RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 190. Memberi Waktu


__ADS_3

"Kak Restu!"


Restu malah tergelak. Dia menatap ke arah Aleesa yang sudah marah dan menekuk wajahnya. Dia mendekat dan mengecup kening istri tercintanya.


"Bercanda, Lovely." Tangannya sudah mengusap lembut ujung kepala Aleesa.


"Aku juga gak akan sekejam itulah." Restu memeluk tubuh istrinya yang sudah merajuk.


"Ya udah cepet olesin."


"Iya."


Sekuat tenaga Restu menahan gejolak yang tak boleh dia lakukan. Sungguh sulit karena belalai imutnya malah sudah bereaksi.


"Aishh!" gumamnya dalam hati.


Setiap kali jarinya mengolesi area yang lecet, si belalai seakan memberontak ingin berubah bentuk menjadi monster belalai. Untungnya Restu masih waras. Dia tidak ingin menyiksa sang istri karena nafsu yang tidak bisa dia kendalikan.


"Selesai." Restu bisa bernapas lega menutup bagian bawah istrinya dengan selimut.


"Makasih." Restu mengangguk dan mencium singkat bibir Aleesa.


"Bie, mana roti bakarnya?"


Ketika Restu menuju dapur dan hendak mengambil roti bakar, piring yang berisi roti bakar sudah tidak ada di sana. Dahinya mengkerut dan mencoba mencari ke meja yang lain.


"Cari apa?" Suara Aleeya membuat Restu menoleh. Matanya memicing ketika melihat Aleeya sedang memakan roti bakar.


"Itu roti bakar dari mana?"


"Dari si Khai." Rahang Restu sudah mengeras.


"Dia bilang itu dia yang bikin." Aleeya melanjutkan. Dia tahu Restu sedang marah, dan dia ingin tahu bagaimana marahnya Restu kepada Khairan.


"Gua gak akan ngasih restu ke tuh anak kalau dia mau nikah sama lu."


"Dih! Ape lu Kate?" serang Aleeya. "Tuh anak calonnya Kakak Na." Restu tersenyum tipis mendengarnya.


"Gak Sudi gua punya laki modelan begitu." Aleeeya makin murka mendengar ucapan dari Restu.

__ADS_1


Kakak iparnya itu malah mendekat dan berbisik di telinga Aleeya, "awas kemakan sama omongan sendiri." Dia pun melenggang begitu saja dan membuat Aleeya melebarkan mata. Baru saja hendak berteriak, sang ibu sudah memelototinya.


"Yang sopan sama kakak ipar kamu!" Echa menegur putrinya. Aleeya pun menjawab iya dengan lemah.


Kembali tanpa membawa apapun membuat Aleesa menukikkan kedua alisnya. "Mana?"


"Dimakan tuh anak antah berantah."


"Khairan?" Restu mengangguk.


"Pesan aja, ya." Restu sudah duduk di samping sang istri dan memberi jalan keluar.


"Aku mau makan di rumah Mamih aja." Restu terkejut.


"Aku ikut ya ke rumah Mamih." Aleesa mulai merengek dan membuat Restu tak berdaya.


"Ya udah, tapi kalau aku lama gimana? Nanti kamu bosan." Restu sudah membawa Aleesa ke dalam pelukannya.


"Aku 'kan bisa tidur di kamar kamu, Bie." Restu malah tertawa.


Salep yang diberikan Riana sangat manjur dan Aleesa sudah bisa berjalan dengan normal lagi dan lecetnya sudah sangat membaik. Suara ketukan pintu terdengar. Terpaksa Aleesa yang membukakan pintu. Mata ibunya melebar ketika melihat leher sang putri.


"Bubu kenapa?"


"Enggak." Echa mencoba untuk tersenyum. Dia pun memberikan roti bakar untuk Aleesa. "Tadi yang suami kamu buat dimakan Khai." Aleesa pun tersenyum.


"Makasih, Bu." Echa pun mengangguk.


"Lovely, baju aku di mana?" Suara Restu membuat Echa segera pergi dari sana. Tak lupa Aleesa mengucapkan terima kasih lagi.


Restu sudah berdiri dan menatap penuh tanya ke arah sang istri. Apalagi Aleesa membawa piring berisi roti bakar.


"Dari Bubu." Aleesa meletakkan piring tersebut di atas nakas. Kemudian, menuju lemari pakaian mengambilkan pakaian sang suami.


