
Hati Aleesa sakit mendengarnya ketika Aleena mengatakan tidak akan kembali ke Jakarta dan tidak akan hadir di akad nikahnya. Sekuat tenaga dia meminta Aleena untuk datang, tapi Aleena tetap menolak. Dia merengek kepada sang ayah, Radit pun tak bisa memaksa. Masih ada luka yang menganga di hati Aleena. Juga luka itu sangat dalam. Satria pun dipastikan hadir karena sudah tidak ada tetua lagi di keluarga Addhitama, kecuali paman dari Radit itu.
"Kenapa harus mengundang tua Bangka itu?" Bukan kedua adik ipar Radit yang berkata. Calon menantunya lah yang berani mengatakan itu. Restu tidak menyangka jika calon ayah mertuanya masih mau mengundang Satria. Radit membalasnya dengan sebuah senyum.
"Dia hanya menyaksikan. Tanpa bisa bersalaman dengan kalian." Radit sudah mempersiapkan itu.
"Aku akan menyuruh anak buahku juga untuk berjaga dan mengawasi si tua Bangka itu." Kejam memang ucapan Restu, tapi tak membuat Radit marah.
"Juga anaknya." Radit tersenyum mendengar ucapan Restu. Dia sangat tahu bagaimana watak calon menantunya itu. Kejamnya hampir sama dengan adik iparnya, Aksara. Radir menepuk pundak Restu dengan lembut.
"Dia dipastikan tidak akan hadir."
Namun, Restu tak percaya begitu saja. Dia tahu bagaimana Kalfa. Berjaga harus karena dia tidak ingin terjadi kekacauan di acara pentingnya bersama Aleena. Bagi Restu, Kalfa adalah si pembuat onar yang berlindung di bawah ketiak ayahnya.
Aleesa merasa kecewa kepada sang kakak. Dia merasa tidak dihargai oleh saudara kembarnya. Itu hari pentingnya, tapi Aleena malah tak akan hadir.
"Gak boleh egois, Lovely." Restu menggenggam tangan Aleesa seraya berkata lembut. "Kita tidak pernah tahu sesakit apa hatinya hingga dia tidak mau kembali ke tanah kelahirannya."
Apa yang dikatakan oleh Restu memang benar. Dia tidak tahu bagaimana sakitnya hati sang kakak. Dia juga tak tahu seberapa dalam luka yang bersarang di hati kakaknya. Aleesa tidak mengetahui jika bukan hanya hati Aleena yang sakit. Fisik Aleena pun ikut disakiti.
"Walaupun dia tidak hadir secara langsung, dia akan menghadiri akad nikah kita secara virtual." Aleesa pun mengangguk.
Mereka kembali ke Jakarta tanpa Aleena. Aleena akan tetap di Sydney hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan. Di rumah itulah semua keluarga Wiguna akan meluapkan segala sedih mereka. Termasuk Aleena.
Ada rasa yang berbeda yang Aleesa rasakan. Ada kesedihan yang datang di awal. Namun, Restu terus memberikannya dukungan dan kata-kata positif sehingga Aleesa dapat melupakan sejenak kesedihannya perihal sang kakak. Restu pun tak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Calon suami Aleesa sangat salut kepada keluarga Aleesa. Mereka benar-benar bisa menempatkan rasa sedih mereka. Sekarang, mereka sudah kembali ke sedia kala. Sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Restu sangat yakin itu sulit untuk dilakukan.
"Keluarga yang begitu hangat. Keluarga yang membuat aku iri."
Restu mengangkat dua jempolnya untuk kekompakan keluarga Aleesa. Keluarga yang benar-benar saling menguatkan dan tak pernah saling senggol. Dia juga salut kepada ketiga anak Giondra dan Ayanda yang tak memperebutkan harta. Padahal hampir tujuh puluh persen perusahaan dan saham milik Wiguna dikuasi oleh Aksara. Kakak dan adik Aksa malah biasa saja. Beda cerita jika itu terjadi di keluarga yang lain. Bisa jadi ketika makam masih merah dan basah sudah memperebutkan harta.
