
Radit sudah berada di pusara sang ayah. Dia bukan pergi ke kantor melainkan ke pemakaman elite di mana ayahnya dikebumikan. Sekarang, dia merasakan apa yang dulu ayahnya rasakan. Memiliki tiga anak yang tidak kompak dan cenderung saling menyalahkan.
Radit tak bersuara, dia hanya mengusap nisan sang ayah dan menatapnya dengan begitu dalam. Menjadi seorang ayah itu tidak mudah. Radit dapat merasakan itu.
"Pih, kenapa harus seperti ini? Radit lelah, Radit serba salah." Keluhan dari seorang Raditya Addhitama. Jika, sudah seperti ini Radit sudah tidak bisa memendamnya lagi.
"Radit diam bukan karena Radit tidak tahu, Radit tahu semuanya. Namun, imbasnya malah kepada anak-anak Radit. Aleena, dia yang paling tertekan. Aleesa, dia sudah bahagia, tapi Radit yakin dia juga akan diusik dan Aleeya--" Radit sudah tidak bisa berkata.
.
Kalfa Putra Satria sudah tiba di rumah Echa. Kebetulan sekali Aleena yang membukakan pintu. Senyum manis Kalfa terukir di wajahnya, tapi Aleena bersikap datar.
"Aku panggilkan Yaya dulu." Aleena yang sudah membalikkan tubuh, tangannya dicekal oleh Kalfa hingga langkahnya terhenti.
"Aku ingin bicara sama kamu." Aleena menghela napas kasar. Kemudian, dia menatap tajam ke.aeah Kalfa.
"Kamu mau menanyakan perihal aku dan Rangga semalam, iya?" sergah Aleena. Kalfa terlonjak.
"Aku tahu semalam kamu ngikutin aku." Kalfa terdiam. "Cukup, ya. Aku juga punya kehidupan sendiri. Berhak untuk pergi dengan orang lain m dan kamu gak berhak ngatur aku." Aleena benar-benar mengultimatum Kalfa.
"Tapi--" Sebuah mobil masuk ke area halaman rumah Aleena. Sontak Aleena dan Kalfa melihat ke arah mobil tersebut. Seorang laki-laki tampan turun dari mobil. Siapa lagi jika bukan Rangga.
Rangga sedikit terkejut dengan kehadiran Kalfa di sana. Namun, tujuannya bukan untuk itu. Dia pun mulai menghampiri Aleena dan Kalfa yang tengah ada di teras.
"Na, bisa kita bicara sebentar?" Kalfa terkejut mendengarnya. Berani sekali Rangga.
"Ada apa, Ga?" Rangga hanya tersenyum dan menyuruh Aleena mendekat. Kemudian, dia berbisik kepada Aleena hingga pandangan mereka pun bertemu. Rangga menganggukkan kepalanya.
Jangan ditanya bagaimana dengan Kalfa. Dia sudah menahan cemburu apalagi ketika melihat Rangga dan Aleena saling pandang. Sungguh menyebalkan di matanya.
"Aku ambil tas dulu, ya. Sama ijin ke Bubu."
Rangga bersikap biasa kepada Kalfa. Dia tidak ingin menabuhkan genderang perang karena dia pun tidak suka dengan kegaduhan. Tak lama Aleena dan Echa keluar. Rangga bersikap sopan kepada ibunda Aleena.
__ADS_1
"Mau langsung pergi?" Pertanyaan itu begitu lembut.
"Iya, Tante. Gak akan lama kok. Nanti aku anterin Aleena pulang lagi." Echa tersenyum dan mengangguk pelan.
"Hati-hati."
Kalfa merasa diabaikan di sana. Perlakuan dari ibu Aleena pun berbeda kepadanya.
.
Aleesa menatap Restu yang sudah terbaring di atas tempat tidur. "Kenapa harus begini lagi?" Begitu lemah ucapan Aleesa dan. hanya direspon seulas senyum lelah Restu.
"Bie, kenapa gak kamu lawan? Kenapa kamu hanya diam?" Restu masih menatap ke arah Aleesa. Dia menggenggam erat tangan Aleesa..
"Kamu pasti mengerti siapa yang aku hadapi jika aku diam saja." Otak Aleesa mulai berpikir.
"Enggak mungkin ayah kamu 'kan? Beliau udah gak ada." Restu hanya tertawa. Dia pun menggelengkan kepala.
"Lalu siapa?" tanya Aleesa lagi. Restu membungkam mulutnya. Biarlah waktu yang menjawab semuanya.
