RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 164. POV. Yansen


__ADS_3

Aleesa membawa pulang sebuah rasa kecewa. Itu sangat jelas di mata Restu. Sang calon suami merangkulnya erat.


"Yang penting 'kan doanya," ujar Restu. Bukan hanya Aleesa yang merasa kecewa, Restu pun merasakan hal yang sama walaupun hanya sedikit.


.


Pov Yansen.


Sebuah surat undangan sudah ada di tangan. Harusnya aku senang, tetapi kenapa hatiku terasa amat perih?


"Tuhan, apa yang sebenarnya aku inginkan? Kenapa keinginanku kini seolah berputar arah? Dulu, aku menginginkan mereka bahagia, tapi kenapa sekarang aku merasa kecewa? Ada apa dengan hatiku, Tuhan?"


Aku menatap patung salib ukuran cukup besar yang ada di dinding kamar. Mataku tiba-tiba nanar dan dadaku sesak. Bulir bening tak sanggup aku bendung. Tempatku mengadu seakan tengah menatapku dengan begitu lekat. Dia mengatakan bahwa aku salah.


"Jangan mencintai berlebihan. Sesungguhnya cintamu pada manusia tidak akan pernah kekal. Hanya cintamu pada sang maha kuasa itu akan kekal abadi karena Bapak lah yang akan memelukmu di surga nanti."


Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Suara yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Suara yang tidak aku kenali. Namun, suara itu menyadarkan aku untuk harus membuka mata hatiku. Aleesa memang bukan jodohku. Aku yang awalnya menunduk, kini mulai menegakkan kepalaku. Menghapus air mataku yang sangat tak sopan membasahu wajahku. Air mata yang seharusnya tak terjatuh karena sebuah kerapuham yang tak berkesudahan.


Goody bag yang Aleesa berikan aku raih, ada baju berwarna cokelat muda yang begitu manis. Baju yang sesuai dengan ukuran tubuhku. Aku sangat yakin, baju yang akan dikenakan oleh Aleesa dimaksud nanti pun bernuansa warna nude seperti ini karena Aleesa penyuka warna-warna kalem.


"Ini baju para groomsmen keluarga besar. Kamu adalah salah satu keluarga besar aku."


Bibirku melengkungkan senyum ketika mengingat ucapan dari Aleesa. Aku merasa terharu mendengar perkataan Aleesa yang begitu tulus yang menyebut aku sebagai anggota dari keluarganya. Aku sunggu tak menyangka. Aku dapat merasakan betapa bahagianya Aleesa hanya dari sorot matanya. Kebahagiaan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Wajahnya yang begitu bersinar membuatku sangat yakin jika ini adalah jalan Tuhan untuk Aleesa. Tuhan itu sangat baik karena sekarang Tuhan sudah mempertemukan Aleesa dengan calon imamnya yang akan menuntunnya sesuai ajaran Tuhannya, dan aku ... akupun aku akan berjalan menuju Tuhanku karena Dia sudah melambaikan tangan-Nya kepadaku. Sudah memanggil-manggil namaku untuk bertemu dengan-Nya.

__ADS_1


"Kamu tak salah pilih, Sa. Aku juga tak salah mempercayakan kamu pada Kak Restu."


Aku duduk di samping tempat tidur. Aku mengingat ketika Aleesa dan calon suaminya hendak pulang. Aku menyalami tangan Kak Restu dengan begitu erat. Ada juga harap yang aku utarakan pada anak angkat Om Rindra tersebut.


"Makasih sudah memberikan kebahagiaan untuk Sasa. Makasih sudah menyembuhkan luka Sasa. Terus bahagiakan dia, dan terus hapus air mata yang menetes di wajahnya jika dia menangis karena aku. Aku yakin, Kak Restu akan terus menjadi obat penawar untuk Sasa."


Aku tersenyum, entah kenapa kalimat itu muncul begitu saja dari bibirku. Aku tak tahu kenapa aku bisa berbicara selancar itu. Apa mereka akan sadar dengan sebuah kalimat yang memiliki arti lain itu? Akupun melihat Aleesa dan Kak Restu saling pandang. Mereka nampak bingung, tapi aku gak menjelaskan. Biarkan waktu yang menjawab semuanya.


