RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 208. Tanah Yang Berbeda


__ADS_3

Aleesa berkali-kali menghubungi Restu, tapi tak pernah Restu jawab. Dia menghubungi Rio pun sama. Alhasil, dia memberanikan diri untuk keluar dari rumah. Namun, Aleesa dikejutkan dengan keberadaan Gemke di depan pintu. Aleesa pun memegang dadanya. Gemke menunduk sopan.


"Tenanglah! Itu pesan dari Mr. R."


"Gak bisa!" sahut Aleesa. "Ini--"


"Semuanya akan baik-baik saja." Gemke mencoba untuk menjelaskan. Dia juga memperlihatkan ponselnya ke arah Aleesa di mana Restu masih rapat penting dengan para kolega dari Zenth Corporation.


"Lebih baik Nona beristirahat. Mr. R akan marah jika tahu Nona keluar kamar."


Aleesa menatap tajam Gemke. Dari dulu sikap Gemke gak berubah. Masih saja menyebalkan. Aleesa menutup pintu kamar dengan sangat keras hingga Gemke menggelengkan kepala.


"Sikapnya hampir sama dengan Mr. R," gumam Gemke.


Apa yang dikatakan oleh Gemke memang benar. Mr. R atau Restu memang tengah meeting dengan para kolega Zenth Corporation. Perihal berita itupun dia sudah tahu. Namun, dia belum mau menanggapi.


Rio yang sudah pertama kali menerima kabar itu. Dia juga sudah memberitahukan kepada Restu. Namun, Restu tidak merespon sama sekali.


"Fokuslah pada meeting ini."


Rio terkejut dengan yang dikatakan oleh Restu. Kakaknya ini sudah berubah sekali. Rio pun hanya mengangguk. Di sini dia hanya anak buah dari Restu Ranendra.


.


Pihak Satria sudah melakukan konferensi pers lagi. Dia malah dengan berani mendatangkan para ahli perihal tes DNA. Itu terjadi karena Kalfa dengan terang-terangan bertanya siapa dirinya. Kalfa sudah berada di titik terlelahnya.

__ADS_1


"Katakan pada aku, Pih. Aku butuh kebenaran." Kalfa terlihat sangat frustasi. Dia sudah menatap Satria dengan penuh permohonan.


"Papih tidak mungkin membohongi kamu, Fa. Ini hanya kebohongan Restu yang ingin membuat hubungan kita retak." Satria mencoba untuk menjelaskan dan meyakinkan.


"Neneknya Aleeya itu adalah mantan kekasih Papih. Papih melakukan hal penuh dosa dengannya hingga karma datang kepada Papih dan dia. Putra Papih meninggal, dan ibu dari putra Papih itupun meninggal dengan cara tragis." Satria terus meyakinkan Kalfa.


"Papih tidak mengarang cerita, Fa. Dari dulu Papih selalu jujur 'kan kepada kamu." Kalfa pun mengangguk.


"Percayalah pada Papih, Nak. Papih gak akan membohongi kamu."


Satria dapat bernaoas lega ketika Kalfa percaya dengan mudah. Dia harus memutar otak bagaimana agar membuat Kalfa tidak termakan dengan bukti tes DNA tersebut.


.


"Gua gak habis pikir sama otak tuh aki-aki." Kini, Aska sudah membuka suara. Dia meninggikan suaranya dan tak peduli jika Aleeya akan mendengarnya.


"Manusia serakah tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dia capai. Ditambah dia iri karena anak angkat dari keponakannya lebih unggul dari anaknya." Aksa menjelaskan dengan hal yang masuk akal.


"Cara yang dia pake ini bener-bener mencerminkan seberapa kotornya hati dia." Aska menimpali.


Radit yang mendengarnya hanya terdiam. Dia tidak berkomentar. Apa yang dikatakan oleh kedua adik iparnya tidak salah.


"Bandit, kok bisa sih Papih lu punya adik berhati iblis begitu?" Aksa mulai gemas sendiri.


"Opa Addhitama itu terlahir dari tanah suci, sedangkan si aki-aki bau tanah itu terlahir dari tanah sengketa."

__ADS_1


Agha yang mendengarnya malah tergelak. Walaupun tangannya tengah bermain game, telinganya masih bisa mendengar dengan sangat jelas.


"Daddy kalau ngomong suka bener." Aksa pun tergelak.


Terdengar suara langkah kaki, Aleeya datang menghampiri tiga pria dewasa dan juga dua anak remaja yang tengah asyik bermain game di samping para ayah mereka. Tatapan mereka sangat sinis.


"Pada kenapa sih?" Aleeya sudah duduk di samping Agha.


"Yaya kenapa di sini? Bukan temenin calon mertua nih konferensi pers." Mulut Agha sangat berbisa.


"Sekalian Yaya bawa spanduk dukungan buat mereka." Abdalla pun menimpali.


Aleeya mengerutkan dahinya ketika para sepupunya malah menghakiminya. Dia menatap tajam ke arah Dalla dan Agha.


"Mau mata Yaya sampai kedeng pun lihatin Mas, Mas gak akan pernah takut." Padahal mata remaja itu tertuju pada ponsel di tangannya.


"Keluarga adalah tempat pulang terbalik di mana Yaya sudah tak dianggap oleh dunia, dan hanya keluarga yang akan mampu menerima Yaya dengan tangan terbuka. Terlepas bagaimana Yaya menyakiti mereka," papar Agha. Aleeya lun terdiam.


"Apa perlu Yaya meraskan bagaimana rasanya dibuang oleh dunia? Supaya mata Yaya terbuka dengan lebar.?"


"Percuma, Mas," timpal Abdalla.


"Yaya lagi berada di fase dablek. Kebanyakan makan cinta yang yang buatnya dia buta dan lupa pada keluarga. Malah rela bertengkar demi membela orang yang salah," lanjutnya lagi. Aleeya malah terpojokan dengan ucapan kedua sepupunya yang sangat mematikan.


"Apa perlu Uncle bawa kamu ke dokter mata atau bedah otak? Biar kami bisa berpikir dengan baik dan melihat kebenaran."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ....


__ADS_2