RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 73. Rasa Yang Berbeda


__ADS_3

Melihat sikap sang putra yang terlalu posesif, Rindra pun perlahan mendekati Restu dan mengajak berbincang kepada putra pertamanya itu.


"Papih ingin bicara sebentar sama kamu." Wajah Rindra sudah sangat serius.


Rindra mengajak berbicara berdua ketika tidak ada siapa-siapa di kamar perawatan Restu. Itu dia lakukan karena semalam Radit melapor kepadanya jika Yansen sudah menunggu Aleesa di luar hingga tengah malam tiba. Yansen hanya ingin membahas tentang hubungannya dengan Aleesa. Juga memastikan hubungan mereka saat ini.


"Apa kamu beneran sayang sama Aleesa?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Rindra membuat dahi Restu mengkerut.


"Kenapa Papih bertanya seperti itu? Apakah wajahku menunjukkan bahwa aku bermain-main dengannya?


"Tidak. Papih hanya ingin memastikan saja," sahutnya. Kini Rindra menatap serius ke arah sang putra. "Kamu boleh posesif, tapi jangan terlalu mengekang. Sejatinya wanita itu tidak akan pernah nyaman ketika dikekang. Posesif berlebihan pun tidak akan baik pada hubungan kalian berdua," terang Rindra dengan nada yang lembut.


"Kamu tahu 'kan dari awal jika Aleesa memang sudah memiliki seorang kekasih, yaitu Yansen. Hubungan mereka sudah diketahui oleh keluarga besar. Sayangnya, ada dinding dan tembok yang tinggi dan tebal yang membuat hubungan mereka jalan di tempat," papar Rindra. "Sampai sekarang, mereka berdua masih berstatus pacaran loh walaupun kamu sudah masuk ke dalam hati Aleesa."


Ucapan sang papi membuat Restu terdiam dan berpikir. a yang dikatakan oleh papinya itu benar Aleesa dan Yansen masih dalam status pacaran, belum ada kata putus di antara mereka berdua. Dia yang terlalu egois karena terus mengekang kekasihnya dan tidak membiarkan kekasihnya untuk menyudahi hubungannya dengan Yansen.


"Percaya diri lah, Nak. Aleesa hanya milik kamu Sekarang, biarkanlah dia menyudahi hubungan yang telah dia rajut dengan Yansen. Papi yakin, Yansen pun ingin berbicara empat mata bersama Alyssa untuk membicarakan hal tersebut. Jangan takut, Nak. Aleesa cuma mencintai kamu. Papi sangat yakin itu."


Restu tidak bisa berkata-kata. Dia tidak menjawab ataupun menyanggah ucapan sang papi. Hatinya masih menimbang-nimbang. Namun, masih ada ketidakrelaan untuknya melepaskan Aleesa untuk berbicara berdua dengan Yansen. Ada rasa takut di hatinya tentang masa lalu Aleesa dengan Yansen yang dia sendiri tahu memang begitu indah, begitu bahagia. Dia takut Alisa akan mengulang masa lalunya bersama Yansen dan malah meninggalkannya.


"Berilah waktu kepada Aleesa untuk berbicara berdua dengan Yansen. Papih yakin Aleesa tidak akan berbuat macam-macam. Begitu juga dengan Yansen. Kamu bisa menyuruh orang untuk mengikuti Aleesa, tapi jangan sampai terlihat oleh Aleesa. Kamu tahu bagaimana watak Aleesa 'kan."


Diamnya Restu membuat Rindra menatap serius kembali kepada putra pertamanya itu. Dia mengusap lembut pundak Restu untuk memberikan kekuatan kepada kakak dari Rio. Dia tahu Restu masih gamang, dia tahu Restu masih tidak rela dan masih ada keegoisan yang memenuhi hatinya.


"Jangan egois, Nak. Berpikirlah logis agar Aleesa terus merasa nyaman bersama kamu, dan pada akhirnya kamu memang menjadi pemenang sesungguhnya. Papi akan terus mendukung kamu sampai kamu mendapatkan wanita yang memang benar-benar kamu cintai, yakni keponakan Papi sendiri."


Sebagai seorang ayah, Rindra akan terus memberikan dukungan kepada Restu. Dia tidak akan pernah tinggal diam. Dia akan mengawasi dari jauh dan jika Restu salah langkah dia akan menjadi alarm pengingat untuk putranya tersebut. Walaupun Restu bukan anak kandungnya,tetapi Restu tetaplah putra pertamanya sebuah komitmen sebuah janji yang pernah terucap dari mulut Rindra Aditama ketika pertama kali dia melihat seorang Restu Ranendra.


