
Aleesa merasa nyaman ketika bersama Restu. Dia merasa terlindungi dan mampu melupakan sejenak tentang Yansen. Mereka berdua menikmati malam dengan posisi masih sama seperti tadi. Aleesa duduk di pangkuan Restu. Tidak banyak kata yang terlontar, mereka hanya saling pandang.
Di lain negara, Yansen tengah dimarahi sang kakak karena sedari tadi menghubungi Aleesa tak.pernah henti. Itu Yansen lakukan karena di luar ada keluarga Nathalie. Dia enggan untuk menemuinya.
"Kamu tuh Kakak ajarin tata Krama. Kenapa sekarang kamu kayak gini?" Suara Grace sudah meninggi. Dia kecewa dengan sikap Yansen sekarang ini.
"Kak, harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak mau dijodohkan dengan Nathalie," sahut Yansen dengan penuh penekanan. "Cinta itu tidak bisa dipaksa, Kak."
"Keterpaksaan lama-lama akan terbiasa dan akan menumbuhkan cinta di antara kalian berdua," balas Grace.
"Aku hanya mencintai Aleesa, Kak. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamanya."
"Kamu dan Aleesa itu berbeda, Sen. Harus berapa kali Kakak bilang. Kamu jangan jadi manusia yang keras kepala!!"
Grace benar-benar murka. Dia tahu bahwa Aleesa sedang ke luar negeri. Ini kesempatan yang bagus untuk acara tukar cincin adiknya dan juga Nathalie. Jadi, ketika Aleesa kembali dia akan menjauhi Yansen dengan sendirinya.
"Pokoknya besok malam kamu harus ikut Kakak ke rumah Nathalie. Gak ada penolakan."
.
Hari ini Aleesa kembali check up bersama ayah dan ibunya. Dikarenakan cukup lama menunggu, kedua orang tua Aleesa memilih untuk makan siang. Namun, Aleesa menolak untuk ikut.
Ketika dia tengah duduk santai sambil menatap layar ponsel, seorang wanita paruh baya duduk di samping Aleesa. Dia tersenyum manis dan membuat Aleesa membalas senyumannya.
Mereka tidak berbincang, hanya saling diam dengan ponsel yang masing-masing mereka pegang. Hingga ponsel Aleesa berdering dan nama Rio lah yang memanggilnya.
"Iya, Kak Iyo."
Wanita di samping Aleesa menatap ke arah Aleesa dengan tatapan penuh selidik.
"Kalau aku pulang cepat, nanti aku ikut Kak Iyo, tapi Kak Iyo yang bilang sama Bubu dan Baba, ya."
Setelah sambungan telepon itu berakhir. Wanita di sampingnya berbicara hal yang mengejutkan.
"Kamu orang Indonesia?" Sontak Aleesa menoleh dan dia menatap ke arah wanita paruh baya yang tersenyum dengan begitu lembut.
"Iya, Tante."
Terlihat wajah wanita itu sangat bahagia. Dia memegang tangan Aleesa dengan begitu lembut.
"Saya sangat senang karena saya memiliki teman bicara." Wanita itu terlihat sangat antusias dan Aleesa juga melihat aura wajah wanita itu sangat positif.
"Tante nunggu dokter jantung juga?" Sang wanita itupun mengangguk.
"Kamu?" tanya baliknya.
"Aku juga sama lagi nunggu antrian."
__ADS_1
"Sendirian?" Aleesa pun menggeleng.
"Sama kedua orang tuaku."
Wanita itu tersenyum dengan begitu hangat. Dia menatap lekat wajah Aleesa.
"Kenapa wajahnya mirip Mr. R?" batinnya.
Panggilan dari kedua orang tua Aleesa membuat Aleesa dan si wanita itu menoleh. Aleesa menggeleng pelan menandakan dia belum dapat panggilan.
"Makan dulu, Sa. Bubu beli makan siang untuk kamu."
"Simpan aja, Bu. Sasa belum lapar."
"Itu orang tua kamu?" Si wanita bertanya kepada Aleesa dan dijawab dengan anggukan oleh Aleesa.
"Bubu, Baba, Tante ini orang Indonesia juga." Radit dan Echa saling pandang dan wanita itu sudah tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada kedua orang tua Aleesa.
"Jangan takut, saya bukan orang jahat," ujar wanita itu. "Saya sangat bahagia ternyata di sini banyak orang Indonesia. Saya tidak merasa sendiri."
