
Restu sudah dirangkul oleh sang calon ayah mertua dengan begitu lembut. Senyum tulus Radit berikan.
"Baba percaya sama kamu."
Restu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Baba, sebuah panggilan yang hanya boleh disebut oleh anak-anaknya juga para keponakannya. Sedangkan dia belum resmi menjadi suami dari Aleesa, tapi Radit sudah se-welcome itu. Restu membalasnya dengan sebuah senyum. Rindra dan Nesha yang melihat interaksi mereka berdua tersenyum bahagia.
"Walaupun Restu tidak terlahir dari rahim Mamih, tetap saja berat melepas putra kita yang satu itu." Rindra pun setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang istri.
"Restu pasti akan bahagia dengan perempuan yang dia pilih. Ditambah perempuan itu adalah keponakan kita." Nesha pun tertawa. Berbesanan dengan adik sendiri tidak pernah terpikir oleh mereka.
Rindra bersikap acuh kepada Satria yang sedari tadi ingin disapa oleh Rindra. Ayah angkat dari Restu bukanlah orang yang senang berbasa-basi. Jika, dia tidak suka selamanya tidak akan pernah suka dan bisa bersikap kejam kepada siapapun.
Restu sudah disuruh untuk duduk menghadap sang calon ayah mertua. Dia menatap ke arah kedua orang tuanya terlebih dahulu. Rindra dan Nesha mengantar putra sulungnya menuju kursi di mana dia akan menjabat tangan ayah Aleesa.
"Kamu pasti bisa." Bisikan seorang ibu untuk anaknya. Restu tak segan meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangannya dengan begitu lembut.
"Doakan aku ya, Mih." Nesha mengangguk sembari tersenyum juga menahan air mata. Wanita cantik itu mencium kening Restu dengan begitu dalam.
Echa dan keluarga besarnya tersenyum dengan rasa haru melihat ibu dan anak itu. Mereka berdua saling menyayangi walaupun Restu bukanlah anak kandung dari Nesha Permata.
"Sudah siap?" tanya penghulu. Restu mengangguk.
Radit mulai menjabat tangan Restu yang terasa begitu dingin. Tanpa semua orang duga Radit mengusap lembut punggung tangan calon menantunya.
"Santai saja. Jangan tegang." Restu menatap Radit yang tengah tersenyum kepadanya. Restu pun mengangguk. Sedikit demi sedikit rasa gugup itu menguar.
Radit membiarkan Restu menarik napas terlebih dahulu, menenangkan hatinya. Dia menganggukkan kepala kepada Restu menandakan dia harus sudah siap. Wajah Restu pun sudah sedikit berubah, lebih tenang dari sebelumnya. Radit sudah menjabat tangan Restu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Restu Ranendra bin Jordan Genea dengan putri kandung saya Aleesa Addhitama binti Raditya Addhitama dengan mas kawin uang sebesar seratus dua puluh ribu rupiah dan seratus dua puluh ribu dollar Amerika. Juga emas seberat seratus gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Aleesa Addhitama binti Raditya Addhitama dengan mas kawin tersebut tunai."
__ADS_1
Nesha bisa bernapas lega. Dia menatap ke arah sang putra yang nampak lega.
"SAH!"
Restu menghembuskan napas kasar dan senyum pun melengkung indah di wajahnya. Rio mengangkat dua jempolnya ke arah Restu. Rindra merasa terharu melihat putranya yang akhirnya berstatus suami dari keponakannya. Radit tersnyum bahagia ke arah Restu.
Ahlam sudah membuka aplikasi kalkulator. Dia menekan angka 120.000 dikalikan 15.000. Ahlam menghitung nol yang ada di belakang angka tersebut. Dia mengerutkan dahi. Berpikir dengan teramat keras.
"Kenapa nolnya banyak banget," gerutu Ahlam.
"Dasar bodoh!" Agha sudah mencibir sepupunya itu.
.
"Sah!"
Aleeya berteriak gembira dan membangunkan lamunan Aleesa. Kemala dan Raina sudah memeluk tubuh Aleesa dengan sedikit berjingkrak-jingkrak.
