RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 26. Bersujud


__ADS_3

Hayo ... nungguin enggak kelanjutannya?


Komen banyak-banyak ya. Biar dobel up.


......................


Iyan dan Aska kini menemui Yansen yang masih berada di rumah sakit. Ketika Aska dan Iyan datang, Yansen sedang bersama sang tunangan. Pemuda itu nampak terkejut, apalagi wajah Aska dan juga Iyan terlihat sangat datar.


"Om," sapa Iyan. Wajahnya nampak cemas karena melihat kedua paman Aleesa dengan wajah tak bersahabat.


"Siapa mereka, Yang?"


Aska dan Iyan saling pandang dengan seringai tipis. Yang, panggilan dari wanita itu kepada Yansen.


"Saya ingin bicara sama kekasih kamu." Iyan berdecak mendengar ucapan dari Aska.


"Tunangan, Kak. Bukan kekasih."


"Oh iya, lupa."


Kalimat itu seperti kalimat sindiran untuk Yansen. Dia sangat tahu kedatangan Aska dan Iyan ini untuk apa.


"Om, aku minta maaf." Belum juga apa-apa, kalimat itulah yang dia lontarkan. Yansen audah menundukkan kepalanya begitu dalam. Dia sangat tahu bagaimana Aska dan juga Iyan.


"Kamu apa-apaan sih? Kenapa minta maaf kepada mereka? Salah kamu apa?"


Pertanyaan bertubi-tubi dari Nathalie membuat Aska menepuk tangan dua kali, dan terbukalah pintu kamar perawatan Yansen. Dua orang berbaju hitam sudah masuk dan mulai menarik mundur Nathalie dari sana. Nathalie terus memberontak, dan memanggil nama Yansen. Namun, Yansen masih menunduk dalam dan sama sekali tidak ingin membela Nathalie.


Kini, hanya mereka bertiga yang ada di dalam. Aska maupun Iyan masih menatap lekat ke arah Yansen. Suasana pun mendadak mencekam.


"Aku gak ingin ini terjadi. Aku ingin melepaskan cincin ini, tapi tanganku masih sulit untuk digerakkan. Jujur, ini bukan keinginanku." Begitu dalam dan memilukan ucapan yang keluar dari mulut Yansen.


Aska dan Iyan sangat mengerti akan perasaan dari Yansen. Mereka berdua tidak menghakimi. Hanya ingin mendengar secara langsung penuturan Yansen. Yansen Geremy tidak mungkin menduakan Aleesa. Hanya saja kakaknya yang kini menjelma menjadi pengatur takdir adiknya.


"Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai Aleesa sampai aku mati."


Iyan terdiam mendengarnya. Dia menatap pilu ke arah Yansen. Jika, kakak dari Yansen tak berbuat macam-macam dia juga tidak akan seperti ini. Iyan setuju-setuju saja jika Aleesa dan Yansen bersama. Namun, dia juga ada dinding yang membentang sangat tinggi yang tidak bisa mereka raih. Perihal restunya untuk Restu, Iyan melihat aura kebahagiaan Aleesa lebih terpancar jika tegah bersama si brandal tersebut. Intinya, dua orang yang dekat dengan Aleesa sama-sama baik dan tulus menyayangi keponakannya.

__ADS_1


"Aku juga bingung harus menjelaskan apa kepada Aleesa nanti," tuturnya dengan begitu lemah.


"Gak perlu menjelaskan apapun kepada Aleesa," balas Aska.


Yansen yang menunduk pun kini mencoba untuk menegakkan kepalanya. Menatap ke arah Askara yang tengah menatapnya juga.


"Tinggalkan Aleesa. Jangan buat dia lebih hancur." Yansen menggeleng.


"Aku gak bisa, Om. Aku masih ingin bersama Sasa." Mata Yansen sudah berkaca-kaca.


"Apa dengan cincin yang sudah melingkar di jari manis kamu bisa membuat Aleesa tersenyum lagi?" Aska menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Jangan buat Aleesa sakit. Itu sama saja kamu ingin membunuhnya."


Air mata Yansen menetes begitu saja mendengat perkataan dari Askara. Selama dia mengenal Aska, tidak pernah sekali pun Aska berkata tajam kepadanya. Tangisnya pun bukan karena Aska. Melainkan dia merasa sangat bersalah kepada Aleesa. Dia telah mengkhianati perempuan yang menjadi cinta pertama untuknya.


Sunyi, begitulah keadaan kamar ini sekarang. Aska dan Iyan membiarkan Yansen menangis. Mereka sangat mengerti bagaimana perasaan Yansen yang sesungguhnya.


