
Restu bagai anak kecil yang tak mau ditinggal oleh Aleesa walau sebentar. Dia terus menggenggam tangan Aleesa sehingga membuat Rio merasa sangat jengah.
"Mih, Iyo pulang lah. Seneb liat pasangan bucin." Mode judes Rio keluar. Sedangkan Restu semakin menjadi. Apalagi, dia hanya boleh miring ke arah kiri karena luka di sebelah kanan yang tidak bisa ditindih.
"Jangan dong, Yo. Malam ini kamu yang temani Restu di rumah sakit."
"Hah?" Rio nampak terkejut.
"Udah Mih, suruh pulang aja." Restu menimpali. "Ada Aleesa ini yang jagain aku." Restu seakan bahagia jika hanya dirinya bersama Aleesa saja tanpa adanya Rio di sana.
"Oh, tidak bisa," balas Rio dengan cepat. "Gua tahu isi kepala lu, brandal!" omel Rio. Nesha dan Rindra pun tertawa. Rio pasti akan menjaga sepupunya itu dari gangguan brandal mesoem.
"Sok tahu lu!" Perdebatan pun terjadi. Aleesa dan kedua orang tua Rio hanya menonton perdebatan Rio dan Restu itu. Dua laki-laki yang berusia dua puluh lima tahun, tapi masih seperti anak berusia lima tahun yang tak mau mengalah satu sama lain.
Lelah beradu argumen, mereka pun sama-sama terdiam. Rindra memandang kedua anaknya bergantian.
"Udahan?"
"Gak guna debat sama si brandal mah," jawab Rio. Restu pun berdecak kesal. Aleesa menggelengkan kepala melihat sepupunya dan kekasihnya seperti ini. Akhirnya kedua orang tua Restu dan Rio pulang. Kini, hanya tinggal mereka bertiga di kamar perawatan. Tidak ada obrolan dari mereka bertiga. Rio pun tengah asyik dengan ponselnya.
"Bie, aku ke kamar mandi dulu, ya." Restu yang tengah asyik menggenggam tangan Aleesa pun mengangguk. Walaupun ada ketidakrelaan di hatinya.
"Jangan lama-lama." Aleesa pun tertawa melihat Restu bagai anak kecil yang tidak ingin jauh dari orang tuanya. Dia baru melihat sisi lain dari seorang Restu Ranendra.
"Iya, Bie." Aleesa mengusap lembut wajah sang kekasih yang masih tampan walaupun terbaring lemah tak berdaya.
Ketika pintu kamar mandi ditutup, Rio menghampiri Restu. Dia menelisik wajah sahabatnya itu. Dia sedikit tidak percaya dengan kesakitan yang Restu tunjukkan.
"Lu beneran sakit?" Restu hanya tersenyum. Namun, wajahnya nampak berkata jujur. Rio juga melihat ringisan kecil dari wajah Restu dengan jelas.
"Ini adalah peluru yang sama buat nembak Kakek Wiratama." Tubuh Rio menegang mendengarnya. Dia menatap tak percaya kepada sahabatnya itu. Peluru yang sangat mematikan yang dia tahu.
"Are your sure?" Restu mengangguk. Rio semakin menegang dan jantungnya hampir saja tak berfungsi dengan baik.
"Peluru itu adalah Peluru Jacketed Hollow Point Evolusi dari peluru dum dum ini berlapiskan tembaga dan terdapat lubang pada ujungnya yang memperlihatkan inti timah. Jika peluru ini mengenai target maka ujung peluru akan memuai dan menjadi semakin besar sehingga menciptakan luka yang lebih parah. Selain untuk ekspansi, beberapa titik berongga itu juga dirancang untuk terfragmentasi dan menyebabkan beberapa saluran luka dan bahkan kerusakan fisik yang sangat parah. Peluru Jacketed Hollow Point ini jauh lebih mematikan daripada amunisi peluru biasa." Restu memaparkan. Rio mematung dan tak berkedip menatap ke arah sahabatnya yang tangan terbaring miring dia atas ranjang pesakitan.
