RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 29. Mengkhianati


__ADS_3

Setelah Askara pergi, tuan Michael segera menghubungi Rindra Addhitama. Perihal AdT corp. Rindra lah yang paling berkuasa.


"Maafkan saya, Pak Rindra." Rindra hanya tertawa.


"Kenapa Anda meminta maaf kepada saya? Saya tidak punya wewenang, tapi saya punya kewajiban untuk melindungi keponakan saya." Mulut Rindra tak kalah berbisa dari Raditya.


"Maka dari itu, saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu. Grace tidak--"


"Jangan menjelaskan perihal itu karena saya sudah tahu semua," potongnya. Tuan Michael semakin dibuat sport jantung oleh perkataan Rindra.


"Kalau saya sih bahagia melihat putri Anda bertunangan dengan kekasih keponakan saya. Saya sudah punya calon yang sepadan untuk keponakan saya. Ambillah barang bekas yang masih layak pakai dari keponakan saya. Biarkan keponakan saya mendapat barang baru yang berkualitas tinggi."


Tuan Michael tak bisa menjawab apapun. Dia mati kutu karena dia merasa tertipu oleh Grace.


Raditya Addhitama bukannya diam saja. Dia banyak memikirkan perihal aspek negatif atas tindakan emosinya. Dia tidak ingin nantinya berdampak pada psikis Yansen dan juga Aleesa. Itulah tanda sayang dari seorang ayah untuk putrinya.


Namun, lama kelamaan pun dia semakin geram dan muncullah kata-kata yang pastinya akan membuat Grace semakin ketakutan. Kalimat yang sangat menusuk ke jantung itu Radit lontarkan ketika di perjalanan menuju apartment Restu.


"Aleesa adalah alasan terkuatku untuk tetap hidup. Aku ingin Aleesa juga menjadikanku alasan yang kuat untuknya tetap sehat dan sembuh karena aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya."


Ada bulir bening yang menetes dari pelupuk mata seorang perempuan. Dia yang terbangun, dan hendak menghampiri mereka yang ada di ruang tamu. Namun, mendengar semua itu dia malah membeku. Tubuhnya sulit digerakkan. Ucapan yang penuh keyakinan dan juga ketegasan yang tak pernah dia sangka sebelumnya.


"Tante titip Aleesa, ya. Jaga dia dan buatlah dia bahagia terus. Gunakan waktu sebaik mungkin karena lima hari lagi kami akan kembali ke Indonesia." Restu mengangguk dengan sangat yakin.


Keluarga Aleesa tidak lama di sana. Mereka segera pulang karena tidak mau mengganggu Aleesa. Restu menghembuskan napas berat. Dia memejamkan matanya yang teramat pusing.


Restu masuk ke kamar dan dia melihat Aleesa sudah terduduk di tepian tempat tidur. Restu sedikit terkejut.


"Sa." Aleesa pun menoleh. Matanya sudah nanar dan membuat Restu segera menghampiri Aleesa. Bersimpuh di depannya.


"Kenapa terbangun?" Restu sudah menggenggam tangan Aleesa. Tidak ada jawaban darinya. Hanya tatapan sendu yang Aleesa berikan.


"Kenapa, my Lovely?" Restu menatap dalam wajah Aleesa yang masih terlihat sembab.


"Kenapa Kakak melakukan ini?" Dahi Restu mengkerut ketika mendengar ucapan Aleesa. "Masih banyak perempuan lain yang lebih cantik juga sempurna dari aku. Perempuan yang tidak akan menyusahkan Kakak."


Restu hanya tersenyum mendengarnya. Dia mengusap lembut punggung tangan Aleesa dengan Mata yang masih menatap ke arah Aleesa.

__ADS_1


"Aku melakukan itu karena aku cinta sama kamu. Ketika aku sudah cinta sama seseorang apapun akan aku lakukan. Orang lain saja aku jaga dengan ketat. Apalagi perempuan yang aku sayang."