.


Kampus.


Yanseen terus mengejar Aleesa. Dia sudah mencekal tangan Aleesa dengan cukup erat. Langkah Aleesa pun terhenti seketika.


"Kenapa kamu tidak datang, Sa? Aku menunggu kamu di bawah hingga jam dua belas malam." Begitulah terangnya. "Aku hanya ingin bicara berdua sama kamu." Tatapan penuh harap terlihat jelas dari sorot mata Yansen.


Aleesa bukan wanita egois. Ketika dia sudah berkomitmen dengan seseorang dia akan meminta persetujuan orang itu sebelum dia melangkah. Apalagi, dia melihat betapa cemburunya Restu semalam. Membujuk Restu itu sangat sulit. Beda jika dia membujuk Yansen.


"Maaf, Sen. Aku tidak bisa meninggalkan Kak Restu." Sebuah kalimat yang sederhana tapi mampu menyakiti hatinya. Aleesa sudah benar-benas melupakannya ternyata.


"Aku hanya butuh waktu sebentar saja. Aku hanya ingin berbicara perihal hubungan kita." Suara Yansen sudah melemah.


"Bicara apa lagi? Bukankah sudah selesai?" Bagi Aleesa hubungannya dengan Yansen sudah berakhir. Namun, Yansen mengatakan belum dengan gelengan kepala yang dia berikan.


"Selesai untuk kamu, tapi tidak untuk aku." Sebuah jawaban yang membuat Aleesa terdiam.


Aleesa menghela nafas kasar. Sebenarnya, dia juga ingin berbicara dari hati ke hati bersama Yansen. Dia tahu bagaimana Yansen. Dia tidak ingin menciptakan sebuah rasa sakit hati yang mendalam untuk Yansen. Bagaimanapun hubungan mereka dimulai dengan baik-baik. Maka, diakhiri pun harus dengan baik pula. Syukur-syukur mereka masih bisa menjadi teman.


"Aku janji, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin bicara berdua dengan kamu." Sebuah permohonan lagi yang keluar dari mulut Yansen.


"Aku tidak bisa menjawab sekarang," sahut Aleesa. "Aku tidak bisa seenaknya bertemu dengan kamu. Ada hati yang harus aku jaga. Ada ijin yang harus aku dapatkan karena aku tidak ingin timbul salah paham." Aleesa menjelaskan secara detail. "Semalam, jika aku egois aku akan menemui kamu. Namun, aku tidak melakukan itu karena ada pria yang akan sedih dan kecewa jika aku melakukan itu." Yansen memang sudah kalah.


"Apa sebegitu cintanya kamu sama dia?" Yansen enggan menyebut nama Restu. Hatinya terlalu sakit, beda halnya ketika awal pertama kali Aleesa dekat dengan Restu. Dia begitu bahagia, tapi kini malah sebaliknya.


"Kamu bisa melihatnya seperti apa 'kan. Aku tidak akan pernah bisa menjelaskan. Cukup dengan tindakanku sikapku, pasti kamu bisa menilai semuanya."


Yansen tersenyum hambar. Ternyata benar, Aleesa memang benar-benar sayang kepada Restu hingga dia rela menuruti setiap perkataan yang keluar dari mulut Restu.


"Bukankah kamu tidak suka dengan keposesifan?" Yansen seakan mengingatkan apa yang tidak disukai oleh Aleesa.


"Posesifnya dia itu berbeda. Aku bisa merasakan hal itu." Mulut Yansen kini terkatup rapat. Ya, sekarang dia harus menyerah, dia harus mengibarkan bendera putih bertanda dia kalah.


"Aku tunggu kamu memiliki waktu luang. Kita bicara berdua. Hanya berdua." Kalimat akhir penuh dengan penekanan. Aleesa mengangguk.


"Tapi, aku tidak janji." Yansen hanya bisa mengangguk. Dia pun tidak bisa memaksa.


Rasa kecewa semakin menjadi melihat Aleesa yang sangat berbeda jauh. Dia seperti sudah tidak mengenal Aleesa yang dulu. Aleesa yang selalu bersikap manis kepadanya kini malah terlihat dingin dan datar. Itu membuktikan bahwa dirinya sudah terhapus di dalam hati Aleesa dan sudah digantikan oleh sosok baru yang ternyata sudah mendapat restu dari semua keluarga besar.


