RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 7. Sesak


__ADS_3

Grace dikejutkan dengan bertamunya Iyan di pagi hari. Tubuhnya menegang ketika Iyan sudah duduk di ruang tamu.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Grace dengan wajah yang sedikit ketakutan.


"Saya tamu, apa begini cara tuan rumah menjamu tamunya?" Grace menghela napas kasar. Sedari dulu Iyan selalu bersikap menyebalkan. Dia dan Iyan teman satu angkatan.


"Aku gak punya banyak waktu." Iyan pun berdecih dengan senyum meremehkan.


"Apalagi saya, kedatangan saya ke sini pun sudah mengurangi pundi-pundi penghasilan saya." Tatapan tajam juga seringai menakutkan Iyan tunjukkan.


"Jessica Grace," panggil Iyan. "Saya sebenarnya tidak mau mencampuri urusan Aleesa dan Yansen. Namun, kamu malah mengundang kisruh yang membuat saya wajib melindungi keponakan saya." Begitu tegas ucapan Iyan dengan tatapan membunuh yang dia tunjukkan pada Grace.


"Ternyata anak itu mengadu."


"Aleesa bukan pengadu. Harus kamu camkan itu!" Grace terkejut ketika Iyan mengetahui apa yang hatinya katakan.


"Kamu melupakan sesuatu, Grace," ucap Iyan. Grace menatap Iyan dengan bingung.


"Kamu melupakan siapa Raditya Addhitama. Pria kalem yang tak pernah bertindak kejam, tapi tidak kepada anak-anaknya. Setiap gerak-gerik anak-anaknya dia perhatikan, dan asal kamu tahu ... Aleesa memiliki pengawal yang sudah ditugaskan oleh ayahnya untuk menjaganya. Sekecil apapun tindakan yang kamu lakukan pada Aleesa, pasti akan sampai ke telinga Raditya Addhitama."


Dada Grace semakin bergemuruh tak karuhan. Dia salah mengira terhadap ayah Aleesa. Dia sangat segan dan takut kepada Aksara, adik dari Echa. Ternyata, Radit juga tak kalah mengerikan.


"Kenapa mulutmu begitu mengerikan Grace? Padahal kami memperlakukan adikmu dengan sangat baik. Kami tidak pernah menyemburkan bisa yang mematikan kepada adikmu, tapi kamu malah sebaliknya." Iyan menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis.


"Jika, kami jahat ... sudah kami jauhkan adikmu dari Aleesa, tapi kami masih memiliki hati dan logika yang jernih. Kami masih membiarkan Yansen dan Aleesa menjalin hubungan dengan memberikan peringatan keras. Kami membiarkan mereka mengerti seakan berjalannya waktu. Semakin dewasa mereka semakin memahami dan semakin merasakan benteng yang memisahkan mereka itu semakin tinggi dan tebal. Hingga mereka menyerah dan pulang ke rumah masing-masing." Grace terdiam mendengar ucapan dari Iyan.


"Ingat, Grace. Perasaan mereka tumbuh karena sudah lama bersama-sama. Biarkanlah perasaan itu pergi dengan sendirinya karena mereka sadar bahwa mereka tidak bisa bersama." Lagi-lagi Grace membeku.

__ADS_1


"Jangan membangunkan para raja hutan yang tengah tertidur. Jika, kamu tidak ingin menjadi makanan empuk untuk mereka."


Iyan berlalu begitu saja setelah mengatakan itu semua. Jujur, mendengar perkataan Grace pada Aleesa hatinya sangat sakit. Bagaimana dengan Aleesa. Seketika langkah Iyan terhenti dan dia membalikkan tubuhnya lagi.


"Satu lagi," ujar Iyan. "Cepat jodohkan Yansen dengan calonnya agar Aleesa pun bisa kami jodohkan dengan pria yang jauh lebih baik dari Yansen."


.


Kampus.


Yansen sudah melihat ke arah ja tangannya. Perempuan yang dia tunggu tak kunjung datang juga.


"Ke mana, Sasa?" gumam Yansen.


Yansen sudah dipanggil oleh teman satu jurusan bahwa kelas mereka akan dimulai. Yansen pun meninggalakan parkiran dan menuju kelas. Di dalam kelas dia terus mengirimkan pesan kepada sang kekasih. Namun, pesan itu hanya ceklis satu.


