RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 38. Lebih Panas


__ADS_3

"Romantis banget 'kan."


Grace terkejut dengan apa yang dia lihat. Aleesa tengah bersama pria lain. Seketika hatinya sakit. Dia langsung melihat ke arah Yansen yang tengah memicingkan matanya. Dahinya pun ikut berkerut.


"Sen," panggil Grace.


"Benar, itu Kak Restu," gumamnya dalam hati.


Yansen masih menelisik mimik wajah Aleesa yang sesungguhnya pada foto yang tengah dia lihat. Wajah yang teramat bahagia juga Restu yang terlihat lembut kepada Aleesa.


"Apakah sudah saatnya aku melepaskan kamu, Sa? Tapi, aku masih ingin bersama kamu," batinnya lagi.


Grace sudah tiga kali memanggil nama adiknya. Namun, Yansen masih bergeming. Yansen masih terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Sen," panggil Grace lagi. Dia langsung memeluk.tubuh adiknya hingga Yansen terkejut.


"Kami pasti syok melihat ini," ucapnya.


Yansen hanya tersenyum mendengar ucapan dari sang kakak. Hatinya memang sakit, tapi hati kecilnya teramat bahagia melihat Aleesa bisa bertemu dengan Restu.


"Aku kira Aleesa perempuan baik-baik. Ternyata bisa main belakang juga," cibir Nathalie.


Grace pun berpikiran yang sama seperti Nathalie. Dia kira Aleesa polos, ternyata tidak seperti yang dia pikirkan.


"Kakak juga gak nyangka," balas Grace.


"Jangan mengkambing hitamkan orang lain. Bukankah kalian yang memulai semuanya? Kalau kalian tidak memulainya, ini semua tidak akan terjadi," tukas Yansen. Tatapannya lurus ke depan.


"Bukankah sebuah pengkhianatan dibalas pengkhianatan sangatlah wajar." Nathalie dan Grace terdiam mendengar perkataan Yansen. Sangat menusuk dan mengena di hati.

__ADS_1


"Mungkin ini jalan Tuhan, Sen," kata Jerome. "Aleesa bahagia dengan pasangannya, dan kamu bahagia dengan pasangan kamu juga, yakni Nathalie."


Hidung Nathalie sudah kembang kempis mendengar penuturan dari Jerome. Dia merasa ada yang membela.


"Tuhan sudah menentukan jalanku, tapi tidak seperti ini. Tuhan sudah menungguku di surga."


Ponsel Nathalie berdenting lagi dan matanya semakin melebar melihat foto yang dikirimkan oleh sang ayah untuk kedua kalinya.



"Astaga!" Nathalie menutup mulutnya tak percaya. Dia memperlihatkan kembali foto yang dikirimkan oleh tuan Michael.


Yansen hanya tersenyum sedangkan kakaknya mengomel tidak jelas. Yansen menyandarkan tubuhnya di kepala bed yang sudah diatur


"Aku tahu kamu pasti kecewa." Jerome menjelma menjadi cenayang. Yansen hanya tersenyum tipis.


"Parah banget sih ini." Grace masih mengoceh.


Grace terdiam mendengar ucapan dari Yansen. Dia menatap adiknya yang terlihat datar.


"Bukankah ini yang kalian mau?" Yansen berkata dengan penuh penekanan. Dia terlihat menjadi manusia frustasi.


"Harusnya kamu berterima kasih, Kak. Papih aku sudah berbaik hati mencari tahu perihal wanita yang kamu cintai itu. Kasta tinggi tak menjamin anak itu menjadi perempuan baik-baik." Nathalie sangat puas menjelek-jelekkan Aleesa di depan Yansen dan juga kakaknya.


"Kak Grace tahu gak," ucap Nathalie. "Cowoknya ini adalah seorang pembunuh ketika usianya menginjak sepuluh tahun. Bukankah menyeramkan?"


.


Rindra tertawa dengan sangat puas ketika Michael Hartanto tidak bisa mencari tahu perihal Restu.

__ADS_1


"Biarkan semua orang tahunya kamu jahat saja, ya. Kamu adalah permata langka yang harus saya lindungi." Begitulah perkataan yang pernah Rindra katakan kepada Restu. Semua akses Restu Ranendra Rindra tutup dengan sangat rapat. Tidak ada yang bisa membobolnya.


"Michael Hartanto manusai bodoh," cibir Rindra seraya tertawa.


.


Restu sudah mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut Aleesa. Hal kecil yang teramat manis yang Restu lakukan.


"Aku bisa sendiri, Kak." Namun, Restu masih bergeming. Dia terus mengeringkan rambut Aleesa.


"Kak, tadi pas kita surfing, perasaan ada yang lihatin ke arah kita terus," ujar Aleesa. Restu menghentikan gerakannya mengeringkan rambut Aleesa.


"Hanya perasaan kamu saja," balas Restu santai.


"Tapi, aku takut, Kak."


"Jangan takut, Lovely. Ada aku di sini. Aku akan jagain kamu."


Mereka pun saling pandang dan jarak mereka sangatlah dekat. Restu sudah mengalungkan handuk putih di lehernya dan Aleesa masih menatapnya dengan penuh arti.


"Kenapa?" Aleesa hanya tersenyum.


Aleesa malah menarik handuk kecil yang ada di leher Restu, dan dia malah mencium lembut bibir tipis Restu, membuat si empunya bibir terkejut bukan main.



Ternyata ada orang yang tengah mengambil gambar kejadian manis itu dan membuat orang yang sudah dikirimkan gambar tersebut tertawa puas.


"Ini lebih panas, Tuan Michael Hartanto." Senyum sinis terukir di wajahnya.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2