
Melepaskan salah satu putrinya menikah untuk pertama kali rasanya cukup berat. Semalaman Radit tidak bisa tidur. Hatinya bergejolak tak karuhan. Walaupun yang akan meminang Aleesa adalah laki-laki baik, penuh tanggung jawab dan tentunya cinta kepada Aleesa tetap saja ada sedikit rasa takut dan sedih.
"Apa ini juga yang pernah Ayah rasakan ketika hendak melepaskan putri Ayah untuk Radit nikahi?" Radit bergumam di dalam hati. Dia seolah bertanya kepada mendiang ayah mertuanya.
Dia masih betah menatap foto ketiga anaknya. Tangannya menyentuh perempuan cantik yang berada di tengah. Senyumnya yang begitu manis, gayanya yang tidak bisa seperti perempuan pada umumnya membuat dirinya lebih mudah diingat diabndingkan kedua saudaranya yang jika sepintas dilihat dari gayanya hampir sama. Ya, dia Aleesa Addhitama. Si tukang ribut dengan siapapun. Apalagi dengan para sepupunya.
"Besok Baba akan menggenggam tangan calon suami kamu. Menyerahkan kamu kepada calon imam kamu." Radit masih bergumam dalam hati sambil menatap foto Aleesa. Matanya nampak nanar. Untuk kali ini dia tidak bisa mengendalikan hatinya.
Usapan lembut di pundak Radit membuat dia menegakkan kepala di bawah cahaya temaram. Sang istri tersnyum dan duduk di sampingnya. Memeluknya dengan begitu erat dari samping.
"Kita sudah tua ya, Ba." Radit malah tertawa. Mereka hanya saling berpelukan tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka berdua.
"Melepas satu, masih ada dua." Radit mulai membuka suara. "Baba ingin Kakak Na maupun Adek sama bahagianya kayak Aleesa."
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sama halnya dengan Radit. Echa setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Bubu bahagia karena Aleesa sudah menemukan kebahagiaannya di usianya yang masih muda, tapi--" Radit menatap ke arah Echa ketika dia mengatakan hal yang terpotong.
"Jika, Tuhan memberikan rejeki yang cepat terhadap Aleesa, apakah dia kuat untuk mengandung? Sedangkan usianya baru mau menginjak dua puluh satu tahun." Ada rasa cemas dari seorang ibu. Radit tersenyum. Dia mengusap.lembut rambut sang istri.
"Melahirkan zaman sekarang banyak metodenya. Jadi, jangan pernah menakutkan apapun. Anak adalah rezeki." Radit menenangkan istrinya.
"Bukankah itu lebih baik karena rumah kita ini akan dipenuhi suara anak kecil yang sudah lama tak kita dengar." Echa pun melengkungkan senyum yang begitu lebar.
"Benar. Rumah ini sudah lama sepi dengan suara tangis dan teriakan anak kecil."
.
Aleesa menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamar rias tersebut. Dia sudah sangat cantik dengan riasan yang natural bertema nude. Sengaja dirias lebih awal karena akan ada sesi foto rempong sebelum akad.
Senyum melengkung di wajahnya. Dia tak menyangka jika akan secepat ini dia melepas kesendiriannya. Di usia yang baru mau menginjak dua puluh satu tahun.
"Jodoh itu tidak ada yang tahu," gumam Aleesa seraya tersenyum. Dia sendiri tidak menyangka jika akan berjodoh dengan laki-laki yang menjadi musuh bebuyutannya jika ke rumah sang kakek. Jika, mengingat akan masa kecil dan remajanya bersama Restu pasti dia geli sendiri.
Pelukan dari belakang dari seorang adik Aleeya berikan. Sedari semalam dia melow karena akan ditinggal nikah sama sang kakak.
"Kita 'kan udah terbiasa terpisah sekarang." Aleesa sudah mengusap lembut punggung tangan Aleeya.
"Kakak dibawa sama Kak Restu 'kan."
Aleesa terdiam, perihal masalah ini dia belum membicarakan secara serius. Aleesa inginnya tinggal di rumah besar kedua orang tuanya. Dia tidak ingin meninggalkan kedua orang tuanya karena pasti mereka akan merasa sangat kesepian jika hanya berdua di rumah ini.
