RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 130. Pertemuan


__ADS_3

Rindra sudah siap untuk pergi ke acara yang diadakan oleh Satria. Dia sudah rapi dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Rifal dan juga Radit. Mereka sengaja datang bertiga dengan menggunakan satu mobil. Tibanya di tempat tujuan, kedatangan mereka disambut hangat oleh Satria dan juga Kalfa.


"Silahkan duduk."


Radit dan Rifal sudah menaruh curiga, beda halnya dengan sang kakak yang nampak santai dengan karena dia tidak tahu apa yang sudah Satria lakukan kepada keponakannya.


"Om kapan tiba di sini? Kok nggak bilang Abang?" pertanyaan Rindra membuat Rifal dan Radit menggelengkan kepala seraya saling pandang. Apalagi melihat Satria yang berlagak sok baik di depan Rindra.


"Om nggak mau ngerepotin Kamu, Bang. Kamu pasti sibuk." Ingin rasanya Rifal menyeletuk agar Satria malu dengan kebohongannya.


"Ya, kan kalau Abang tahu Abang bisa jemput Om." Rindra masih bisa bersikap sopan. bagaimanapun Satria adalah adik dari ayahnya dan adalah orang tertua yang harus Rindra hormati terlepas Bagaimana kesalahannya di masa lalu dia sudah memaafkan, walaupun tidak melupakan.


"Tidak apa, santai saja. Sekarang Om ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian."


Satria menunjukkan progress dari perusahaannya bersama Kalfa. Perusahaan yang dulu diremehkan menjadi perusahaan cukup besar. Nama mereka pun terkenal di kalangan para pengusaha menengah ke bawah. Sedangkan Rifal dan Radit menatap layar tersebut dengan malas


"Tujuan Om mengumpulkan kalian untuk mengajak kerjasama." Satria berkata dengan penuh percaya diri. "Perusahaan yang papi kalian berikan kepada Restu harus ikut bergabung dengan perusahaan milik Om dan Kalfa."


Rindra tidak langsung setuju dengan ucapan sang paman. Dia menukikkan kedua alisnya karena dia merasa ada yang janggal dari perkataan Satria. Bukan mengajak, tapi memaksa.


"Kenapa harus bergabung? Abang yakin Restu bisa mengelolanya sendiri." Rindra menaruh harapan besar kepada putranya yang nantinya akan menjadi pemilik perusahaan dari sang ayah.


"Dia masih baru, Bang," elak Satria. "Dia pasti tidak mengerti dengan perusahaan dan butuh bimbingan senior agar perusahaan tidak bangkrut dalam waktu cepat."


Satria tahu jika Rindra adalah orang yang sangat teliti akan perkembangan perusahaan. Maka dari itu, dia memanfaatkan momen ini agar perusahaan kecil itu bisa bergabung dengannya dan nantinya akan dia akuisisi.


"Kenapa harus berguru kepada Om? Abang pun bisa mengajarkan Restu." Rindra sedikit tidak percaya dengan ucapan Satria. Dia sekaan mendengar bisikan seseorang agar tidak percaya dengan ucapan Satria.


"Ipang setuju sama Abang." Rifal menimpali. Dia menatap Satria dengan begitu tajam.


"Perusahaan itu milik Restu, sudah menjadi hak Restu. Tidak boleh siapapun ikut campur untuk mengelolanya, kecuali ayahnya sendiri." Rifal menegaskan hal itu. Dia sudah mencium bau-bau kecurangan yang tengah Satria susun dengan eonuh strategi.


"Ya. Om tahu, tapi kan jika bergabung dengan perusahaan Om itu akan lebih mempercepat perkembangan perusahaan kecil itu. Buktinya perusahaan Om yang dari nol sekarang bisa menjadi besar Apa kalian tidak mau melihat Restu menjadi pemimpin di perusahaan itu?" Hanya diiming-imingi.