"Lu gak apa-apa 'kan?" Restu hanya tersenyu
"Untuk saat ini gak apa-apa, tapi gua gak tahu kalau besok. Dokter gua baru besok sampai sini." Restu menjawab dengan senyum yang masih mengembang. Akan tetapi, tidak dianlungkuri tubuhnya merasakan hal yang berbeda.
"Lu jangan aneh-aneh!" Rio membentak Restu.
Aleesa yang mendengar percakapan Rio dan Restu dari kamar mandi menitikan air mata. Dia tidak bisa membayangkan jika sesuatu hal terjadi pada kekasihnya. Dia sedikit tahu perihal kematian kakeknya Restu.
"Bie!" Suara Aleesa membuat Restu dan Rio menoleh. Kekasih dari Restu itu segera keluar dari kamar mandi. Mata Aleesa sudah berair menatap pria tampan itu. Restu terkejut apalagi Aleesa berlari menghampirinya dan memeluk tubuhnya. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu.
"Aku gak apa-apa, Lovely." Aleesa pun menggeleng.
"Jangan pernah berbohong kepadaku, Bie." Tangis Aleesa pecah. Restu menatap ke arah Rio, dan mata Rio pun berair. "Jika, kamu merasa sakit, bilang sakit. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu."
"I'm okay." Rio menggeleng.
"Lu gak akan pernah meringis sesakit apapun luka yang lu dapatkan, tapi ini beda, Restu." Air mata Aleesa mengalir lagi mendengar ucapan dari sepupunya.
"Jangan menutupi kondisi kamu kepadaku, Bie. Aku berhak tahu akan kondisi kamu.s" Restu tersenyum mendengarnya. Dia merasa bertambah lagi orang yang menyayanginya. Perlahan dia mengurai pelukan Aleesa. Dia menghapus air mata kekasihnya. Wajah Restu sudah nampak pucat.
"Aku akan bertahan dan tetap hidup demi kamu." Aleesa dapat melihat berapa kesaktiannya Restu kali ini.
"Kak Iyo!"
Rio segera memanggil dokter untuk memeriksa Restu. Aleesa mengabaikan rasa tidak sukanya terhadap dokter wanita tersebut. Dia tidak ingin melihat tunangannya semakin kesakitan.
"Bie." Restu semakin erat menggenggam tangan Aleesa.
Rio yang tidak tega memilih keluar. Dia menghubungi kedua orang tuanya untuk memberikan solusi. Ketika Rindra dan Nesha datang, Restu sudah terlelap karena obat penenang.
"Dokter khusus yang selalu menangani Restu besok pagi baru sampai Jakarta." Begitulah yang Rindra katakan.
Aleesa duduk di kursi tepat di samping sang tunangan. Tangan Restu seakan tidak ingin jauh dari tangan Aleesa. Terus menggenggam tangannya dengan begitu erat walaupun dia sendiri terlelap. Tangan Aleesa satunya mengusap lembut rambut Restu.
"Kakek!"
Semua mata tertuju pada Restu yang tengah mengigau. "Aku gak membunuh Kakek. Bukan aku."
Jika, sudah seperti ini Rindra lah yang tidak akan kuat menahan rasa sesak di dadanya. Dia seperti melihat Restu pertama kali datang ke rumahnya. Setiap kali dia demam, kalimat itu yang dia ucapkan.
"Aku bukan pembunuh. Aku gak membunuh Kakek."
Aleesa terdiam dan terus memperhatikan sang tunangan yang sudah menitikan air mata. Rasa sesak di dadanya hadir.
"Apa semenakutkan itu, Bie."
Aleesa mengusap air mata yang membasahi wajah Restu, dan Rindra dia memilih keluar dari kamar perawatan. Hatinya terlalu sakit melihat Restu seperti itu lagi.
Benar yang dikatakan Radit, ada trauma yang Restu rasakan setelah kejadian penembakan itu. Trauma itu akan hadir kembali, dan sekarang lah waktunya.
"Bie." Aleesa mencoba memanggil Restu.
"Aku bukan pembunuh!"
