RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 36. Dikhianati


__ADS_3

Yansen menghela napas kasar ketika panggilannya tidak dijawab sama sekali oleh Aleesa. Dia sangat yakin jikalau Aleesa marah kepadanya.


"Bagaimana aku harus menjelaskannya nanti?" erangnya.


Yansen benar-benar tidak bisa tidur semalaman ini. Dia masih memikirkan Aleesa. Dia sudah menghubungi Kemala juga Raina. Menanyakan perihal orang yang membocorkan pertunangannya dengan Nathalie.


"Gua sama Rai gak tahu kapan lu tunangan. Jangan suudzon sama kita." Kemala sudah naik pitam.


Apa yang dikatakan kedua teman Aleesa memang benar. Jadi, kemungkinan besar yang memberitahukan pertunangannya kepada Aleesa adalah keluarganya atau keluarga Nathalie.


"Shiitt!"


.


"... Aku hanya ingin merokok."


"Jangan bohong, Kak." Mata Aleesa masih nanar. Restu pun akhirnya melemah.


"Setiap nama laki-laki itu keluar dari mulut kamu atau menghubungi kamu, darah aku bergejolak. Ingin rasanya aku marah."


Bulir bening kini menetes begitu saja dari pelupuk mata Aleesa. Dia memeluk tubuh Restu dengan deraian air mata.


"Maaf, telah membawa Kakak pada hubungan terlarang ini."


Restu memejamkan matanya sejenak. Mengatur napasnya yang sudah mulai tidak teratur karena menahan marah. Sejak dari awal dia tahu bahwa Aleesa mencintai Yansen. Dia yang memaksa masuk dan mulai membuat Aleesa nyaman.


"Apa kita akhiri saja hubungan ini?" Restu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa. Dia mulai mengendurkan pelukannya dan menatap Aleesa dengan begitu intens.


"Apa dengan kamu menyudahi hubungan ini, kamu bisa kembali kepada Yansen? Bukankah dia sudah tunangan dan juga kalian berdua berbeda."


Aleesa tak berani menatap manik mata Restu. Tubuhnya mulai luruh ke bawah. Dia berjongkok dengan kepala yang menunduk dalam.


"Aku ingin melupakannya. Ingin pergi jauh darinya." Perkataan yang begitu lemah. Perkataan yang terdengar menyedihkan.


Restu ikut berjongkok di depan Aleesa. Dia memegang kedua pundak Aleesa dengan begitu lembut.


"Ijinkan aku masuk ke dalam hati kamu. Ijinkan aku yang menggantikan pria itu dan menjadi satu-satunya di dalam hati kamu. Menjadi seseorang yang kamu cintai dan kamu sayangi dengan sepenuh hati." Aleesa mulai menegakkan kepalanya memandang wajah Restu.


"Aku yakin, waktu akan membuatmu lupa pada pria itu dan perlahan kamu akan mencintai aku lebih dari kamu mencintainya." Aleesa berhambur memeluk tubuh Restu. Semarah-marahnya Restu dia masih bisa bersikap lembut kepada Aleesa.


"Jikalau kamu mau jawab telepon darinya, jawablah. Aku tak mau mendengarnya. Aku sadar siapa aku sekarang." Aleesa menggeleng pelan.


"Aku akan menjawab telepon darinya asal Kakak ada di samping aku. Aku gak mau Kakak salah paham." Ada kelegaan di hati Restu mendengarnya.


Dia mulai mengajak Aleesa berdiri. Dia memundurkan tubuh Aleesa dan menatapnya penuh dengan cinta.

__ADS_1


"Kalau aku ngelarang kamu untuk jawab telepon dari dia,, apa kamu mau?" Aleesa pun mengangguk.


"Kenapa?"


"Kamu saja sudah berkata jujur kepadaku. Tidak ada yang kamu tutup-tutupi dari aku. Jadi, aku juga gak mau buat kamu kecewa. Kalau kamu bilang gak boleh dengan menyertakan alasan yang jelas pasti akan patuhi."


"Kenapa kamu bisa sedewasa ini sih?" Restu mencubit gemas pipi Aleesa.


"Sakit," keluhnya. Restu tertawa dan mencium pipi Aleesa yang dia cubit.


.


Aleesa membersihkan tubuhnya setelah drama cemburunya seorang brandal. Sedangkan Restu masih di luar dengan menyesap rokok yang baru dia hidupkan. Tangannya menggenggam ponsel miliknya dan matanya masih fokus pada benda pipih yang sedang dia genggam.


Dia mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya ke udara. Kemudian, dia membaca secara seksama laporan yang baru saja dia terima.


"Kok ada yang janggal, ya." Restu terus men-scroll hingga dahinya semakin mengkerut. Akhirnya, dia menghubungi madam Zenith.


"Maaf, Madam. Saya ganggu."


"Tidak apa-apa. Bagaimana dengan keputusan kamu?" Madam Zenith segera menagih kepada Restu.


