RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
bab 76. Dendam


__ADS_3

Menangis tersedu di depan pusara sang ayah, Gemke yang menjadi saksinya. Dia tidak mengerti bahasa dari Madam Zenith, tapi dia sangat tahu itu adalah ungkapan rasa sayang yang terdalam yang Madam Zenith miliki untuk mendiang ayahnya.


"Apakah putraku masih hidup?" Madam Zenith menghela nafas kasar sebelum melanjutkan ucapannya.


"Jika, dia sudah meninggal di mana makamnya? Tapi, jika dia masih hidup pertemukanlah aku dengannya. Aku merasa sangat dekat dengan anakku, tapi aku tidak tahu Di mana dia berada."


Suara Madam Zenit bergetar hebat menandakan Dia sangat merindukan anaknya. Rajendra, itulah nama putranya yang dia panggil Raje.


Gemke masih setia berada di belakang madam Zenith. Dia juga memayungi tubuh madam Zenith. Sudah hampir 1 jam mereka berdua ads di sana. Bisa dari Gemke seakan masih betah berada di samping pusara sang ayah. Terlihat dari tangannya yang terus mengusap lembut Nisan sang ayah.


.


Rindra nampak santai ketika mengetahui saham AdT. corp melemah di angka terbawah. Dia mendapat kabar dari bawahannya dan semua karyawan pun mulai panik. Sedangkan Rindra masih asyik menghisap rokok yang sudah dia hidupkan. Putranya masuk ke ruang sang ayah tanpa mengetuk pintu. Rio melebarkan mata ketika melihat sang ayah tengah mengepulkan asap ke udara.


"Papih!" sentak Rio. Wajah anaknya sudah merah padam.


"Santai bro, lebih baik ngerokok dulu." Rindra sudah menyodorkan rokok kepada putranya . Dia tahu Rio sering merokok bersama Restu.


"Gimana mau santai? Itu saham kita," omel Rio.


Belum juga kering ucapan Rio, adik pertamanya datang dan terlihat tegang. Hingga dia memaki sang kakak yang seperti tak memiliki beban.


"Jangan pake urat, pake akal," ujar Rindra. Belum selesai Rifal memarahi sang kakak, Radit datang dengan wajah yang tak kalah santai.


"Kalian berdua kenapa sih? Orang mah panik." Lagi dan lagi Rifal mengomel.


"Coba cek saham kita lagi," titah Radit. Kini, Rio yang. sudah duduk di bangku kebesaran sang ayah. Dia menghembuskan napas lega melihatnya.


"Terus dia gimana?" Radit menggedikkan bahunya.


Michael Hartanto yang kini shock dengan apa yang dia lihat. Semua penanam modal yang bekerja dengannya mencabut semua sahamnya. Tanpa alasan yang jelas. Detak jantungnya pun mulai melemah.

__ADS_1


"Kenapa bisa? Bukankah Jordan sudah--"


Ternyata Michael Hartanto disuruh oleh Jordan untuk mengikis psikis Aleesa. Jordan tahu jantung Aleesa sangat lemah. Namun, sekarang berbeda dan Jordan salah menilai. begitu juga dengan Michael Hartanto yang salah memilih lawan. Karma yang dibayar langsung.


.


Aleesa masih menangis di pelukan sang ibu karena dia tidak ingin perusahaan keluarga ayahnya bangkrut karena dirinya.


"Bu." Echa hanya bisa mengusap lembut punggung sang putri.


"Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama Bubu."


Echa tahu sudah ada media yang mengangkat berita Aleesa dengan Restu. Namun, Radit sudah menutupnya dan akan menuntut media tersebut. Echa dan Radit tidak ingin anak mereka syok kembali. Apapun akan mereka lakukan untuk kebahagiaan Aleesa.


Kembalinya saham AdT. Corp membuat Restu menghela napas kasar. Sungguh dia sangat takut. Jika, semuanya koleps dan gulung tikar, dialah penyebabnya.


"Sudah selesai?" Restu terkejut ketika Gemke sudah mengetuk kaca jendela mobil. Dia pun segera membuka kunci pintu mobil. Madam Zenith terlihat sembab dan Restu tidak Banyan berucap.


Tibanya di hotel dan beristirahat sejenak, tapi tidak dengan Restu. Dia memilih keluar dan ingin menemui seseorang. Wajah penuh kemarahan sudah nampak jelas.


Mobil berhenti di sebuah lembaga pemasyarakatan. Di sana dia sudah ditunggu oleh teman sejawatnya. Juga, seorang pengacara muda yang tak lain teman Restu juga.


