
Tangis Nesha tak berhenti ketika melihat putranya sudah kembali sadar. Dia menangis bahagia dan sangat bersyukur kepada sang maha kuasa. Walaupun Restu bukan putra kandungnya, dia sangat menyayangi Restu seperti anak kandungnya sendiri.
"Papih akan bawa mereka kembali ke sini, dan Papih gak akan membiarkan Restu untuk kembali menjadi bodyguard." Nesha mengangguk dan memeluk tubuh sang suami dengan begitu erat.
"Dia sudah harus terjun ke perusahaan." Tegas dan penuh keyakinan ucapan yang terlontar dari mulut Ridmra tersebut. Dia memiliki keyakinan jika Restu akan menjadi pengusaha yang akan disegani oleh para kolega.
"Papih yakin anak itu akan sukses dan malah lebih sukses dari Papih."
Agha yang sedari tadi mendengar percakapan kedua orang tua Rio mulai melirik ke arah pria yang ada di sampingnya.
"Kak Iyo anaknya Om Rindra bukan sih? Kok kayaknya orang tua Kak Iyo lebih sayang sama Kak Restu. Apa jangan-jangan yang anak angkat itu Kak Iyo."
Plak!
Rio tak segan memukul punggung Agha dengan cukup keras hingga remaja laki-laki itu mengaduh.
"Sembarangan lu kalau ngomong." Agha pun tertawa. "Tapi, benar juga sih. Mereka lebih sayang sama Restu dibandingkan gua. Coba gua tanya." Agha kini malah tercengang.
"Mih, Pih," panggil Rio.
"Kenapa?" Rindra lah yang menjawab.
"Aku ini anak kandung kalian bukan sih?" Pertanyaan Rio membuat Rindra dan Nesha malas manjawabnya.
"Kamu mah anak boleh Nemu di tong sampah depan rumah Opa," sahut Rindra kesal.
"Harus berapa kali Mamih bilang kalau kamu itu emang anak yang Mamih brojolin."
.
Di ruang penyekapan, air mata seorang Zenith Andrea mengalir begitu deras ketika melihat foto demi foto sang putra yang terkapar lemah tak berdaya ketika dipukul habis-habisan oleh Jordan Genea.
"Raje," ucap madam Zenith dengan begitu lemah ketika Restu bagai ikan yang terkapar di daratan.
"Bagaimana Ijah?" Aska membuka suara. Sebelumnya dia menahan napas karena melihat gambar tersebut.
__ADS_1
"Apakah ayahmu sebaik itu?" tanya Aska dengan emosi kepada dokter Kaira. "Itu anak kandungnya sendiri bukan orang lain!" Aska sudah sangat murka.
Aska mencoba menarik napas panjang sebelum dia melanjutkan ucapannya. Dadanya akan selalu sesak jika melihat foto Restu yang menyedihkan itu.
"Apa sekarang kalian paham?" tekannya. "Kenapa Restu menyiksa ayah kandungnya sendiri juga sudah menganggap ibu kandungnya mati? APA KALIAN PAHAM??" Emosi Aska sudah membuncah. Tidak bisa dia bendung lagi.
Zenith Andrea hanya menangis dan dokter Kaira hanya bisa menunduk dalam.
"Hidupnya sulit, hidupnya penuh tekanan dan kekerasan. Wajar jika dia melakukan balas dendam," lanjut Aska lagi.
"Lalu, ke mana Anda pada waktu itu, Jin Demit? Jika, Anda berada di sampingnya mungkin akan lain lagi ceritanya." Zenith Andrea hanya bisa menangis. Sakit rasanya melihat putranya yang dalam keadaan sekarat di usia tujuh tahun.
"Sekarang, Anda seolah menginginkan Restu untuk kembali pada masa di mana dia menderita lagi. Apa Anda tidak kasihan? Apa Anda tidak punya hati? DIA PUTRA KANDUNG ANDA!! KENAPA ANDA MALAH MENJELMA MENJADI WANITA IBLIS?"
Aska memperlihatkan video di mana Restu tengah berjuang melawan trauma yang ada pada dirinya. Restu mencoba melukai dirinya sendiri dan dihalangi oleh Rindra hingga dia yang terkena sayatan pisau.
