RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 116. Tak Ada Kabar


__ADS_3

Sudah seharian ini Aleesa tidak mendapat kabar dari sang kekasih. Sepertinya dia benar-benar marah. Aleesa hanya menghela napas kasar. Dia mulai menghubungi sang sepupu, Rio pun tidak tahu di mana Restu sekarang. Semenjak tadi berangkat bersama Aleesa dia belum juga kembali.


Pikiran Aleesa semakin ke sana ke mari. Jika, di rumah sang paman tidak ada sudah pasti Restu ada di apartment.


"Apa kamu ada di sana, Bie?"


Aleesa ingin pergi ke sana. Namun, malam nanti dia harus ke rumah sang uncle, Aksara. Ada acara kecil-kecilan yang Aksara adakan. Aleesa pun tidak tahu acara apa itu. Acaranya sangat mendadak.


"Sa, kamu gak ajak Restu?" Sang ibu bertanya ketika Aleesa sudah turun dari kamarnya. Aleesa hanya tersenyum dan menggeleng.


Dahi Radit mengkerut ketika melihat Aleesa yang seperti menyimpan sesuatu. Dia menelisik wajah sang putri.


"Apa ada yang terjadi di antara kalian?" Radit menaruh curiga. Aleesa hanya menghela napas kasar.


"Dia cemburu sama Yansen." Echa dan Radit hanya tersenyum mendengarnya.


Di sepanjang perjalanan, wajah Aleesa nampak murung. Sedari tadi dia terlihat gelisah dan terus memperhatikan ponselnya.


"Wajar kalau Restu cemburu. Dia cuma takut kalau kamu berpaling dari dia." Sang ibu sudah membuka suara. "Dia hanya orang baru dibandingkan Yansen."


"Pesan Baba sih cuma satu, Sa. Jangan siakan dia yang sudah menyembuhkan luka di hati kamu karena belum tentu ada laki-laki yang setulus Restu."


Nasihat sang ayah seperti berada di kubu Restu. Aleesa merasa jika lampu hijau sudah ada di tangan Restu.


Tibanya di rumah Aksara ternyata Aska sudah ada di sana. Kebisingan pun terdengar karena ulah si quartet. Kedatangan Radit disambut oleh Aksa dan Riana.


"Kok calon menantu gak diajak, Kak?" Echa dan Radit hanya tertawa. Beda halnya dengan Aleesa yang mendadak beku mendengar pertanyaan sang aunty.


Aska.pun menanyakan keberadaan Restu dan itu bertanda jika mereka sudah merestui hubungannya dengan Restu. Tidak biasanya anggota keluarga besarnya seperti itu.


"Dad, udah siap semua." Agha menghampiri sang ayah. Aksa mengangguk dan membawa Radit dan keluarganya masuk.


Aleesa terkejut karena ada Rangga di sana. Sama halnya dengan Radit dan Echa. Dua tahun tak bertemu Rangga dia semakin tampan. Terakhir mereka bertemu di bandara Zurich. Namun, kali ini wajahnya lebih tampan.



Senyum manis Rangga tidak berubah dari sewaktu kecil dan membuat Radit serta Echa tidak bisa melupakan kebaikan Rangga.


"Ini alasan kenapa Abang ajak semuanya makan malam. Anak ini datang tanpa kabar sebelumnya." Terlihat Aksara sangat bangga kepada putra pertamanya itu.

__ADS_1


"Daddy mah kadang berlebihan," ujar Rangga dengan begitu lembut. Aksa malah tertawa dan merangkul pundak Rangga dengan penuh bangga.


Anak yatim piatu yang sudah Aksa anggap seperti putranya sendiri. Aksa membiayai sekolahnya semenjak SD hingga dia bersekolah di sekolah penerbangan. Agha dan Ghea pun sangat dekat dengan Rangga. Walaupun Rangga jarang ke Jakarta, komunikasi keluarga kecil Aksa dengannya sangat terjaga. Peredam emosi Aksara adalah Rangga. Sifat laki-laki muda berbanding terbalik dengan Aksa, tapi Aksa malah sangat sayang kepadanya dan cenderung menuruti apa yang dikatakan oleh Rangga jika dalam hal kebaikan.


Mereka menikmati makan malam sambil bakar-bakar di halaman belakang yang begitu luas. Banyak canda tawa di sana, kecuali Aleesa yang sedari tadi banyak diam dan memisahkan diri. Rangga mendekat dan memberikan piring berisi aneka makanan yang dibakar. Aleesa tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Kak Restu mana?" Lagi dan lagi menanyakan kekasihnya. Aleesa hanya diam dan masih fokus pada benda pipihnya.


