RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 53. Nasihat (Aska)


__ADS_3

Yansen terlihat sendu ketika teleponnya ditolak. Padahal dia hanya rindu akan suara Aleesa. Dia tidak marah atas kejadian semalam. Dia mengerti posisinya sekarang.


Flashback on.


"Kami semua tahu kamu itu sayang sama Aleesa, begitu juga dengan Aleesa. Namun, kamu juga tahu 'kan apa yang membuat kami menganggap kamu hanya sebatas sahabat Aleesa sampai sekarang. Walaupun, kami tahu hubungan kalian berdua sudah sejauh mana." Yansen terdiam mendengar ucapan Aska.


"Gua pribadi gak benci lu, gua juga suka sama lu karena lu emang anak baik, begitu juga dengan keluarga besar. Satu hal yang membuat kami masih tidak membuka pintu masuk ke dalam keluarga, yakni keyakinan." Aska berbicara sangat tegas.


"Kami juga tidak memaksa kamu untuk masuk ke dalam keyakinan kami karena keyakinan itu adalah bentuk privasi yang tidak bisa kami paksakan. Gua pribadi tahu kalau lu itu anak Tuhan yang taat. Lu juga sangat menomor satukan toleransi. Akan tetapi, konsep pernikahan tidak seperti itu." Aska membeberkan.


"Harus satu tujuan dan satu pemimpin supaya nanti anak-anak lu gak bingung dengan keadaan rumah tangga kalian. Ke kanan atau ke kiri. Maju atau mundur. Itu membebani anak kalian nantinya."


Nasihat ini pernah Yansen dengar langsung dari ayah Aleesa. Hatinya tersentil dan membuat dia yakin jikalau dia tidak akan pernah bisa masuk ke dalam keluarga Aleesa ketika keyakinannya masih berbeda dengan Aleesa. Namun, dia juga tidak akan mengorbankan keyakinannya hanya karena sebuah cinta.


"Satu kapal dua nahkoda. Mau di bawa ke mana penumpangnya?"


Kali ini dia mendengar lagi dari mulut paman Aleesa nomor dua dari keluarga Wiguna. Bukan tersentil, sekarang sudah menusuk hati Yansen.


"Kami juga melarang 'kan kamu pindah keyakinan hanya untuk sebuah kata sah di dalam pernikahan." Yansen mengangguk. "Itu kami lakukan karena kami tidak ingin siapapun mempermainkan agama."

__ADS_1


Yansen tahu akan hal itu. Dia menemui Aska karena Askalah yang paling mudah diajak berbincang dibandingkan dengan Aksa apalagi Iyan.


"Aku tahu akan hal itu, Om. Keluarga Om pun sudah sangat baik kepadaku. Walaupun aku berbeda, tapi kalian masih mengijinkan aku bersama Aleesa," tutur Yansen dengan begitu tulus.


"Dari awal 'kan kami sudah mengatakan kepada kamu dan juga Aleesa perihal konsekuensi menjalin hubungan beda agama. Kami kembalikan lagi kepada kalian. Kami juga sudah mengatakan hal terburuk dan menyakitkan kepada kalian 'kan perihal hubungan yang salah itu." Yansen mengangguk.


"Dari awal hubungan kalian, gua dan keluarga gak pernah speak up. Ya, melihat Aleesa bahagia itu menjadi kebahagiaan juga buat kami. Apalagi, kondisi Aleesa sedikit demi sedikit mulai menurun. Jadi, sebisa mungkin kami tidak akan mencampuri karena kebahagiaan Aleesa lah yang kami utamakan."


"Namun ...." lanjutnya lagi. "Karena kakak kamu yang sudah membuat masalah, makanya kami yang diam ini hadir ke permukaan. Ikut campur akan hubungan kamu dan Aleesa. Kenapa? Kami mengkhawatirkan kondisi Aleesa dan benar, apa yang kami khawatirkan terjadi. Itulah yang membuat kami marah dan tidak terima. Harusnya, kalau kakak kamu gak suka sama Aleesa bicara baik-baik bukan dengan cara seperti ini. Kalau kami diam saja berarti kami mengijinkan kakak kamu membunuh Aleesa secara perlahan."


Aska tidak memarahi Yansen. Dia hanya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Fakta yang ada karena dia tahu Yansen bukanlah anak yang mudah terhasut.


"Aku juga kecewa sama Kak Grace, tapi bagaimanapun dia tetap Kakak aku. Ibu dan kakak untuk aku." Aska tersenyum dan menepuk pundak Yansen. Dia bangga pada anak ini.


"Om, apa benar Aleesa sudah mendapat restu menjalin hubungan dengan Kak Restu?" Aska hanya tersenyum mendengarnya.


"Kenapa? Apa kamu cemburu? Atau merasa dikhianati?" Yansen menggeleng. Namun, wajahnya nampak sendu.


"Aku juga telah mengkhianati dia, Om. Wajar kalau dia juga melakukan hal yang sama." Yansen menunduk dalam.

__ADS_1


"Hubungan kalian diawali dengan kesalahan. Makanya, sekarang banyak masalah yang menerpa kalian dan yang baru terjadi adalah saling mengkhianati. Kalian tidak salah, hanya perasaan kalian hadir di tempat yang tidak tepat."


#off.


Yansen memejamkan matanya sejenak. Apa yang dikatakan oleh Aska semuanya benar. Dia beruntung karena keluarga besar Aleesa tidak memusuhinya. Baik orang tua Aleesa, ketiga Om Aleesa dari keluarga Wiguna dan Juanda. Mereka semua masih sama seperti dulu.


"Apa sekarang aku harus menyerah?" Yansen menunduk dalam. Air matanya menetes begitu saja.


Dia melepas cincin itu yang ada di jari manisnya. Dia tidak ingin terikat dengan siapapun sekarang dan selamanya. Hanya Tuhan yang mampu mengikat hatinya.


.


"Aku gak suka diganggu ketika tengah berdua."


Wajah Restu nampak menyeramkan dan terlihat api cemburu di matanya. Aleesa malah tersenyum dan mencubit gemas pipi bodyguard tampan itu.


"Beararti ... ketika aku bersama dia, kamu juga ga boleh ganggu dong." Restu semakin menatap tajam Aleesa dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang kekasih yang sudah berani memutar balikkan ucapannya.


"Aku akan tetap mengganggu kalian berdua. Meskipun aku hanya kekasih bayangan kamu, tapi bagiku kamu kekasih sungguhan untuk aku. Jangan harap kamu terlepas dari pantauan aku."

__ADS_1


...***To Be Continue****...


Komen dong ...


__ADS_2