RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 153. Pipo


__ADS_3

"Dad, Mom."


Senyum memang melengkung indah, tapi ada duka yang terus Aksa tahan. Bukan hanya Aksa, Aska dan Echa pun ikut merasakan. Echa tersenyum seraya memandang dua pusara yang ada di depannya. Kedua adiknya seperti pengawal untuk Echa. Aksa berada di samping kanan, dan Aska berada di samping kiri. Kedua adik Echa kompak menggenggam tangan Echa dengan begitu erat. Menandakan dia harus kuat.


"Kami datang, Mah, Pah. Kami sangat rindu kalian." Senyum terukir, tapi ujung mata berair. Aksa maupun Aska memeluk tubuh kakak mereka dari samping.


Semua orang pun menunduk.dalam. Semuanya dipaksa untuk terus tersenyum, tapi hati mereka ingin menangis. Kepergian Giondra dan Ayanda adalah duka yang mendalam untuk ketiga anak mereka, para menantu menangis juga cucu-cucu kesayangan. Kepergian yang sangat indah. Kepergian yang seakan direncanakan oleh mereka berdua. Kepergian yang membuat Aksa lemah tak berdaya. Kepergian yang membuat Echa drop selama satu Minggu dan kepergian yang membuat Aska mengurung diri.


Tidak ada yang abadi di dunia ini, tapi kehilangan dua orang yang mereka sayangi sekaligus amatlah menyakitkan. Ke mana mereka harus mengadu lagi?


#Flashback on.


Di hari ulang tahun pernikahan Gio dan Ayanda yang hampir ke 50 tahun mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Sydney Australia. Mereka memang sudah berniat untuk tinggal di sana dan menghabiskan masa tua di sana.


Semua anak-anak, para menantu juga cucu-cucu terbang ke Sydney. Mereka semua akan memberikan kejutan kepada dua orang yang seperti malaikat untuk mereka semua. Awalnya mereka nampak bahagia karena bisa membuat dua manusia yang paling mereka sayang di dunia ini tertawa lepas dan terkejut. Terlebih semua cucu mereka memeluk tubuh renta mereka.


"Happy anniversary, Mimo, Pipo. Kami sayang kalian."


Tidak ada kebahagiaan selain hal kecil seperti ini. Sudah jarang sekali mereka bisa berkumpul dengan formasi lengkap. Malam itu adalah malam di mana Gio dan Ayanda merasa sangat bahagia.


"Gak kerasa ya, mereka sudah menjadi ayah dan ibu yang hebat untuk anak-anak mereka." Gio memuji ketiga anaknya yang memang sudah menjadi orang tua hebat.


"Cucu-cucu kita pun tumbuh menjadi anak-anak pintar dan baik." Ayanda menambahkan.


"Tugas Daddy sudah selesai." Ayanda menatap kaget ke arah sang suami. Namun, Gio meresponnya dengan sebuah senyuman.


"Sudah ada penerus Daddy yang akan berdiri di garda terdepan untuk melindungi keluarga." Mata Ayanda berair mendengarnya.


"Daddy jangan bilang begitu." Ayanda memeluk tubuh Gio dengan begitu erat. Hatinya sakit mendengar ucapan Gio. "Daddy pasti akan sehat."


Gio tidak merespon, dia hanya bisa memeluk sang istri dengan senyum yang terus melengkung di wajahnya seraya menatap ke arah anak-anak, menantu dan cucu-cucunya.


Senyum itu perlahan memudar dan dadanya mulai sangat sesak. Ayanda yang merasakan ada yang berbeda dari pelukan suami membuatnya mengendurkan pelukannya.


"Daddy!"


Suara Ayanda membuat ketiga anaknya juga para menantu dan juga cucu-cucunya berlari ke arahnya. Teriakan sang putra pertama begitu lantang. Disusul oleh putra keduanya.


"Siapkan mobil!" Aksa berteriak begitu kencang. Radit segera keluar dan si kembar membawa tubuh sang ayah yang sudah lemah.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit, Dad." Aksa berkata dengan hari yang berkecamuk. Melihat wajah sang ayah yang memucat membuat hatinya sakit. Sekuat tenaga dia menahan laju air mata. Dia bisa menjadi orang kejam, tapi jika mengenai kedua orang tuanya dia tidak bisa. Hatinya lemah.


Echa sudah memeluk tubuh sang ibu. Baru kali ini dia melihat kondisi sang ayah sambung selemah ini. Ayanda hanya bisa menangis.


"Papah pasti kuat, Mah." Ayanda hanya tersenyum dengan bulir yang menetes. Dia menatap lekat wajah sang putri.


"Kak, jika nanti Mamah dan Papah pergi ... jaga adik-adik kamu, ya. Jangan pernah bertengkar, dan teruslah akur. Keluarga adalah harta paling berharga dibandingkan uang triliunan." Echa menggeleng.


"Mamah dan Papah pasti akan terus menemani Echa, Abang dan Adek. Echa yakin itu."


Selama ini Echa tidak pernah mendengar sang ibu mengucapkan hal seperti ini. Ada rasa takut yang mulai menyerang. Namun, dia mencoba untuk berpikir positif.


