RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 151. Wajah Malas


__ADS_3

Restu selalu tidak main-main dengan perkataannya. Aleesa dibuat tidak bisa bernapas oleh sang tunangan. Berkali-kali Aleesa mendorong tubuh Restu, tapi tenaganya tak kalah kuat dari sang tunangan. Hanya ada satu cara. Restu melebarkan mata dan menjauhkan bibirnya dari Aleesa.


"Aw!" Tangan Restu menyentuh bibirnya yang digigit oleh Aleesa. Sedangkan Aleesa tengah mengatur napasnya.


"Parah kamu, Lovely." Restu menyalahkan Aleesa dan sang tunangan pun tak terima disalahkan.


"Kamu yang lebih parah." Aleesa mulai mengomel. "Udah bibir aku jadi dower, ditambah kamu mau mencoba bunuh aku. Gak membolehkan aku bernapas." Wajah Aleesa yang marah membuat Restu tertawa. Dia pun memeluk tubuh Aleesa dari samping. Tak Restu hiraukan bibirnya yang sakit karena ulah sang tunangan.


"Aku marah sama kamu!"


Restu semakin tergelak mendengarnya. Apalagi wajah Aleesa yang merengut membuatnya semakin gemas.


"Ada ya orang marah bilang-bilang." Wajah Aleesa semakin ditekuk dan Restu semakin tergelak keras.


Keesokan paginya Aleesa sudah ada di dapur. Dia tengah mencoba menyiapkan sarapan untuknya dan juga Restu. Aleesa tidak pandai memasak, tapi dia mencoba untuk belajar menjadi istri yang baik.


Restu yang baru saja keluar kamar untuk mencari Aleesa tersenyum ketika melihat Aleesa yang sudah sibuk di dapur. Dia masuk ke ruang makan dan melihat sarapan yang Aleesa buat di atas piring yang sudah tersedia di atas meja.


"In doMie goreng?"


Suara Restu mengagetkan Aleesa yang tengah menuangkan susu. Restu sudah duduk, wajah bantalnya terlihat jelas. Dia pun melipat kedua tangannya dengan mata yang sulit untuk dibuka.



"Aku gak bisa masak, Bie." Suara Aleesa yang mendekat ke arahnya membuat Restu membuka mata dan tersenyum ke arah Aleesa yang sudah mencepol rambutnya ke atas. Baju yang digunakan Aleesa pun masih sama dengan baju yang dia gunakan untuk tidur semalam. Restu menarik tangan Aleesa hingga dia terjatuh ke pangkuan Restu.


"Kamu itu akan aku jadikan ratu, bukan babu," jawa. Restu. "Perihal bisa masak atau enggak tidak jadi masalah untuk aku, dan apapun yang kamu masakkan pasti aku makan." Aleesa tersenyum mendengarnya. Dia menatap penuh cinta ke arah Restu yang juga tersenyum kepadanya.


"Sayang banyak-banyak deh sama my hubbie." Restu malah tertawa dan sekarang Aleesa mulai berani mencium bibir Restu terlebih dahulu walaupun hanya sekilas.


"Kurang lama, Lovely." Aleesa malah tertawa. Restu pun menarik dagu Aleesa dan tinggal beberapa senti lagi bibir mereka beradu. Namun, getaran ponsel milik Restu yang ada di atas meja makan membuat kejadian itu gagal. Restu pun mengerang kesal sedangkan Aleesa sudah tertawa dengan puas.


Dahi Restu mengerut ketika melihat nama si pemanggil. Dia tidak langsung menjawab. Dia tengah berpikir keras kenapa Gemke masih pagi sudah menghubunginya.

__ADS_1


"Jawab, Bie." Restu pun terbangun dari lamunannya.


"Halo!"


....


Tubuh Restu terdiam seketika mendengar apa yang dikatakan oleh Gemke. Raut wajah Restu yang berubah tak luput dari penglihatan Aleesa.


"Ada apa, Bie?" tanya Aleesa setelah sambungan telepon Restu akhiri secara sepihak. Restu menatap wajah Aleesa dan dia seakan membutuhkan jawaban dari Restu.


"Ibu jahat itu meninggal." Sangat terkejut Aleesa mendengarnya. Dia langsung menatap dalam wajah Restu yang terlihat datar.


"Rencana Tuhan itu sangatlah indah," tutur Aleesa. "Untuk terakhir kalinya madam bisa memeluk tubuh kamu, dan Beliau menutup mata pun ketika kamu masih ada di sini." Aleesa menjelaskan dengan senyum yang begitu tulus.