Aleesa sudah bersandar di bahu Restu. Sesekali Restu mengecup ujung kepalanya. Menggenggam tangannya juga. Bagi Restu, keluarga Aleesa adalah keluarga bermuka dua. Bukan dalam artian negatif, tapi mereka bisa menempatkan sedihnya dengan baik dengan menampilkan wajah ceria.
__ADS_1
Tibanya di Jakarta, Restu pulang ke rumah Aleesa. Dia tidak tega melihat Aleesa yang mengantuk berat. Kedua orang tua Aleesa pun tak mempermasalahkan. Tiba di rumah pun dia digendong oleh Restu menuju kamar.
"Lebay!" Aleeya bersungut, tapi tak Restu hiraukan. Dia tahu jika Aleesa kurang tidur dan dadanya mulai kembali sesak.
Restu cukup lama berada di dalam kamar Aleesa. Memandang wajah cantik sang wanita yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya, yang sebentar lagi akan menemani tidurnya di setiap malam.
"Sehat terus ya, Lovely." Tangannya sudah mengusap lembut rambut Aleesa. Betapa damaimya wajah Aleesa yang tengah terlelap.
Suara Rio sudah terdengar. Dia membangunkan Aleesa dengan begitu lembut hingga wanita itu membuka mata sebentar.
"Aku pulang, ya. Rio udah jemput." Aleesa mengangguk.
"Maaf, aku gak bisa ngantar." Restu tertawa. Dia mencium kening Aleesa dengan begitu dalam.
"Kalau nanti udah bangun hubungi aku, ya." Aleesa pun mengangguk. "Kalau dada kamu terasa sesak langsung hubungi aku juga."
"Iya, Bie." Lemah sekali suara Aleesa hingga Restu mencium bibir Aleesa dengan singkat sebelum dia pergi.
"Mamih kenapa?" Restu bingung.
"Kamu pasti sedih ibumu pergi untuk selamanya."
"Mana ada?" Restu menjawab dengan begitu santai. Sontak Nesha memukul pundak sang putra. Rindra dan Rio malah tertawa.
"Papih juga bilang apa," timpal Rindra. Nesha malah menatap tajam Restu.
"Jika, ibu kandungku seperti almarhum Tante Ayanda mungkin aku akan menangis meraung-raung." Seperti tak punya dosa Restu berucap..
"Gak boleh gitu," omel sang ibu. Restu memilih untuk duduk di samping sang ayah karena sudah pasti sang ibu akan mengomel bagai ibu-ibu di tanggal tua.
"Papih nunggu kabar dari kamu." Restu melirik sepintas ke arah Rindra. Kemudian, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Tanpa aku ngabarin juga Papih pasti udah tahu." Rindra malah tertawa.
__ADS_1
"Pemakaman elite di sana berapaan?" Rio sudah ikut bergabung.
"Lu mau daftar?"
"Bang sat!" Rio malah melempar bantal sofa ke arah wajah sang kakak angkat. Semua orang malah tertawa.
"Besok kembalilah bekerja." Sang ayah sudah berbicara serius.
"Tanggung, Pih. Abis nikah ajalah." Restu mencoba untuk bernegosiasi.
"Abis nikah lu pasti minta bulan madu. Lama lagi gawenya," omel Rio. Restu pun hanya berdecak kesal.
"Ya wajarlah. Abis married bulan madu. Dari pada bulan madu dulu baru married." Dia pria yang seumuran itu pasti akan seperti Tom and Jerry jika sudah bertemu. Terkadang membuat kepala kedua orang tua mereka berdenyut hebat, tapi kehadiran mereka berdua membuat rumah menjadi lebih hidup.
"Pokoknya besok datang aja ke kantor." Sang ayah bicara dengan begitu tegas. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Restu.
Rindra tersenyum sembari menatap sang putra yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.
"Jadilah suami yang bertanggung jawab." Rindra menepuk pundak Restu dengan senyum yang melengkung sempura.
"Tentu, Pih."
"Kasih Mamih cucu yang banyak." Sang ibu berkata.
"Tenang, Mih. Calon embrio yang aku keluarkan akan menemukan tempat berkembangnya."
"Gak kebuanh sia-sia lagi deh," cibir Rio. Mata Restu melebar mendengarnya.
"Jangan pernah main solo lagi, kasihan bini lu entar gak kebagian semburan bisa kental."
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...
__ADS_1