
Ghea yang awalnya ingin pulang kini malah memilih untuk stay kembali di rumah sang tante. Rangga tidak bisa memaksa karena dia sangat tahu bagaimana watak Ghea. Rangga memilih untuk menunggu di luar saja. Dia tahu Aleena masih sangat canggung. Memainkan ponsel itulah jalan terbaik untuk Rangga.
Dia mengerutkan dahi ketika pesan dari Reksa dia baca.
"Gimana? Apa sudah bisa lupa?" Di belakang sedang itu ada emoticon dua jari yang membuat Rangga tersenyum.
"Perihal melupakan bukan seperti balik telor dadar. Melupakan adalah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tapi sulit untuk dijalankan. Bibir berkata bisa lupa, tapi hati tetap masih memikirkan dia."
Rangga seperti tengah meluapkan segalanya. Meluapkan apa yang dia rasakan sekarang yang sulit untuk diungkapkan secara langsung. Hanya Reksa yang tahu kejadiannya seperti apa. Bagaimana hancurnya Rangga, dan bagaimana frustasinya Rangga.
Sangat asyik dengan benda pipih di tangannya membuat Rangga tidak sadar akan kehadiran seseorang. Pria dewasa menepuk pundak Rangga hingga dia menegakkan kepala.
Seulas senyum yang sangat mirip dengan sang ayah membuat Rangga membalas senyum itu. Pria situ seakan tahu akan kegundahan hati Rangga.
"Berjuanglah!" Satu kata yang seakan menjadi penyemangat untuknya. "Wanita itu susah ditebak. Mulut berkata tidak, tapi hati berkata lain. Percayalah!"
.
Kehadiran Aleena membuat suasana semakin ramai. Dia mengusap lembut perut Aleesa yang sedikit membukit.
"Cewek apa cowok?" Aleena langsung bertanya karena rasa penasaran yang tak tertahan.
"Sama kayak Abang Er, ngumpet terus."
Radit dan Echa pun tersenyum. Begitu juga dengan Restu. Mereka sedang berada di ruang keluarga. Tengah memperhatikan keaktifan Abang Er yang sudah tak mau diam.
"Apa Abang Er gak pernah minta gendong?" Aleena bertanya seperti kepada pasiennya.
"Semenjak dinyatakan hamil, dia malah gak mau digendong sama Sasa. Malah pengennya sama Papinya terus."
"Pinter banget."
Aleena menatap bangga kepada keponakannya itu. Sungguh ketakutannya itu terpatahkan. Dia pun akhirnya bisa bernapas lega.
"Abang Er ikut Anteu aja yuk naik pesawat."
Mendengar kata pesawat membuat Abang Er yang tengah mengacak-acak mainan berhenti seketika. Dia menoleh ke arah sang Tante. Dia mengambil mainan pesawat dan menunjukkannya kepada Aleena.
"Iya. Kita naik pesawat."
Balita itu mulai merangkak dan mendekat ke arah Aleena membuat semua orang tertawa. Aleesa dan Restu saling pandang. Selama sepuluh bulan dia lahir, Abang Er belum pernah diajak naik pesawat oleh mereka. Kesibukan sang ayah juga sang ibu yang hanya bisa mengajak Abang Er jalan-jalan ke tempat yang dekat.
"Itu pesawat pemberian dari Rangga."
Senyum yang masih melengkung di wajah Aleena seketika terhenti. Dia teringat akan perkataan Rangga di rumah sang paman. Dia menghela napas kasar dan menggelengkan kepala dengan pelan.
"Gimana kalau ulang tahun Abang Er yang pertama kita rayain di Bali?"
Restu sudah mengeluarkan ide. Istrinya sedikit melengkungkan senyum begitu juga dengan Radit dan juga Echa. Mereka setuju dengan ide Restu.
"Enam bulan udah gak terlalu riskan untuk terbang," tutur sang ayah.
Aleesa menatap sang suami dan melengkungkan senyum yang begitu lebar.
"Are you happy?" Aleesa mengangguk cepat. Restu memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat membuat Aleena dan kedua orang tuanya ikut bahagia.
"Aku selalu berharap jika suatu saat nanti aku akan bahagia dengan laki-laki yang sudah takdirkan untuk menjadi imamku. Melihat Sasa dan Kak Restu membuat aku iri, aku ingin seperti kalian dan memiliki pendamping yang sesayang itu kepada istrinya."
__ADS_1
Malam ini Abang Er tidur bersama sang Tante. Balita itu sungguh sangat pintar. Tidak rewel dan hanya diberi susu dia sudah terlelap dengan begitu damainya.
"Kamu adalah pelipur lara Anteu," gumam Aleena seraya mengusap lembut rambut sang keponakan.
"Kamu yang membuat Anteu selalu ingin pulang ke sini. Padahal, sebelum ada kamu Anteu takut untuk pulang ke rumah ini."
