RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 200. Meminta Ijin


__ADS_3

Sampai jam sepuluh siang belum ada pergerakan dari Restu. Sedangkan pihak Satria sudah melapor ke pihak kepolisian menyertakan hasil visum. Keadaan semakin panas dan membuat keluarga besar Aleesa mulai geram. Namun, Restu menyuruh mereka untuk tenang.


"Gimana mau tenang?" Sang papih sudah membuka suara. Dia sudah sangat kesal dan geram. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran putra angkatnya tersebut.


Bukan hanya Rindra, Radit pun ingin bertindak. Begitu juga dengan Aksa yang sudah sangat gatal ingin memenjarakan dua manusia itu. Namun, dilarang oleh Restu. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang tengah Restu rencanakan sampai tidak ada yang bisa membocorkan rencana menantu dari Raditya Addhitama tersebut.


Rindra dan Radit sudah mendesak Rio untuk membuka suara, tapi cucu pertama dari Addhitama pun tak tahu apa-apa tentang rencana Restu. Begitu juga dengan Aksa yang terus bertanya kepada Aleesa. Akan tetapi, Aleesa pun tidak tahu dengan apa yang direncanakan oleh suaminya.


"Bie, ponsel kamu terus bunyi." Aleesa yang tengah memasukkan baju ke dalam koper berbicara kepada sang suami yang tengah sibuk dengan laptopnya. Restu sepertinya sengaja membiarkan ponselnya terus berdering. Sekali dua kali Aleesa pun tidak masalah, tetapi ini sudah membuat telinganya pengang.


"Bie," panggil Aleesa lagi.


"Biarin aja, Lovely." Restu sama sekali tak menggubris perkataan Aleesa. Dia teramat serius sehingga membuat Aleesa beranjak dari tempat awalnya.


Aleesa menyerahkan ponsel milik Restu dengan posisi di balik karena dia tidak ingin melihat nama si pemanggil tersebut. Ponsel Restu sudah berada di hadapan sang pemilik. Restu mendongakkan kepalanya dan terlihat wajah seram yang Aleesa tunjukkan. Restu menghela napas kasar. Dia menarik tangan Aleesa hingga dia duduk di samping Restu.


"Aku sedang tidak ingin menjawab telepon dari siapapun." Restu tersenyum dan mencium singkat bibir Aleesa.


"Kenapa?" tanya Aleesa. Restu tidak menjawab. Dia mencium kembali bibir sang istri.


"Ponsel kamu aku pegang, ya." Mata Aleesa melebar mendengarnya.


Restu malah melarang Aleesa untuk membuka ponsel. Dia tidak mau istrinya terpengaruh akan berita yang sudah dinaikkan ke media. Dia takut penyakit istrinya akan kambuh lagi.


Peringatan yang Restu berikan kepada Aleesa membuatnya hanya bisa mengangguk, tapi di kepalanya timbul pertanyaan.


"Sudah sejauh apa berita tentang kak Restu?" gumamnya dalam hati.


Aleesa bukan orang bodoh. Dia sudah menebak jika berita tentang suaminya sudah sangat parah. Namun, dia juga tidak ingin membangkang dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia harus patuh kepada Restu.


Restu pun sudah melarang Radit maupun Echa untuk menanyakan hal apapun tentang kasus yang tengah dia hadapi. Restu memilih mengirim pesan dari pada berbicara langsung. Untung saja kedua orang tua Aleesa mengerti karena terdapat mata-mata di dalam rumah itu.


Jam dua belas siang, Restu dan Aleesa sudah siap untuk berangkat menuju bandara. Sengaja Restu dan Aleesa memakai topi dan juga masker. Sebelum berangkat mereka berdua berpamitan kepada Radit dan Echa. Juga kepada saudara Aleesa.


"Berapa hari di sana?" tanya Echa kepada Aleesa.

__ADS_1


"Namanya juga menghindar, Bu. Kemungkinan lama." Jawaban yang penuh dengan sindirian keluar dari mulut Restu untuk Aleeya yang sudah menggenggam ponselnya.


Aleesa menatap ke arah Restu dengan tatapan sendu. Dia tersenyum ke arah Aleesa dan mengusap lembut rambut sang istri tercinta.


"Sambil honeymoon di sana," ucap Restu kepada Aleesa. "Nanti anak kita Made in Zurich biar keren." Aleesa pun tertawa mendengarnya.


