
"Undangan?" Dahi Rindra mengkerut membaca kertas yang dia dapatkan. "Ada acara apa emang? Dan kapan Om Satria di Jakarta." Dia nampak bingung. Bagaimana tidak, dia tidak mendengar kedatangannya. Tiba-tiba undangan pertemuan di tangan.
Bukan hanya Rindra yang mendapatkan undangan tersebut, Radit dan Rifal pun mendapat undangan yang sama. Namun, mereka berdua hanya menghela napas kasar.
"Ngapain lagi sih?" Rifal mengerang kesal. Dia benci dengan sikap pamannya saat ini. Radit pun malas datang sebenarnya, tapi undangan itu mengatasnamakan perusahaan sang paman di mana dia harus bersikap profesional semarah apapun dia.
Restu pun terkejut dengan apa yang dia terima pagi ini. Sebuah surat undangan dari perusahaan milik si tua Bangka.
"Keluarga," gumamnya seraya mencibir. "Mabok apaan nih orang?" Rasa malas bersarang di hati Restu. Dia berniat untuk tidak datang.
Restu sudah tahu pasti ada yang tengah direncanakan oleh Satria jika seperti ini. Satria manusia licik. Restu hanya menghela napas kasar.
"Ambillah kalau mau mah," ujarnya seraya bersandar di sofa. Dia sangat yakin seorang Satria akan menjatuhkannya di depan keluarga ayahnya. Bukannya takut, tapi malas mendengar hinaan yang tak henti.
Restu tengah berpikir keras perihal para manusia yang yang selalu mendewakan harta. Bersikap tamak dan malah ingin memiliki hak orang lain.
"Bosan lah berurusan sama yang namanya warisan Mulu," omelnya sendiri. Itulah tanda Restu lelah dengan yang dinamakan harta. Restu hanya ingin hidup tenang. Tidak ada yang lain.
Dia meraih kunci mobil dan berniat untuk mengantar Aleesa ke kampus. Namun, baru saja membuka pintu apartment, dia dikejutkan dengan kehadiran sang tunangan dengan wajah sembab.
"Lovely!" Restu memeluk tubuh Aleesa. Terdengar tangisan lirih si sana.
"Kenapa?" tanya Restu. Aleesa tidak menjawab.
"Hey!" Restu masih memaksa agar Aleesa menjawab pertanyaannya.
"Kamu itu wanita bodoh, Aleesa. Mau-maunya menerima pria berengsek itu!"
Kalimat sarkas yang Satria ucapkan kepada Aleesa yang baru saja keluar dari rumah. Hatinya sangat sakit mendengarnya. Dia hanya kasihan kepada sang tunangan yang selalu dicemooh karena masa lalunya. Apa orang jahat tidak boleh berubah menjadi baik? Apa orang nakal harus tetap selalu nakal seumur hidupnya?
"Lovely," panggil Restu lagi. Dia membawa Aleesa masuk ke apartment dan duduk di sofa. Mencoba menenangkannya.
"Kenapa?" Restu nampak cemas. Dia sudah menggenggam tangan Aleesa.
__ADS_1
"Kenapa semua orang selalu membahas masa lalu kamu? Apa aku salah mencintai orang yang memiliki masa lalu yang kelam? Bukankan manusia itu bisa berubah? Yang baik bisa jadi buruk dan sebaliknya."
Hati Restu terenyuh mendengar ucapan dari Aleesa. Begitu tulus setiap kata yang dia ucapkan. Restu hanya tersenyum dan mengusap lembut air mata sang tunangan.
"Biarkanlah mereka berbicara buruk tentang aku. Manusia itu cenderung terus terfokus pada titik hitam yang ada di kertas putih. Tanpa pernah menghiraukan kertas putih sebenarnya."
"Tapi--" Restu memeluk tubuh Aleesa dan mengusap lembut punggung Aleesa.
"Aku tidak peduli orang mau berkata apa tentangku. Mau mengorek tentang masa laluku pun silahkan. Kamu dan keluargaku yang tahu semuanya. Jadi, tak perlu capek menjelaskan semuanya kepada orang lain." Restu berbicara dengan begitu bijak. Walaupun dalam hatinya dia tengah menahan amarah. Dia tahu siapa yang berkata ini semua.
Restu pun mengantar Aleesa menuju kampus. Sebelum dia keluar dari mobil, Restu mengecup kelopak mata Aleesa secara bergantian. Dia mengusap lembut pipi Aleesa.
