
Restu mengejar sang istri ke kamar mandi begitu juga dengan Echa. Terlihat Aleesa yang sangat pucat dan hampir jatuh.
"Lovely!"
Restu segera meraih tubuh Aleesa. Dia merasakan suhu tubuh Aleesa sedikit lebih tinggi. Segera Restu membopong tubuh Aleesa menuju tempat tidur.
"Perut aku sakit, Bie. Mual dan pusing."
Echa yang mendengar itu segera membangunkan Aleeya dan juga Khairan. Dua anak manusia itu sudah terjaga dengan wajah berantakan. Sungguh tidur mereka terganggu.
"Atuhlah, Bu," ucap Aleeya dengan langkah malas. Dia juga tak sempat cuci muka.
"Baba gak ada. Malam ini Baba gak pulang." Wajah khawatir sang ibu sangat kentara. Alhasil, Aleeya tidak tega dan mengikuti perintah sang ibu.
Khairan yang lebih dulu masuk ke kamar Aleesa dan Restu. Dia yang hendak memeriksa Aleesa dilarang oleh Restu hingga dokter magang itupun berdecak sangat kesal.
"Posesif amat, Bang," cibir Khai. "Ya kali gua doyan istri orang," lanjutnya dengan nada kesal.Tatapan tajam sudah diterima Khai. Namun, pemuda itu nampak senang meledek suami dari adik Aleena yang sangat emosian.
"Tapi, istri orang emang lebih menantang sih." Mata Restu melebar dan dia sudah hendak memukul Khai, tapi dicegah oleh Aleesa.
"Bie."
Restu menghela napas kasar. Dia kembali mengusap lembut rambut Aleesa. Juga tangan satunya memijat kepala sang istri tercinta. Khai hanya mengulum senyum.
"Segarang apapun kalau udah berhadapan sama istri mah nyalinya melempem."
Khai mengejek di dalam hati. Namun, dia merasa salut kepada Restu yang sedari tadi benar-benar menjaga istrinya. Ada kelembutan yang Restu miliki. Hanya saja itu dia berikan kepada Aleesa.
"Kenapa sih pada heboh di tengah malam begini? Ganggu orang tidur aja." Aleeya sudah menggerutu kesal. Dia menatap kesal ke arah Khairan yang malah menonton mereka.
"Kenapa lu bengong di sini? Bukannya periksa kakak gua!" Aleeya pun mengomeli Khairan. Pemuda itu malah berdecak.
"Kagak boleh sama lakinya." Khai malah duduk di sofa panjang yang berada di kamar Aleesa. Melanjutkan menonton mereka semua.
__ADS_1
"Cepat, Dek. Periksa." Sang ibu sudah tak tega melihat Aleesa tak berdaya dan menyuruh Aleeya untuk segera memeriksa Aleesa.
Restu memberi ruang kepada Aleeya untuk memeriksa istrinya. Dia menghela napas kasar dan menatap tajam ke arah kakak iparnya setelah memeriksa Aleesa.
"Aku tahu Kak Restu dan Kakak Sa itu pengantin baru, tapi kasih Kakak Sa makan juga dong." Aleeya memarahi Restu. "Kakak Sa itu punya magg."
Khai tersenyum tipis. Dia menggelengkan kepala melihat ke arah Restu. Restu pun hanya terdiam dan menahan malu karena diserang oleh Aleeya di depan banyak orang, terutama ibu mertuanya.
"Bubu juga jangan berharap lebih. Kakak Sa baru mau seminggu nikah masa iya langsung hamil." Aleeya menjelaskan.
"Bisalah, Ya, " timpal Khai. "Kalau udah test Drive dulu sebelum nikah mah."
"Gua gak sebejat itu bang sat!"
Aleeya malah tertawa, dan Echa menggelengkan kepala melihat Khai dan Restu. Jika, Aleesa tidak mencegah Restu, sudah pasti dia memukul Khai dan pastinya wajah Khai akan seperti mangga bonyok.
Ragu untuk pergi, tapi sang istri terus meyakinkan jika dia baik-baik saja. Restu pun akhirnya bersiap untuk ke Zurich karena sang adik sudah menjemputnya.
"Hubungi aku kalau ada yang kamu rasa. Jangan bilang tak apa-apa jika pada nyatanya kamu sakit sungguhan."
