
Restu mengerang kesal ketika suara Rio mengganggunya. Aleesa sudah menundukkan kepalanya dan membuat Restu memeluknya untuk kesekian kalinya.
"Pindah ke depan, ya." Tangan Restu sudah mengusap punggung Aleesa. Gelengan kepala Aleesa membuat Restu mengurai pelukannya.
"Aku bukan sopir kamu, Lovely." Restu berkata dengan sangat tegas.
"Kamu bodyuguard aku," balas Aleesa.
"Bodyuguard sekaligus pacar." Restu sudah membuka kunci pintu mobil dan menarik tangan Aleesa keluar dari mobil. Membukakan pintu penumpang depan untuk sang kekasih. Sedikit memaksa karena Aleesa masih tidak ingin berpindah tempat. Dia masih kesal kepada pria tampan itu.
"Jangan nolak!" Aleesa menekuk wajahnya dan membuat Restu mengusap lembut rambut Aleesa.
"Tuh 'kan apa dugaan Iyo," ucap Rio kepada Papih dan Mamihnya yang melihat Restu dan Aleesa dari balik jendela. "Tuh anak pasti mau icip-icip Aleesa." Sang ibu memukul pundak Rio hingga dia mengaduh.
"Suudzon aja!"
"Maklumin aja, Rio si jomblo." Ayahnya malah mengejek Rio dan membuat Rio mengerang kesal.
"Iyo ini anak Papih dan Mamih bukan sih? Kenapa si brandal itu selalu dibela?" Rio kesal sendiri.
Ini bukan kali pertama Rio diejek oleh kedua orang tuanya. Dia juga tidak benar-benar marah kepada Papih dan Mamihnya. Itulah cara mereka bercanda. Akan lebih parah jika Restu ada di sana.
.
Di perjalanan menuju restoran, Restu terus menggenggam tangan Aleesa. Sesekali dia membawa punggung tangan Aleesa untuk dia kecup.
"Kamu berapa tahun lagi lulus?" tanya Restu.
"Satu tahun lagi. Kenapa?' Aleesa sudah menatap ke arah Restu.
"Mau bawa kamu ke penghulu." Aleesa malah tertawa.
"Aku serius, Lovely."
"Iya." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aleesa dan membuat Restu kesal. Sang kekasih hanya tertawa melihat tingkah lucu bodyguard yang tengah geram, tapi sangat menggemaskan di matanya.
Mereka tiba di sebuah restoran yang sangat private. Restu dengan psoseifnya menggenggam tangan Aleesa. Ternyata sudah ada tempat khusus untuk Aleesa dan Restu. Aleesa menatap ke arah sang kekasih yang hanya dibalas senyuman oleh pria di sampingnya.
"Dua jam ini aku tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku ingin bersama kamu terus." Mendengar ucapan itu, Aleesa segera memeluk tubuh Restu.
__ADS_1
"Aku tahu kamu tidak akan mau diajak ke mana-mana. Makanya aku menyiapkan ini." Si brandal yang dulunya sangat menyebalkan kini berubah menjadi sangat manis. Membuat Aleesa tak mampu berkata.
Restu menarik kursi yang ada di sana untuk Aleesa. Dia duduk tepat di samping Aleesa. Sedari tadi Restu menatap Aleesa dengan tangan yang dia topang di dagu. Padahal Aleesa tengah menikmati makanan yang sudah disediakan.
"Kenapa liatin terus sih?" Aleesa sudah membuka suara karena merasa risih. Dia pun menatap ke arah Restu yang sedari tadi menatapnya.
"Aku sedang menyimpan wajah kamu di memori kepala aku agar selalu mengingat kamu ketika kita berpisah untuk sejenak nanti." Aleesa tersenyum dan mengusap lembut wajah Restu. Tangan Aleesa malah ditahan oleh Restu. Mereka berdua kini saling tatap dengan begitu dalam dengan tangan Aleesa yang digenggam erat oleh Restu.
"I love you so much, Lovely."
"Love you more, Bie." Begitu lancar Aleesa membalas pernyataan cinta dari Restu dan membuat pria itu menarik tangan Aleesa ke dalam dekapannya.
"Aku pasti sangat merindukan kamu." Restu berucap seraya mengecup ujung rambut Aleesa.
"Jangan nakal." Restu malah tertawa. Dia mengendurkan pelukannya dan menatap ke arah Aleesa.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu sama kamu," tuturnya. "Jangan nakal sama pacar kamu itu."
