RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 166. Selamat Berbahagia


__ADS_3

Aleesa yang baru selesai berbincang melalui sambungan video bersama Restu dipanggil oleh sang ibu. Dia pun turun ke lantai bawah di mana sudah ada para anggota keluarga besarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sedang berbincang dengan ibundanya.


"Sensen."


Si yang empunya nama itu pun menoleh. Dia tersenyum ke arah Aleesa. Namun, hati Aleesa seketika sakit dan perih. Bulir bening sudah menganak dan ingin meluncur begitu saja.


"Ada apa ini Tuhan?"


Dada Aleesa terasa sesak ketika Yansen mendekat ke arahnya. Rasanya dia ingin menangis keras ketika tubuh tinggi itu semakin mendekat. Mata yang awalnya biasa saja kini mulai perih dan memerah. Di jarak satu meter antara Aleesa dan Yansen, dada Aleesa semakin sesak. Dadanya seperti tertindih bebatuan sangat besar. Gerakan tangan Aleesa yang memegang dada membuat air muka Yansen berubah.


"My Sasa." Dia segera meraih tubuh Aleesa dan semua orang pun berlari ke arah Aleesa. Untung saja tubuh Aleesa bisa Yansen raih.


Radit, dia sudah membawa tubuh Aleesa ke sofa dan memberikan obat khusus untuk putrinya. Wajah cemas terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Aleesa.


"Bubu udah hubungi dokter." Echa tak ingin mengambil risiko. Apalagi besok adalah hari penting untuk putrinya.


Yansen terus memandang wajah Aleesa yang memucat. Dia sangat yakin energi yang ada pada tubuhnya bisa Aleesa rasakan.


"Apa perlu Uncle hubungi Restu?" Aleesa menggeleng.


"Jangan buat dia khawatir, Uncle. Sasa sudah mulai membaik." Aleesa berucap dengan nada lemah.


Iyan, dia tak berani membuka suara. Dia juga tahu sesak di dada Aleesa bukan karena Aritmianya, tapi energi lain yang memang bisa Aleesa rasakan.


"Semoga semuanya baik-baik saja." Begitulah batin Iyan.


Dokter datang dan memeriksa kondisi Aleesa. Dokter mengatakan jika kondisi Aleesa stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aleesa bingung, dadanya sangat sesak. Kenapa dokter mengatakan bahwa kondisinya stabil?


Ketika anggota keluarga Aleesa sudah menjauh, Yansen mencoba untuk mendekat ke arah Aleesa. Senyumnya masih seperti dulu. Manis dan teramat tulus.


"Maaf, jika kehadiran aku--"


"Enggak, Sen. Mungkin kondisi aku aja yang kurang fit." Aleesa tersenyum ke arahnya.


Ada haru yang Yansen rasakan ketika melihat senyum yang begitu indah terukir di wajah cantik Aleesa. Rindunya pada senyum Aleesa akhirnya terobati.

__ADS_1


"Tuhan, jangan biarkan ini menjadi momen terakhir aku melihat senyum My Sasa."


Mata Yansen masih menatap dalam wajah Aleesa yang sudah tak sepucat tadi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya saling pandang dengan mulut yang terkatup rapat. Mereka berdua seakan tangan melepas rindu sebagai sahabat yang sudah lama tak berjumpa.


Agha juga Rangga terus memandangi Yansen dan juga Aleesa. Mereka berdua seperti mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Aleesa dan Yansen.


"Mereka hanya saling rindu." Agha membuka suara. Rangga menatap ke arah adiknya.


"Hanya saja rindu Kak Yansen dan Sasa berbeda. Kak Sensen rindu karena masih sayang sedangkan Sasa ... rindu sebagai sahabat kecil." Rangga sepemikiran dengan Agha.


Masih saling diam, tapi dengan saling pandang. Yansen akhirnya membuka suara. "Apa aku boleh bicara berdua sama kamu? Tapi, gak di sini."


"Aku gak boleh keluar."


"Di depan juga gak apa-apa." Aleesa pun mengangguk. Dia seperti ingin terus memandang wajah Yansen dan mengingat wajah tampan sahabatnya itu. Dia merasakan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata. Rasa yang dia juga belum menemukan jawab. Sesak, sakit, dan perih jika sorot mata Yansen berbicara.


"Sasa mau ke mana?" Si bocah bawel nan manja menghadang langkah Aleesa dan Yansen. Tatapannya begitu tajam. "Apang bilangin ke Ahjussi, ya."


Aleesa terkejut mendengar ucapan dari sepupunya itu. Namun, dia melihat Apang membawa bungkusan bertuliskan kedai minuman ternama dan mahal.