__ADS_1
Bab 69. Tentang Restu (Bagian B)
#Flashback on.
Seorang anak dipaksa masuk ke dalam jeruji besi karena diduga sudah membunuh Kakeknya sendiri dengan senjata api yang sangat mematikan. Anak itu terus berteriak meminta keluar dari tempat menyeramkan itu. Namun, pihak kepolisian tidak menggubrisnya. Dia disatukan dengan beragam narapidana. Ada yang berambut gondrong, bertato dan berwajah sangar.
Restu Ranendra namanya. Anak dari seorang Jordan Genea yang menikah dengan putri Wiratama yang sudah wafat. Usianya masih tujuh tahun. Secara logika tidak mungkin anak seusia itu melakukan hal jahat. Namun, pada kenyataannya memang seperti itu. Sebuah senjata api ada di tangannya pada kejadian tersebut.
Anak itu terus menangis meminta untuk keluar. Terlihat wajah ketakutannya ketika para napi menatap ke arahnya. Dia mulai menundukkan kepala dan menangis dengan memeluk tubuh lututnya.
"Kakek, bawa aku pergi bersama Kakek saja. Aku tidak mau di sini."
Para narapidana merasa ngilu mendengar ucapan dari anak itu. Mereka melihat anak itu bukanlah dari kalangan biasa. Dari penampilannya juga sudah bisa mereka tebak. Setiap kali salah satu dari mereka menghampiri Restu, dia pasti semakin ketakutan. Dia memiliki kenangan buruk terhadap orang berbdan tegap dan hitam. Dia pernah dibanting hingga dua tulang rusuknya patah.
"Nak," panggil salah seorang pria yang berusia tiga puluh tahunan ketika pagi hari. Mata Restu sudah bengkak. Hampir dua puluh empat jam dia menangis di pojokan seorang diri.
"Aku bukan pembunuh, Om. Bukan aku yang membuat Kakek meninggal." Para tahanan yang ada di sana mendekat ke arah Restu. Terlihat tidak ada kebohongan di mata anak itu. Restu menyembunyikan kepalanya lagi. Dia benar-benar ketakutan.
"Tapi, kenapa kamu yang dituduh?" Restu menggeleng.
"Aku hanya ingin menyelamatkan Kakek da-da-ri--"
"Restu Ranendra, ada orang tua kamu datang membesuk." Bukannya merasa senang, Restu malah mundur perlahan. Dia menolak untuk bertemu.
"Enggak mau. Aku gak mau." Anak itu terlihat sangat ketakutan dan dia semakin menangis kencang. Para tahanan saling pandang. Isi kepala mereka pun sejalan.
Namun, pihak penjaga memaksa Restu. Walaupun para tahanan lain menghalangi, tubuh Restu mampu penjaga itu bawa.
Ketika Restu menghadap ayahnya, tubuh anak itu bergetar. Ketika ayahnya mulai mendekat, dia semakin mundur dan punggungnya sudah menabrak dinding menandakan dia sudah tak bisa kabur.
Plak!
Tubuh Restu tersungkur. Bibirnya sangat sakit dan terlihat tetesan darah ada di atas lantai. Restu hanya menangis. Tidak sampai di situ saja, pria itupun memukul punggung Restu dengan tongkat yang dia bawa. Anak itu tidak menghindar. Tenaganya susah terlalu lemah.
Setiap satu kali pukulan, Restu menjerit. Dia tersungkur, tapi pria biadab itu tak menghentikan tindakannya. Petugas pun hanya menontonnya saja. Ketika Mereka sudah disuap uang, semuanya seakan membiarkan.
Ketika tubuh anak kecil itu sudah tak berdaya, barulah pria itu berhenti menyakitinya. Tubuh Restu pun diseret bagai bangkai oleh petugas ke dalam sel tahanan. Sontak semua tahanan berteriak. Mereka menyerang para petugas.
"Jangan ikut campur!" ancam petugas tersebut.
Napas Restu sudah semakin jarang. Para tahanan itu takut jikalau anak ini meninggal. Segala cara sudah mereka lakukan. Namun, ketiadaannya obat dan tenaga medis di sel biasa ini membuat mereka bingung.