Abang Er sudah seperti anak kandungnya. Aleena sangat menyayangi Abang Er yang banyak merubah hidupnya. Ditambah dia memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat mendukung kesembuhannya. Selalu ada untuknya. (Yang mau tahu siapa kakak laki-laki Aleena cuss baca karyaku terbaru. Mengudara With You)
.
Semua media asing tengah menyorot Zenth Corporation. Di mana perusahaan itu maju sangat pesat di satu tahun terakhir. Awak media tengah mencarimtahu fakta tentang Restu Ranendra. Mereka lebih dikejutkan jika di negara asalnya Restu hanya menjadi seorang direktur di perusahaan cukup bonafit. Sedangkan di Zurich, Restu menjabat sebagai CEO. Kabar itu sudah terdengar hingga ke telinga Restu dan membuat Restu menghela napas berat.
"Berasa kayak idol Korea gua kalau begini, dikejar paparazi terus."
Restu memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Selama hampir satu tahun pernikahannya dengan Aleesa, dia tidak pernah membeberkan keluarganya kepada publik. Semuanya dia tutup dengan sangat rapat karena dia tidak ingin keluarganya menjadi imbas atas permasalahan perusahaan. Media sangat jahat, pandai menggorenh berita hingga berita itu menjadi panas dan semakin panas.
"Jalan satu-satuhya go publik."
Rio yang memang ada di sana sudah membuka suara. Perkataannya membuat Restu menatap tajam ke arah sang adik.
"Lu tahu gak, Om Gio itu selalu memperkenalkan anak dan cucu-cucunya ke publik. Beliau tidak takut karena Beliau percaya jika pengawalan yang Beliau berikan akan membentengi anak-anak serta cucu-cucu beliau dari orang jahat."
Restu terdiam. Dia masih mendengarkan ucapan dari Rio berlanjut.
"Gua masih ingat 'kan ketika Om Gio memperkenalkan Ayna, anak Kak Aska yang sudah tiada. Ayna memiliki kekurangan fisik, tapi Om Gio tak malu mengenalkan cucunya itu ke publik. Banyak cemoohan yang Beliau maupun Kak Aska terima, tapi mereka baik-baik saja. Mereka tak goyang sama sekali."
"Gua harap, lu bisa kayak mereka. Gua tahu lu melindungi anak dan istri lu, tapi lu juga harus lihat Papih dan Baba. Di lubuk hatinya terdalam pasti ada keinginan untuk mengenalkan cucu mereka kepada dunia. Ingat, Erzan itu cucu pertama dari pihak lu maupun Aleesa. Gua sangat yakin ada keingian itu di hati mereka."
Restu pun terdiam. Dia tengah menimbang-nimbang. Dia bukan manusia yang gegabah. Selalu memperhitungkan baik dan buruknya.
Definisi suami idaman itulah Restu. Dia tidak akan memutuskan apapun hanya untuk keuntungannya saja. Mengambil sebuah langkah atau sebuah keputusan harus menguntungkan untuknya juga keluarganya.
Perktaan Rio masih memutari kepalanya. Bagaimanapun dia harus membicarakan terlebih dahulu dengan sang istri. Barulah ke keluarga besar.
"Kenapa, Pi?" Aleesa menghampiri sang suami yang sedari tadi berada di balkon kamar.
Restu menarik tangan Aleesa hingga dia terduduk di pangkuannya. Tangannya mulai mengusap lembut perut Aleesa yang sudah sedikit membukit.
"Bagaimana dengan anak-anak?"
Tangan Restu mengusap lembut perut Aleesa. Sedangkan matanya menatap ke arah sang istri yang semakin hari semakin cantik.
"Kalau Abang Er mah seharian ini sama Anteunya, dan Dede utun ini ngajak merem Mulu pas pertemuan kuliah."
Restu tertawa dan mencium gemas pipi Aleesa. Sekarang, istrinya sudah mulai mau dicium Restu beda di awal-awal kehamilannya.
"Papi sendiri kenapa?"
Aleesa sudah merangkulkan lengannya di leher sang suami. Mencium gemas kening Restu.
Bukannya menjawan Restu malah memeluk erat tubuh Aleesa hingga membuat Aleesa mengerutkan dahi.
"Ada apa, Pi?"
"Apa Mami sudah siap jika Papi tunjukkan ke publik?"
Aleesa segera mengendurkan pelukannya dan menatap ke arah sang suami tercinta. Kedua alisnya menukik dengan tajam menandakan dia membutuhkan jawaban.
__ADS_1
"Media Swiss sedang mencari tahu perihal kehidupan pribadi Papi. Termasuk status Papi."
"Bukannya perusahaan sudah tahu?" Restu pun mengangguk.
