RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 9. Pengawal


__ADS_3

Setelah pulangnya Yansen, tubuh Iyan masih menegang. Dia masih belum mempercayai apa yang dia lihat. Air matanya menganak. Hingga sebuah suara keluar dari mulut sahabat Iyan.


"Itulah alasan kami tidak ingin melihat Yansen. Tidak tega."


"Aku bukan Tuhan. Aku yakin, ini hanya halusinasi ku saja." Mencoba berfikir jernih itulah yang Iyan lakukan. Bukan tanpa sebab, dia memikirkan keponakannya.


"Apa kamu tahu ini, Sa?"


.


.


Di sebuah kamar, seorang laki-laki tengah fokus membaca Al kitab. Setiap pagi setelah bangun tidur juga malam sebelum tidur dia menyempatkan waktu untuk membaca kitab sucinya. Yansen tersenyum ketika membaca sebuah firman Tuhan.


Roma 14: 7-9


"Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang – orang mati, maupun atas orang – orang hidup."


.


Dia menajamkan matanya sejenak. Menghirup udara yang masih Tuhan berikan kepadanya.


"Terima kasih, Tuhan. Atas segala kasihMu." Tangan Yansen sudah menggenggam dan matanya masih terpejam. Ada doa yang hanya hatinya katakan pada Tuhan. Doa yang teramat serius dan hanya ingin didengar oleh Tuhan.


Selesai berdoa, dia meraih figura yamg berisi foto dirinya dan Aleesa. Bibirnya masih melengkung dengan sempurna.


"My Sasa. Kamu akan menjadi cinta pertama dan terakhir untuk aku." Sebuah kalimat yang mengandung banyak makna.


Walaupun pesannya tak pernah dibalas, Yansen selalu mengirim pesan selamat tidur kepada Aleesa.


"Good night, My Sasa."


.


Aleesa masih betah melihat pemandangan Kota Zurich dari kamarnya. Bibirnya terus melengkungkan senyum yang begitu lepas. Di ambang pintu kedua orang tua Aleesa ikut tersenyum melihat putri mereka bisa melepaskan bebannya walaupun hanya sejenak.


"Apapun akan Baba lakukan untuk putri kedua kita." Echa pun mengangguk dan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Radit.


Hati ibu mana yang tak sakit ketika mendengar anaknya yang dia jaga disakiti hatinya oleh seseorang yang sudah dia bantu selama ini. Namun, Echa tidak ingin mengungkit kebaikannya. Zaman sekarang banyak manusia yang seperti kacang lupa pada kulitnya. Echa menangis ketika mendengar semua yang diucapkan Iyan. Dia hanya memikirkan bagaimana hati Aleesa pada saat itu.


Rindra dan Nesha pun sangat tahu bagaimana hancur dan sakitnya Radit dan Echa ketika mengetahui penyakit sang putri hadir lagi ditambah kakaknya Yansen menyuruh Aleesa untuk pergi dari kehidupan Yansen. Rindra ingin marah, tapi Nesha mencegah.

__ADS_1


"Aleesa akan betah tinggal di sini," ujar Rindra kepada Nesha.


Di lain tempat, seseorang masih melengkungkan senyum. Dia dikirimkan foto oleh orang yang dia sayang. Seorang perempuan yang tengah tersenyum dengan begitu lepas dan Terlihat sangat cantik.


"Sudah lama aku tidak melihat senyuman itu."


Melihat sang atasan terus-terusan menyunggingkan senyum, anak buah orang itu mulai sedikit penasaran. Tidak biasanya pria muda dan tampan itu tersenyum sepanjang hari. Namun, baru ditatap tajam oleh pria itu, nyali mereka sudah ciut.


Kharisma yang pria itu tunjukkan sangatlah luar biasa. Umur mereka lebih tua dari pria itu, tapi mereka sangat segan. Bukan karena jabatan, tapi memang aura yang pria itu miliki.


.


"Dit, udah janjian sama dokternya?" Rindra bertanya disela-sela makan malam mereka berlima.


"Udah, besok pagi ketemunya."


Rindra menatap ke arah Aleesa yang sedang menikmati makan malam.


"Kamu udah siap, Sa?" Aleesa menoleh dan mengangguk.


