
Sebelumnya, Aleesa melarang Restu untuk pergi. Restu sudah ijin kepada Radit dan Echa jikalau Aleesa menginap di rumah sang paman. Padahal, mereka ada di apartment. Memang tidak terjadi apa-apa di sana karena Restu tidur di sofa setelah Aleesa tertidur dengan begitu nyenyak.
"Bie, besok aja ke kantor Uncle papihnya," rengek Aleesa bagai anak kecil. Padahal sang kekasih sudah rapi dengan pakaiannya.
"Gak bisa gitu, Lovely," sahut Restu. Dia menghampiri Aleesa yang masih berada di tempat tidur. Dia berdiri di samping tempat tidur dan Aleesa memeluk perutnya dengan begitu erat. Restu mengusap lembut rambut Aleesa.
"Perasaan aku gak enak, Bie."
Restu meraih pundak Aleesa, dan membantunya berdiri. Dia menatap dalam ke arah Aleesa yang memang terlihat begitu khawatir.
"Aku akan baik-baik saja, Lovely."
Morning kiss menjadi obat penenang yang Restu berikan kepada Aleesa. Namun, Aleesa seakan tidak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Restu.
"Biarkan calon suamimu ini pergi interview kerja, ya. Meminang kamu itu butuh modal yang besar," kelakar Restu. Aleesa masih merengut dan membuat Restu mencium gemas kening sang tunangan.
"Manjanya."
Terpaksa Aleesa merelakan Restu pergi dan hatinya terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu kepada tunangannya itu. Walaupun ada kecemasan di hatinya sekarang ini.
.
"Baba, kenapa Baba dan Bubu seakan memperlakukan Yaya berbeda dengan Kakak Na juga Kakak Sa?" Pertanyaan di meja makan yang membuat Radit meletakkan sendok dan garpu dengan begitu kencang di atas piring.
Echa dan Aleena pun terdiam. Jika, sudah begini itu bertanda Radit sedang marah. Dia tidak bicara, tapi dari tindakannya itu bisa terlihat jelas.
"Udah ya, Dek. Lebih baik kamu habiskan makanannya." Echa sudah mulai berbicara.
"Tapi, Bu--"
"Baba berangkat dulu." Radit sudah beranjak dari tempat duduknya. Padahal makanan pun baru satu sendok dia makan.
"Baba--"
"Baba merasa tidak kenal dengan putri Baba sendiri." Sindiran menohok dari Radit untuk anaknya. Anak ketiganya amatlah berubah. Itu yang membuat Radit kecewa.
Selepas Radit pergi, Echa sudah menatap Aleeya dengan begitu dalam.
"Bubu mau salahin Yaya juga?" Aleeya sudah angkat bicara. "Salahin aja Yaya terus, Bu. Salahin. Bela aja Kakak Na dan Kakak Sa."
"Cukup ya, Ya." Aleena sudah membuka suara. "Kalau kamu punya masalah sama aku, jangan bawa-bawa Baba dan Bubu. Jangan mengusik kebahagiaan Sasa dam Kak Restu juga. Cukup dengan aku, jangan bawa-bawa mereka." Aleena yang biasanya diam kini sudah membuka suara.
"Kalau kamu menginginkan Kalfa, ambillah! Aku ikhlas," tuturnya. Aleena masih mampu tersenyum.
__ADS_1
Aleena menghembuskan napas kasar. Tangannya sudah mengemasi barang bawaannya ke dalam tas ransel kecil yang dia bawa. Dia berniat untuk kembali ke Singapura hari ini juga. Dia tidak ingin membuat semua keluarganya bertengkar hanya karena dirinya.
.
"Kak Restu!"
Rangga segera membantu Restu walaupun dia sudah berdiri dan hendak menaiki motornya. "Kak, kita ke rumah sakit, yuk." Restu menggeleng.
"Tapi--"
"Gua gak apa-apa kok. Gua juga masih bisa bawa motor." Apa yang dikatakan Restu memang benar. Namun, Rangga memilih untuk mengikutinya dari belakang. Dia benar-benar khawatir.
Dahinya mengkerut ketika melihat Restu bukan menuju kediaman Rindra, melainkan ke lain arah.
"Mau ke mana?" Rangga menggelengkan kepalanya. "Kuat banget tuh orang."
Rangga masih mengikuti ke mana Restu pergi karena dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Restu. Masuk ke area apartment elite motor Restu sekarang. Terlihat dia berjalan tertatih.
"Kak!" Rangga segera menghampiri Restu dan membantunya.
"Ngapain lu ikutin gua?" Restu adakah manusia yang tidak bisa bicara baik kepada laki-laki.
"Aku takut terjadi apa-apa sama Kakak. Makanya aku ikutin. Harusnya Kakak ke rumah sakit." Wajah cemas Rangga terlihat jelas. Namun, Restu selalu bilang tidak apa-apa.