"Akhirnya ... entar belah duren juga." Aleesa tertawa mendengar ucapan dari Raina.
Ketika sudah memasuki halaman samping rasa itu menguar setelah sang suami berdiri dan menatapnya sangat dalam dan penuh cinta. Aleesa tersenyum bahagia. Restu Ranendra ternyata sangat tampan sekali menggunakan pakaian yang senada dengannya.
Aleeya kini mendampingi Aleesa menuju Restu. Tangan Restu sudah terulur dan disambut hangat oleh Aleesa. Terlihat jelas wajah bahagia mereka berdua yang tak bisa berdusta. Sang ibu mertua, Nesha sudah membawa kotak berwarna navy blue yang berisi cincin. Restu mengambil cincin itu dan dia sematkan di jari manis Aleesa. Begitu juga yang dilakukan oleh Aleesa. Senyum terus mengembang di wajah sepasang pengantin ini.
"Silahkan cium tangan suamimu, Nak. Dialah yang nantinya akan menjadi imam kamu untuk menuntun kamu menuju surga-Nya Allah."
Aleesa meraih tangan Restu dan mencium punggung tangan Restu dengan begitu lama. Ada desiran aneh di hati Restu. Ada rasa bahagia yang tak terkira.
"Usaplah kepala istrimu itu, Nak. Dialah yang nantinya akan menjadi tulang rusukmu. Menjadi istri juga ibu dari anak-anakmu. Cintai dia, jaga dia dan perlakukan dia layaknya ratu di manapun kalian berada." Penghulu memberikan perintah sekaligus petuah untuk Restu dan Aleesa.
Di kesempatan itu pula juru potret sudah mengambil gambar sepasang pengantin itu. Juga para keluarga yang mengambil gambar mereka.
__ADS_1
Mereka berdua kini saling pandang dengan sorot mata penuh cinta juga kebahagiaan. Restu mulai mengikuti perintah dari penghulu untuk mencium kening Aleesa. Tangannya merengkuh pinggang Aleesa dengan begitu erat. Ada kebahagiaan yang menjalar di hati Aleesa. Dia merasa tenang, dia merasa dilindungi jika bersama Restu.
Sekarang mereka berdua sudah duduk dan menandatangani buku nikah. Senyum bahagia terus terukir di wajah mereka berdua. Kedua orang tua Restu dan Aleesa pun nampak bahagia. Selesai menandatangani semua berkas mereka saling tatap dan saling senyum.
Rangga yang melihat kebahagiaan Aleesa malah membayangkan jika Aleesa adalah Aleena dan Restu adalah dirinya.
"Apakah aku bisa meminang kamu, Na?"
Sepasang pengantin sudah didekati para keluarga besar. Nesha memeluk tubuh Restu dengan air mata yang tak bisa dibendung. Begitu juga dengan Echa.
"Mamih sangat bahagia." Restu tak bisa berkata.
Echa memeluk erat tubuh sang putri. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya karena ada rasa bahagia juga tak ikhlas untuk melepas sang putri.
Radit sudah memeluk tubuh menantu pertamanya. Dia menepuk punggung putra dari abangnya itu.
"Jaga anak Baba, ya."
"Tanpa Baba minta aku pasti melakukan itu. Aku akan terus menjaga istriku dan membahagiakannya." Restu menatap ke arah Aleesa yang juga menoleh ke arahnya.
"Jaga anak Papih, ya. Kalau nakal pukul aja." Rindra berceloteh dan membuat Aleesa tertawa.
"Kalau anak Papih ngerokok terus boleh gak Sasa siksa dia." Restu malah tertawa.
"Siksanya di kamar aja, Lovely Sayang. Suamimu ini ikhlas kok." Restu menimpali dengan lelucon menjurus.
Plak!
Pengantin pria itupun dipukul dengan cukup keras oleh sang adik. Semua orang malah tertawa.
"Gua tunggu live streaming lu berdua main siksa-siksaan." Rio sudah menaik-turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...