"Saya tidak bisa ikut, Madam. Saya tidak ingin membuat wanita yang sedang saya perjuangkan bersedih."


"Hanya karena itu kamu lemah?" tanya madam Zenith.


"Harusnya kamu tegas pada pasangan. Mengajarkan pasangan kamu untuk mengerti pekerjaan kamu."


"Calon pendamping saya bukan wanita manja. Dia melarang saya karena dia memiliki alasan kuat. Perihal ketegasan, bukan hanya dalam pekerjaan saya menjadi orang yang tegas. Dalam menjalin hubungan dengan wanita yang tengah saya perjuangkan pun saya sangat tegas."


Aleesa yang sudah memegang secangkir kopi untuk Restu terdiam mendengar ucapan penuh ketegasan yang Restu katakan. Dia sangat tahu sedang berbicara dengan siapa Restu sekarang. Dia meyakini jika madam Zenith tengah memarahi Restu.


Aleesa mencoba untuk melangkahkan kakinya. Dia mendekat ke arah Restu yang masih mengepulkan asap ke udara dengan ponsel di telinganya.


"Kak."


Panggilan Aleesa membuat Restu menoleh. Dia melihat Aleesa sudah membawa secangkir kopi untuknya. Restu pun segera mematikan bara yang ada di puntung rokok tersebut. Dia mengulurkan tangannya agar Aleesa mendekat. Menarik tangan Aleesa agar masuk ke dalam dekapannya.


"Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak akan mendampingi Madam ke Jerman. Jika, Madam ingin memecat saya pun saya tidak masalah." Aleesa terkejut dan dia menatap serius ke arah Restu.


Sambungan telepon pun berakhir. Restu meletakkan ponselnya di saku celananya.


"Kalau Kakak mau berangkat ke Jerman, berangkat aja." Lirih, begitulah nada yang dapat Restu dengar.


"Enggak, Lovely. Aku gak akan pergi."

__ADS_1


"Sepertinya Madam marah 'kan." Restu hanya tertawa.


"Udah biasa."


"Kak," panggil Aleesa. Dia menatap dalam wajah Restu. "Kenapa Kakak harus berbicara seperti itu? Jangan pernah mengorbankan pekerjaan Kakak."


Restu membelai lembut rambut Aleesa. Dia tersenyum dengan tangan satunya menggenggam tangan Aleesa.


"Apapun akan aku korbankan untuk kamu, Sa." Restu berkata dengan sangat tulus. "Kamu jangan khawatirkan akan pekerjaanku karena aku sudah mendapatkan pekerjaan baru untuk satu bulan ke depan."


"Pekerjaan apa?" Aleesa penasaran.


"Rahasia."


Aleesa mendadak merengutkan wajahnya. Dia kesal dengan jawaban Restu dan membuat Restu tertawa sangat puas.


"Serah lah." Aleesa membalikkan tubuhnya, tapi Restu mencekal tangan Aleesa hingga langkah wanita yang Restui cintai terhenti.


"Jangan marah dong." Aleesa masih terdiam. Restu meraih pundak Aleesa agar berhadapan dengannya. "Kamu siap-siap. Kita akan jalan-jalan hari ini."


"Kopinya diminum dulu tapi." Dalam keadaan kesal Aleesa masih menawarkan kopi yang dia buat untuk Restu.


"Iya, pasti aku minum."


.


Ketika siang menjelang, Yansen masih sendirian di kamar perawatan. Tidak ada yang menemani sama sekali. Dia sudah biasa. Dia juga tengah memecahkan sebuah misteri siapa dalang dari pembongkaran pertunangannya dengan Nathalie. Hingga terbesit nama di dalam kepalanya.


"Nathalie."


Baru saja hendak menghubungi Nathalie, wanita itu membuka pintu kamar perawatan Yansen.


"Apa kamu yang mengirimkan video tunangan kita kepada Aleesa?" Dahi Nathalie pun mengkerut mendengarnya.


"Kenapa tiba-tiba kamu nuduh aku?" ujar Nathalie.


"Yang tahu kita bertunangan 'kan kamu. Pasti kamu 'kan yang ngasih tahu Aleesa." Yansen masih bersikukuh dengan tuduhannya.


"Mau dikasih tahu dari sekarang atau tidak, Aleesa akan tahu kebenarannya 'kan. Bukankah lebih menyakitkan jika Aleesa tahu belakangan?" Mulut Yansen tiba-tiba kelu.


"Kenapa sih kamu tidak bisa melihat aku sebentar saja," ujarnya. "Kamu lihat ini." Nathalie menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya kepada Yansen.



"Bukankah itu wanita yang kamu cintai? Tapi, di sana dia malah bersama pria lain dengan tatapan yang berbeda. Kamu dikhianati, Kak. Dikhianati." Hati Yansen sakit mendengarnya.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...


__ADS_2