Apalagi Ayah Aleesa yang memberi tahu dengan lantang dan tegas bahwa Aleesa sudah memiliki tunangan dan calon suami. Ketika Aleesa bersamanya, tidak pernah ada kata itu yang keluar dari mulut Raditya Addhitama. Itu membuktikan bahwa restu keluarga adalah nomor satu di dalam sebuah hubungan percintaan yang dijalani Aleesa.


.

__ADS_1


Rumah Sakit.


Seperti biasa yang menunggu Restu di rumah sakit, yaitu Rio. Sering sekali dia bersungut dengan mode judesnya.


"Kayak berasa pengangguran gue jagain orang sakit mulu." Restu berdecak kesal. Terkadang dia ingin mencekik adiknya itu.


"Ya emang lu pengangguran. Sejak kapan lu kerja?" jawab Restu seraya mengejek.


"Sembarangan lu kalau ngomong." Restu pun malah tertawa.


Rio menelisik wajah sang kakak yang nampak berubah. Dia menatap penuh selidik kepada Restu dengan sorot matanya. Apalagi kali ini Restu lebih banyak diam dibanding seperti biasa.


"Lu kesambet setan apaan tumben kalem." Rio merasa aneh.


Hanya hembusan nafas kasar yang menjadi jawaban dari seorang Restu Ranendra. Dia mulai menatap Rio dengan serius.


"Kok rada takut ya gue ditatap begitu sama lu." Masih saja Rio bercanda.


"Apa gua keterlaluan sama Aleesa?" Pertanyaan Restu sedikit mengejutkan untuk Rio. "Apa gua terlalu mengekang dia?"


"Kenapa lu tanya sama gua? Harusnya lu tanya sendiri sama Aleesa." Rio menjawab dengan begitu lantang. Lebih relevan jika bertanya pada orang yang bersangkutan.


"Kata Papih--"


"Lu mending bicara empat mata sama Aleesa. Lu tanya ke dia apa sikap lu itu membuat dia kesal, bete atau sebagainya. Kalau gua pribadi cukup jadi penonton aja."


Lagi-lagi Restu menghembuskan napas kasar. Dia menatap lurus ke depan.


"Jujur ya." Rio berbicara lagi. Restu pun mulai menatap ke arah Rio kembali. "Gua tahu lu sangat sayang sama sepupu gua, tapi terkadang sikap lebay lu buat gua yang liatnya aja risih."


Restu masih mendengarkan. Kejujuran Rio tidak akan pernah membuatnya marah. Malah selalu dia tunggu.


"Rubahlah sedikit demi sedikit sikap jelek lu kepada Aleesa. Tanya sama Aleesa, sikap lu yang mana yang harus lu ubah. Supaya ke depannya hubungan lu semakin membaik."


Terkadang, ucaoan Rio berfaedah juga. Restu hanya mengangguk mendengarnya. Bagi Restu, Rio adalah sahabat terbaiknya. Dia juga bisa menjadi adik ataupun kakak di waktu yang berbeda-beda.


.


"Tuh anak salah minum obat kali," gumamnya bingung.


"Kenapa lu?" tanya Kemala. Aleesa hanya menggeleng.


Aleesa pun menghubungi sang ayah untuk dijemput karena dia ingin pulang ke rumah. "Sa, kenapa yang jemput lu beda-beda?" tanya Raina penasaran. Lagi-lagi Aleesa hanya tersenyum.


"Apa lu sekaya Nathalie?" Aleesa malah tertawa.


"Enggak kok. Gua mah orang biasa."


"Orang biasa gak akan pernah bisa liburan ke Swiss," sindir Kemala. Aleesa tertawa lagi.


"Apa sih artinya harta? Gua berteman dengan kalian dengan tulus. Gua harap juga kalian begitu sama gua." Kemala dan Raina memeluk tubuh Aleesa. Mereka berdua memang tulus berteman dengan Aleesa..


Klakson mobil terdenngar. Jendela mobil terbuka dan terlihat sosok tampan yang ada di balik kemudi.


"Kak Iyo!"


Kemala dan Raina tak berkedip melihat pria tampan itu. Raina sudah menyenggol lengan Kemala.


"Ini berasa liat aktor Korea." Kemala hanya mengangguk.


"Kak Iyo disuruh uncle jemput kamu."


"Terus dia?" Aleesa tidak menyebut nama Restu.


"Ada Gemke di sana." Aleesa pun mengangguk dan melambaikan tangan kepada kedua temannya.


Kembali kepada Restu di rumah sakit. game kek datang seorang diri untuk menjenguk Restu yang dia panggil Mr. R. Mereka telah membicarakan perihal Madam Zenith dengan serius.


