
Grace terkejut ketika terdengar ledakan kecil di mobil yang tengah dia kendarai. Grace menepikan mobilnya. Dia pun keluar dari mobil untuk mengecek kondisi mobilnya. Baru saja menutup pintu mobil, ada percikan api di mobilnya dan sontak Grace menjauh. Suara ledakan terdengar lagi dan mobil berwarna merah itupun dilahap si jago merah tanpa ampun.
Grace membeku. Mulutnya kelu. Kendaraan impiannya kini sudah dimakan api. Ingin rasanya dia berteriak, tapi tidak bisa. Hanya air mata yang bisa dia teteskan. Ketika orang-orang datang, barulah dia bisa berteriak. Dia menangis sekencang-kencangnya.
"Udah, Mbak. Ikhlasain aja," tutur seorang pria yang membantu memadamkan api. Walaupun mereka tidak berani mendekat karena sudah pasti akan ada ledakan lagi.
"Anggap aja ini teguran dari Tuhan, Mbak," timpal yang lain.
"Bersyukurlah Mbak, hanya mobil yang terbakar. Mbaknya gak kenapa-kenapa."
Tubuh Grace lemah tak berdaya. Susah payah Grace mengumpulkan uang untuk membeli mobil tersebut dan kini mobil itu sudah menjadi bangkai. Sakit, sudah pasti.
Sama halnya dengan Micahel Hartanto, tubuhnya tak sadarkan diri ketika mengetahui perusahaan miliknya terbakar. Pihak Michael menginginkan polisi mengungkap tuntas kebakaran ini. Dia merasa ada yang janggal.
Rindra yang medapat kabar dari asistennya yang berada di Jakarta sedikit terkejut. Namun, dia malah tersenyum tipis ketika polisi tidak bisa mengungkap penyebab kebakaran ini.
"Ini pasti ulah si brandal," gumamnya. Bukannya merasa dirugikan Rindra nampak senang. Dia segera menghubungi anak angkatnya.
"Iya, Pih."
"Apa kamu mengerjai PT. MH?" Restu hanya tertawa.
"Cuma nyentil sedikit, Pih." Kini, Rindra yang tertawa.
"Mereka sudah bermain-main dengan mantan pembunuh." Hati Rindra sakit mendengarnya. "Makanya, aku kasih pelajaran. Untungnya aku masih memberi kesempatan kepada mereka untuk hidup."
Inilah sifat asli Restu. Dia tidak akan pernah menyenggol seseorang jika orang itu tidak menyenggolnya. Lain cerita ketika dia diam dan disenggol dengan sengaja. Sudah pasti dia bukan akan menyenggol balik, tapi akan membacoknya.
"Jangan pedulikan omongan orang, Nak. Kamu adalah pahlawan, bukan pembunuh. Orang lain hanya bisa melihat sisi jelek kamu saja tanpa melihat sisi baik yang tersembunyi pada diri kamu."
Hanya Rindra dan Nesha yang mampu meredamkan amarah seorang Restu Ranendra. Dua orang itu bagai pawang untuk Restu.
Di lain negara pun Aksa tertawa puas. Dia sangat tahu siapa yang melakukan ini semua kepada Michael Hatanto.
__ADS_1
"Langsung gua ACC jadi ponakan," gumam Aksa dengan senyum yang mengembang. Akhirnya, dia memiliki teman untuk melakukan hal kejam dan sadis.
.
Yansen terkejut ketika mendapat kabar dari Jerome bahwasannya mobil sang kakak terbakar.
"Kak Grace gak apa-apa?" Itulah yang Yansen tanyakan. Baginya, nyawa sang kakak lebih berharga dari mobil.
"Gak apa-apa, tapi dari tadi kakak kamu gak berhenti menangis."
Yansen hanya bisa menenangkan Grace. Dia terus berbicara hal yang positif untuk memberikan semangat kepada kakaknya. Tak ayal makian yang Grace berikan kepada Yansen karena Yansen seakan bersikap tenang dan peduli kepadanya.
Belum juga surut air mata Grace, hari ini dia mendapat kabar jika dia harus dirumahkan karena memang sedang ada pengurangan karyawan secara besar-besaran. Tubuh Grace lunglai seketika. Dia tidak pernah menyangka jika ini akan terjadi. Musibah bertubi-tubi menghampirinya.