Sedari tadi Radit hanya mendengarkan. Dia tahu arah tujuan Satria itu akan ke mana. Radit diam tidak banyak bicara. Cukup dengan melihat mimik wajah Satria sja dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Ini murni Om ingin mengajak kerjasama atau Om ingin menguasai perusahaan milik Restu?" Pertanyaan Rifal sangat menohok. Itu membuat Satria terdiam sejenak, rasanya dia disindir dengan begitu keras.


"Kok sepemikiran ya, Pang," ujar Rindra. "Perusahaan itu memang perusahaan kecil, bukankah itu perusahaan yang Om incar? Karena Om tahu bagaimana progres perusahaan itu ke depannya." Rinda melanjutkan ucapannya.


"Jangan tamak, Om!" Radit baru membuak suara. Tatapan Satria begitu tajam ke arah Radit.


"Mana ada Om tamak seperti itu?" Lagi-lagi Satria mengelak. Om hanya ingin membantu itu saja


Rindra pun tersenyum tipis. Dia sudah menegakkan duduknya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Abang tidak memiliki wewenang atas perusahaan itu karena itu adalah milik Restu, warisan langsung dari Papih untuknya. Hanya Restu yang bisa memitudak semuanya."


"Siyall!" Begitulah batin Satria. Dia merasa gagal tidak bisa meyakinkan hati ketiga keponakannya


"Dia itu tidak memiliki basic pengusaha. Jadi, jangan percayakan seratus persen." Satria mulai mengeluarkan isi kepalanya. "Dia hanya tukang pukul." RIndra tidak terima dengan ucapan Satria. Sang Paman seakan merendahkan Restu dengan menyebutnya tukang pukul. Itu terlalu sadis.


"Om sekolah tinggi. Om memiliki tahu bagaimana cara berbicara kepada kolega, kepada semua orang dan juga kepada keluarga. Apa pantas Om menyebut keponakan Om sendiri dengan panggilan tukang pukul?" Rindra Sudah menekan setiap perkataannya. Wajahnya pun sudah terlihat emosi


"Di mana letak salahnya? Memang benar kan dia cuman tukang pukul." Rindra sudah tidak bisa menahan emosi. Dia pun menggebrak meja dan berdiri. Rifal dan Radit tidak mencoba untuk menahan, membiarkannya mereka berdua beradu mulut.


"Lantas siapa Kalfa sebenarnya? Bukankah dia juga anak pungut? Bukankah Om juga memungut di jalanan? Itu tidak lebih baik dari Restu. Walaupun dia diambil dari penjara, tapi dia bisa menjadi anak yang berguna sekarang. Restu hanya sebuah emas yany terbuang di tumpukan sampan. Ketika emas itu ditemukan oleh orang yang tepat, maka dia akan berharga bagai emas yang memiliki harga jual tinggi. Apalagi disejajarkan dengan para emas yang lainnya."


Satria terpukul dengan omongan Rindra yang begitu menusuk ulu hati. Rifal dan Radit hanya mengulum senyum. Mereka tidak berniat untuk melerai.


Tengah asyik beradu argumen dengan penuh emosi, tiba-tiba sebuah video diputar. Ketiga anak Addhitama melihat ke arah layar. Mereka terkejut ketika seorang pria yang memakai tongkat memukuli seorang laki-laki muda dengan pakaian kemeja putih dan celana bahan hitam hingga babak belur dan tak berdaya. Ketika diperlihatkan lebih jelas ternyata laki-laki muda itu adalah Restu dan pria yang memakai tongkat itu adalah Satria. Jangan ditanya bagaimana wajah rindra dan Radit sekarang ini begitu juga dengan rival mereka menatap tajam ke arah Satria.


belum surut emosi mereka sebuah video lain diputar yakni di mana Kalfa membentak Aleeya dengan begitu keras di pinggir jalan hingga Aleeya menangis. Kalfa mencengkeram tangan Aleeya hingga dia meringis. Jangan ditanya bagaimana reaksi Radit. Wajahnya merah, dia merasa anaknya sudah diperlakukan dengan tidak baik oleh laki-laki yang sekarang masuk daftar hitam.