"He-em." Jawaban singkat. Aleesa menggelengkan kepala. Yansen, dia hanya tersenyum tipis. Begitu mudahnya Restu mendekati sepupu-sepupu Aleesa. Ketika dia bersama Aleesa, ucapan sengit selalu mereka katakan kepada Yansen. Sulit untuk mengambil hati si kuartet


"Sasa mau ke depan doang. Enggak ke mana-mana."


"Sama itu--" Apang menunjuk ke arah Yansen tanpa menyebut namanya. Aleesa pun mengangguk.


Aleesa mengajak Yansen keluar karena member kuartet sudah mendekat. Jadi, bisa mengalihkan pikiran Apang.


"Mau bicara apa?" Mereka duduk di undakan anak tangga teras depan rumah Aleesa.


"Maaf, ya." Yansen menjeda ucapannya. Dia juga menatap lurus ke depan tanpa memandang Aleesa.


"Sebenarnya aku kecewa." Aleesa menjawab tanpa basa-basi. Dia juga mengerti akan kata maaf yang terucap dari Yansen. "Tapi, mau gimana lagi." Aleesa melanjutkan ucapannya.


"Jika, kamu memberitahuku seminggu sebelumnya mungkin akan aku tolak job ini." Yansen kini menatap Aleesa.

__ADS_1


"Semuanya serba mendadak. Surat undangan pun baru selesai dicetak." Aleesa menerangkan. Dia mulai menatap wajah Yansen.


"Apa kamu bahagia?" Aleesa mengerutkan dahi mendengar petanyaaan dari Yansen. "Apa kamu tak merasa terpaksa?"


"Tidak ada yang memaksa dan aku benar-benar bahagia. Kenapa? Aku baru menemukan seseorang yang tak banyak bicara perihal cinta, tapi dia mampu meyakinkan semua keluarga jika dia serius dengan seorang perempuan bernama Aleesa Addhitama yang mempunyai banyak luka. Juga menderita sakit Aritmia yang kapan saja bisa kambuh. Dia begitu yakin dan dia membuktikan bahwa dia bisa menyembuhkan semua luka dan laraku. Selalu ada di samping aku ketika sakitku mulai kambuh. Apa aku harus menyia-nyiakan pria seperti itu? Pria yang benar-benar menjagaku. Melindungiku, dan mencintaiku."


Yansen tersenyum. Ternyata benar, Aleesa sudah melupakannya. Di hatinya hanya ada calon suaminya. Begitu berbinarnya Aleesa ketika menceritakan tentang Restu.


"Aku senang mendengarnya. Setidaknya aku sudah tidak berat untuk melepaskan kamu."


"Melepaskan?" Aleesa mengulang ucapan Yansen.


"Aku sangat yakin jika kamu tahu perihal aku yang masih mencintai kamu." Aleesa pun terdiam. Dia masih memandang wajah Yansen. "Mulai malam ini, aku akan membawa perasaan itu pergi jauh dan besok akan aku tenggelamkan ke dasar lautan agar tidak bisa dikenang."


Aleesa meraih tangan Yansen. Dia tahu Yansen sakit ketika mengatakan itu. Namun, ada sebuah desiran berbeda ketika telapak tangan Yansen dia genggam. Tabur bunga, air, dan tangisan. Tiba-tiba mata Aleesa nanar. Hatinya sangat pedih.


"Jangan menangisi aku, Sa." Yansen berkata dengan senyum yang terukir indah. "Sudah waktunya kita bahagia masing-masing. Kamu dengan Kak Restu dan aku--"


Aleesa berhambur memeluk tubuh Yansen. Tubuh Yansen dingin, tubuh Yansen terasa mengeras.


"Sen--"


"Ya."


Aleesa memgendurkan pelukannya. Dia melihat Yansen masih tersenyum, tapi di belakangnya banyak orang yang terisak.


"Are you okay?" Yansen mengangguk dengan tegas. Aleesa terlihat bingung dan itu membuat Yansen mengusap lembut ujung kepala Aleesa.


"Kamu boleh menangisi aku, tapi tidak untuk selamanya. Jangan sia-siakan air mata kamu karena ada kabahagiaan yang sudah kamu genggam." Otak Aleesa masih tak bisa terkoneksi dengan baik.


"Aku pergi ke tempat di mana aku menemukan kebahagiaan sesungguhnya. Kebahagiaan yang kekal. Aku harap, kamu juga seperti itu. Life must go on. Kenangan kita buanglah ke dasar lautan agar tak timbul ke permukaan." Yansen bangkit dari duduknya dan dia meriah goody bag yang ada di motor. Dia memberikannya kepada Aleesa.


"Hadiah kecil untuk pernikahan kamu, Sa. Selamat menempuh hidup baru. Selamat berbahagia."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2