
Rindra melebarkan mata ketika seorang anak Ghassan Aksara Wiguna mampu meretas data dokter Kaira yang tidak bisa dia dan anak buahnya retas.
"Are you sure?" Rindra dan Rio nampak tak percaya.
"Ya." Jawabnya singkat dan sangat yakin. Sedangkan kedua pria berbeda usia itu saling tatap ketika melihat hasil retasan Gavin Agha Wiguna.
Rindra segera menghubungi Aksara dan itu membuat Agha melipat kedua tangannya di atas dada.
"Pasti Daddy nyuruh langsung dicabut nyawanya." Rio menatap ke arah Agha yang nampak santai dengan ucapannya.
"Ya emang benar. Coba kita tunggu apa respon Daddy." Anak itu seakan tahu isi kepala ayahnya.
Rindra berbincang dengan Aksa. Dia menjelaskan semuanya kepada Aksa.
"Gua akan suruh cabut nyawa tuh orang sekarang. Sekalian bendera perang berkibar," ucap Aksa dengan sangat murka.
"Benar 'kan apa yang Mas bilang," ujar Agha.
.
Urat kemarahan Aksa terlihat jelas. Dokter Rocki tahu kepada siapa Aksa emosi. Namun, tak lama kemudian senyum licik terukir di wajah Aksa.
"Bukti cctv sudah didapat 'kan?" Gemke mengangguk. Aksa mengangguk, dan rencana sudah dia susun dengan sangat sempurna.
__ADS_1
"Enggak, gua bukan spesialis penolong hantu." Kalimat Iyan membuat Aksa, dokter Rocki dan juga Gemke menoleh kepadanya. Dia masih menggibaskan bahunya.
Dahi dokter Rocki mengkerut begitu juga dengan Gemke. Sedikit demi sedikit dia dapat mengerti bahasa Indonesia.
"Dia sama spesialnya dengan Aleesa." Dokter Rocki pun terkejut.
Aksa menghampiri Iyan. Menepuk pundaknya dan adik iparnya hanya menghela napas kasar.
"Dia yang jagain Aleesa tadi biar gak kelihatan. Sama yang selalu jaga Restu dari tangan dokter Kaira." Aksa terkejut. Iyan mulai meraih tangan kakaknya dan meletakkannya di bahu Iyan. Aksa nampak terkejut karena di penglihatannya mulut wanita itu berbuih dan kepalanya mengeluarkan darah.
TOLONG!
Aksa menarik tangannya di atas pundak Iyan. Dia menatap ke arah Iyan dengan tatapan sulit diartikan. "Bantu dia," titah Aksa. Iyan malah melebarkan mata. "Dia kayaknya ada sangkut pautnya sama Restu atau dokter Kaira."
"Tapi--"
"Gua yakin lu bisa." Iyan melirik kesal ke arah sang kakak ipar.
Terdengar suara pintu terbuka, ketiga pria itu kompak menoleh. Madam Zenith dan dokter Kaira kembali lagi. Tatapan keduanya amatlah menyeramkan. Terutama kepada Gemke.
"Pengkhianat!" pekik madam Zenith.
Gemke hanya tersenyum. Dia mengejek ke arah dokter Kaira dengan tatapanmya yang begitu tajam.
__ADS_1
"Saya kira Anda adalah ibu yang baik, ternyata Anda hanya iblis jahat. Maka dari itu, saya lebih baik mengkhianati Anda demi kebahagiaan Mr. R dibandingkan membela orang yang akan menghancurkan Mr. R. Ingat Madam, saya lebih dulu mengenal Mr. R daripada Anda." Gemke berkata dengan sangat tegas tanpa ada penyesalan sedikit pun.
"Siyalan!!"
Dokter Kaira menatap ke arah Aksa dengan tatapan bingung. Aksara hanya tertawa mengejek. Aska sudah dikurung oleh anak buah madam Zenith.
"Yang kalian sedang kurung itu adalah adik saya." Tawanya pun menggema. "Ternyata sumbu otak kalian sangatlah pendek," cibir Aksa tak main-main.
Terlihat jelas dokter Kaira marah mendengar ucapan dari Aksara. Dokter Kaira menekan sesuatu
yang ada di dalam tasnya. Enam pengawal madam Zenith pun masuk dengan membawa senjata api. Mereka sudah ditodong pistol yang dibawa oleh anak buah madam Zenith. Dokter Kaira tertawa meremehkan. Namun, tidak ada rasa takut di wajah keempat orang itu. Dua pengawal lainnya sudah berada di belakang mereka dan mengarahkan pistol ke arah Restu dan juga Aleesa.
"Jangan main-main denganku, Pak Aksara!" tekan dokter Kaira. "Dengan satu kali jentikan jari saja peluru akan bersarang di kepala keponakan Anda."
"Silahkan coba!" Aksara menantang dan membuat Iyan melebarkan mata.
"Bang--" Aksa hanya tersenyum.
"Kamu menantangku?" Aksa mencebikkan bibirnya.
Aksa mengeluarkan ponselnya yang memang tengah bergetar. Ternyata sambungan video dari anak buahnya yang ada di Jakarta. Dia pun memperlihatkannya kepada dokter Kaira. Matanya pun melebar dengan sempurna.
"Satu detik lagi AYAHMU PASTI MATI!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...