Ada beberapa tahanan yang menangis melihat Restu seperti itu. Mereka teringat kepada anak-anak Mereka di rumah. Restu bagai ikan yang terkapar di darat. Darahnya sudah mengering, dan napasnya sudah sangat jarang. Tahanan yan lain hanya bisa mengerumuni Restu. Mencoba membangunkannya dengan pelan.
"Siapa anak ini? Kenapa dia begitu malang?"
"Ada apa ini?"
"Ikut saya dulu, dok."
Tibanya di sel tahanan, tubuh dokter itu menegang ketika melihat seorang anak laki-laki tengah kritis.
"Kenapa kalian biarkan?" Dokter itu segera membawanya tanpa ijin. Di depan dia dicegah oleh petugas, tapi dia tak gentar.
"Kalau anak ini mati, saya akan mengusut tuntas siapa pelakonnya. Saya tidak akan main-main!" Ancam.dikter tersebut. "Termasuk kalian!" Sudah sering dia mendengar perihal kejadian di dalam tahanan. Sekarang, dia melihat jelas. Apalagi dia mendengar sebuah permohonan dari para narapidana di sana.
"Selamatkan anak itu, Dok. Kami tahu dia tidak salah. Ada yang mengkambing hitamkan." Dokter itu mengangguk. Dia adalah Addhitama. Dia dengan setulus hati merawat Restu. Menempatkannya juga di kelas VIP. Hatinya merasa berbeda ketika melihat anak yang tengah dia rawat ini.
"Saya akan buat kamu menjadi orang hebat." Sebuah janji yang begitu tulus yang Addhitama ucapkan pelan di depan tubuh Restu yang masih belum sadarkan diri.
Restu kritis, dan Addhitama beserta timnya berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak yang tidak berdosa itu. Seminggu berselang, Restu pun sadar. Semua dokter tersenyum bahagia melihatnya. Addhitama pun sudah mencari tahu perihal maslaahn anak ini.
"Di-ma-na?"
"Kamu di rumah sakit, Nak." Addhitama berbicara dengan begitu lembut.
"Kenapa tidak biarkan aku pergi ke surga saja? Aku ingin bertemu Mamih dan juga Kakek. Aku gak mau hidup."
Tidak ada yang tidak terenyuh mendengar penuturan dari Restu. Hati mereka terasa sakit. Ada masalah apa hingga anak yang tengah mereka tangani bisa bicara seperti itu?
Addhitama, dia yang merasa hatinya sangat sakit. Dia teringat akan putra ketiganya. Ucapan yang hampir sama ketiga seorang Raditya Addhitama merasa menyerah dengan apa yang tengah dia hadapi.
"Jangan banyak bicara dulu, ya. Kamu akan aman kok di sini." Addhitama mencoba menenangkan Restu. Restu mulai menatap Addhitama. Sorot mata pria itu seperti sang kakek.
"Ka-kek!"
Addhitama tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Restu. "Kamu boleh panggil saya kakek karena saya juga punya cucu seusia kamu. Nanti, akan saya kenalkan cucu saya kepada kamu."
Bukan hanya pengobatan secara fisik. Pengobatan secara psikis pun Addhitama berikan. Kakek dari empat orang cucu itu memanggil Radit untuk memeriksa psikis Restu. Radit hanya menghela napas Kasar, menandakan kondisi anak itu tidak baik-baik saja.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Anak itu masih dilanda ketakutan yang mendalam. Lebih baik ajak Rio dan si triplets ke sini supaya dia bisa melupakan apa yang sudah terjadi." Addhitama setuju akan ide tersebut.
#off.
Bab 69. Tentang Restu (Bagian C)
Nesha hanya bisa memeluk tubuh Rio. Mereka bertiga adalah saksi bisu bagaimana Restu bisa kembali seperti anak-anak pada umumnya. Mau bermain, tidak takut bertemu orang dan juga sudah bisa tertawa lepas. Butuh waktu tiga tahun untuk membuat Restu seperti itu. Radit pun ikut serta dalam hal ini. Awalnya Restu adalah anak pendiam. Ketika dia tangah sedih dia akan menonjok tembok ataupun kaca hingga tangannya berdarah-darah.