"Madam selalu bilang jika selama di Jakarta, dia selalu bermimpi bertemu dengan ayahnya dan ayahnya mengatakan jika dia tengah diincar oleh seseorang." Gemke mencoba menjelaskan kepada Mr. R.


"Saya tahu akan hal itu, tapi saya juga masih bingung kenapa yang diincar saya dan juga Madam Zenith. Musuh Kita sama."

__ADS_1


"Apa Anda memiliki hubungan dengan Madam Zenith?" Dengan cepat Mr. R menggeleng


"Saya tidak mengenal madam Zenith sebelumnya. Saya hanya bekerja profesional untuknya." Restu memaparkan.


"Masalahnya Madam selalu menanyakan tentang Anda. Menanyakan keluarga anda juga. Setiap madam menatap Anda ada sorot mata yang berbeda yang Madam tunjukkan. Saya dapat melihat itu." Gemke adalah pengamat terbaik.


'Mungkin Madam rindu dengan putranya yang telah tiada," jawab Mr. R. "Setahu saya putranya seusia saya."


"Ya. Bisa jadi, tapi saya melihat itu bukan tatapan biasa melainkan tatapan penuh kasih sayang dari seorang ibu untuk anaknya." Mr. R hanya tertawa.


"Itu hal yang wajar karena beliau pernah berkata kepada saya jika beliau mengharapkan saya menjadi putranya. Saya hanya mengiyakan karena saya pun tahu bagaimana rasanya hidup sendirian seperti madam. Hidup sendiri di negeri orang penuh kesuksesan, tapi hatinya hampa karena hanya hidup sendirian." Sedikit banyak Restu tahu perihal madam Zenith karena dia sering berbincang berdua dengan sang madam. Banyak pengawal yang mengira bahwa Madam memiliki hati kepada dirinya, tapi itu salah. dia dan Madam Zenit hanya berbincang seperti anak dan ibu saja. Tidak lebih tidak kurang, ditambah dia tidak pernah menjelaskan secara gamblang siapa dirinya. Siapa keluarganya dan dari mana Dia berasal. Dia hanya mengatakan Dia anak pertama dari dua bersaudara. Itu sudah cukup untuknya.


"Lalu, apa rencana Anda? Saya dengar pelaku penembakan itu adalah orang suruhan dari ayah Anda. Bukankah ayah Anda seorang pengusaha kaya." Gemke Mulai mencari tahu sedangkan Mr R tetap menutup mulutnya dengan begitu rapat.


"Ini adalah masalah pribadi saya. Saya tidak akan mengungkapkannya kepada siapapun. Biarkan ini menjadi urusan saya dan keluarga saya." Mr. R menutupnya dengan sebuah ketegasan Dia tidak akan mengungkap semua ini meskipun kepada Gemke, teman seperjuangannya.


Gemke tidak banyak bertanya dan dia menghormati setiap keputusan yang Mr. R ambil. dia tahu seberapa tertutupnya seorang Mr. R. hidupnya adalah sangat privat untuknya.


"Bagaimana urusan Madam dengan om Aksa?" Mr. R mulai mengganti topik pembicaraan.


"Janji sudah dibuat. Kemungkinan besok malam terjadinya pertemuan itu di rumah Tuan Aksara." Mr. R pun mengangguk.


"Sepertinya besok saya sudah keluar dari rumah sakit." Gemke terkejut mendengarnya.


"Anda masih sakit, Mr." Gemke berbicara sedikit meninggi.


"Saya sudah sembuh, tubuh saya sudah enak dan saya tinggal bilang kepada dokter Rocki "


"Jangan memaksakan tubuh Anda. Mr. Anda bukan robot."


Restu menatap Gemke dengan sangat dalam. Kamu tahu, bagaimana saya marah? Saya ingin membalaskan dendam saya kepada seseorang yang sudah menembak saya. Saya ingin membunuhnya." Terlihat jelas wajah Mr.R yang sangat marah.


Gemke menggelengkan kepala. Sikap Restu tidak berubah dari dulu. Ketika ada yang menyenggolnya dia akan menyenggol balik dengan kekuatan penuh. Tentunya jarang ada yang hidup jika sudah berurusan dengan Mr. R


"Saya malah merindukan minum wine dan juga rokok bersama." Mr. R malah tertawa.


"Nanti saya akan ajak kamu sesuatu tempat sebelum kita kembali ke Zurich."


"Benarkah?"