"Bie!" Aleesa langsung berlari ke arahnya dan Restu hanya tersenyum dan mengusap lembut wajah Aleesa.
"Aku tidak apa-apa."
"Aku tuh paling benci kalau kamu kaya gini!" Bukannya menyambut kedatangannya, Aleesa malah sangat marah. Namun, marahnya Aleesa karena dia takut dan sayang pada Restu. Sang tunangan pun menarik tangan Aleesa hingga dia berada di dalam dekapan Restu. Tak Restu pedulikan dadanya yang begitu sakit.
"Kenapa gak dilawan? Mana kemampuan kamu?" Aleesa mulai emosi. "Kenapa kamu diam aja dan membiarkan tubuh kamu seperti ini? Kenapa?"
Rangga yang melihat adegan itu merasa kasihan kepada Aleesa. Dia tahu bagaimana hati Aleesa sesungguhnya.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Restu berikan. Sedangkan Aleesa sudah menitikan air mata.
"Kalau kamu sayang sama aku, ayo kita ke rumah sakit." Aleesa sudah berkata dengan nada berat.
"Tapi--"
"Ya udah. Aku mending pulang dari pada ngurusin orang yang bandel." Aleesa sudah mau beranjak, tapi Restu melarangnya.
"Lovely--" Sentuhan tangan Aleesa ke wajah Restu membuatnya tidak bisa berkutik. Apalagi jari Aleesa yang sudah menyentuh darahnya.
__ADS_1
"Boleh aku hubungi dokter Rocki dulu? Baru kita ke rumah sakit." Aleesa pun mengangguk.
Di mata Rangga Restu adalah sosok laki-laki hebat. Penuh tanggung jawab juga romantis. Wajahnya terlihat garang, tapi di depan Aleesa dia begitu lembut. Karakter Restu seperti sang ayah, Aksara.
Restu dan Aleesa diantar oleh Rangga. Kebetulan sekali Rangga masih ada di sana dan mau membantu mereka berdua.
Aleesa sudah membersihkan darah yang keluar di wajah dan tubuh Restu. Hanya tinggal luka lebam dan memar yang tersisa. Restu pun tertidur di pangkuannya karena rasa sakit yang baru saja hadir.
"Ngga, lu liat siapa yang mukulin Kak Restu?"
"Orangnya sih gak asing, Sa. Dia mukul Kak Restu pakai tongkat." Aleesa terkejut. Ingin rasanya dia mengadu kepada ayahnya atau kepada sang paman. Namun, Restu melarang.
Aleesa teringat akan kejadian ketika Restu dipukuli oleh ayahnya. Jika, kepada orang lain Restu tidak akan pernah tinggal diam. Dia sangat tahu bagaimana watak Restu.
"Kira-kira siapa, ya? Apa masih ada sangkut pautnya dengan keluarganya?"
Aleesa sedikit khawatir ketika mendengar diagnosa dokter Rocki. Takut ada tulang yang patah di tubuh Restu. Dokter kepercayaan Restu itu tidak pernah menutupi semuanya.
Tibanya di rumah sakit, Restu enggan ditinggal. Dia bagai anak kecil. Namun, terlihat jelas Restu kesakitan membuat Aleesa tidak tega
"Tahan ya, Bie." Tangan Restu menggenggam erat tangan Aleesa.
Di luar, Rangga tengah menunggu Aleesa dan juga Restu. Dia seperti tengah menghubungkan kekhawatiran Aleena semalam. Setelah dia mengantar Aleena ke rumahnya, Aleena meminta Pak Joe untuk menjemput Rangga.
"Aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan aman."
Ponsel Rangga berdering, dia sedikit terkejut karena tengah berpikir kejadian semalam.
"Kamu kenapa ada di rumah sakit?" Begitulah sang ayah bicara. Rangga bingung mau menjawab apa. Dia diminta untuk menutup mulut, tapi sang ayah malah tahu keberadaannya.
"Jawab Daddy, Ga!" Suara Aksa sudah mulai meninggi. "Apa terjadi sesuatu dengan kamu?"
Rangga melupakan bahwa mobil yang dibawanya itu sudah dipasang GPS dan tersambung ke ponsel Aksa. Ke manapun mobil itu pergi akan bisa dia pantau.
"Enggak, Dad. Aku cuma antar Kak Restu." Akhirnya, Rangga mengingkari janjinya kepada Restu dan Aleesa.
"Kenapa dengan Restu?" Suara cemas terdengar. Namun, Rangga tidak menjawab.
"Baiklah, akan Daddy cari orangnya sampai ke lubang semut sekalipun karena udah berani nyenggol anggota keluarga Daddy."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1