__ADS_1
"Sa, Aunty Mamih mohon ... tetap di samping Restu, ya." Aleesa pun mengangguk. Sorot mata sang Tante terlihat sangat sedih. Jangan ditanya bagaimana hati Aleesa. Namun, dia harus kuat. Dia tidak boleh rapuh.
Tidak ada yang terpejam di antara mereka bertiga yang menjaga Restu. Mata mereka seakan kuat menahan kantuk. Tatapan mereka masih tertuju pada Restu yang terus menggenggam tangan Aleesa walaupun dia sudah terlelap.
"Pih, Mamih kok takut, ya." Nesha sudah menatap sendu ke arah suaminya yang masih menatap Restu dengan tatapan tak terbaca.
"Semuanya akan baik-baik saja." Rindra mencoba untuk menenangkan. Di saat seperti ini Rindra tidak bisa berpikir, yang dia inginkan hanyalah melihat putranya kembali sembuh. Dia kini tengah memutar otak apa yang harus dia lakukan.
Aleesa benar-benar tidak memejamkan mata. Dia masih menatap wajah kekasihnya yang begitu damai. Ada rasa takut kehilangan di hatinya. Sedangkan kedua orang tua Restu dan Rio mulai memejamkan mata mereka.
"Aku yakin kamu bisa sembuh." Aleesa mencoba untuk tersenyum. Kemudian, Aleesa mencium kening Restu dengan sangat dalam dan mampu membuat si pria yang tengah terlelap itu membuka matanya.
Aleesa terkejut, tapi Restu sudah lebih dulu menarik dagu Aleesa hingga bibir mereka pun bersentuhan. Aleesa memundurkan wajahnya, tapi Restu menarik dagunya lagi hingga bibir mereka beradu kembali. Restu sudah mulai menyesap bibir manis milik Aleesa, begitu juga Aleesa yang sudah membalas sesapan dari sang kekasih. Jujur, Aleesa merindukan kecupan Manis yang selalu Restu berikan.
Saling berpagutan dalam rasa cinta yang mendalam. Saling membalas dan seakan mereka menikmati kegiatan yang selalu membuat mereka ingin berlama-lama melakukannya. Hingga pada akhirnya, Aleesa tidur di ranjang pesakitan Restu dengan wajah yang terbenam di dada bidangnya.
Ketika pagi datang, lima pasang mata menggeleng melihat sepasang sejoli tersebut. Termasuk kedua orang tua Aleesa.
"Bahaya ini, Dit," ujar Rindra. Radit hanya tersenyum.
"Mending bawa pulang anak perawan Uncle," ujar Rio. Radit mengacak-acak rambut keponakannya tersebut.
Lima menit berselang, keduanya membuka mata secara berbarengan. Sontak mereka terkejut ternyata mereka dikelilingi oleh lima orang yang menatap tajam ke arah mereka. Mereka berdua pun kaget ketika tersadar mereka tengah berpelukan di atas ranjang pesakitan di atas tempat tidur.
"Nyenyak banget kayaknya, ya," goda Nesha
Aleesa perlahan mulai mendudukkan tubuhnya dan tangan Restu memeganginya. Jujur, dia belum bisa bergerak karena rasa sakit itu masih menjalar.
"Maaf," ucap Aleesa setelah memandang wajah kedua orang tuanya.
"Bersiaplah, kamu harus ke kampus." Radit sudah membuka suara.
Mendengar itu, Restu terdiam dan menatap sendu ke arah sang kekasih. Begitu juga dengan Aleesa.
"Cuma kuliah, Restu. Bukan ke Pluto," tambah Rio.
Restu hanya terdiam dan Nesha sudah mendekat ke arah putra pertamanya itu. "Lap dulu tubuh kamu, ya. Mamih akan bantu."