Namun, sang calon suami juga sudah memiliki hunian sendiri yang juga sangat nyaman. Aleesa sedikit gamang sekarang.
__ADS_1
"Belum tahu juga, Dek. Belum ngomongin ini soalnya." Aleesa mencoba untuk tersenyum.
"Jangan tinggalin Bubu dan Baba, Kak." Aleeya juga khawatir dengan kedua orang tuanya. Dia dan s
kakak pertamanya tidak tinggal bersama orang tua. Hanya Aleesa yang tinggal bersama Bubu dan babanya.
"Kamu juga jangan sampai kecewain Baba dan Bubu. Jangan sampai buat mereka meneteskan air mata kesedihan." Aleeya tersenyum dengan terpaksa.
.
Yansen.
Keberangkatan dia menuju Samarinda tepat di jam diadakannya akad. Dia terduduk di tepian tempat tidur. Di sampingnya ada seragam groomsmen yang Aleesa berikan. Dia melihat ke arah jam dinding.
"Apa aku harus ke sana? Foto berdua dan mengucapkan selamat tinggal." Yansen bermonolog sendiri.
Yansen mencoba untuk menghubungi Rangga karena dia tahu pasti Rangga hadir di acara penting itu. Bibir Yansen melengkungkan senyum ketika baju yang dikenakan Rangga sama seperti baju yang diberikan oleh Aleesa.
"Lu ke sini aja. Satu jam kumpul bareng kita." Rangga sudah memberi saran kepada Yansen.
"Ada acara foto bersama juga kok sebelum akad. Buruan ke sini." Rangga tahu jikalau Yansen masih menyimpan rasa pada Aleesa. Dia juga sangat yakin jika Yansen adalah anak baik. Dia tidak akan melakukan tindakan bodoh.
Yansen pun mengikuti saran dari Rangga. Dia memakai baju pemberian dari Aleesa. Melihat dirinya dari cermin dan bibirnya melengkungkan senyum.
"Akan aku gunakan baju ini ketika terbang."
Setengah jam berselang dia sudah tiba di kediaman Aleesa. Kedatangannya membuat riuh seisi rumah. Mereka yang tengah berfoto dengan calon pengantin pun langsung memanggil Yansen. Aleesa terkejut karena semalam Yansen mengatakan jika dia tidak bisa datang. Namun, hari ini dia datang.
"Sebelum ke Samarinda aku ke sini dulu." Dia berucap kepada Aleesa yang sudah sangat cantik dengan kebaya putih.
"Aku gak akan melewatkan hari bahagia kamu, Sa. Aku akan menemani kamu walau sebentar karena waktuku gak banyak."
Bagi Aleesa yang mendengar ucapan dari Yansen, kalimat itu seperti mengandung banyak arti. Apalagi Aleesa melihat ada cahaya putih samar yang jika Aleesa bisa menangkap bias cahaya putih itu si cahaya akan pergi. Seakan tidak ingin dilihat olehnya.
"Para groomsmen foto yuk. Entar kalo udah sah jadi Nyonya Ranendra mah gak bakal bisa diajak foto bersama. Tahu sendiri lakinya posesifnya bukan main." Aska sudah berceletuk dan membuat semua orang tertawa.
Para groomsmen remaja dan dewasa berfoto bersama dengan pose mengangkat ibu jari. Mereka nampak bahagia dan sangat tampan. Ada juga pose lucu mereka bersama calon pengantin wanita. Sungguh kekeluargaan mereka sangat erat. Banyak canda tawa sebelum akad nikah. Itu sengaja mereka ciptakan karena mereka ingin berbeda dengan yang lain. Mereka menolak lupa jika Giondra dan Ayanda sudah tiada. Jika, dalam keadaan bahagia ini mereka akan selalu menganggap keluarga besar hadir dan kumpul bersama.
Setengah jam sebelum akad, Yansen pamit kepada keluarga Aleesa. Dia juga menghampiri Aleesa yang tengah berbincang dengan dua temannya.
"Sa, aku pergi ya." Senyum yang begitu tulus tersungging dari wajah Yansen.