"Sasa ingin sembuh, Uncle Papih."


Kalimat itu terasa menyakitkan di telinga empat orang dewasa di sana. Radit dan Echa hanya bisa saling menguatkan. Mereka berharap, anak kedua mereka pun kuat.


"Dit, setelah makan siang jangan lupa." Rindra mencoba mengingatkan dan Radit pun mengangguk.


Aleesa dan kedua orang tuanya sedang menunggu dokter. Wajah Aleesa nampak berbeda. Dia terlihat sangat bahagia.


"Kamu senang berada di sini?" Sang ayah sudah mengusap lembut rambut Aleesa.


"Senang banget, Ba." Aleesa menjawab dengan mata yang berbinar. Radit dan Echa hanya tertawa.


Nama Aleesa dipanggil dan mereka menemui dokter yang memang sudah mengenal Radit. Pemeriksaan dilakukan dan dokter hanya tersenyum.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap sang dokter yang tenyata fasih berbahasa Indonesia.


"Jaga pola makan, olahraga ringan dan yang paling penting hindari stres. Aritmia akan menyerang tubuh secara tiba-tiba ketika pikiran sangat stres. Tolong hindari itu, ya."


Aleesa pun mengangguk. Dokter itu seakan tahu perasaannya. Kedua orang tua Aleesa sudah menatap ke arah Aleesa.


"Sasa baik-baik aja, Bubu, Baba." Aleesa merangkul lengan ayah dan ibunya.

__ADS_1


Dokter memberikan resep obat juga jadwal untuk bertemu lagi. Kondisi Aleesa harus diperiksa secara berkala. Selesai menunggu obat mereka bertiga kembali ke rumah yang mereka tempati.


"Setelah ini kamu bersiap, ya." Dahi Aleesa mengkerut dan menghentikan langkahnya.


"Mau ke mana?" tanya Aleesa bingung.


"Kami akan menghadiri peresmian perusahaan ADT grup di sini." Rindra lah yang menimpali.


"Sasa di rumah aja." Radit menggeleng dengan begitu cepat.


"Kamu harus ikut. Baba gak akan ngijinin kamu di rumah sendirian." Radit berkata dengan sangat tegas.


"Sasa bukan anak kecil, Ba," sanggah Aleesa.


"Sekali Baba bilang enggak, tetap enggak." Kekhawatiran seorang ayah kepada putrinya. Itu wajar terjadi, hingga Rindra memberikan angin segar kepada Aleesa.


"Kamu mau di sini?" Aleesa mengangguk dengan cepat. "Dengan satu syarat, ditemani pengawal." Rindra pun berbicara tak kalah tegas.


Radit sudah menatap tajam sang kakak. Namun, hanya sebuah senyum penuh arti yang Rindra tunjukkan.


"Biarkan Aleesa di sini. Biarkan dia istirahat. Belum tentu acaranya selesai dengan cepat." Rindra seperti memberikan angin segar kepada Aleesa.


Berhubung orang yang diminta Rindra untuk datang sedikit terlambat, membuat Rindra, Radit, Echa dan Nesha mengulur waktu keberangkatan mereka. Sekarang, mereka tengah berada di.sebuah restoran ternama.


"Aku lagi ada tugas, Om. Jarak di mana aku berada sama rumah Om lumayan jauh. Beri aku waktu dua jam untuk tiba di sana."


."Pokoknya kalau ada apa-apa hubungi Baba." Radit sangat over protektif kepada putrinya itu.


"Iya, Baba. Dari tadi Baba ngomongnya diulang-ulang terus." Semua orang pun tertawa.


"Pokoknya Aleesa dijamin aman." Aleesa menggelengkan kepalanya ke arah sang paman. Terlihat pamannya itu sangat bahagia.


Mereka menikmati makanan itu dengan banyak gelak tawa. Hingga Aleesa bertanya sesuatu hal.


"Memangnya siapa yang akan menjadi pengawal Sasa? Sepertinya Papih sangat mengenalnya."


"Selamat siang, Om, Tante."



...***TO BE CONTINUE***...

__ADS_1


Komen 50 di bab ini up 3 bab hari ini. 🤭


__ADS_2