Senyumku masih mengembang. Perlahan hatiku mulai membaik. Walaupun masih ada sedikit sesaak di hati. Aku melihat ke arah meja di mana masih aku pajang fotoku bersama Sasa. Foto lucu kita berdua. Foto semasa kita SMA.



"Aku rindu momen ini, Sa. Momen di mana kita tertawa bersama dan bercanda bersama." Bibirku melengkungkan senyum, tapi hatiku sakitnya minta ampun jika melihat momen ini. Momen di mana aku benar-benar dekat dengan Aleesa. Hatiku mulai perih lagi.


Andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin mengulang momen manis bersama wanita yang aku cinta ini. Wanita yang mampu membuat aku berubah menjadi lebih baik. Wanita yang mau menerimaku apa adanya.


Rasa sakit, perih aku rasakan lagu sekarang. Tanganku masih menggenggam surat undangan dari Aleesa, juga tangan sebelahnya masih memegang baju groomsmen akad nikah Aleesa. Aku memejamkan mata sejenak, tawa Aleesa yang hadir. Kebersamaan kami yang muncul. Semua memori terulang kembali. Tak ada yang terlewat. Semua berputar sesuai apa yang pernah terjadi antara aku dan Aleesa.


Hari ini, aku sudah tidak melihat Aleesa di kampus. Dua teman Aleesa datang menghampiriku. Mereka bertanya perihal undangan.


"Sasa dan calon suaminya semalam datang ke rumah gua."


Aku berbicara jujur. Aku sangat melihat jelas sorot iba dari mata Kemala dan Raina. Aku pun tersenyum dan menepuk pundak mereka berdua.

__ADS_1


"Gua gak apa-apa. Gua udah ikhlas kok." Senyum pun aku tunjukkan. Aku tidak ingin dikasihani. Biarkan rasa sakit ini aku telan sendiri.


"Lu mau datang?" Aku tidak terkejut mendengar pertanyaan Raina.


"Pengen banget malah." Aku menjawab jujur. "Tapi, jadwal gua bentrok sama akad nikah Sasa. Gua harus ke Samarinda."


"Lu gak menghindar 'kan?" Kemala tak percaya dengan ucapanku. Aku pun menggeleng. Aku menunjukkan jadwalku kepada Kemala dan Raina.


"Sebagai sahabat gua harusnya ada di acara penting Sasa, tapi gua juga butuh uang buat biaya hidup gua." Kemala dan Raina pun mengerti.


Pulang dari kampus aku sengaja mampir ke sebuah toko untuk membeli sesuatu. Hadiah kecil untuk Aleesa. Senyumku mengembang ketika melihat sesuatu yang lucu di sana. Hingga tercetus datu ide di kepalaku.


Tibanya di rumah aku langsung membuka laci yang ada di lemariku. Sebuah kotak berwarna biru aku raih. Ketika aku melihat isinya aku hanya bisa tertawa geli. Aku meraih satu demi satu foto yang ada di dalam kotak. Foto semasa aku dan Aleesa TK hingga SMA. Semua ada di dalam sana. Aku memasukkan satu per satu foto itu ke dalam sebuah album foto lucu dan unik. Hingga semuanya selesai dan aku menuliskan sesuatu di depan album foto tersebut.


...S&S...


...Sensen&Sasa...


......Sahabat Selamanya (Sahabat Se-indigo)......


Aku tertawa ketika membaca tulisanku itu. Rasa sakit yang dan sedih yang ada kini menguar begitu saja ketika aku membaca sahabat selamanya. Ya, aku tidak boleh menentang takdir. Aku juga harus sadar jika aku dan Aleesa hanya ditakdirkan menjadi sahabat se-indigo. Di mana hanya aku dan Aleesa yang bisa menjahili dan menertawakan para hantu.


#Pov. End.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ....


__ADS_2