"Tapi, perusahaan menutup rapat status Papi. Sedangkan media sana itu akan terus mencari hingga menemukan sebuah berita yang nantinya akan digoreng dan digoreng lagi hingga menyebabkan berita itu semakin tidak benar."
Aleesa menghela napas kasar. Ketika Restu memutuskan untuk tidak mengenalkannya kepada dunia dia sempat kecewa, tetapi sang ibu terus memberikan support hingga rasa kecewa perlahan mulai menghilang. Sekarang, malah sebaliknya. Padahal, dia sudah merasa tenang dengan kehidupannya tanpa harus mendengar berita ini dan itu.
"Kalau kamu belum siap, aku gak akan maksa."
Aleesa mengusap lembut pipi Restu, dan dia memberikan senyum yang begitu tulus kepada suaminya.
"Jika, itu akan membantu Papi aku tidak masalah. Hanya saja aku juga masih membutuhkan privasi."
"Tentu, Mami. Kita masih memiliki privasi. Pengenalan Mami dan Abang Er hanya untuk memberitahukan pada dunia bahwa Papi sudah menikah. Memilik seorang istri yang cantik, juga seorang anaknyang tampan, dan otw calon penerus Zenth Corporation yang masih ada di dalam perut."
Aleesa tersenyum mendengarnya. Itu membuat Restu memeluknya dengan sangat erat. Istrinya akan selalu mendukung setiap langkah yang diambil oleh Rastu.
Setelah mendapat acc dari pemilik kasta tertinggi di dalam keluarga kecilnya. Sekarang sudah waktunya dia berbincang dengan kedua orang tua dan juga kedua mertuanya. Bagi Restu, restu orang tua itu sangat penting.
Restu sengaja mengumpulkan mereka di dan.sebuah acara makan malam. Aleena pun ikut berada di sana untuk menjadi pengasuh Abang Er. Juga ada Rio sinsaja yang memang sudah tahu akan ada pembahasan apa di acara makan malam ini.
Melihat Rio yang sangat menyukai Abang Er membuat Aleena mengungkap tanya. "Kapan nikah?"
Pertanyaan yang membuat Rio melirik kesal. Umurnya masih dua puluh enam tahun, tapi sudah banyak orang yang bertanya dengan pertanyaan yang sama, kapan nikah?
Bagi Rio menikah itu buka. ditentukan oleh umur seseorang, tapi kematangan seseorang dalam mengambil keputusan yang aja. mengubah kehidupannya secara drastis. Biasa tidur sendiri, akan berbagi tempat tidur. Biasa memutuskan sesuatu sendiri baru bertanya kepada orang lain, dan biasa uang dipakai untuk diri sendiri kini harus dibagi dua bahkan diberikan semink pada wanita yang disebut istri.
Bukannya RIo tidak siap akan semua hal itu, tapi dia belum menemukan wanita yang klik dengannya. Mencari istri itu tidak semudah yang dibayangkan. Tidak ingin grasak-grusuk yang nantinya akan menimbulan penyesalan pada dirinya.
"Ada gak pertanyaan lain?" Rio sedikit ngegas menjawab pertanyaan Aleena hingga sepupunya itu tertawa.
"Nyari istri seperti nyari jarum di tumpukan jerami." Aleena pun hanya mengangguk.
-
"Kalau sudah begini pasti ada hal penting?"
Rindra sudah menaruh curiga ketika sang putra mengundangnya dan juga sang istri untuk makan malam bersama. Restu akan mengajak mereka makan di luar karena pasti ada hal yang ingin disampaikan. Rindra tahu bagaimana watak sang putra.
"Aku mau memberitahukan kepada dunia tentang wanita hebat yang ada di belakangku hingga aku bisa berada di titik seperti ini. Juga siapa saja yang menjadi penyemangat ku untuk terus maju dan berkembang. Aku ingin menunjukkan mereka agar penghuni dunia ini tahu bahwa aku sudah tidak sendiri dan sudah memiliki malaikat kecil yang terus memberikanku semangat dari senyum cerianya."
Rindra dan Radit pun akhirnya tersenyum bahagia. Akhirnya, Restu mau jujur dengan statusnya dan sedikit membuka privasinya.
"Bukan hanya di sini aku akan membuka kehidupan pribadiku, di Zurich pun aku akan melakukan hal yang sama. Namun, setelah pengumuman perihal ini sudah terlaksana, penjagaan kepada istri dan anak akupun akan sangat ketat."
Tegas dan lugas apa yang dikatakan oleh Restu. Redit dan Echa serta Rindra dan Nesaha hanya bisa menyetujuinya. Mereka akan selalu mendukung Restu selagi itu positif.
"Akhirnya cucu Opa dikenal oleh dunia," ucap bangga Rindra sambil menggendong tubuh Abang Er.
"Kenalin nih, Erzan Akhtar Ranendra. Si lelaki pemberani yang beruntung yang tidak akan pernah takut menghadapi apapun."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
.
__ADS_1