"Jangan dipikirkan apa yang sudah orang katakan. Tetap fokus pada pendidikan kamu dan hubungan kita." Aleesa tersenyum dan memeluk tubuh Restu dengan begitu erat.
"Aku tetap mencintai kamu dan tak peduli bagaimana masa lalu kamu karena aku tahu tidak ada manusia yang seutuhnya baik." Restu pun tersnyum dan mengecup ujung kepala Aleesa.
"Nanti pulang aku jemput, ya." Aleesa pun mengangguk. Tangan Aleesa pun masih melingkar di pinggang Restu.
"Aleeya!"
Restu menepikan mobilnya. Dia mulai turun dan memang benar itu adalah Aleeya dan Kalfa.
"Lepas! Sakit!" Aleeya berteriak karena tangannya dicekal dengan begitu kuat. Restu segera menarik kerah baju Kalfa dari belakang hingga tangan Aleeya terlepas.
"Jangan kasar sama cewek!" omel Restu dengan nada tinggi. Dia menatap sebentar ke Arah Aleeya yang terlihat habis menangis.
"Jangan ikut campur!" Tangan Kalfa sudah menggantung hendak memberikan bogem mentah kepada Restu. Namun, Restu berhasil menahannya.
"Masuk ke mobil gua." Restu sudah menyuruh Aleeya untuk masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Kalfa sudah merasa kesakitan. Ketika bantingan pintu mobil terdengar. Restu sedikit memelintir tangan Kalfa dan menatapnya dengan begitu tajam.
"Kalau lu punya maslaah sama gua jangan menghasut orang lain. Hadapi gua secara gentle," ujar Restu dengan tatapan tajamnya. Dia pun mengibaskan tangan Kalfa dengan sangat kencang. Kalfa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Restu.
"Manusia apa cenayang?"
__ADS_1
Aleeya menunduk dalam ketika Restu sudah masuk ke dalam mobil. "Gua antar lu pulang."
Kalimat singkat yang Restu berikan. Sebenarnya dia sedikit kesal kepada Aleeya, tapi Aleeya adalah adik dari Aleesa di mana nanti akan jadi adiknya juga. Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Aleeya masih menunduk dalam.
"Jangan terlalu cinta dan buat lu semakin bodoh," ujar Restu dengan begitu ketus. Tidak ada jawaban dari Aleeya.
"Harusnya lu bisa merubah sikap arogannya. Bukan malah makin menjadi," ucap ketus Restu. "Beraninya cuma berlindung di ketek orang tua doang," lanjutnya lagi. Aleeya pun tidak menjawab.
Tibanya di rumah Aleeya, Restu mengembalikan calon adik iparnya kepada Echa. Dahi Echa mengkerut ketika melihat Aleeya ada bersama Restu. Putrinya itu hanya menunduk.
"Tadi aku gak sengaja bertemu dia di jalan," ucap Restu. Echa pun mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Selepas Restu pergi, Echa menatap tajam ke arah Aleeya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Bubu gak tahu harus bagaimana mendidik kamu." Kalimat penuh frustasi yang keluar dari mulut sang ibu.
"Sampai mencoba untuk kabur," lanjutnya dengan menggelengkan kepala. "Meras paling tertekan padahal kakak kamu sendiri yang hidupnya penuh tekanan." Suara dan ibu mulai berat.
Echa menarik napas panjang dan masih menatap ke arah Aleeya. "Lakukanlah apa yang kamu suka, Ya. Meskipun itu menyakiti hati kakak dan kedua orang tua kamu. Lakukanlah!" Echa pun berlalu begitu saja dan membuat Aleeya menundukkan kepala dan menitikan air mata.
Kalfa tidak ingin break atas hubungan mereka semua. Namun, Aleeya ingin hubungan mereka berakhir sejenak karena banyak yang tidak setuju dengan hubungnnya. Terlebih keluarganya. Apalagi melihat sang ayah dan ibunya yang nampak kecewa dan marah. Ditambah Kalfa marah ketika mengetahui Aleena sudah kembali ke Singapura.
.
Aksa tertawa puas dengan rencananya. Dia sudah tidak sabar ingin cepat malam tiba.
"Semuanya harus hadir pokoknya." Apalagi dia sudah mendapat rekaman baru.
"Jangan bilang gua kancil kalau gak bisa selesaikan ini." Aksa berkata dengan begitu sombong. "Benar kata si Bandit, harus ada korban dulu," lanjutnya.
...***To Be Continue***...
Komen dong ..
__ADS_1