Tibanya di sel yang menangani seorang Jordan, Restu masuk dengan wajah ganas. Pra narapidana pun dipaksa mundur untuk sesaat. Jordan melebarkan mata ketika melihat Restu yang sudah berada di jarak kurang dua meter.


Bugh!


Jordan yang tak berdaya dan penuh luka lebam pun tersungkur. Ada bercak darah di lantai yang berceceran. Semua tahanan tidak terkejut. Sedikit banyak mereka tahu siapa Jordan. Pria yang memiliki banyak musuh.


Jordan tidak bisa bergerak. Darahnya masih menetes. Sedangkan Restu sudah mengeluarkan seringainya.


"Bagaimana rasanya?" ejek Restu. Kejadian masa lalu memutari kepalanya. Dia diinjak, dipukul hingga tak sadarkan diri Hingga rasa dendam kini semakin menggebu. Belum juga menjawab, tangan Restu sudah menghajar kembali tubuh Jordan dan tak segan dia menginjak perut Jordan. Dia bagai orang kesetanan. Tidak ada orang yang mencegahnya. Mereka membiarkan Restu untuk menghabisi Jordan.

__ADS_1


"Jika, kamu ingin harta Kakek, ambillah. Bawa semua harta Kakek. Saya tidak butuh!" Suara Restu Sudah menggema. Urat-uratnya nampak jelas di wajah tampannya. Tangannya sudah mencengkeram keras wajah Jordan yang sudah tak berbentuk.


"Tapi, jika kamu ingin membunuh saya ... itu hanya sebuah mimpi yang tidak akan bisa kamu gapai," tukasnya. "Karena sebelum saya mati, kamu dulu yang akan saya bunuh dengan tangan saya sendiri." Sekarang, Restu mematahkan kaki kiri Jordan hingga dia berteriak sangat keras. Dadanya masih turun naik menandakan dia sangat marah.


"Terlalu baik jika saya langsung mengirim kamu ke neraka." Tendangan penuh emosi pun Restu berikan. Semua narapidana yang ada di sana hanya menonton Saja.


Pria tahanan hanya menggelengkan kepala mereka ketika melihat Jordan meminta tolong. Tidak ada yang menolongnya dan malah banyak yang menyumpahinya.


"Gua jahat, tapi gua masih punya hati. Gak kaya lu," bentak salah seorang napi.


Restu kembali ke hotel, di tengah perjalanan dia melihat punggung jarinya berdarah karena sudah menghajar Jordan dengan emosi penuh.


"Gua janji, gua gak akan pernah biarin lu hidup selagi lu masih ganggu gua dan Aleesa."


Dia membersihkan luka tersebut dan berganti pakaian. Dia tidak ingin orang tahu dari mana dia. Setelah selesai dia menuju ke hitela karena Jam tujuh malam Restu, Gemke dan madam Zenith sudah harus menuju kediaman Aksara. Madam Zenith tidak menolak ketika mengetahui bahwa Aksara adalah pengusaha hebat. Benar dugaannya jika Aleesa bukan dari keluarga sembarangan. Kedua orang tuanya dari keluarga yang sangat berpengaruh. Namun, dia mendapat laporan jikalau anak ketiga dari Addhitama itu adalah anak angkat. Maka dari itu, Aleesa dan Restu bisa berpacaran.


Kedatangan madam Zenith disambut hangat oleh Aksara dan juga istrinya. Sungguh madam Zenith terpana melihat kecantikan istri dari pengusaha bertangan dingin tersebut.


"Cantik sekali," puji madam Zenith. Riana hanya tersenyum dan membalas pujian dari madam Zenith.


Agha pun sudah ada di sana. Dia menatap malas ke arah Restu. Beda halnya dengan Ghea yang sudah menyapa Restu dengan hangat.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan mulai berbincang. Seperti biasa Restu dan Gemke berada di belakang madam Zenith.


"Duduklah kalian," ujar Aksara.


"Iya, duduk aja, Res. Kayak ke siapa aja." Riana sudah menambhakan. Madam Zenith merasakan kehangatan yang luar biasa. Restu mampu diterima di keluarga Aleesa.


Restu memilih duduk di luar sambil menyesap rokok. Sudah lama dia tidak menghisap benda yang menjadi sahabatnya itu. Pikirannya tengah berkelana jauh. Dia malah teringat akan masa lalunya yang menyedihkan. Restu hanya menghela napas kasar. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia mengecek ponsel dan tidak ada pesan atau panggilan dari sang kekasih. Dia mencoba untuk menghubungi Aleesa, tetapi tak dijawab.


"Kemana dia?"

__ADS_1


.


__ADS_2