"Saya tahu tempat itu sangat bagus dan akan membuat kamu nyaman dengan wine dan juga rokok yang kita hisap." Diakhiri dengan Obrolan dua anak beranda yang tidak jauh dari rokok dan juga minuman.


.


Zenit Andrea, dia masih mencari tahu perihal Mr. Rm


Namun, itu tidak semudah yang dia bayangkan. Data Mr. R semuanya sulit diungkap. Hanya ada masa lalunya, yakni pernah dipenjara ketika umur 7 tahun alasannya karena membunuh sang kakek. Hanya itu saja tidak ada yang lain. Nama kakeknya pun tidak dicantumkan.


Akan tetapi, Zenith Andrea tidak percaya begitu saja dengan kabar yang dia dapatkan. Tidak mungkin seorang anak berusia 7 tahun memiliki senjata tajam. Apalagi yang memiliki sebuah piston yang sangat mematikan. Tidak, dia tidak percaya dengan berita tersebut. senakal-nakalnya anak laki-laki berusia 7 tahun tidak akan memiliki sebuah pistol sungguhan, kecuali pistol mainan. Pasti ada orang yang mensabotase atau mengkambing hitamkan Mr. R kecil.


"Hanya itu Nyonya yang saya dapat. Saya juga tidak mengerti, anak ini seperti di bentengi karena banyak sekali pengawal yang tak terlihat. Dia sulit untuk ditembus. Datanya pun tidak bisa kami retas," tutur salah seorang anak buah dari madam Zenith.


"Tanggal lahirnya kamu tahu?" tanyanya. Dia berharap tanggal lahir Mr. R sama dengan tanggal lahir putra dari Zenith tersebut karena dia merasa sangat dekat dengan Mr. R. Apalagi ketika dia berada di Jakarta, bayang wajah putranya selagi kecil selalu mengitari kepala setiap hari, setiap malam, dan tentunya itu membuat dia menangis. DIA menyesal karena telah meninggalkan putranya bersama sang suami yang kejam dan pada akhirnya anaknya itu meninggal di tangan suaminya


Anak buahnya pun memberikan tanggal lahir dari Restu Ranendra kepada madam Zenith, seketika wajah kecewa terlihat jelas. Sang madam terlihat lesu. Ternyata dugaan yang salah, tanggal lahir Restu dan Raje itu sangat jauh berbeda.


"Kenapa saya berharapnya Dia adalah anak saya? Saya sangat merasa dekat dengan dia." Ingin rasanya dia egois.


"Sepintas saya juga melihat jika Nyonya dan Mr. R sedikit mirip. Mungkin itu hanya kebutuhan saja Nyonya. Raje sudah meninggalkan kita sejak dia berharap berusia 2 tahun lebih dan sekarang sudah 23 tahun berlalu."


"Saya tahu, tapi di mana makam Raje? Papih selalu menyembunyikan itu dari saya." Terdengar suara yang begitu lemah dari seorang madam Zenith


"Ayah Nyonya hanya tidak ingin melihat nyonya sedih jika tahu tentang makam putra Nyonya. Saya tahu bagaimana Tuan sangat menyayangi Nyonya."


"Tapi, saya tersiksa. Saya hidup sendirian sudah lebih dari 20 tahun. Saya memiliki segalanya, tapi hati saya miskin akan kasih sayang dan cinta. Ketika Restu datang, kasih sayang yang dulu hilang kembali muncul. Tiba-tiba saya merasa senang jika dia menyapa saya, berbincang dengan saya walaupun hanya sebentar." Mata madam Zenith terlihat berkaca-kaca. Dia mengungkapkan semuanya dari hati yang terdalam.


"Saya pun sudah berusaha meretas data dari seorang Rindra Addhitama yang tak lain adalah putra pertama dari mendiang Addhitama. Dia memang memiliki dua putra, yang pertama Restu Ranendra dan kedua Rio Pramanathan Addhitama."


"Kenapa anak nomor satu tidak ada nama belakang keluarga?" Madam Zenith mulai curiga lagi


"Itu kesepakatan Rindra dan istrinya juga keluarga besar. Sama halnya dengan anak dari salah satu paman Aleesa yang tak lain adalah kekasih Mr. R. Ada salah satu sepupu dari Alyssa yang tidak memakai nama belakang Wiguna dengan beralasan nama itu terlalu berat untuk anaknya."

__ADS_1


Madam Zenith pun mengangguk. Dia mengerti akan hal itu. Namun, dia masih sangat berharap jika Mr. R adalah putranya. Harapan itu sangat besar karena ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan jika tengah bersama Mr. R. Ada rasa yang berbeda.


__ADS_2