Giondra sudah ditangani dokter khusus yang sengaja Aksa hubungi. Mereka semua sudah menunggu Gio di depan ruang IGD. Ada kecemasan yang wajah Ayanda tunjukkan. Apalagi, dia melihat jelas mantan suaminya ada di antara mereka. Rion Juanda tersenyum begitu tulus. Juga dia dikejutkan dengan kehadiran sang ayah mertua yang juga ikut bergabung. Lagi-lagi senyuman yang ditunjukkan. Ayanda menggelengkan kepala dengan air mata yang tak kunjung surut..


"Jangan tinggalin Mommy sendiri, Dad."


Sebuah doa dan harapan yang Ayanda panjatkan di dalam hati.


"Bawa Mommy juga pergi kalau Daddy pergi."


Setengah jam berselang, dokter keluar dan Aksalah orang pertama yang menghampiri dokter tersebut.


"Kalian semua boleh masuk." Ada kelegaan di hati mereka.


Ketiga anak Gio serta para menantu yang didampingi oleh Ayanda masuk menemui sang ayah. Kondisinya sudah membaik. Gio pun tersenyum ke arah enam anak-anaknya.


"Kembali ke Jakarta aja ya, Dad. Kalau di sana Abang bisa ngecek kondisi Daddy terus."


Sebagai orang tua Gio merasa terharu mendengar ucapan dari sang putra. Dia tidak meminta apa-apa, perhatian kecil seperti inipun sudah sangat membuatnya sangat bahagia.


"Daddy ingin menghabiskan waktu tua Daddy di sini. Juga, Daddy sudah mempersiapkan tempat untuk Daddy berisitirahat selamanya di sini.


Tubuh anak dan menantunya pun menegang. Mereka menatap lekat ke arah sang ayah.


"Jangan bilang seperti itu, Dad." Aksa dengan tegas melarang.


Gio menatap hangat dan penuh harap pada manik mata Aksa. Putra pertamanya bersama Ayanda.


"Umur tidak ada yang tahu, Bang," sahutnya. Masih dengan senyum yang terukir, Gionmelanjutakan ucapannya.

__ADS_1


"Bang, kamu adalah anak laki-laki pertama. Kamu memiliki satu kakak perempuan dan juga satu adik laki-laki. Kuatkan pundakmu. Jadilah orang yang pertama memasang badan ketika anggota keluarga kamu diterpa masalah. Bela lah mereka sampai titik darah penghabisan. Membela saudara tidak akan menjadi hina. Apalagi jika posisi kamu benar." Sebuah nasihat dan petuah yang membuat Aksa membeku.


"Kamu anak hebat. Daddy yakin itu." Sebuah harap yang Gio gantungkan pada Aksa.


"Udah lah, Dad. Jangan bicara ngawur," timpal Aska si pencair suasana. Gio pun tersenyum.


"Bolehkah Daddy meminta sesuatu kepada kalian?" Enam anak dan menantunya pun mengangguk.


"Peluk Daddy."


Tak da air mata yang tak menetes di sana. Suasana seketika hening dan penuh haru. Apalagi Ayanda yang begitu erat memeluk tubuh sang suami.


"Tetaplah akur. Kalian adalah kebanggaan untuk Daddy."


Suara cucu-cucu Gio mulai menguarkan rasa haru dan sedih yang sedang terjadi di ruangan itu. Mereka memeluk tubuh Gio.


"Cepat sembuh, Pipo! Aqis rindu belanja sama Pipo." Anak Aska adalah anak pelawak. Selalu membuat suasana berbeda.


"Ayo kita belanja mainan lagi, Pipo!" Apang sudah menimpali.


"Uang dollar Iam udah banyak. Ayo kita jalan-jalan ke luar negeri." Ahlam pun ikut bicara.


Mata Gio tertuju pada sang cucu laki-laki pertama, Gavin Agha Wiguna yang terlihat murung. Dia tersenyum dan meminta Gavin untuk mendekat.


"Cucu Pipo yang hebat, tangguh dan juga pandai. Jaga selalu sepupu-sepupu kamu ya, Mas. Pipo sangat yakin kamu akan menjadi pelindung mereka." Sang cucu hanya terdiam. Dia tidak berani menatap ke arah sang kakek. Dia tidak ingin menangis. Dia tidak ingin diejek lemah. Padahal hatinya ingin menangis dengan keras.


Sedangkan Aleesa, sedari tadi dia menjauh. Dia tak mau mendekat.


"Kakak Sa--"


"Pipo akan selalu hidup di dalam hati Kakak Sa." Tangis Aleesa pun pecah dan dia memilih untuk keluar. Menangis di depan IGD sendirian dengan memeluk lututnya.


"Orang yang hidup pasti akan mati." Usapan lembut di ujung kepala Aleesa membuat dia menegakkan kepala. Senyum begitu tulus dan manis sang kakek tunjukkan.


"Jasad Pipo yang pergi dan dimakan hewan bawah tanah. Tidak dengan hati Pipo yang akan selalu hidup di dalam hati kalian. Jangan pernah anggap Pipo mati."


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...

__ADS_1


Masih panjang ceritanya, tapi aku gak kuat 😭


__ADS_2