"Maaf, Sen. Ini semua harus kami lakukan," ucap Iyan. "Selama ini kami diam karena kami tahu kamu anak baik, kamu juga tulus menyayangi Aleesa walaupun kamu dan Aleesa berbeda. Kamu tetap bertahan, walaupun kamu tahu hubungan kamu tidak akan sampai pada pelaminan."


"Aku akan melepasnya ketika Sasa sudah menemukan orang yang tepat. Ketika itu, aku janji kepada Om Iyan, kepada Om Aska dan juga keluarga besar Sasa kalau aku akan pergi untuk selama-lamanya dari kehidupan kalian. Tugasku hanya menjaga Sasa sampai dia bertemu dengan seseorang yang memang tulus mencintainya dan mampu membuatnya bahagia."


Sekuat tenaga Iyan menahan bulir bening yang ingin sekali terjatuh. Dia mengerti makna dari perkataan Yansen itu.


Perlahan Yansen menegakkan kepala. Dia menatap ke arah Aska dengan penuh tanya. Namun, Aska hanya tersenyum.


"Berbahagialah dengan wanita yang sudah bertunangan denganmu. Percayalah, Aleesa juga akan bahagia dengan pria yang pantas untuknya." Aska menepuk pundak Yansen.


"Mundurlah! Sekuat tenaga kamu maju pun akan terbentur dinding yang sangat tebal. Biarkan Aleesa mencari kebahagiaannya. Biarkan dia sembuh dari penyakitnya."


"Tidak, Om," tolak Yansen. "Setelah aku sembuh, aku akan melepaskan cincin ini. Aku janji, Om."


"Sudah terlambat," balas Iyan. Kedua alis Yansen menukik tajam ketika mendengar apa yang dikatakan Iyan.


"Maksudnya?"


"Aleesa sudah tahu semuanya." Jantung Yansen berhenti berdetak seketika.


"Kenapa aku dan Kak Aska datang ke sini ya karena hal itu. Harus kamu tahu, Aritmia Aleesa sedang kambuh sekarang." Lagi-lagi Yansen terkejut.

__ADS_1


"Si-siapa yang memberi tahunya, Om?" Yansen sudah sedikit emosi.


"Yang jelas bukan kami." Aska menimpali. "Ada yang sengaja mengirimkan video kepada Aleesa ketika acara tukar cincin yang kamu lakukan dan ... kamu pasti bisa bayangkan bagaimana hancurnya Aleesa pada saat itu hingga dadanya mulai sesak kembali di sana."


"Siapa yang ngirim video itu, Om Siapa?" Yansen sudah berteriak.


"Cari tahulah! Kami tidak akan sekejam itu kepada Aleesa. Jika, kami melakukannya, sama saja kami ingin membunuh Aleesa." Askara berkata dengan nada rendah.


"Cepat sembuh, dan cobalah untuk melupakan Aleesa secara perlahan." Iyan sudah membuka suara.


Dalam kondisi seperti ini Iyan masih baik kepada Yansen. Mereka berdua tidak memiliki masalah kepada pemuda itu. Yansen anak baik, dan sebenarnya mereka juga tidak tega. Namun, demi Aleesa ini harus mereka lakukan.


Baru saja keluar dari ruang perawatan Yansen, suara seorang perempuan memekik gendang telinga.


"Kalian apakan calon suamiku?" teriaknya bagai di hutan.


Aska dan Iyan menatap Nathalie dengan wajah datar. Aska, dia sudah melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maunya sih kita bunuh, tapi--"


"Jaga mulut Anda!" Nathalie sudah membentak Aska dan menunjuk-nunjuk wajah Aska.


"Jangan pernah menunjuk saya jika jari kamu masih ingin utuh."


"Jangan pernah mengancam saya karena saya tidak akan pernah takut kepada Anda!"


Nathalie mengeluarkan ponselnya dan dia menghubungi ayahnya dengan nada emosi.


"Dasar bocah!" ejek Aska.


"Mainnya aduan dia," sambung Iyan. Mereka berdua pun terkekeh.


"Jangan tertawa kalian berdua!" sentak Nathalie. "Saya pastikan kalian berdua akan menangis dan bersujud di kaki saya."


"Wow, aku gak takut," balas Aska yang masih diiringi tawa. "Bilang ke ayah kamu, ditunggu oleh keluarga Wiguna dan Addhitama. Siapa yang akan bersujud."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen 50 dobel Up.


__ADS_2