Lengkungan senyum pun terukir di wajah Echa. Dari segi bicara wanita itu, dia tahu bahwa wanita itu orang baik. Banyak hal yang mereka perbincangkan. Sedangkan Aleesa sudah bergelayut manja kepada sang ayah.
"Sekecil apapun masalah yang tengah kami hadapi, ungkapkan kepada Baba atau Bubu. Jangan kamu pendam sendirian. Itu akan berbahaya pada kesehatan kamu." Radit berucap sambil mengusap lembut rambut Aleesa.
"Sepertinya anak Nyonya sangat dekat dengan ayahnya." Echa tersenyum dan mengangguk.
"Anak yang lain?"
"Iya. Saya memiliki tiga anak kembar yang semakin dewasa wajahnya semakin tidak mirip," kekeh Echa. Wanita itupun ikut tertawa. "Anak pertama saya kuliah di Singapur dan satu lagi di Bandung."
"Wow. Amazing. Super mom."
"No. Sebagai seorang ibu saya masih memiliki banyak kekurangan."
"Saya sangat bahagia hari ini dipertemukan dengan seorang ibu yang luar biasa," puji wanita tersebut.
"Jangan berlebihan Nyonya," balas Echa.
Sedari tadi mereka berbincang, tapi belum memperkenalkan diri mereka.
"Siapa nama Anda, Nyonya?" tanya wanita itu kepada Echa.
"Panggil saja saya Echa." Wanita itupun mengangguk seraya tersenyum.
"Anda juga boleh memanggil saya Zen," balas wanita yang tengah bersama Echa. Diperkirakan umur wanita itu sama dengan umur sang kakak ipar.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, apa saya boleh menyebut Anda Kakak? Sepertinya usia Anda sama dengan usia kakak ipar saya."
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Malah saya sangat senang. Saya merasa memiliki keluarga di sini."
Di sebuah parkiran, Restu tengah menghisap rokoknya dengan begitu dalam. Tangannya yang satu melihat ponsel untuk mengecek Aleesa. Hatinya sangat lega karena tidak ada pesan maupun panggilan dari Yansen. Namun, matanya melebar ketika melihat GPS yang terpasang di ponsel Aleesa berada di tempatnya berada.
.
Rio sudah meminta ijin kepada Radit dan Echa untuk membawa Aleesa ke tempat gym. Dia tahu sepupunya itu bosan di rumah terus.
"Cukup temani Rio saja. Jangan ikut berolahraga." Aleesa pun mengangguk mendengar ucapan sang ayah. Dia tidak diperbolehkan untuk melakukan hal-hal berat dan menguras energi.
.
"Kamu kok gak telepon-teleponan lagi sama Yansen?" Pertanyaan mampu membuat Aleesa yang tengah menatap ke arah jalanan melalui kaca jendela samping menoleh, dan menatap ke arah Rio yang tengah fokus pada jalanan.
"Kemarin mah kaya apa tahu kalian berdua." Rio sedikit mengejek.
"Mungkin hari ini dia lagi sibuk," jawab Aleesa seraya menyandarkan tubuhnya pada jok mobil.
"Bukan karena Restu juga 'kan?" Aleesa menggeleng dengan sangat tegas. Tidak ada sangkut pautnya dengan Restu.
Sebenarnya banyak hal yang ingin Rio tanyakan, tapi dia juga tidak ingin membuat Aleesa sedih. Jadi, dia memilih untuk diam.
Mobil sudah berbelok ke tempat gym. Rio sudah menggandeng Aleesa karena sudah pasti banyak para lelaki di sana.
"Terus di sini aku ngapain?".
"Liatin roti sobek. Lumayan 'kan buat cuci mata." Aleesa malah tertawa.
Tawa Aleesa terhenti ketika dia melihat seseorang yang tak asing di matanya.
Rio mengulum senyum ketika melihat sang sepupu tak mengedipkan mata melihat apa yang menjadi pemandangan indah.
"Bro!"
Suara Rio membuat Restu menoleh. Dia pun cukup terkejut ketika Aleesa ada di sana bersama Rio. Dia segera menghampiri Rio karena melihat tatapan pada lelaki yang tak biasa kepada Aleesa.
"Kenapa ke sini?" Restu malah mengabaikan Rio dan terfokus pada Aleesa. Sedangkan Aleesa masih syok dengan apa yang dia lihat. Tubuh berotot mengkilap karena keringat.
Melihat Aleesa yang terpukau akan dirinya. Restu pun meraih tangan Aleesa dan menariknya sedikit menjauh dari sana.
"Aku gak suka kamu jadi perhatian para lelaki di sini."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1
50 komen di bab ini Up 3 bab.