RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 201. Perang Saudara


__ADS_3

Aleesa bingung ketika suaminya minta maaf di depan pusara sang engkong. Dia menatap penuh tanya ke arah sang suami. Aleesa tahu jika suaminya tidak akan pernah tinggal diam. Akan tetapi, dia juga tidak tahu apa yang tengah direncanakan oleh suaminya karena Restu mendadak tertutup.


"Aku 'kan sudah janji kepada Engkong akan menjaga Aleesa dari orang-orang jahat. Aku akan melakukan ini, Kong. Maaf, kalau aku kembali membuka aib masa lalu." Restu menunduk sebentar menandakan dia meminta maaf dengan tulus.


Bukan hanya ke makam sang engkong, Restu pun mengajak Aleesa ke makan Addhitama. Lagi-lagi dia meminta maaf di depan pusara sang kakek. Aleesa semakin dibuat bingung.


"Sudah waktunya semua orang tahu, Kek. Jika, aku yang diusik, aku tak masalah, tapi jika sudah membawa istriku aku tidak akan pernah tinggal diam."


"Apa sih Bie yang kamu rencanakan? Hingga kamu meminta maaf kepada Engkong dan juga Opa?" tanya Aleesa di dalam hati.


Selesai dari pusara Addhitama, Restu tak mengeluarkan suara. Dia menggenggam erat tangan Aleesa dan membawanya menuju mobil.


"Bie--"


"Jawabannya setelah pesawat kita take off." Dahi Aleesa mngekerut dengan kedua alis menukik dengan tajam.


"Take off?" Restu hanya mengangguk. Dia tidak menjelaskan apapun. Dia memilih untuk menutup mulutnya dan memilih bersandar di bahu Aleesa tanpa suara. Aleesa hanya menghela napas kasar.


Ketika di Bandara pun tidak ada obrolan berarti antara Rio dan Restu. Aleesa semakin dibuat bingung. Namun, dia tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aleesa.


.


Kabar Restu dan Aleesa pergi ke Zurich sudah menjadi berita terhangat. Para pewarta berita sudah menaikkan berita tersebut. Apalagi ada foto di mana Restu dan Aleesa tengah di bandara.

__ADS_1


Belum lima menit berita itu naik. Video mobil bergoyang beredar. Di mana terlihat jelas siapa pelakon di dalamnya. Media pun dibuat gempar. Begitu juga dengan si pelakon yang sudah tak bisa berkata.


Pengacara Satria pun menatap ke arah Satria yang membeku. Begitu juga dengan Kalfa. Satria tak bisa berkutik.


"Itu berita benar atau enggak?" tanya Kalfa. Lagi-lagi Satria terdiam tak bisa menjawab.


"Pih--"


"Kita ke rumah Riana dan Iyan."


Riana dan Iyan adalah anak yang terlahir dari rahim wanita yang bersama dirinya di dalam mobil. Jika, Satria menunjukkan video lawas dirinya dengan ibu mereka, sudah pasti kedua anak dari Rion Juanda dan Amanda itu akan murka karena Restu telah membuka aib ibunya yang sudah meninggal. Satria bisa memanfaatkan kesempatan tersebut.


Radit melebarkan mata ketika melihat video yang media angkat tentang Satria dengan ibu sambung sang istri. Radit benar-benar tidak menyangka. Bukan hanya Radit, Rindra pun sangat terkejut.


Aksa pun melebarkan mata melihat berita yang ada siang ini. Pikirannya kini tertuju pada Riana dan Iyan.


"Kenapa mengungkit masa lalu?" Aksa berpikir dengan keras dengan apa yang Restu lakukan.


Di pesawat Rio sudah menunjukkan berita yang sedang trending. Restu hanya menyunggingkan senyum kecil.


"Lu udah pikirin konsekuensinya 'kan." Restu mengangguk.


"InI bisa menyebabkan perang saudara." Lagi-lagi Restu hanya tersenyum.

__ADS_1


.


Riana dikejutkan dengan kehadiran Satria di rumahnya. Dia menukikkan kedua alisnya karena Satria datang tidak sendiri. Bersama Kalfa dan juga seorang pengacara.


"Jangan takut, Riana." Satria sudah membuka suara "Saya ke sini hendak menunjukkan sesuatu kepada kamu."


Berita tentang video bergoyang dia tunjukkan kepada Riana. Terlihat mata Riana sudah berair.


"Lihat, bisa-bisanya keponakan kamu ini membuka aib ibu kamu yang sudah meninggal." Satria mulai mengompori. Sedangkan Riana hanya terdiam dengan air mata yang sudah menetes. Satria pun tersenyum merasa menang.


"Kalau kamu tidak suka dengan tindakan Restu, saya bisa bantu kamu untuk menuntut dia."


Riana mulai menatap ke arah Satria. Wajah sedihnya sangat kentara.


"Benarkan Om mau membantu?" Satria mengangguk dengan cepat.


"Tentu. Kita akan hancurkan Restu bersama-sama." Riana tersenyum mendengarnya.


"Bisakah sekarang Om pergi dari rumah aku? Wajah Om buat aku MUAK dan kembali mengingat pengkhianatan yang sudah kalian lakukan kepada ayahku juga aku dan Iyan. Sekarang, silahkan Om pergi dari sini. PERGI!"


...***To Be Continue***...


Komen dong...

__ADS_1


__ADS_2