RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 177. Selamat Tinggal


__ADS_3

Grace masih tak sadarkan diri dari kemarin. Setiap kali dia sadar, dia berteriak memanggil nama Yansen. Kalung salib yang bernamakan Yansen Geremy membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dia menolak untuk percaya, tapi bukti di depan mata. Grace hanya terdiam dengan sorot mata yang kosong setiap kali di sadar. Juga sebuah kalimat yang akan keluar dari mulutnya.


"Jangan tinggalin Kakak, Sen."


Pihak kepolisan yang menemani Grace tak kuasa menahan air mata. Grace memang hanya memiliki satu saudara kandung, yakni Yansen. Salah satu korban pesawat jatuh di perairan pulau seribu. Dia dijebloskan ke dalam penjara atas kasus pencemaran nama baik oleh keluarga mantan kekasih adiknya. Dia mengakui kesalahannya, ditambah orang yang melaporkan Grace adalah orang yang berkuasa. Namun, Grace tidak pernah menyalahkan orang itu karena memang semua ini salahnya. Tidak akan pernah ada asap jika tidak ada api.


"Tuhan, bagaimana jika dia tahu yang sesungguhnya?" Pihak kepolisan itu bergumam. Dia saja yang melihat para keluarga korban yang berteriak histeris sangat tidak tega. Sekarang, tahanan yang sering bertemu dengannya masuk ke salah satu keluarga korban pesawat jatuh.


"Belum ada hasil identifikasi dengan nama adikmu, tapi saya yakin adikmu tidam selamat jika melihat keadaan pesawat seperti itu."


Psikiater pun masih setia mendampingin Grace. Pagi ini, pihak kepolisian dikejutkan dengan datangnya orang yang melaporkan Grace ke rumah sakit di mana Grace dirawat karena kondisinya yang sangat lemah.


"Pak Aksara."


Aksa mengangguk kecil. Matanya berkata jika dia ingin bertemu dengan Grace. Namun, ada ketakutan yang sorot mata polisi itu tunjukkan.


"Saya ke sini diutus Pak Raditya Addhitama."


Mendengar nama itu membuat pihak kepolisan mengangguk pelan. Dia tahu Radit adalah malaikat tak bersayap untuk Grace. Polisi itu percaya jika Radit tidak akan berbuat yang aneh-aneh.


Radit memang mengutus Aksa untuk menemui Grace. Dia juga harus menenangkan Aleesa, putrinya. Dia juga sudah menyiapkan tim medis di rumahnya jika sewaktu-waktu kabar buruk terjadi. Aritmia yang Aleesa derita jika kambuh itu akan berakibat fatal. Itulah yang tengah semua orang jaga di rumah Raditya Addhitama. Membalik canda dalam hati berduka itu tak mudah. Namun, mereka mampu memainkan peran dengan baik agar Aleesa bisa tersenyum.


Sebelumnya Aksa sudah berbincang dengan psikiater yang menangani Grace. Aksa hanya bisa menghela napas kasar.


"Dia sangat terpukul dan sekarang kondisi psikisnya terguncang hebat."


Kalimat yang amat menyayat hati. Aksa yang memiliki hati sekeras batu pun kini luluh mendengar perkataan dari sang psikiater. Dia yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya secara berbarengan saja merasakan sakit yang tak terkira, walaupun masih memiliki saudara lainnya. Bagaimana dengan Grace? Saudaranya hanya Yansen, ibunya sudah pergi. Aksa tak berani membayangkan sehancur apa hati Grace. Kepergian Yansen sangat mendadak dan tragis. Itu menjadi poin kesedihan yang tak bisa diungkapkan.

__ADS_1


Aksa mausk ke dalam ruang perawatan Grace dan hatinya tersayat sangat perih ketika melihat Grace memeluk sebuah goody bag.


"Goody bag itu pemberian dari adiknya sebelum terbang. Dia menitipkannya pada petugas. Isi goody bag tersebut adalah makanan kesukaan Grace dan juga foto-foto Semasa kecil mereka."


Banyak sedikit Aksa tahu masa kecil dua orang itu. Lagi-lagi dia menghela napas kasar. Dia tidak bisa berkata. Wajah Grace yang teramat pilu sangat jelas terlihat.


