RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 87. Kejanggalan


__ADS_3

Sudah lima hari Yansen melihat Aleesa berwajah murung. Dia tidak melihat Aleesa seceria dulu.


"Apakah hubungan Sasa dengan Kak Restu berakhir?" Dia bukan mendoakan, melainkan tengah menerka-nerka. Dia mulai mencari tahu apa yang terjadi dengan Aleesa.


Bertanya kepada Kemala dan Raina, itu sedang dia usahakan. Makian yang Kemala juga Raina berikan tidak membuat Yansen sakit hati.


"Gua hanya ingin tahu, Kem, Rai," ujar Yansen. "Gua gak akan ganggu dia. Gua juga bahagia melihat dia bahagia."


Kemala dan Raina saling tatap. Apa yang dikatakan oleh Yansen begitu tulus. Mereka juga tidak tega kepada Yansen. Lebih dari seminggu ini Yansen memang tidak mengganggu Aleesa.


"Kita juga gak tahu, Sen." Raina membuka suara. Dia juga tidak tahan ingin menanyakan kepada Yansen karena Raina tahu Yansen dan Aleesa sudah berteman sedari kecil. Pasti dia tahu lebih banyak tentang Aleesa.


"Dia sering menyebut Kak Iyo dan Uncle Papih." Kemala menambahkan. Yansen tahu siapa yang dua teman Aleesa maksud itu.


"Apa Aleesa sudah pulang?" Kemala mengangguk.


"Dia dijemput sama cowok ganteng."


.


Aleesa dan Nesha terus menunggu kabar dari Restu. Hampir satu Minggu mereka seakan kehilangan kontak Restu.


"Biasanya Restu akan telepon Aunty Mamih siang hari, tapi ini sama sekali tidak." Perkataan yang sangat lirih.


Rio mencoba menghubungi Restu berkali-kali. Namun, tetap tidak bisa. Mereka bertiga hanya bisa menghela napas berat.


Rindra, dia tahu akan hal ini. Sebisa mungkin dia tidak boleh membuat orang-orang yang menyayangi Restu khawatir.


"Sudah lima hari, Nak," gumam Rindra.


Semua anak buah Restu sudah dia hubungi. Akan tetapi, semuanya pun tidak ada yang bisa dihubungi.


"Mencurigakan."


Bukan Rindra jika hanya tinggal diam. Dia menghubungi dokter Rocki yang menjadi dokter pribadi sang putra.


"Dia menghubungi saya ketika dia baru saja landing. Sudah seminggu ini dia belum juga menghubungi saya lagi." Dokter berkata apa adanya.


"Boleh saya minta tolong. Cari tahu ada apa? Soalnya saya tidak bisa menembus benteng ini."


"Baiklah. Tunggu kabar dari saya." Rindra bisa menghela napas lega. Walaupun feelingnya berkata lain.

__ADS_1


"Papih harap kamu bisa merasakan kekhawatiran Papih ini, dan segera hubungi Papih."


Rasa cemas yang sudah menginjak hari keenam masih Aleesa pendam sendiri. Sudah hampir seminggu ini dia tidak bisa tidur nyenyak karena selalu menunggu kabar dari Restu.


"Bie, kamu baik-baik aja 'kan?" Aleesa selalu menatap jendela kamarnya. Berharap kekasihnya memberikan kejutan kepadanya karena tidak bisa dihubungi.


Namun, perasaan yang tak karuhan membuat air matanya menetes begitu saja. Dadanya tiba-tiba sesak dan bayang wajah Restu berputar di pikirannya.


"Bie--"


Aleesa segera mengambil ponselnya. Dia terus mencoba menghubungi Restu, tapi sama sekali tidak tersambung.


"Bie, aku mohon jawab!" Air mata Aleesa sudah mengalir sangat deras.


Puluhan kali dia menghubungi Restu, puluhan kali itu juga panggilannya tak tersambung. Hingga tubuhnya luruh ke lantai. Dia menunduk dalam dengan air mata yang terus menetes.


"Bie, aku harap kamu baik-baik saja." Sebuah doa yang selalu Aleesa panjatkan.


.


Yansen mencoba untuk mendekati Aleesa ketika dia tengah sendirian duduk di kantin. Kemala dan Raina tidak ada di sana.


"Sasa!"


