
Restu segera menghubungi sang istri ketika mendapat kabar dari Gemke bahwa Aleesa hampir keluar rumah dengan kondisi penuh tanda merah di leher. Ketika sambungan video terhubung, Terlihat Aleesa bermata merah seperti habis menangis.
"Kamu kenapa, Lovely?" Restu mulai sedikit cemas.
"Berita kamu udah naik lagi." Suara Aleesa bergetar. Restu hanya menghela napas kasar.
"Aku gak mau kamu dipenjara, Bie." Akhirnya, ketakutannya selama ini diungkapkan.
"Kamu tenang aja, ya. Aku pastikan semuanya tidak akan pernah terjadi." Restu menenangkan sang istri.
"Tapi, aku takut." Sebuah jawaban yang membuat Restu menghembusakan napas untuk kedua kalinya.
.
Satria sudah tersenyum penuh kemenangan karena tidak ada balasan dari Restu perihal kasusnya. Dia juga sedang bersiap untuk memenjarakan Restu. Sedangkan Kalfa dia hanya pura-pura percaya kepada sang papih. Padahal dia terus menangis di dalam kamar.
Dia bagai anak kecil yang tengah merajuk. Dia memeluk kedua kakinya dengan kepala yang menunduk dalam. Punggungnya bergetar.
"Mana yang harus aku percaya?" gumam Kalfa dengan nada sangat frustasi.
Apalagi dia sudah menonton konferensi pers sang ayah bersama pengacara handal. Dia tidak bangga, dia malah sedih. Dia teringat akan ucapan dari Rifal, keponakan sang ayah.
"Ikutilah jejak baik papihmu dan buanglah jauh sikap buruknya. Belalah pihak yang benar sekalipun itu sekutumu."
Dari situ saja dia bisa menilai siapa yang salah siapa yang benar. Rifal, dia adalah anak dari adik ayah angkat Kalfa yang tak pernah ikut campur perihal urusannya dengan sang ayah. Juga dengan Aleeya maupun Aleena. Dia juga yang tidak berpihak kepada siapapun. Dia juga yang bisa mengajak Kalfa berbicara empat mata tanpa emosi.
Kalfa mulai mencoba mengingat masa kecilnya. Namun, sama sekali dia tidak ingat. Dia hanya mengingat jikalau dia adalah anak seorang pemulung yang setiap hari selalu ikut dengan ibunya untuk memulung barang bekas. Sedangkan ayahnya sudah sakit-sakitan. Satu tahun sebelum dia bertemu Satria, ayahnya meninggal. Tak lama kemudian sang ibu menyusul sang ayah.
"Pak, Bu, aku ini anak siapa?" Air matanya meleleh kembali. Hatinya hancur. Selama hampir lima belas tahun hidup dengan orang yang dia anggap seperti malaikat dan membuat hidupnya enak, malah sekarang dia dihadapkan dengan berita yang menyakitkan. Berita yang dia sendiri tidak tahu kebenarannya seperti apa.
"Kalau apa yang dibeberkan Restu benar ... berarti Papih sangat jahat."
Kalfa menundukkan kepalanya di atas lutut. Dia menangis tersedu. Hatinya benar-benar sakit. Dia benar-benar dilanda kebingungan yang luar biasa.
"Jika, orang tua kamu sampai rela melakukan itu, tandanya berita itu tidak benar. Lihatlah perjuangan Papih kamu, Fa." Itulah yang dikatakan Aleeya. Namun, hati kecil Kalfa mengatakan hal yang berbeda.
__ADS_1
.
Sudah dua hari dari konferensi pers dilaksanakan, Restu tidak merespon apapun. Dia juga melarang Aleesa untuk membaca berita online. Sudah pasti banyak berita tentangnya.
"Kita fokus honeymoon aja."
Restu dan Aleesa melupakan kesepakatan mereka tentang menunda momongan. Mereka malah gencar sekali melakukan gencatan senjata antara belalai bongsor dengan goa sempit.
Gemke dan Rio akan menggelengkan kepala jika melihat Restu di pagi hari. Rambutnya pasti basah.
"Emang gak bisa ya kalau semalam aja gak uh ah uh ah." Rio sudah mengejek.
"Pala gua siangnya udah puyeng. Jadi, malamnya kudu refresh lah."
Gemke hanya menggelengkan kepala mendengar percakapan Restu dan Rio. Sisi lain dari Restu yang tidak Gemke ketahui akhirnya terkuak dengan sendirinya.
Rio menunjukkan pesan dari sang papih kepada Restu. Restu tak merespon apapun. Dia malah mengambil cangkir yang ada di hadapannya.
"Belum saatnya gua turun."
"Apa sih yang lagi lu rencanain?"
Restu tak menjawab. Dia malah beranjak dari duduknya dan mengajak Rio untuk pergi ke kantor. Bukan tanpa sebab, dia tidak ingin membahas ini.
"Zenth Corporation lebih penting dari itu."
"Res," panggil Rio.
"Lu tahu 'kan diamnya gua bukan gua gak bertindak." Rio pun terdiam. "Gua mau perkaya diri gua dulu biar bisa beli mulut si aki-aki tua Bangka itu." Sadis sekali ucapan dari Restu yang diiringi senyum penuh misteri.
.
Satria datang ke rumah Radit untuk memberitahukan perihal laporannya yang sudah ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Radit hanya menatap datar ke arah pamannya itu.
"Mau Om itu apa?" Radit menekan kalimat yang dia tanyakan. Tatapannya pun sudah tidak biasa.
__ADS_1
"Jika, ingin perusahaan bilang sama Radit." Anak bungsu Addhitama ini sudah lelah dengan tingkah Satria yang sudah sangat keterlaluan.
"Jangan harap Om mau menerima sogokan kamu." Radit menghela napas kasar mendengar ucapan dari Satria. Dia pun memilih untuk diam. Dia ingin bertindak, tapi dia baru saja mendapat pesan dari sang menantu jika dia tidak boleh melawan kepada Satria.
"Jangan kotori tangan Baba. Ini masalah aku, aku tidak ingin membawa Baba ke dalam masalah aku ini."
Bijak sekali ucapan dari Restu. Setiap Satria muncul ke media Restu selalu melarang Radit untuk bertindak. Dia juga melarang Rindra untuk melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalahnya.
"Saya ke sini hanya ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi anak kedua kamu akan menjadi istri narpidana."
Radit menarik napas panjang. Dia menatap tajam ke arah Satria dengan dada yang sudah turun-naik. "Jangan bicara sembarangan!"
"Apanya yang sembarangan?" Satria menimpali ucapan sang keponakan. "Saya tidak main-main dengan laporan saya." Tegas sekali ucapan dari Satria.
"Kenapa Om begitu ngotot? Sebenarnya ada masalah apa sih?" Radit sudah mulai emosi. "Radit dan keluarga Radit tidak pernah mengusik Om dan keluarga Om. Kenapa Om sangat bahagia mengisi keluarga Radit, terutama Aleesa. Kenapa?" Suara Radit sudah meninggi.
Aleena, Aleeya, Khairan dan Echa yang mendengar suara Radit segera keluar dari kamar. Namun, mereka tidak berani mendekat. Mereka melihat betapa merahnya wajah Raditya karena amarah yang menghampiri.
"Bubu," panggil Aleeya. Echa menoleh kepada sang putri, sorot mata Aleeya seakan memohon kepada sang ibu.
"Baba kamu memang diam dan kadang dianggap remeh oleh siapapun. Ingatlah, marahnya orang diam itu lebih menyeramkan dari seorang pembunuh."
Aleeya terdiam. Sedangkan Aleena dan Khairan mengangguk setuju. Tidak boleh menyalah artikan orang diam karena sesungguhnya orang diam itu memiliki letupan amarah yang tak terkendali.
"Saya tidak akan mengganggu kamu dan keluarga kamu asalkan--" Satria menjeda ucapannya. Ada seringai di bibirnya.
"Asalkan apa?" tantang Radit.
"Aleeya menikah dengan Kalfa."
"TIDAK SUDI!"
Bukan Radit yang menjawab.
...***To be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...