"Jangan bawa dia ke sel. Rawatlah dia hingga dia sembuh total."


Si manusia yang dicap tak memiliki hati kini sudah berubah. Aksa mulai bisa meredam ego. Ini juga berkat Rangga yang selalu berhasil melembutkan hati sang ayah.


Penemuan jasad dengan kondisi tak utuh juga bagian-bagian tubuh para korban sudah dievakuasi ke kapan. Banyak barang korban juga yang mereka angkat. Dalam diamnya Restu terus tersambung dengan pihak Basarnas juga pihak forensik yang bertugas.


Dia tidak banyak bicara, tapi dia terus memastikan semuanya. Dia juga tidak ingin melihat istrinya sedih berkepanjangan. Restu yang berada di halaman samping sambil menikmati secangkir kopi dan rokok dikejutkan dengan kehadiran Iyan.


"Om."


"Bagaimana dengan Aleesa?" Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Restu. Terlihat juga ada rasa sedih di wajahnya.


"Pasti semua orang menyuruh kamu untuk mengerti Aleesa 'kan." Restu tersnyum. Dia pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kayu tersebut.


"Mereka menyuruh kamu untuk mengerti, tapi mereka tidak mengerti perasaan kamu." Restu semakin tersenyum.


"Mau bagaimana lagi, Om?" Restu berkata santai. "Aku juga gak bisa egois. Hubungan Aleesa dengan Yansen terjalin lebih lama dari kedekatan aku dengan dia 'kan. Ditambah, mereka berdua sahabat satu frekuaensi. Pasti ada ikatan batin yang terjalin di antara mereka berdua."


"Apa kamu tidak cemburu atau marah?" Iyan bertanya lebih dalam lagi karena dia tidak terlalu mengenal Restu.


"Awalnya iya, tapi semenjak aku merasakan istri aku mulai nyaman dan tenang ketika aku peluk. Juga senyum yang mengembang jika bersama aku, aku yakin jika sedihnya Aleesa hanya sedih sebagai seorang sahabat yang kehilanagan sahabatnya. Aku sangat yakin itu."

__ADS_1


Iyan setuju dengan apa yang dkatakan Restu. Dia bangga pada suami dari keponakannya itu.


"Om." Restu mulai menatap Iyan dan sorot matanya penuh d Evan pertanyaan.


"Aleesa tadi bilang kepad aku, kalau dia melihat Yansen."


Iyan menghembuskan napas kasar. Dia menyuruh Restu untuk mengenang pundaknya. Restu pun mengikuti apa yang diperintahkan Iyan.


"Lihat di depanmu!"


Restu teelonjak dan matanya hampir terlepas dari tempatnya berada. Seseorang yang memakai baju groomsmen kemarin tesnyum ke arahnya.


"Makasih, Kak."


Restu tak bisa berkata. Dia masih berada di antara percaya dan tidak dengan apa yang dia lihat. Wajah orang itu teramat bahagia. Sedari tadi bibirnya melengkungkan senyum yang begitu tulus.


"Jadilah obat penawar yang mujarab untuk Sasa. Sembuhkanlah kesedihan Sasa. Sembuhkanlah kesakitan Sasa karena ulahku. Aku yakin, Kakak akan terus membuat Sasa bahagia. Juga menjaga Sasa sebagn segenap jiwa dan raga."


Iyan mendongakkan kepala menahan laju air mata yang ingin tumpah tak tertahan.


"Bilang pada Sasa, sudahi tangisannya. Jangan keluarkan lagi air matanya untuk aku. Aku sudah tenang dan bahagia bersama Bapa. Jangan penasaran juga dengan jasadku. Cukup baju dan kalung yang aku tinggalkan. Juga dompet pemberian Sasa ketika ulang tahunku di tahun lalu. Hanya itu yang bisa aku tinggalkan." Masih dengan senyum yang mengembang.


"Kalian tak perlu membuang waktu mencariku. Kalian tidak akan menemukanku karena aku sudah bersembunyi di balik punggung kekar Tuhanku. Sekali lagi, makasih ya, Kak. Jaga Sasa dan berikan aku keponakan-kepoankan yang lucu. Aku sayang kalian semua yang sudah mengenal aku. Selamat tinggal."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


Jangan bosan ya ...


__ADS_2