"Boleh aku duduk?" Aleesa mengangguk dengan senyum dipaksa.


Pandangan Aleesa masih tertuju pada ponsel yang dia letakkan di atas meja.


"Maaf, kalau aku lancang." Ucapan Yansen membuat Aleesa menatapnya. "Apa kamu sedang ada masalah dengan Kak Restu?"


Setiap kali ada yang menyebut nama Restu hatinya akan tiba-tiba pedih. Dia merasakan kekasihnya di sana sedang tidak baik-baik saja. Alhasil, Aleesa menunduk dan terlihat air matanya menetes ke atas meja.


"Sa!"


Yansen meraih tangan Aleesa di atas meja. Dia mengusap lembut punggung tangan mantan kekasihnya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Yansen yang cemas. Dia takut Aritmia Aleesa kambuh lagi.


"Setiap kali ada yang menyebut nama Kak Restu, hati aku sedih, Sen. Perasaanku selalu tidak enak jika memikirkan dia."


Rasa cemas Aleesa bisa Yansen rasakan. Yansen duduk di samping Aleesa dan mengusap lembut pundak perempuan yang sudah dia kenal sejak kecil.

__ADS_1


"Itu hanya perasaan kamu saja, Sa. Aku yakin Kak Restu baik-baik saja di sana." Yansen mencoba untuk menenangkan. "Kak Restu akan sedih kalau liat kamu sedih begini."


Aleesa semakin menunduk dalam dengan tangis yang semakin kencang. Yansen ingin memeluk Aleesa, tapi ada keraguan di hatinya. Dia takut Aleesa menolak. Dia hanya ingin menenangkan sang mantan kekasih.


Yansen memberanikan diri untuk merangkul pundak Aleesa dan tangis Aleesa pun semakin pecah. Bayang wajah Restu yang sendu semakin memutari kepalanya.


"Bie, kamu kenapa? Tolong jangan buat aku cemas."


Hati Yansen ngilu ketika mendengar ucapan Aleesa. Dia yang tengah memeluk Aleesa, tapi pria lain yang tengah Aleesa pikirkan.


"Ingatlah, Sen. Dia hanya sahabat kamu sekarang. Hilangkan rasa sakit dan nyeri di hati kamu. Ikhlaskan dan relakan agar hatimu damai."


Yansen tersenyum dan terus menenangkan Aleesa. Walaupun Aleesa tidak membalas pelukannya dan nama Restu yang selalu dia panggil, Yansen mencoba untuk ikhlas karena dia ingin kedamaian.


"Aku akan menjaga kamu ketika dia tidak ada di samping kamu."


.


"Saya baru mendapat laporan jika madam Zenith sudah menyerahkan sampel rambut Restu untuk tes DNA. Dia juga mengubah peraturan sekarang." Rindra bingung dengan apa yang dikatakan oleh dokter Rocki.


"Maksudnya?"


"Hanya di akhir pekan para pengawalnya diijinkan untuk memegang ponsel." Perihal tes DNA Rindra dan dokter Rocki sudah sama-sama tahu


"Semua pengawal atau hanya Restu saja?" Rindra benar-benar merasa ada yang janggal dari sikap atasan Restu.


"Anak buah saya mengatakan itu berlaku untuk semua, tapi saya juga tidak yakin." Dokter Rocki pun menaruh kecurigaan.


"Apa Anda memiliki pemikiran yang sama seperti saya?" Dokter Rocki menjawab iya. Rindra tidak bisa tinggal diam. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Feeling saya ini menjurus pada ingin memiliki." Dokter Rocki sudah mengeluarkan asumsinya. "Juga, ada pihak luar yang menjadi kompor supaya tidak memberikan ruang kepada Restu." Asumsi yang masuk akal. Rindra dapat menerima asumsi dokter Rocki tersebut.


"Apa Anda mau kerja sama?" Rindra sudah menatap serius ke arah dokter Rocki.


"Tentu. Anak itu adalah putra saya juga." Rindra dan dokter Rocki sama-sama menyunggingkan senyum.


.


Sebuah amplop putih panjang sudah seseorang yang memakai jas hitam dan juga kemeja putih berikan kepada seorang wanita paruh baya. Tidak ada tatapan ramah dari pria itu.


"Apa ini?" Wanita itu membuka isi amplop tersebut dan matanya hampir terlepas pada saat itu juga.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2