RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 63. Berdamailah!


__ADS_3

Yansen tertunduk dalam. Segelas air putih sudah diberikan oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik.


"Minum dulu." Suara lembut wanita itu membuat Yansen menegakkan kepalanya dengan wajah yang sendu.


Wanita itu menatap Yansen dengan senyum begitu tulus. Dia duduk di hadapan pemuda yang terlihat sangat hancur itu.


"Ada pepatah yang mengatakan jika cinta itu tidak harus memiliki. Itulah yang terjadi pada kisah cinta kamu, Nak." Wanita itu mulai membuka suara.


"Tapi, sulit," balas Yansen dengan begitu lemah.


"Sulit karena kamu belum ikhlas."


Yansen mulai menegakkan kepalanya. Dia menatap wajah ibu Gritte dengan wajah menyedihkan. Dia benar-benar frustasi.


"Tidak perlu cinta mati pada manusia. Tuhan mu lah yang harusnya kamu cintai dengan segenap hati sampai kamu mati," tuturnya. "Pada hakikatnya, kita semua akan kembali pada Bapak di surga. Dialah yang akan memberikan cinta dan kasih yang besar dan tulus untuk umat-Nya."


Yansen terdiam. Dia menyimak apa yang dikatakan oleh ibu Gritte. Pelayan Tuhan di Gereja tempatnya beribadah di hari Minggu.


"Terkadang, rencana yang kita susun tidak sesuai dengan rencana Tuhan. Satu hal, percayalah jika rencana Tuhan itu lebih indah dari rencana kita. Jadi, ikuti apa yang sudah Tuhan tuliskan. Hidup kita di dunia tidak akan kekal." Terenyuh hati Yansen. Apalagi mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut ibu Gritte.


"Lepaskan pelan-pelan, berdamailah dengan semua yang terjadi. Saya yakin keikhlasan akan datang menghampiri." Sungguh menyejukkan sekali ucapan dari ibu Gritte. Mampu menggetarkan hati Yansen.


"Berdoalah, minta ampunan kepada Tuhan. Lalu, minta maaflah kepada mereka yang sudah kamu sakiti dan kecewakan. Mau mereka memaafkan atau tidak, itu urusan mereka, yang paling penting kamu sudah meminta maaf, meminta ampunan, dan terus berbuat baik juga bersikap baik kepada mereka. Saya yakin, mereka akan memaafkan kamu. Walaupun saya tidak tahu mereka, tapi dari cerita kamu saya sangat yakin bahwa mereka adalah orang-orang baik dan hebat."


Yansen hanya terdiam. Bagaimana dia akan meminta maaf kepada keluarga Aleesa? Dia sangat malu. Dia sudah mengecewakan keluarga Aleesa.


"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Tuhan pasti akan selalu berada di samping kamu."


Sebuah petuah yang ibu Gritte berikan. Pelayan Tuhan itu tidak menyalahkan Yansen, juga tidak menyalahkan keluarga Aleesa. Dia malah ingin mendamaikan Yansen dengan keluarga Aleesa.


"Kamu anak baik. Minta maaflah dan berdamailah dengan rasa kecewamu. Kemudian, kembali menjadi pelayan Tuhan agar hati kita damai."


.

__ADS_1


Grace sudah dipanggil pihak kepolisian atas pelaporan Aksara. Dia didampingi oleh Jerome, pengacara juga psikiater. Psikis Grace sedang tidak baik-baik saja.


Radit turut serta memantau dari laporan orang-orang yang dia percaya. Dia tidak bisa membenarkan tindakan Grace, tapi dia juga tidak ingin Grace semakin tertekan. Dia sudah menganggap Grace dan Yansen seperti anaknya sendiri. Alasan terkuatnya masih mau membantu, walaupun tidak terang-terangan karena dia tahu bagaimana rasanya ditinggal orang tua sedari kecil.


Grace tidak tahu jika Yansen tengah terpuruk, dan Yansen pun tak tahu jika kakaknya tengah tertekan dengan apa yang harus dia hadapi. Mereka terbawa emosi hingga terjadi hal seperti ini.


.