"Ke mana kamu, Sa?"


"Sasa di mana?" Pertanyaan Yansen membuat mereka berdua terkejut.


"Dia gak masuk," ujar Raina.


"Kenapa?" Dua teman Aleesa pun hanya mengegdikkan bahu.


"Lu 'kan pacarnya, kenapa nanya sama kita?" sahut Kemala.


"Dia juga enggak bilang apa-apa ke gua," balas Yansen.

__ADS_1


"Coba aja lu datang ke rumahnya." Yansen pun mengangguk.


Dia segera melajukan motornya menuju kediaman Aleesa. Namun, ada yang janggal dari penglihatannya. Mobil yang sedari kemarin ada di depan kampus hari ini tidak ada. Dia benar-benar penasaran siapa yang berada di dalam mobil itu juga siapa pemilik mobil itu.


Tibanya di rumah Raditya Addhitama, pihak keamanan mengatakan bahwa Aleesa bersama kedua orang tuanya sedang pergi keluar. Yansen pun bertanya pergi ke mana. Namun, pihak keamanan menjawab tidak tahu. Radit dan Echa memang tidak mengatakan mereka akan pergi ke mana. Hanya saja mobil mereka beriringan dengan mobil yang dikendarai oleh Rindra dan juga Nesha


"Ke mana kamu, Sa?" gumam Yansen dengan sedikit putus asa.


Dia memilih pergi meninggalkan kediaman Aleesa. Hari ini dia tak tahu mau ke mana. Hatinya masih bingung, hatinya masih sakit. Apalagi semalam keluarga Nathalie mendesak agar Yansen cepat-cepat bertunangan dengan putri mereka. Setelah S1 mereka selesai, mereka harus menikah.


.


Di laim tempat Rindra, Nesha, Echa Radit dan juga Aleesa sudah duduk di samping pusara Addhitama. Mereka meminta izin kepada sang ayah untuk berpamitan sementara meninggalkan negara di mana mereka dilahirkan.


Sebenarnya tidak lama hanya dua minggu. Tetap saja ketika mereka akan pergi dari negeri ini menuju negara lain, mereka harus berpamitan kepada sang ayah. Begitulah tradisi mereka mereka hanya ingin ayah mereka tahu ke mana saja mereka melangkah. Sudah sampai mana kesuksesan mereka.


"Ba, Sasa ke makam Engkong dulu, ya." Radit dan Echa mengijinkan.


Aleesa terdiam di samping pusara sang kakek. Rion Juanda Itulah nama nisannya. Hatinya tiba-tiba sesak. Dia merindukan pelukan hangat sang kakek yang selalu membuatnya tenang ketika dia bertengkar dengan Yansen. Namun, sekarang sudah berbeda. Dia teringat satu kalimat yang kakeknya ucapkan kepadanya sebelum hari-hari terakhirnya.


"Engkong tidak melarang kamu berhubungan dengan Yansen, tapi ada yang lebih baik dari dia. Lebih baik pergi tinggalkan, dan cari orang baik itu."


Sebuah kalimat yang menyimpan clue besar bagi Aleesa. Orang baik itulah yang menari-nari di kepala Aleesa. Namun, untuk sekarang Aleesa tidak ingin memikirkan hal itu. Dia ingin menyelesaikan hubungannya dengan Yansen. Walaupun sangat sulit dan nantinya sakit. Akan tetapi, dia harus berbicara terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya. Aleesa bukanlah anak biasa. Dia sadar bahwa dia memiliki kekurangan, yakni sebuah penyakit yang mematikan. Salah melangkah bisa menjadi sebuah masalah yang fatal. Aleesa berkali-kali menghembuskan nafas kasar. Menahan sesak yang ada di dada. Usapan lembut di pundak membuatnya menoleh. Dia menangis ketika melihat sang kakek tersenyum ke arahnya dan merangkul pundak Aleesa.


"Pergilah, Sa. Di sana ada orang yang telah menunggu kamu. Di sana kamu akan bisa tersenyum. Beban di hati kamu akan bebas. Lebih baik lepaskan apa yang menjadi beban, dan raihlah apa yang menjadi kebahagiaan."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2