Restu tak melepaskan pelukannya kepada Aleesa. Begitu juga dengan Aleesa yang melingkarkan tangannya dengan sangat erat di pinggang Restu. Tangan Aleesa sudah merangkul manja lengan Restu menuju meja makan. Restu nampak terkejut ketika sang ayah mertua sudah ada di sana.
"Baba kapan pulang?" Restu bertanya kepada Raditya.
"Subuh tadi.," Restu pun mengangguk. "Udah enakan, Sa?" Kini, Radit bertanya kepada sang putri. Aleesa mengangguk.
Rio harus bersabar ketika Restu harus mengurus istrinya terlebih dahulu sebelum pergi. Semua orang takjub akan kesabaran juga perhatian yang Restu berikan kepada Aleesa. Manusia kejam itu bisa bersikap manis juga ternyata.
Tiba sudah Restu dan Rio berangkat menuju Bandara. Tangan Aleesa masih melingkar di pinggang Restu menandakan dia juga sedikit tidak rela suaminya pergi.
"Tiga hari aja, Lovely." Restu meyakinkan kembali. Aleesa pun mengangguk. Dia mencium mesra kening Aleesa dengan sangat dalam hingga Rio berdecak kesal.
"Cepet woiy!" Sedari tadi pasutri baru itu seakan terus mengukur waktu. Restu berdecak dan untuk kesekian kalinya dia mengecup kening Aleesa..
__ADS_1
"Aku berangkat, ya." Aleesa pun mengangguk dengan tatapan berat.
"Hati-hati, Bie."
Mobil yang membawa Restu dan Rio sudah keluar dari rumah Radit. Aleesa pun kembali bergabung bersama keluarganya.
"Jangan telat makan, Sa." Kini, Aleena yang menasihati.
"Iya."
Tengah asyik dan larut dalam obrolan santai, langkah kaki seseorang terdengar. Mata Aleena mulai melebar dan seketika Aleesa duduk di samping Aleena. Dia takut jika pria itu duduk di kursi kosong yang berada di samping sang kakak. Dia tidak ingin sang kakak disakiti untuk kesekian kalinya oleh orang itu.
"Ke mana menantu kaya raya kamu itu?" Kalimat berupa sindiran yang terlontar dari mulut Satria. Aleesa sudah menatap tajam ke arah pria tua Bangka itu.
"Jangan buat gaduh keadaan di pagi hari yang masih segar ini." Radit berucap dengan penuh penekanan. Sedangkan Khai, dia menatap bingung ke arah pria paruh baya yang berbicara seenaknya. Dia melihat ke arah Aleena yang sudah menundukkan kepalanya.
"Kenapa dengan Aleena?" gumam hatinya.
Senyum tipis mengembang dari bibir Satria. Dia menatap tajam ke arah Aleesa. "Kamu itu korban konspirasi ayah dan Om kamu." Bukan hanya Aleesa yang Satria tatap. Pandangannya pun tertuju pada Aleena.
Aleesa tak menggubris. Dia masih menatap tajam adik dari opanya tersebut. Sang ayah sudah menggelengkan kepala menandakan dia tidak boleh terhasut. Radit tahu Aleesa adalah anak yang paling berani di antara kedua saudaranya.
"Dua manusia yang tak mau rugi." Aleesa malah tersenyum tipis mendengar kalimat sarkas dari Satria ucapkan kepada ayah dan ayah mertuanya.
"Opa iri? Opa dengki?" Nada bicara Aleesa terdengar sangat meledek
"Lalu, aku harus apa?" Sontak semua orang yang berada di sana mengulum senyum mendengar ucapan dari Aleesa. Satria, dia sudah sangat geram dan mulai mendekat ke arah Aleesa. Namun, Aleesa terlihat santai. Beda halnya dengan kedua orang tua Aleesa yang hendak menyelamatkannya, tapi dilarang oleh Aleesa.
Jarak Satria dan Aleesa sudah tinggal satu meter. Urat kemarahan pria tua Bangka itu terlihat begitu jelas. Namun, Aleesa tak gentar.
"Berani Opa menyentuh aku, sudah aku pastikan Opa akan menjemput kematian di penjara." Ancaman yang tak main-main keluar dari mulut Aleesa.
"Ingat, Opa. Jangan pernah salah nyari lawan karena aku adalah istri dari Restu Ranendra. Pria yang akan mencari orang yang sudah jahat kepada istrinya sekalipun itu harus ke lubang semut."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...