"Tapi, Mih--"
"Jangan menolak." Suara Rindra sudah menggema. "Itu Mamih kamu. Jangan malu. Tugas kami sebagai orang tua menjaga kamu sedewasa apapun kamu."
Hati Restu terenyuh mendengarnya. Sebuah kalimat yang membuat hatinya bergetar hebat. Dia menatap ke arah sang ayah angkat yang begitu tulus mengatakan hal itu. Walaupun dia bukan anak kandung seorang Rindra Addhitama, tapi Rindra selalu menyayanginya dengan tulus. Itulah yang membuat Restu tidak bisa menolak apapun yang dikatakan oleh Rindra.
Aleesa masuk ke kamar mandi karena kedua orang tuanya sudah membawakan baju untuknya. Sedangkan Restu sedang diseka oleh sang bunda.
"Kalau sakit bilang, ya." Restu mengangguk.
Ini bukan kali pertama dia diseka ketika sakit. Namun, hatinya akan tiba-tiba sedih jika tangan lembut ibunda dari Rio itu menyentuh kulitnya. Benar saja, kepala Restu menunduk dalam. Nesha menghentikan sekaannya ketika punggung Restu bergetar.
"Kok cengeng?" goda Nesha.
"Kenapa waktuku bersama ibu kandungku sangat singkat. Kenapa--" Nesha segera memeluk tubuh Restu.
"Karena Tuhan memberikan kesempatan kepada Mamih untuk menjaga anak yang luar biasa seperti kamu." Kasih sayang Nesha sangatlah tulus sana seperti Rindra. "Mamih tahu pelukan Mamih tidak sama seperti pelukan ibu kandung kamu, tapi ingatlah, Nak, Mamih akan memeluk kamu tanpa kamu minta. Mamih akan terus memberikan kehangatan kepada kamu. Sama seperti kepada Rio. Kamu adalah anak pertama Mamih." Restu semakin bmerasa bersyukur karena bertemu dengan keluarga yang luar biasa ini.
Nesha ngilu sendiri ketika melihat luka di punggung Restu. Walaupun ditutup perban, tetap saja dia tidak tega. Tidak ada ibu yang tega melihat anaknya terluka.
Selesai diseka, Aleesa pun sudah cantik dengan penampilannya. Restu terpana untuk sesaat. Begitu juga dengan Aleesa yang tersenyum ke arah Restu yang sudah segar.
"Aku ngampus dulu, ya." Aleesa sudah berada di samping Restu. Sang kekasih masih terdiam. Ada rasa cemas di hatinya karena sudah pasti Aleesa akan bertemu dengan Yansen.
"Bie," panggil Aleesa. Restu malah mengulurkan tangannya dan membuat Aleesa menukikkan kedua alisnya.
"Salim lah sama calon suami!" Sewot brandal yang sedang tidak baik-baik saja itu. Semua orang pun tertawa.
"Enteng banget tuh congor bilang calon suami. Kayak udah direstuin aja." Si manusia sirik sudah membuka suara. Siapa lagi jika bukan Rio. Restu pun hanya berdecak kesal.
Aleesa tertawa dan dia pun menyambut uluran tangan Restu dan mencium punggung tangan kekasihnya dengan begitu lembut. Ada kehangatan yang Restu rasakan. Restu pun tak segan mencium kening Aleesa di depan kedua orang tuanya juga orang tua Aleesa.
"Tokay lah!" Rio sudah mengerang keras dan membuat semua orang terbahak.
"Cepat lah kenalin pacar kamu ke Mamih. 'Kan Mamih juga pengen jadi ibu yang selektif." Rio semakin kesal.
"Terus aja terus!"
Ijin sudah, cium tangan sudah, Aleesa pun hendak pergi. Namun, tangannya dicekal oleh tunangannya.
"Apa lagi?" tanya Aleesa.
"Jangan macam-macam. Jangan manfaatin kesempatan dalam kesakitan aku." Aleesa menatap malas ke arah Restu.
"Kamu juga jangan centil sama dokter cewek yang nanganin kamu. Aku colok entar mata kamu."
"Bucin ... Bucin ...."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1