"Aku ... emang pembunuh. Aku ... lukai Om."
"Enggak, Nak. Kamu gak lukain Om. Ini salah Om karena gak hati-hati ambil pisaunya."
Nesha, dia akan memeluk tubuh Restu ketika anak itu menangis dengan cukup keras. Mengusap lembut rambutnya dan mengecup keningnya sambil menenangkannya..
"Jangan sedih, Nak. Ada Mamih yang akan selalu memeluk tubuh kamu."
Ketika Rindra masih memanggil dirinya Om untuk Restu, tidak dengan Nesha. Dia sudah memanggil dirinya Mamih agar Restu memanggilnya seperti itu. Lambat laun trauma itupun menghilang. Bukan waktu yang sebentar, butuh waktu tiga tahun untuk menghilangkan trauma yang bersarang pada diri Restu.
Hingga dia tumbuh menjadi anak laki-laki seperti pada umumnya. Senang bermain bola, lari-larian dan berkelahi. Itu semua berkat peranan Rindra dan Nesha. Juga keluarga besar Addhitama.
"Bagaimana?" Aska sudah menatap ke arah madam Zenith dengan melipat kedua tangannya. "Apa masih tidak tahu malu ingin memiliki Restu?" Ibu kandung Restu pun terdiam.
"Ketika dia sudah menemukan bahagia, Anda datang dan dengan egoisnya ingin memiliki Restu sepenuhnya. Sedangkan yang susah payah untuk menyelamatkan Restu dari traumanya adalah Bang Rindra dan Mbak Nesha. APA ANDA WARAS?" Aska benar-benar geram. Dia menatap tajam ke arah Zenith Andrea.
"Bukan hanya kedua orang tua angkat Restu yang tidak rela, gua pun gak akan pernah rela Restu lu bawa. Dia permata langka yang kami temukan ditumpukan benda yang kalian buang. Ketika dia sudah seperti ini, Anda malah akan bersikap curang. Kami gak bodoh Madam," tekan Aska.
.
__ADS_1
Di dalam kamar perawatan tinggal tersisa dua orang manusia, Restu dan juga Aleesa. Mereka berdua hanya terdiam. Restu yang duduk di samping ranjang pesakitan Aleesa tak berani menatap wanita yang dia cintai itu.
"Bie--"
"Aku adalah orang yang berbahaya. Aku juga orang yang sudah membuat kamu seperti ini. Apa kamu masih mau denganku?" Pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut Restu. Tidak biasanya dia berkata seperti ini.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Aleesa menatap ke arah Restu yang menunduk.
"Aku seperti biang bahaya untuk kamu," tuturnya begitu lemah.
Aleesa menggenggam tangan Restu dengan begitu erat. Dia mengusap lembut punggung tangan Restu juga.
"Kamu adalah laki-laki hebat. Ketika aku mencintai laki-laki hebat, aku juga harus bisa menjadi wanita hebat." Aleesa berkata seraya tersenyum ceria.
"Apa kamu masih mau bersama aku? Sedangkan jika bersama aku ... kamu pasti akan selalu dihadapkan dengan bahaya yang mengintai." Aleesa menatap Restu dengan begitu dalam.
"Aku mau, Bie. Kita hadapi bersama-sama." Restu pun tersenyum.
"Makasih." Aleesa mengangguk dan memeluk erat tubuh Restu. Namun, ringisan keluar dari mulut Restu ketika Aleesa tak sengaja menyentuh lukanya.
"Maaf." Restu hanya tersenyum dan mengecup kening Aleesa dengan begitu dalam.
Deheman seseorang membuat kedua insan itu seperti terciduk satpol PP. Tatapan tajam Aksa berikan.
"Bahaya nih kalau ditinggalin berdua doang mah," omel Aksara.
"Kayak gak pernah muda aja, Bang." Iyan menimpali. Aksa pun berdecak kesal. Pada nyatanya Kelakuannya tak jauh beda dengan Restu ketika pacaran dulu.
Ponsel Aksa berdering, dahinya mengkerut ketika melihat nomor dari pihak kepolisian yang menghubunginya.
"Jordan Genea meninggal."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1