"Makan dong. Kamu 'kan belum makan." Aleesa menggeleng. Dia malah memeluk tubuh suaminya yang hanya memakai handuk menutupi perut bagian bawah.


"Aku pengennya roti bakar buatan kamu." Tangannya sudah menyentuh perut Restu yang kotak-kotak. Restu tertawa dan dia mencubit gemas pipi Aleesa.


"Manja." Aleesa mendongak ketika Restu menyebutnya manja.

__ADS_1


"Besok 'kan kamu gak ada, Bie. Boleh dong hari ini aku manja sama kamu."


Hati Restu mencelos mendengarnya. Dia merasa sedih ketika mendengar Aleesa berkata seperti itu.


"Maaf, ya." Aleesa menggeleng seraya tersenyum.


"Aku harus mengerti suami aku dan pekerjaannya."


.


Restu dan Aleesa sudah berada di kediaman Rindra Addhitama. Restu meninggalkan istrinya bersama sang mamih di meja makan.


"Aku ke ruang kerja Papih dulu, ya." Tak lupa Restu mencium ujung kepala sang istri.


Nesha memperhatikan menantunya. Dia tersenyum dengan hati yang sedih. Apakah Aleesa sekuat itu? Apakah dia sebahagia itu?


"Sa," panggil Nesha ketika Aleesa tengah memakan keripik pisang cokelat kesukaannya. Dia pun menoleh dan menatap sang mamih.


"Apa kamu bahagia sungguhan?" Pertanyaan ini mertuanya membuat Aleesa tersenyum perih.


"Sasa bahagia, Mih."


Kalimat yang membuat Nesha menggeleng pelan. Dia meraih tangan Aleesa dan mengusapnya dengan lembut.


"Mamih tahu kamu tengah menyembunyikan sedih kamu. Kehilangan seseorang yang dekat dengan kita pastinya akan sulit kita terima. Mulut berkata ikhlas, tapi hati belum bisa lepas."


Mata Aleesa mulai nanar mendengar ucapan sang ibu mertua. Namun, Nesha juga sedikit memberi pengertian kepada menantunya itu.


"Mamih mengerti akan kondisi kamu. Bukan hanya kamu yang sedih, tapi suami kamu lebih sedih. Dia menyimpan sedih bercampur kecewa di hari pernikahannya. Harapannya untuk bahagia sedikit sirna karena melihat kamu berderai air mata. Namun, rasa cinta yang begitu besar dan dalam yang dia miliki untuk kamu membuatnya membuang jauh rasa sedih dan kecewa itu. Dia terus berada di samping kamu dengan hati yang sedikit hancur, tapi tak menunjukkannya. Walaupun dia tidak berkata apa-apa kepada Mamih, sebagai ibu Mamih tahu bagaimana perasaannya. Bagaimana hati anak Mamih sesungguhnya."


Hati Aleesa begitu sakit mendengar penjelasan dari ibu mertuanya. Sang suami sangat lihai berakting menutupi segala sakit dan kecewa karena dirinya yang menangisi mantan kekasihnya juga sahabatnya.


"Sudahi sedih kamu ya, Sa. Bahagiakan putra Mamih. Dia butuh cinta dan sayang yang tulus dari kamu karena kamu adalah cinta pertamanya dan kamu juga yang akan menjadi cinta terakhirnya." Aleesa pun mengangguk dengan wajah yang sudah basah.


Di dalam ruangan kerja, Restu sudah membuang asap rokok ke udara. Dia bukan hanya membicarakan perihal pekerjaan, melainkan tentang perasaannya kepada sang ayah.


"Aku sangat yakin jika Aleesa masih dirundung sedih yang mendalam. Sepertinya aku juga tidak bisa menyembuhkan sedihnya itu." Rindra terus memperhatikan Sang putra yang terlihat biasa, tapi dia yakin Restu pun menyimpan kesakitan yang tak terkira. Asap rokok kembali mengepul ke udara.


"Inilah alasan kenapa aku mau ikut rapat penting di Zurich. Aku tahu banyak hal yang ingin Aleesa ceritakan kepada saudaranya dengan bebas dan penuh deraian air mata. Inilah waktunya aku memberikan kesempatan kepada istriku, Pih. Mungkin dengan cara seperti ini sedihnya akan menguar dan perlahan bisa mengikhlaskan dia yang tak mungkin kembali."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...


__ADS_2