
Banyak clue yang Restu berikan, tapi Rio belum mampu menemukan jawabannya. Setelah pria itu pulang Restu tak menjelaskan apapun. Dia langsung ke kamar.
"Apa yang sedang Restu rencanakan?"
.
Aksa sudah berkacak pinggang dengan urat kemarahan di wajahnya. Ingin sekali dia menonjok pria yang sedang ada di layar segiempat miliknya.
"Parah banget nih aki-aki." Aksa sudah tak bisa menahan emosi.
Dia langsung menghubungi Restu, tapi nomor luar negeri Restu sudah tidak aktif.
"Ke mana ini anak?"
Dia tidak hanya menghubungi Restu, Aleesa pun dia hubungi. Tetap sama saja. Lagi-lagi Aksa mengerang kesal.
"Pada ke mana sih nih anak."
Menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Restu sama saja bohong. Mereka pasti tidak akan bisa menembus benteng Restu.
"Apa berita ini tidak Sampai ke telinga tuh anak? Apa emang tuh anak mulai mendadak budeg." Mulut Aksa tak henti mengomel.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka dan adik dari Aksara sudah masuk ke dalam. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
"Ini gimana?" tanyanya. "Masa kita mau diam aja."
Apa yang dikatakan oleh Aska memang benar. Namun, Aksa juga tidak bisa gegabah. Dia sudah diamanatkan oleh Restu untuk tidak bertindak tanpa perintah. Keponakannya ingin berusaha sendiri.
"Ini anak lambat banget, ngasih kesempatan sama si aki-aki bau tanah." Aska mengomel begitu lancar.
"Gua bisa aja bertindak." Aksa sudah bersandar di depan meja dengan tangan yang dia masukkan. ke dalam saku celana.
"Tapi, gua tahu Restu bukan orang yang akan diam saja jika diperlakukan seperti ini."
Ucapan Aksa memang benar, tapi Aska sudah geram sendiri degan kelambanan Restu yang bagai siput. Aska sudah duduk di kursi di depan meja. Terdengar hembusan napas kasar dan berat.
Jangan harap Aska akan berkata dengan sopan jika dia tengah dilanda kekesalan. Aksa pun menggeleng pelan.
"Ikuti instruksi saja."
.
Kabar yang sudah tersebar sudah sangat menyudutkan Restu. Di mana Satria sudah melaporkan Restu ke kantor polisi dengan membeberkan bukti yang valid. Kalfa yang diajak ke konferensi pers pun hanya diam saja. Walaupun dia sempat tersenyum, tapi kesedihannya nampak sangat jelas.
__ADS_1
Restu melipat kedua tangannya ketika melihat Kalfa yang terlihat sangat tertekan. Senyumnya pun mengembang. Rio memandangi wajah Restu dengan tanya yang belum menemukan jawabnya..
"Mereka ingin merusak mental Aleesa. Lihatlah sekarang." Senyum jahat terukir di wajah Restu. "Anaknya mulai tertekan."
Rio menggelengkan kepala ketika mendengar ucapan kejam yang keluar dari mulut Restu. Adik dari Restu itu sudah sangat yakin ada rencana besar yang tengah Restu sembunyikan.
"Bie."
Suara Aleesa terdengar. Restu dan Rio menikah berbarengan. Terlihat Aleesa yang baru bangun tidur. Restu tersenyum dan menghampiri istrinya. Aleesa segera memeluk pinggang sang suami. Mereka yang bermesraan Rio yang tersenyum bahagia. Dia sangat jelas melihat jika cinta mereka berdua sangatlah tulus.
"Pesan aja, ya." Aleesa mengangguk. Restu memberikan ponsel kepada Aleesa agar dia memilih makanan apa yang dia mau.
Disela pasutri baru tengah bermesraan dan Rio sedang menjadi penonton, suara bel kembali terdengar. Aleesa menatap ke arah Restu dengan menukikkan kedua alisnya.
"Biar gua aja yang buka." Rio sudah membuka suara.
Seperti biasa Rio melihat dari kamera bel, dan dahinya menukik dengan sangat tajam karena melihat pria tadi yang datang lagi. Namun, sekarang dengan seorang wanita yang duduk di atas kursi roda dengan tubuh sangat kurus.
"Siapa dia?"
...***To Be continue***...
__ADS_1
Komen ding ...