Rio sudah menghubungi Restu dan dia sudah menuju bandara. Restu sudah menggenggam tangan Aleesa dan membawanya pergi.


"Jaga anak Baba." Restu mengangguk


"Apa Kak Restu beneran gak ngelakuin apa-apa dengan kasusnya ini?" tanya Aleeya penasaran.


"Mau dia melakukan sesuatu atau tidak yang jelas dia tidak melibatkan siapapun dalam masalahnya. Dia tidak berlindung di balik nama siapapun. Walaupun dia memiliki bekingan keluarga yang sangat kuat, tapi dia tidak memanfaatkan itu." Radit berkata dengan penuh sindiran dan membuat Aleeya terdiam.


Aleena memilih untuk pergi meninggalkan Aleeya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Di sana hanya tinggal Khairan.


"Lu sadar gak sih apa yang udah lu lakuin itu salah," ujar Khairan. Aleeya menoleh ke arah sahabat dari kakaknya itu.


"Bokap lu itu udah marah dan kesal, apa lu gak sadar juga?" Khai mulai mengomeli Aleeya. Adik bungsu Aleena itu malah terdiam.


"Apa lu jelmaan manusia pohon pisang. Punya jantung, tapi gak punya hati."


.


Tangan Aleesa sudah sangat dingin ketika mereka berdua hendak menuju teras rumah. Restu menoleh ke arah sang istri.


"Kita akan baik-baik saja." Aleesa tersenyum dengan terpaksa hingga pada akhirnya Restu memeluk tubuh Aleesa.


"Selagi ada aku di sini jangan takut akan hal apapun."


Mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil. Restu sudah mengubah kaca film mobil dengan warna gelap agar tak bisa tembus pandang. Restu terus menggenggam tangan Aleesa dengan begitu eratnya.


"Kita bisa melihat mereka, tapi mereka tidak bisa melihat ke dalam mobil kita." Aleesa nampak tidak percaya. Namun, ternyata apa yang dikatakan oleh Restu memang benar.


"Jangan takut lagi, ya." Aleesa pun mengangguk. Dia mulai tenang dan kini bersandar di bahu sang suami.

__ADS_1


Mobil terus melaju. Dahinya mengkerut ketika Aleesa baru menyadari jika mobil yang dia tumpangi melaju bukan ke arah bandara melainkan ke luar kota.


"Bie," panggil Aleesa. Dia mendongakkan kepala ke arah sang suami yang tengah fokus pada ipad.


"Kenapa, Lovely?" tanya Restu.


"Kita mau ke mana? Ini bukan arah ke Bandara." Restu hanya tersenyum. Dia mengusap lembut rambut sang istri tercinta.


"Kita akan bertemu dengan seseorang sebelum kita ke bandara."


"Siapa?" tanya Aleesa penasaran.


"Nanti juga kamu tahu."


Dahi Aleesa mengkerut ketika mobil memasuki area pemakaman elite yang sangat Aleesa kenali. Dia menatap ke arah sang suami.


"Ke makam Opa?" Restu hanya tersenyum.


Tangan Aleesa digenggam oleh Restu dengan begitu erat. Hingga langkah Restu berhenti di salah satu pusara. Mata Aleesa melebar. Dia menatap ke arah Restu dengan tatapan tak mengerti.


"Engkong."


Restu mengangguk. Dia mulai merendahkan tubuhnya dan mulai duduk di kursi plastik yang sudah disediakan.


"Kenapa harus meminta ijin kepada Engkong?" tanya Aleesa yang masih belum mengerti. Dia masih bingung sekali. Restu tidak menjawab, dia malah terfokus pada pusara berumput hijau di hadapannya.


"Kong, aku minta ijin ya untuk melakukan ini. Aku terpaksa karena mereka yang menyenggolku dan Aleesa tanpa sebab. Aku tak bisa diam saja."


Setelah selesai berbicara di pusara Rion Juanda, mobil kembali menuju bandara. Rio sedari tadi sudah menunggu di sana. Restu dan Aleesa sudah duduk nyaman di kursi pesawat kelas bisnis. Ketika pesawat take off media dikejutkan dengan munculnya video lawas mobil bergoyang.


"Disinyalir pemeran video ini adalah Satria dengan seorang wanita dewasa yang tak lain mantan istri dari ayahnya ibu mertua CEO Zenth Corporation yang Satria laporkan."


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...

__ADS_1


__ADS_2