"Apa maksud semua ini? Rindra bertanya dengan begitu lantang. "Kenapa Om pukul Restu? Apa salahnya?" Satria pun tidak bisa berkutik.


Baru saja Rindra berhenti berbicara, seseorang masuk ke dalam ruang itu. Semua mata tertuju pada orang yang baru saja datang


"Restu." Rindra terkejut. Dia menelisik wajah sang putra.


Rindra mendekat dan wajah tampan sang putra dipenuhi luka lebam. Dia pun dengan paksa membuka baju Restu dan benar di sekujur tubuhnya terdapat luka memar membiru. Emosi Rindra sudah membuncah.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini Om? APA?"


"Apa maunya Om? Malah dengan tega menyakiti Restu yang tidak salah. APA MAUNYA OM?"


"Ini, Pih." Rindra tidak menjawab, tapi Restu sudah menyerahkan sebuah map coklat kepada sang ayah.


"Aku hanya ingin hidup bahagia dan tenang, Pih. Aku sudah muak dengan yang namanya harta warisan."


Rindra melebarkan mata ketika selesai membaca apa yang tertulis di sana. Di sana pun ada tanda tangan Restu. Perusahaan kecil yang Addhitama berikan untuk Restu dia berikan kepada orang lain karena sudah tidak mau menerima.


"Tapi, Nak--"


"Uang bisa dicari. Perusahaan bisa dibuat dan dibeli, tapi kebahagiaan itu sulit untuk kita dapat. Aku lebih memilih bahagia dan tenang daripada banyak uang tapi hidup tidak tenang." Restu Masih sanggup untuk tersenyum. Sedangkan semua orang tercengang.


"Susah memang jika memiliki anak berjiwa miskin mah." Satria masih bisa menyindir di kala otak Rindra masih sangat panas


"COBA UCAPKAN SEKALI LAGI!" Emosi Ridmra nyaris tak tertahan.


"Biarkan saja biarkan orang itu berkoar sesuka hati. Biarkan dia berbicara sampai mulutnya berbusa. Aku tidak peduli," tukas Restu.


"Tapi, ingat ketika kesabaranku sudah habis ... Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun untuk hidup dengan tenang. Jika, tidak aku kirim ke ICU ya mungkin masuk ke dalam peti mati." Ancaman yang tidak main-main dari seorang Restu Ranendra..


"PT SKF hanyalah seujung kuku dari saham yang dimiliki oleh seorang Ratu Ranendra." Suara yang sangat menyebalkan dan ternyata orangnya pun tak kalah menyebalkan. Siapa lagi jika bukan Aksara.


Layar pun sudah berganti dengan lembaran-lembaran surat berharga atas nama Restu Ranendra. Tanpa semua orang tahu Restu adalah pemilik saham terbesar di salah satu perusahaan milik Aksa yang berada di luar negeri. Sudah lama dia bergabung ke dalam perusahaan tersebut. Masa depannya tidak bisa dirgukan lagi. PT. SKF pun mampu dia beli. Begitu juga dengan perusahaan kecil milik sang kakek yang ingin dikuasai oleh Satria. Itulah kenapa dia menyerahkan perusahaan kecil yang diberikan oleh sang kakek yang tidak ada apa-apanya untuk Restu.


"Silakan kelola perusahaan kecil itu. Setelah besar saya janji saya akan membelinya dan akan menjadi milik saya." Sebuah ancaman yang tidak main-main ditujukan kepada Satria.


Kebanggaan hadir di hati Aksara. Ilmu yang Aksa ajarkan menempel pada diri Restu dan hampir 90% mirip Aksa. Pengusaha bertangan dingin yang bisa melakukan segala cara untuk memusnahkan musuhnya.


"Satu lagi, harga diri putra kesayangan Anda pun bisa saya beli dengan dollar."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2