereka merasakan betapa tulusnya cinta Yansen untuk Aleesa. Namun, sebuah perbedaan yang tak bisa disatukan menjadi penghalang hubungan mereka. Hingga datang sosok pahlawan berkuda putih ke dalam hidup Aleesa hingga akhirnya dia memutusakan untuk menjalin hubungan dan bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Oh iya, calon suami lu kerja di mana?" Kemala masih penasaran. Dia mendengar dari Aleesa jika Restu adalah karyawan magang. Akan tetapi, lelaki itu memiliki kartu hitam di mana hanya orang tertentu yang bisa memilikinya.
Belum juga menjawab, sebuah siaran televisi yang ada di kantin mulai menyiarkan breaking news terbaru.
Zenth Corporation kini dipegang oleh putra dari almarhum Zenith Andrea, Rajendra Wiratama atau sekarang bernama Restu Ranendra.
Wajah Restu terpampang nyata di sana dan membuat Kemala maupun Riana berteriak histeris.
"Calon laki lu!"
Aleesa menoleh ke arah layar televisi dan di sana dengan santai, tapi tegas Restu menjawab semua pertanyaan para wartawan. Ada senyum yang mengembang di wajah Aleesa melihat ketampanan calon suaminya berlipat ganda jika disorot kamera.
"Lu Nemu makhluk kayak gitu di mana?" Raina sudah mengoyang-goyangkan tubuh Aleesa. "Gua mau yang kaya gitu satu."
Di lain tempat, Yansen membeku ketika mengetahui fakta yang terkuak perihal Restu. Dia hanya mengetahui jika Restu adalah anak angkat dari paman Aleesa. Kini, dia dibuat terkejut karena fakta yang sesungguhnya jikalau Restu adalah anak kandung dari pengusaha wanita ternama Swiss, putri tunggal Wiratama.
"Ternyata Tuhan begitu baik. Aku memang tak sepadan dengannya." Yansen bermonolog sendiri.
Dia baru tersadar jika Radit dan keluarga besar Aleesa tidak akan pernah main-main dalam memilih calon menantu. Terbukti, Restu adalah pasangan yang sepadan untuk Aleeesa. Juga sepadan dengan keluarga besar Wiguna, Addhitama, dan Juanda.
"Tidak mungkin 'kan aku bisa bersama dengan Aleesa. Kasta kita saja sangat berbeda." Senyum tipis pun terukir di wajah Yansen.
"Sangat beruntung ya wanita yang bersama pengusaha muda itu." Salah satu seorang perempuan berbicara. Yansen pun tersenyum..l
"Kamu sangat beruntung, Sa."
Berkata dengan senyum yang mengembang, tapi hati menangis perih. Itulah yang dirasakan oleh Yansen sekarang. Namun, dia harus ikhlas. Apalagi sang ibu kini selalu ada di sampingnya.
__ADS_1
"Bawalah cinta kamu sampai mati. Itu sesungguhnya cinta yang abadi."
.
Aleesa tersenyum ketika sang calon suami sudah menjemputnya. Restu mengecup kening Aleesa.
"Sering-sering masuk tv ya, Bie." Restu malah mencubit gemas pipi Aleesa.
"Nanti banyak yang negfans sama aku." Aleesa malah tertawa.
Mereka menuju kediaman Yansen di mana Yansen pun sudah menunggu mereka berdua. Yansen sudah menyambut mereka dengan senyum yang begitu manis.
"Masuk!"
Pandangan Yansen masih tertuju pada tangan Restu yang terus menggenggam tangan Aleesa. Juga wajah Aleesa yang terlihat sangat berbinar.
"Mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot, Sen." Yansen yang hendak ke dapur pun menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada sebuah kartu undangan yang begitu manis yang ada di tangan Aleesa, dan itu tak luput dari pandangan Restu.
"Kami ke sini mau memberikan undangan pernikahan." Tanpa basa-basi Restu langsung mengatakan. Tubuh Yansen menegang seketika.
"Kenapa aku merasa sedih, Tuhan? Bukankah harusnya aku bahagia?"
Senyum yang mengembang indah pun terukir di wajah Aleesa. Sungguh Yansen harus menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan ini.
"Aku harap kamu datang, ya." Aleesa memberikan undangan itu kepada Yansen yang masih terdiam. "Ini hanya akad saja."
Aleesa pun memberikan baju untuk Yansen yang sama seperti Agha, Rangga, Rio, Dalla, Ahlam dan Arfan pakai nanti. Baju groomsmen yang senada dengan baju para bridesmaid.
Yansen meraih undangan pemberian dari Aleesa juga baju yang sudah Aleesa letakkan di dalam goody bag. Dia melihat tanggal yang tertera di sana, dan sejenak dia berpikir. Yansen mengeluarkan ponselnya dan mengecek jadwalnya di tanggal tersebut. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia menatap ke arah Restu dan Aleesa bergantian.
"Maaf, aku gak bisa menghadiri pernikahan kalian." Wajah Aleesa nampak sendu dengan raut kecewa, dan Restu sudah menukikkan kedua alisnya.
"Aku harus pergi ke Samarinda ketika Acara akad kalian dilaksanakan."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen atuh ....