Rangga hanya tersenyum tipis. "Ribet ya pacaran itu."


Seketika Aleesa menoleh ke arah Rangga yang tengah minum minuman dingin di tangannya.


"Kayak yang gak pernah pacaran aja." Aleesa membalasnya dengan begitu ketus.


"Emang belum." Jawaban yang sangat jelas di telinga dan membuat Aleesa terkejut.


"Emangnya pramugari di sana gak pada cantik?" Rangga hanya tertawa.


"Yang cantik banyak, tapi sayangnya gak pada masuk tipe gua." Aleesa pun berdecih.


"Masih aja sih sad boy." Rangga hanya tersenyum kecut.


"Ganteng sih lu, tapi bukan tipe gua juga." Aleesa terkekeh sendiri. Dia mencoba menghubungi sang kakak. Terlihat sang kakak tidak sendiri di sana. Ada bahu seseorang yang mengenakan hoodie di sampingnya.


"Kakak, lagi di apartment kan?" Aleesa mulai menelisik. "Itu siapa di samping Kakak? Jangan bilang kalau Kakak masukin laki-laki."


Aleena berdecak kesal. "Teman Kakak." Aleesa tidak percaya begitu saja. Dia ingin sang kakak mengarahkan ponselnya ke arah samping Aleena. Namun, Aleena tidak mau dan pria itupun pergi.


"Kakak itu siapa?" Pertanyaan Aleesa dijawab dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Aleena. Aleesa merasakan hembusan napas seseorang. Ternyata Rangga berada di belakangnya.


Baik Rangga maupun Aleena hanya sama-sama terdiam dengan mata yang terkunci. Aleesa malah melihat ke arah ponsel juga ke belakang di mana Rangga berada.


"Ngobrol atuh jangan saling tatap aja."


.


Sampai pagi menjelang, Aleesa tidak mendapat kabar dari Restu. Hatinya semakin tak karuhan. Pulang kuliah dia berniat untuk ke rumah sang paman atau ke apartment milik Restu. Beriulang kali dia mencoba menghubungi Restu, tapi ponselnya mati.


"Ke mana kamu, Bie?".

__ADS_1


Kedatangan Aleesa di kampus disambut oleh Raina dan juga Kemala. Namun, wajah Aleesa nampak murung.


"Kenapa?" tanya Raina. Aleesa hanya diam. Belum juga menjawab, Kemala sudah membawa paksa Yansen kepada Raina..


"Tuh anak kenapa mukanya?" Raina sudah mulai bertanya. Sontak Aleesa pun menoleh. Ada luka memar di wajah Yansen.


"Gak tahu, ini anak gak ngaku." Mata Yansen dan Aleesa bertemu. Ada kekhawtiran yang Aleesa tunjukkan.


"Seriusan, ini gua kepentok tembok," ujarnya.


"Kalau bohong pake akal sehat dong." Kemala sudah membuka suara.


"Bie, apa kamu yang melakukan ini?"


Sudah ratusan kali Aleesa menghubungi Restu, tapi tidak ada jawaban darinya. Pulang dari tempat kuliah, dia ke rumah sang paman.


"Dia juga gak pulang semalam, Sa." Ada rasa takut di hati Aleesa mendengar jawaban dari Nesha. Ke mana sebenarnya Restu?


Dia menuju apartment mewah milik Restu. Namun, apartment itu masih terkunci. Ada seorang tetangga unit Restu menyapa Aleesa.


"Pemiliknya belum juga datang, Mbak. Hanya orang yang bertugas membersihkan unit itu saja yang datang pagi dan siang udah pulang."


"Bie, kamu di mana?" Resah dan gelisah menjadi satu.


Hingga malam menjelang, kabar tentang Restu tak dia dapatkan. Sudah lebih dari 24 jam Restu menghilang dan tak ada kabar.


"Apa kamu semarah itu, Bie?" Aleesa menghela napas kasar.


Di kampus, dia sempat bertanya kepada Yansen perihal luka memar. Yansen hanya tersenyum. Ketika ditanya perihal Restu pun dia juga tersenyum. Aleesa merasa pusing sekarang dengan keadaanya. Dia pun turun ke lantai bawah dan ternyata kedua orang tuanya pun pergi.


Mengambil cokelat dan juga susu dingin dari lemari es. Kemudian, manyalakan televisi besar. Mulutnya bisa mengunyah, tapi pikirannya tengah berkelana. Suara ponselnya terdengar dan dia menukikkan alis ketika melihat nama si penelepon.


"Iya, Kak Iyo."


"Kak Iyo udah sharelok, datanglah ke tempat itu. Restu--"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


Insha Allah malam UP lagi kalo komen tembus 40


__ADS_2