"Pacar akan kalah sama calon suami 'kan." Restu malah tergelak dan mencium gemas wajah Aleesa. Aleesa pun tertawa begitu lepas. Apalagi tangan Restu tak melepaskan pelukannya pada tubuh Aleesa.
"Ingat loh, aku punya banyak mata-mata. Kalau sampai dia melakukan apa yang aku lakukan sama kamu, aku gak akan pernah tinggal diam." Restu sudah mengancam.
Restu menjawab dengan perbuatan bukan dengan perkataan. Dia menyesap bibir Aleesa dengan lembut dan Aleesa pun seakan menikmati apa yang dilakukan Restu kali ini. Beberapa menit berselang, pagutan itu terlepas dan Restu mengusap lembut bibir Aleesa yang basah.
"Aku tidak ikhlas jika dia melakukan ini kepada kamu." Tegas, itulah yang Restu katakan.
"Aku milik kamu, Bie. Dia hanya mendapat balasan rasa dari aku, tapi aku tidak memberikan bibirku padanya. Beda halnya dengan kamu. Kamu mendapat balasan cinta dari aku dan aku melepas keperawanan bibirku kepada kamu." Restu tersenyum. Dia mengecup lembut kening Aleesa.
"Kenapa kamu rela membuka segel padaku?" Aleesa menggeleng.
"Pasti ada alasannya dong, Lovely." Tangan Restu sudah membenarkan anak rambut Aleesa.
"Aku merasa yakin jika kamu akan menjagaku." Speechless. Restu tidak bisa berkata.
"Ketika dengan kamu bukan hanya nyaman yang aku rasakan. Sebuah ketulusan aku dapatkan dari perlakuanmu terhadapku, dan anehnya tidak ada rasa sedih dan bersalah setiap kali aku berdua dengan kamu. Beda halnya dengan dia," terang Aleesa. Restu masih mendengarkan.
"Setiap kali aku bersama dia ... Aku semakin merasa bersalah kepada kedua orang tuaku juga keluargaku. Setiap hari aku dihantui rasa itu." Restu memeluk tubuh Aleesa kembali. Tangan Aleesa pun masih melingkar di pinggang Restu.
"Kapan kita mempublikasikan hubungan kita kepada kedua orang tua juga keluarga kamu? Sudah waktunya, Lovely."
__ADS_1
Aleesa melonggarkan pelukannya dan dia menatap ke arah Restu dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Jangan sekarang."
Restu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih untuk diam dan tidak ingin juga bertengkar perihal ini. Dia tengah memikirkan cara bagaimana hubungan bisa terpublikasikan kepada orang tua Aleesa juga keluarganya.
Ada yang janggal di bibir Restu. Itu membuat Aleesa mengusap lembut ujung bibir sang kekasih yang tengah memeluknya.
"Bie, ini kenapa?" Restu merasakan sudut bibirnya perih ketika Aleesa sentuh.
"Dibogem Papih."
Aleesa terkejut dan menatap Restu dengan serius. "Kamu melakukan kesalahan sampai Uncle Papih murka begitu?" Restu malah mengambil minuman yang sudah tersedia di table ketika sang kekasih bertanya panjang lebar.
"Jawab, Bie!" sentak Aleesa.
"Iya."
"Kesalahan apa?" Aleesa benar-benar penasaran.
"Nyium kamu." Mata Aleesa melebar mendengar ucapan Restu.
"Jadi, Uncle Papih--" Restu mengangguk. Sontak Aleesa memukul pundak, lengan serta dada Restu dengan memababi-buta. Restu hanya tertawa dan menahan tangan Aleesa.
"Kamu tahu apa yang Papih katakan?" Restu sudah menatap Aleesa dengan seksama. "Kata Papih, aku harus jaga kamu dan halalin kamu." Aleesa jadi salah tingkah dan membuat Restu gemas dan terus memeluknya.
Ponsel Aleesa berdering dan membuat Aleesa maupun Restu melihat ke arah ponsel.
Sensen ❤️ calling ..
Restu segera meraih ponsel Aleesa yang ada di atas meja, dan segera menggeser layar ke arah gagang telepon berwarna merah. Dia menolak telepon dari Yansen tanpa persetujuan Restu.
"Aku gak suka diganggu ketika tengah berdua."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1