"Kamu tahu kok orangnya " Sebuah clue lagi yang Aleesa terima.
Alasan kenapa Restu tidak mengungkapkan karena dia tidak ingin merusak hubungan keluarga. Kehadirannya di keluarga Addhitama menimbulkan pro dan kontra. Dia selalu diam kepada orang yang tidak menyukai kehadirannya. Dia harus tahu diri dia itu siapa.
Jika, mengingat hal itu ingin rasanya dia keluar dari keluarga Addhitama. Namun, sang kakek selalu mengatakan, "jangan takut pada satu orang yang membencimu karena masih banyak orang yang menyayangimu."
"Aku hubungi Kak Rio, ya." Restu menggeleng.
"Jangan buat mereka khawatir. Luka ini besok juga akan sembuh."
Aleesa merasa ada yang tengah disembunyikan oleh Restu kepadanya. Mengoreknya pun akan sangat sulit karena Restu terbiasa menjada rahasia.
Aleesa masih memandangi wajah Restu yang ketampanannya sedikit berkurang karena ada luka memar di wajahnya. Laki-laki kuat ini akan menjadi lemah jika sudah berurusan dengan keluarga. Aleesa benar-benar harus berpikir ekstra.
__ADS_1
"Keluarga siapa? Apa mungkin dari pihak keluargaku? Tapi, siapa?"
Nesha terus menghubungi ponsel Restu yang memang sengaja di silent. Begitu juga dengan Rindra karena sang putra tak kunjung datang ke perusahaan. Aleesa bingung harus berbuat apa. Hembusan napas keluar dari mulutnya.
"Kenapa kamu senang banget menyimpan ini sendirian, Bie? Apa kamu tidak kasihan pada tubuh kamu ini?" batinnya.
Tengah asyik memandang wajah Restu yang tengah terlelap, terdengar suara tangisan yang begitu lirih. Aleesa mulai mencari suara tersebut. Dia meninggalkan Restu. Mencari ke setiap sudut kamar, tapi tidak ada. Hingga suara itu terdengar lenih jelas. Aleesa terkejut ketika melihat darah yang berserakan di pojok kamar samping sofa. Dia yakin itu bukan manusia. Ketika dia lihat, ternyata itu Dev. Teman Aleesa yang sudah lama tak terlihat dan pergi.
"Dev." Aleesa nampak senang, tapi Dev seakan menangis pilu.
"Kamu ke mana aja?" tanya Aleesa. Namun, Dev tak menjawab.
"A-aku dibuang. A-aku dikira pembawa sial." Aleesa terdiam mendengar ucapan dari Dev.
Dev ikut dengan sang ayah dan sudah lama dia pergi tak kembali. Namun, kali ini dia hadir lagi dengan air mata yang menunjukkan kepedihan yang mendalam.
"Kamu 'kan masih punya keluarga yang lain. Om Uwo, Jojo, dan dua hantu bungkus merindukan kamu." Dev menggeleng.
"Aku ingin bersama Ayah aku, Sa, tapi kenapa dia begitu jahat? Aku diusir oleh orang yang mengaku orang pintar, aku dianggap bawa sial. Padahal, aku selalu jaga Ayah aku agar terlindungi dari orang yang tidak suka dengannya, tapi ini balasan yang aku dapat. Aku sedih, Sa." Dev mulai membuka suara.
"Ayah aku lebih sayang pada Kalfa."
"Lovely.". Suara lemah Restu terdengar. Aleesa pamit kepada Dev dan menghampiri tunangannya yang ternyata sudah duduk di tepian tempat tidur.
"Kenapa, Bie?" tanya Aleesa.
"Hug me!" Aleesa malah tertawa dan memeluk tubuh tunangannya dengan erat. Seperti inilah manjanya seorang Restu Ranendra. Sedangkan Restu menatap lurus ke depan.
"Kamu tidak pantas masuk ke keluarga ini!".
Kalimat itu hadir kembali di telinga Restu. Kejadian di mana dia didorong dengan begitu keras ketika Addhitama meninggal dunia. Dia di maki, dia dianggap pembawa sial oleh orang tersebut. Terlebih, ketika sebuah perusahaan yang harunya menjadi milik saudara kandung Addhitama malah diberikan kepada Restu Ranendra.
"Kek, aku tidak butuh warisan dari Kakek jika akhirnya aku harus dibenci oleh keluarga Kakek sendiri. Aku ingin hidup tenang, Kek."
__ADS_1
...***To Be Continue****...
Komen dong .... Kalau hari ini UP banyak jangan bosan, ya ...