Lima jam berlalu, Aleesa masih betah memandangi ponselnya. Tidak ada kabar sama sekali dari sang kekasih. Padahal dia ingin berbincang dengan pengawal tampan itu. Namun, nomornya malah tidak aktif. Perihal Grace yang dilaporkan kepada pihak berwajib, Aleesa sama sekali tidak tahu. Semua keluarganya seakan menutup rapat apa yang terjadi. Mereka tahu, Aleesa memiliki hati yang lembut seperti ayahnya.


Hati Aleesa bergetar ketika dia melihat foto yang masih terpajang di atas meja belajar. Foto dia dan juga Yansen tengah tersenyum bahagia. Tangannya meraihnya, dan mengusap lembut kaca figura tersebut.


"Aku egois ya, Sen. Aku jahat," ucapnya dengan suara bergetar. "Harusnya kita tidak saling menyakiti seperti ini." Aleesa mulai menunduk dalam. Terlalu banyak kenangan antara mereka berdua. Akankah Aleesa akan mudah untuk melupakan semuanya?


"Andai jalan kita sama, mungkin kita tidak akan mendapat cobaan seperti ini. Ini terlalu menyakitkan untuk kita." Aleesa mulai menitikan air mata. "Harusnya, kita tidak melawan arus agar semuanya mengalir begitu saja." Penyesalan datang di akhir.


Hati Aleesa sedikit demi sedikit sudah mulai bisa menghilangkan sosok Yansen di hatinya. Apalagi, jika Restu terus bersamanya. Itu akan lebih mudah karena dengan rasa nyaman yang Restu berikan membuat hati Aleesa tenang dan tidak akan ada pikiran luar yang berkeliaran.


Aleesa terbayang ketika kejadian di Bandara kemarin. Tindakan Yansen yang ingin menciumnya membuat aritmianya kambuh. Dia takut, dia merasa dinodai jika itu terjadi. Dia merasa bibirnya itu hanya untuk Restu. Tidak ada yang boleh mencicipinya selain kekasih bayangan yang diperlakukan seperti kekasih sungguhan.


"Maafkan aku, Sen."


Semua barang pemberian ataupun benda kenangan. antara dirinya dan Yansen, Aleesa simpan dan akan dia taruh di gudang. Setelah semuanya selesai, dia mengecek ponselnya lagi. Hanya umpatan yang keluar dari mulut Aleesa.


"Tugas apa sih, Bie. Kenapa belum aktif juga." Aleesa benar-benar mengeluh kali. Keluhan bercampur kekesalan.


Tangan Aleesa mulai menari-nari dan mulai mengetikkan sesuatu. Sudah tak terhitung pesan yang sudah Aleesa kirimkan kepada Restu.


Enam jam.


Tujuh jam.


Delapan Jam.

__ADS_1


Sembilan jam.


Sepuluh jam.


Tidak ada satupun pesan yang dibaca. Kesabaran Aleesa mulai habis. Hingga dia mengetikkan sesuatu yang sangat menyeramkan ke nomor ponsel sang tunangan.


"Udahlah, aku minta Baba nyoret kamu dari list calon mantu." Saking kesalnya seorang Aleesa Addhitama hingga seperti itu.


Tak lama, ponselnya berdering. Dia sudah bahagia, ternyata Kemala yang menelponnya.


"Akhirnya lu balik juga, Sa." Terdengar Kemala sangat berantusias. "Gua kangen lu."


Ada rasa bahagia ketika dia mendengarnya. Kemala dan Raina adalah dua perempuan yang bisa dibilang teman yang tidak pernah kepo tentang keluarganya. Aleesa tidak ingin mempublish dirinya siapa. Dia bukan orang yang haus akan hak istimewa.


"Kapan masuk kuliah?"


"Kayaknya lusa,"


"Besok aja, ya. Gak bakal masuk kelas ini, ada seminar akbar di kampus. Pembicaranya pun bukan orang sembarangan." Padahal, Kemala ingin bertemu dengan Aleesa. Ingin melepas rindu sekaligus memberitahukan perihal Yansen yang sudah bertunangan dengan Nathalie.


Aleesa terdiam sejenak, tapi Kemala terus mendesak. Hingga pada akhirnya Aleesa mengiyakan.


"Ya udah." Kemala pun nampak bahagia. "Oh iya, emang pembicara di Seminar besok siapa?"


"Alumni kampus kita yang udah sukses banget. Beliau sudah membangun kerajaan bisnis di Swiss sampai punya mall sendiri. Keren gak tuh," ujar Kemala.


"Cowok?".


"No. cewek."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2