"Hati-hati! Safe flight." Yansen mengangguk dengan mata yang masih menatap dalam ke arah calon pengantin itu.
__ADS_1
"Sa," panggil Yansen lagi.
"Iya."
"Boleh aku peluk kamu ... aku janji ini yang terakhir."
Raina dan Kemala membeku mendengarnya dan Aleesa, dia merasakan kepedihan yang tak bisa dia ungkapkan. Kepedihan yang tiba-tiba datang dan memenuhi hatinya. Aleesa mendekat dan dia yang berhambur memeluk tubuh Yansen. Semua keluarga Aleesa melihat itu. Mereka mampu memahami keadaan ini.
"Terima kasih telah mengukirkan kenangan indah bersamaku di dua tahun ini. Terima kasih telah menjadi sahabat dan pacarku." Aleesa tak membalas ucapan Yansen. Hatinya bergemuruh hebat. Tak terasa bulir bening melaju dengan begitu deras.
Perlahan Yansen mengendurkan pelukannya. Dia menggelengkan kepala melihat bulir bening yang membasahi pipi Aleesa.
"Jangan menangis. Ini hari bahagiamu." Dengan lembut Yansen mengusap air mata Aleesa.
"Aku sudah tenang sekarang karena aku bisa melihat kamu dan menemani kamu walau sebentar." Senyum masih terukir di wajah Yansen.
"Aku ingin kamu berjanji satu hal padaku." Yansen menjeda ucapannya. Dia menggenggam tangan Aleesa. Rasa dingin dapat Aleesa rasakan di telapak tangan Yansen.
"Jangan buang air mata kamu karena aku. Banyak orang yang ingin melihat senyum kamu. Banyak orang yang ingin melihat kebahagiaan kamu, dan ada Kak Restu yang ingin bahagia bersama kamu." Senyum indah masih Yansen perlihatkan sedangkan mata Aleesa sudah nanar.
"Walaupun kita tak lagi bersama. Walaupun aku dan kamu hanya tinggal sebuah kenangan dari cerita masa lalu, aku akan membawa kenangan itu hingga aku menutup mata. Aku akan membawa cinta aku sampai aku mati karena aku tahu ... cinta sejati tak selamanya harus memiliki." Hembusan napas kasar keluar dari mulut Yansen.
"Sudah waktunya aku pergi," ujar Yansen. "Bahagia selalu, Sa." Aleesa tak bisa berkata. Hatinya pedih gak terkira.
"Happy wedding, Sa."
.
Pov. Yansen.
"I still love you to this day."
Ingin rasanya aku mengatakan itu, tapi aku tak bisa. Aku tak ingin membuat Aleesa semakin menangis. Ditambah tatapan para keluarga Aleesa membuat aku merasa tak enak hati. Aku sudah bukan siapa-siapa, tapi masih berani memeluk dan mendekati Aleesa.
"Maaf ya, Sa. kedatangan aku sedikit merusak suasana kebahagiaan kamu," batinku.
Setelah aku mengucapkan happy wedding, pihak keamanan melaporkan jika keluarga mempelai pria sudah bertolak ke kediaman Aleesa. Ingin rasanya aku melihat ketampanan seorang Restu Ranendra yang mengenakan baju senada dengan Aleesa. Ingin aku melihat dia menjabat tangan ayah Aleesa dan berucap dengan penuh keyakinan juga dalam satu kali tarikan napas mengatakan ijab kabul yang didampingi para saksi. Aku ingin melihat wajah bahagianya. Aku ingin menitipkan Aleesa padanya walaupun aku tahu dia pasti akan bisa membahagiakan Aleesa tanpa diminta.
Aku menghembuskan napas kasar. Sekarang, aku sudah berada di atas motor ojek online menuju Bandara. Sudah banyak yang menunggu aku. Sudah banyak yang akan pergi bersamaku. Termasuk para pilot dan kru pesawat. Rute kami memang ke Samarinda, tapi Tuhan memiliki rute yang berbeda dan menyuruh kami untuk pergi ke sana.
"Lebih baik tak meninggalkan jejak agar tak ada tempat untuk mereka menangisiku." Itulah permintaan terakhirku.
Hari ini aku pergi ...
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...