Tanpa Grace sadari perusahaan di mana Garce bekerja masih bekerja sama dengan AdT. Corp. Grace masuk ke perusahaan itupun karena ada campur tangan Radit. Dia ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Grace dan juga Yansen.
"Aku harus bagaimana?" Grace sudah menyerah. Mencari pekerjaan di zaman sekarang ini tidaklah mudah. Dia bagai manusia yang kehilangan arah.
Nathalie yang sedang berada di rumah sakit menangis di dalam pelukan Yansen. Dia menceritakan perihal perusahaan papihnya yang terbakar. Juga sang ayah yang kini terbaring lemah di rumah sakit.
Nathalie mengendurkan pelukannya dan menatap ke rah Yansen.
"Aku dan keluargaku sangat yakin jika ini terjadi jarena ulah keluarga Aleesa. Mereka semua adalah keluarga yang sangat kejam."
Mata Yansen melebar ketika mendengar ucapan dari Nathalie. Berani sekali dia mengatakan hal itu.
"Coba kamu pikir, kebakaran perusahaan Papih aku bareng dengan terbakarnya mobil Kak Grace. Apa itu tidak mencurigakan?"
"Aku sepemikiran." Grace menimpali ucapan Nathalie. Dia baru tiba di kamar perawatan adiknya. "Sekarang apa kamu tahu apa yang terjadi kepada Kakak?" tanya Grace dengan nada emosi. "KAKAK DIPECAT!"
Natahlie terkejut mendengarnya, tapi tidak dengan Yansen. Dia malah bersikap biasa.
"Kenapa kalian selalu berburuk sangka kepada orang lain?" Yansen bertanya dalam bahasa lembut. "Kalian itu udah terkena yang namanya penyakit hati. Setiap kejadian yang menimpa kalian selalu kalian sangkut pautkan dengan orang yang kalian benci. Padahal, seharusnya kalian interospeksi diri. Apa ada yang salah dari sikap kalian hingga pada akhirnya Tuhan murka dan menegur kalian."
__ADS_1
"Jangan terus-terusan membela dia, Sen. Kakak sudah muak!" Grace berkata dengan lantangnya.
"Jangan mentang-mentang orang kaya bisa menindas orang kecil kayak kita begini." Grace berucap dengan masih menggebu-gebu.
"Terus, Kakak mau apa sekarang?" tanya Yansen. Dia merasa psikis sang kaka sudah terganggu.
"Aku sudah melaporkan keluarga Aleesa, termasuk si pria kejam." Seringai licik terukir di wajah Grace.
Belum juga kering ucapan Grace, orang yang Grace maksud sudah ada di ruang perawatan Yansen. Pria yang sangat sibuk akhirnya datang ke rumah sakit. Bukan untuk menjenguk Yansen, melainkan ingin menemui Grace.
"Kamu melaporkan saya atas tuduhan apa?" Aksa tak ingin berbasa-basi.
"Jangan berlagak bodoh!" Yansen terkejut mendengarnya. Kakaknya sudah tidak waras.
"Anda dan keluarga besar Anda yang menjadi dalang atas musibah yang menimpa saya juga Tuan Micahel Hartanto. Anda tak ayal pecundang, beraninya main belakang."
"Kak, cukup, Kak!" cegah Yansen.
"Biarkan dia berbicara sepuas hatinya." Aksa mulai menimpali ucapan Yansen.
Makian dan kata-kata tidak pantas Grace keluarkan untuk Aksa. Paman dari Aleesa itu masih diam saja hingga mulut Grcae berhenti bercuap.
"Sudah?" sergah Aksa. Sekarang, giliran Aksa menatapnya dengan sangat tajam.
"Kamu bukan hanya menuduh saya, melainkan keluarga saya juga. Baiklah, akan saya terima tuduhan kamu itu," tukas Aksa.
"Siapkan pengacara handal dan juga banyak karena saya akan menurunkan semua pengacara terbaik keluarga saya. Bukan tanpa sebab karena kamu bukan hanya melaporkan saya melainkan melaporkan keluarga saya juga."
Tubuh Grace menegang seketika. Dia baru tersadar jika yang dia hadapi jelmaan iblis, bukan manusia biasa.
"Kak, kenapa dengan Kakak? Kita bukan lawan mereka, Kak. Kenapa Kakak sangat nekat?" Yansen tidak habis pikir dengan tingkah kakaknya.
"Kakak gak akan pernah melawan mereka!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...