
"Lovely--"
Gemke dan Aksa menoleh ke arah Restu. Mereka berdua mendekat dan terlihat Restu sedang mencoba untuk membuka mata.
"L-lovely." Gemke segera menghubungi dokter.
"L-lovely."
Bukan dokter suruhan dari dokter Rocki yang Gemke hubungi melainkan dokter Rocki. Dia sendiri yang akan datang ke rumah sakit.
"Saya segera ke sana." Begitulah jawabannya.
Gemke sudah berada di samping Restu dengan hati yang sangat lega. Begitu juga dengan Aksa.
"L-lovely--" Untuk keempat kalinya dia memanggil Aleesa.
Perlahan mata Restu mulai terbuka. Dia sedikit memicingkan mata karena kesilauan yang ada di ruangan itu. Gemke, dia sudah tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mr."
"Lovely." Aleesa yang terus Restu cari.
"Dia ada di sana, Mr." Restu mulai menolehkan kepalanya ke arah tangan Gemke yang tengah menunjukkan sesuatu. Di samping ranjang pesakitannya ternyata ada Aksa yang sudah tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Aleesa--" Aksa pun menggeser tubuhnya agar Restu dapat melihat di mana Aleesa berada.
"Lovely!" Restu mencoba untuk bangun, tapi ditahan oleh Aksa dan juga Gemke.
"Aku harus ke sana."
"Sebentar lagi dokter datang. Kamu juga baru aja sadar. Jangan banyak gerak." Aksa sudah melarang Restu. Namun, pria itu tetap bersikukuh.
"Aku harus ke sana, Om. Aleesa butuh aku." Aksa dan Gemke saling pandang.
"Biarkan dia ke sini, Bang." Iyan sudah membuka suara. Restu pun dipapah oleh Aksa dan Gemke menuju di mana Aleesa berada.
"Lovely." Tangan Restu sudah menggenggam tangan Aleesa. "Bangunlah! Aku di sini."
Dokter khusus datang untuk menangani Aleesa. Dia memeriksa kondisi Aleesa dan hembusan napas lega menandakan Aleesa baik-baik saja
"Sepertinya dia kurang asupan makanan." Dokter menjelaskan. Restu mendengarkan dengan menahan rasa sakit yang tak terkira.
"Irama jantungnya bagus," lanjut dokter itu lagi.
"Om, apa pola makan Aleesa sudah benar?" Restu mulai menatap ke arah Aksa dan Iyan.
"Sudah lebih dari seminggu nafsu makannya berkurang." Jawaban dari Iyan membuat Restu menatap iba kepada Aleesa yang masih terpejam. Dia mengusap lembut rambut Aleesa.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan ini, Lovely? Aku akan merasa bersalah dan semakin sedih jika terjadi apa-apa dengan kamu."
"Kalian pasangankah?" Dokter bertanya kepada Restu dan dijawab anggukan oleh pria yang masih pucat dan di tangannya menancap jarum infusan.
"Begitu manis sekali kalian. Saling menjaga satu sama lain." Restu hanya tersenyum kecil.
Selepas dokter itu pergi, dokter Rocki datang dan terkejut ketika pasiennya malah tidak ada di ranjang pesakitan.
"Kenapa si situ?" Dokter Rocki sudah menukikkan kedua alisnya dan berkacak pinggang. Kecemasannya melebur begitu saja.
"Aku gak bisa ninggalin dia, Dok." Dokter Rocki menghela napas kasar.
Kini, Restu dan Aleesa tidur dalam satu bed yang sama. Biarlah mereka berdempetan. Maklumin saja, pasangan yang sedang bucin-bucinnya.
Aksa, Gemke dan Iyan hanya saling pandang. Mereka sama-sama menghela napas kasar.
"Padahal keadaan masih genting, tapi misahin mereka rasanya gak tega," ujar Aksara yang diangguki oleh Gemke, Iyan dan dokter Rocki.
Perempuan berbaju putih panjang sudah menowel-nowel pundak Iyan. Suami dari Beeya itu mencoba untuk menggerakkan bahunya agar si perempuan itu pergi.
"Aku butuh bantuan kamu."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuh ...