
"Arrghh! Aku ingin pulang."
Sefrustasi itu seorang Restu Ranendra. Itu tandanya dia cinta sungguhan pada Aleesa. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia pun menjambak rambutnya sendiri.
"Tuhan, tolong jaga calon istriku."
Hati madam Zenith terenyuh mendengarnya. Cinta Mr. R untuk Aleesa sangat tulus. Sampai bisa membuat pria kejam itu menjadi setakut itu. Ada rasa bahagia di hati kecil madam Zenith.
Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dengan hati yang bercampur aduk. Wanita paruh baya tersebut terduduk di tepian tempat tidur. Melihat Mr. R marah tadi, membuat rasa rindu madam Zenith semakin menjadi. Sebelum kejadian Philip meninggal, dia datangi oleh sang ayah di dalam mimpi. Perkataan ayahnya hampir sama dengan perkataan Aleesa. Dia melarang. Ternyata kejadian, untungnya nyawa madam Zenith masih selamat.
"Pah, Zen kangen Papah."
Sebanyak apapun umur seseorang, tapi akan terlihat seperti anak kecil jika tengah memanggil orang tua mereka. Apalagi sudah lima belas tahun dia tidak pergi ke makam sang ayah yang berada di Indonesia.
"Apa aku ke Indonesia saja bersama Mr. R? Rasa rinduku pada Papih tidak seperti biasanya. Papih seakan menyuruhku untuk main ke Indoesia." Madam Zenith berbicara sendiri.
Rasa penasaran madam Zenith semakin menumpuk tatkala orang suruhannya baru saja menghubunginha dan tidak menemukan informasi apapun tentang Mr. R. Semua informasi tentang Mr. R ditutup sangat rapat dan sangat sulit diretas. Apalagi setelah kejadian Philip meninggal. Tidakditemui info apapun.
"Kamu itu siapa sih, Mr. R? Kenapa aku merasa sangat dekat dengan kamu," gumam madam.
.
Aleesa masih terbaring lemah di bed rumah sakit. Dia akan pulang jika kondisinya sudah stabil. Agha tahu jika semua orang kini tengah mencemaskan Aleesa, tapi mereka pura-pura tak tahu.
Ternyata Yansen mengikuti mobil Pak Joe dari belakang dan dia sudah sampai rumah sakit. Namun, Yansen salah tebak. Ternyata Aleesa dibentengi pengawal-pengawal yang hebat.
"Saya mau lihat pacar saya!" Yansen memaksa.
"Maaf. Wajah Anda sudah masuk daftar blacklist dari Mr. R." Yansen sedikit terkejut mendengarnya. Apalagi ada nama baru yang tidak dia kenal.
"Siapa Mr. R?"
Yansen benar-benar ditarik mundur dengan paksa oleh para pengawal yang berbeda itu. Hingga Yansen mengerang sangat kesal.
Ketika Yansen hendak keluar dari rumah sakit sudah ada seseorang yang berdiri tegak dan menatapnya sangat tajam.
__ADS_1
Tubuh Yansen menegang seketika. Dia tidak bisa berkutik. Ternyata apa yang diinginkan Aleesa salah. Agha malah memberitahukan kondisi Aleesa kepada ayahnya. Begitulah pikirnya.
"Ikut saya!"
Suara yang sangat dingin terdengar. Urat-urat kemarahan nampak terlihat jelas. Yansen melupakan bahwa ada beberapa rumah sakit yang bekerja sama dengan Radit maupun Aksa. Jadi, akan dengan mudah mereka mendapat informasi tentang Aleesa.
Duduk berdua di salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, membuat dada Yansen berdegup tak karuhan. Ruangan mendadak dingin mencekam.
"Saya kecewa sama kamu."
Sebuah kalimat yang membuat tubuh Yansen menegang. Kebodohannya mengakibatkan sesuatu hal yang fatal. Seorang Raditya Addhitama yang selalu memasang badan untuknya, kini mengatakan kekecewaan yang mendalam padanya. Sungguh sangat disayangkan.
"Maaf, Om. Aku hanya--"
"Saya tidak ingin mendengar apapun. Walaupun saya tidak ada di tempat kejadian, tapi banyak orang yang melaporkan. Sembilan puluh sembilan persen laporan mereka sama."
Yansen mati kutu. Ternyata selama ini dia salah. Dia kira Aleesa hanya diikuti oleh teman-temannya yang tak terlihat saja. Pada nyatanya banyak pengawalan yang lebih seram dari itu. Ponsel Radit berdering dan tanpa berlama dia menjawab panggilan tersebut.
"Om, bagaimana dengan Aleesa?" Suara cemas dan khawatir jadi satu terdengar.
"Kamu tenang, ya. Saya pastikan putri saya baik-baik saja."
"Selesaikan pekerjaan kamu di sana, dan saya tunggu kamu di sini untuk merealisasikan keseriusan kamu terhadap Aleesa."
Deg.
Tamparan keras dan hantaman besar untuk hati Yansen. Dia sudah bisa menebak siapa yang ada di balik sambungan telepon di sana. Begini saja sudah membuat Yansen kalah telak.
"Hati-hati, dan kembalilah dengan selamat. Bukan hanya saya yang menunggu kamu, tapi putri saya pun menunggu kamu."
Seketika Yansen menunduk dalam. Hatinya sangat sakit mendengarnya. Orang yang selalu membelanya sekalipun kakaknya jahat kepada Aleesa, kini berbalik kecewa padanya. Ini adalah salahnya. Rasa cemburu membuat pikirannya kacau.
"Jauhi putri saya, dan kembalilah berteman seperti kalian kecil." Radit beranjak dari sana. Hanya kalimat sederhana, tapi mampu membuat Yansen tak bisa apa-apa.
.
Satu jam berselang, Aleesa sudah membuka mata. Dia melihat Agha masih berada di sampingnya.
__ADS_1
"Pin," panggil Aleesa.
"Udah baikan?" Wajah Gavin nampak cemas.
"Udah gak terlalu sesak. Kita pulang, ya. Gua gak mau bikin Baba dan Bubu khawatir karena kita belum pulang." Agha mengangguk dan membantu Aleesa untuk berdiri.
"Sa, sekuat apapun kamu nutupin apa yang telah terjadi, kedua orang tua kamu juga keluarga besar kita tahu semuanya. Kita semua dalam pantauan mereka."
Di dalam mobil Aleesa merangkul lengan Agha dan meletakkan kepalanya di bahu sang sepupu. Pikirannya tengah berkelana.
"Pin, jangan bilang apapun ke Baba dan Bubu, ya. Gua gak mau mereka membenci Sensen."
Agha menatap lekat ke arah sang sepupu. Dia tidak habis pikir, sudah dibuat sakit masih tetap membela laki-laki itu.
"Sa, kamu itu terlalu baik apa cenderung bodoh sih?" Mulut pedas seorang Gavin Agha Wiguna beraksi. Aleesa ikut menatap Agha. Wajahnya masih sendu.
"Pin, biarlah ini menjadi masalah gua dan Sensen. Keluarga tidak boleh ikut campur."
"Tapi, dia hampir membuat kamu diopname lagi, Sasa!" Agha gemas sendiri.
"Gua hanya syok. Makanya ritme jantung gua gak beraturan."
Agha menghela napas kasar. Dia meraih kedua pundak Aleesa seraya menatapnya.
"Sasa, jika pun keluarga kita marah jelas-jelas dia yang salah. Kalau dia gak bodoh, ini tidak akan terjadi, Sa. Aritmia kamu gak akan kambuh." Agha menjelaskan dengan nada yang penuh kemarahan.
Aleesa malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang sepupu tampannya itu. "Kalau lu marah percis bapak moyang lu."
Pak Joe tertawa cukup keras mendengar ucapan Aleesa. Begitu juga dengan Aleesa yang terkekeh.
"Benci nih kalau gini, udah ditolongin bukannya ucapin makasih malah dibully."
Aleesa segera mengeluarkan wajah manjanya. Dia mengedipkan matanya bak boneka, membuat Agha menatapnya dengan jijik.
"Makasih, Empin ganteng. Sayang banyak-banyak deh sama Empin." Aleesa sudah memonyongkan bibirnya hendak mencium pipi Agha. Namun, sang sepupu menutup bibir Aleesa dengan telapak tangannya.
"Badung, cewek lu kerasukan setan centil!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...