"Itu tandanya Tuhan menginginkan kamu untuk mengurus ibu kandung kamu untuk terakhir kalinya." Kedua alis Restu pun menukik dengan begitu tajam menandakan dia tidak setuju dengan ucapan Aleesa.


Melihat reaksi Restu membuat Aleesa menggenggam tangan Restu. Memberikan senyum yang manis dan juga menyejukkan.


"Jika, bukan kamu yang mengurus Beliau siapa lagi?" Ucapan Aleesa membuat hati Restu luluh.


Setelah selesai sarapan mereka berdua yang kompak mengenakan pakaian serba hitam menuju rumah sakit di mana Madam Zenith menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka berjalan berdampingan dengan tangan yang saling bertaut. Banyak para pengusaha yang datang melayat. Terlihat Gemke sibuk menemui mereka. Kedatangan Restu dan Aleesa disambut hangat oleh Gemke. Dia tidak menyangka putra satu-satunya madam Zenith akan datang.


"Terima kasih, Mr." Mata Gemke berkaca-kaca. Restu hanya mengangguk pelan.


"Kamu sudah bekerja dengan sangat baik." Restu memuji Gemke seraya menepuk pundak Gemke.


Untuk terakhir kalinya Restu dan Aleesa melihat wajah madam Zenith. Tidak ada air mata di sana. Restu pun nampak biasa. Hingga mereka berdua keluar dari sana dan mengurus biaya rumah sakit ibu kandung Restu Ranendra.


Kartu sakti sudah Restu keluarkan. Namun, suara Gemke membuat Restu dan Aleesa menoleh.


"Pakai ini saja." Gemke sudah memberikan kartu hitam juga kepada Restu. "Ini milik Madam yang Beliau percayakan kepada saya untuk mengurus semuanya."


"Simpanlah!" Satu kata yang Restu ucapkan.

__ADS_1


"Tapi--"


"Saya masih sanggup membayarnya." Padahal biaya rumah sakit madam Zenith tidak sedikit.


Perihal pemakaman pun sudah Restu urus semuanya. Ketika jenazah keluar dari rumah sakit akan segera dibawa ke sebuah pemakaman elite. Restu tak menghiraukan banyaknya rekan kerja sang ibu. Dia juga tak peduli banyaknya warta berita di sana. Zenith Andrea memang dikenal sebagai pengusaha wanita hebat yang tidak memiliki siapa-siapa.


Sikap Restu yang berbeda jika bersama Aleesa membuat Gemke tersenyum bahagia. Ada sisi lain yang tidak Gemke ketahui. Apalagi sekarang Restu yang tengah bergelayut manja di lengan Aleesa karena terlalu kesal menunggu jenazah sang ibu keluar.



Banyak warta berita yang menanyakan prihal dua manusia itu. Namun, Gemke hanya menjawab singkat. Kerabat.


Jenazah pun sudah keluar dari rumah sakit. Banyak yang mengantar madam Zenith ke pemakaman. Begitu juga dengan pencari berita. Aleesa meletakkan bunga mawar putih di atas pusara.


"Madam, putramu lah yang mengurus semuanya. Dia juga mengantar Madam hingga tempat peristirahatan terakhir. Aku yakin Madam sangat bahagia di sana."


Restu dan Aleesa sudah hendak meninggalkan pemakaman. Namun, tangannya dicekal oleh Gemke.


"Mister, ikutlah dengan saya ke rumah besar." Dahi Restu pun mengkerut. "Ada yang sudah menunggu Mr."


Restu dan Aleesa tidak bisa menolak karena Gemke sampai memohon sambil bersujud di kaki Restu. Akhirnya, mereka ke rumah besar. Benar kata Gemke, ada yang sudah menunggu Restu.


"Mr. R." Orang itu bersikap sopan kepada Restu..


Suasana mendadak hening hingga pria yang menunggu Restu membuka suara. "Bacalah!"


Restu menghela napas kasar. Dia menerima map tersebut dan membacanya dengan seksama. Terlihat wajah Restu yang malas setelahnya.


Kepemilikan perusahaan Zenth Grup saya serahkan kepada putra kandung saya, Rajendra Wiratama atau sekarang bernama Restu Ranendra. Semua aset dan harta yang saya milik pun akan saya berikan untuknya. -ZenithAndrea-


...***To Be Continue***...


Komen atuh lah ...

__ADS_1


__ADS_2