"Tapi--"


Restu membungkam mulut Aleesa dengan mencium punggung tangan perempuan yang dia sayangi. Kecupan yang begitu lembut dan lama.


"Kamu telah menjadi alasan terkuat ku, dan aku harap kamu juga akan menjadikanku alasan terkuatmu untuk fight. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Aleesa."


Lelehan air mata kini membasahi wajah Aleesa. Sungguh dia mendengar ucapan yang begitu tulus dari seorang Restu Ranendra. Pria itupun segera memeluknya.


"Lepaskan sedihmu. Kubur masa lalumu dan ukirlah kenangan bersamaku. Aku janji, aku menorehkan tinta kebahagiaan untuk kamu."


Sangat manis sekali ucapan dari Restu ini membuat Aleesa semakin erat memeluk tubuh Restu Ranendra. Dekapan hangat Restu membuat Aleesa merasa terlindungi. Namun, suara ponsel Restu membuat dekapan itu mulai mengendur. Aleesa pun harus tahu diri dan mulai menjauhi Restu. Akan tetapi, Restu menarik tangan Aleesa hingga dia terjatuh di dada bidang pria yang mencintainya itu.


"Sebentar, ya." Restu sama sekali tidak menjauh dari Aleesa. Dia berbicara tanpa melepaskan dekapannya. Sungguh Aleesa merasa sangat nyaman saat ini. Beda dengan Yansen jika ada telepon pasti akan menjauh dari Aleesa.


"Iya, Madam. Sekarang saya sedang bersama wanita yang sedang saya perjuangkan."


Deg.


Aleesa mendongak menatap Restu dengan penuh tanya. Dia bingung sedang berbicara dengan siapa Pria yang tengah mendekapnya itu? Bahasanya bahasa Indonesia. Bukannya menjawab, Restu malah mengecup kening Aleesa.


"Dia bos aku sekarang. Dia juga yang ngasih ijin untuk mengejar perempuan yang sedang aku perjuangkan." Aleesa masih membeku. Antara percaya dan tidak. Dia benar-benar tidak menyangka.


"Aku tidak menuntut jawaban dari kamu sekarang. Aku tahu diri, sekarang ini aku hanya sebatas selingkuhan kamu, tapi aku yakin esok atau lusa kamulah yang akan menjadi kekasih sungguhan aku."


Hanya Restu yang bahagia menjadi seorang selingkuhan. Dia malah bangga. Aleesa masih terdiam dan membuat Restu semakin menarik tubuh Aleesa ke dalam dekapannya.


"Aku ingin kamu sembuh dulu, terlepas dari masa lalu. Barulah memikirkan jawaban atas keseriusanku."


"Kalau aku nolak?" Aleesa sudah membuka suara dengan pelan.


"Aku akan terus berjuang hingga titik darah penghabisan." Aleesa malah tersenyum. Tangannya semakin erat membalas pelukan Restu.


"Maaf, selalu merepotkan."


"Tidak ada yang direpotkan. Aku malah bahagia karena aku bisa dekat terus sama kamu."

__ADS_1


Keesokan paginya, Restu tersenyum ketika Aleesa masih tidur dengan damainya di tempat tidur miliknya. Sedangkan dia tidur di ruang tamu. Ritual Restu di pagi hari yakni membuka balkon dan menikmati udara pagi Kota Zurich dengan secangkir kopi panas dan rokok. Itulah cara Restu untuk menikmati hidup. Sampai sekarang rokok masih menjadi sahabat sejatinya.


Kepulan asap rokok sudah terbang ke udara. Wajah bantalnya masih terlihat jelas. Namun, tetap saja dia masih terlihat sangat tampan.



Aleesa mulai mengerjapkan matanya. Beranjak dari tempat tidur dan mulai mencari sang pemilik unit apartment. Namun, orang yang dia cari tidak ada.


"Ke mana dia?" Aleesa kembali ke kamarnya, dan dia melihat gorden yang menutup pintu menuju balkon sedikit terbuka.


Langkahnya menuju balkon dan benar pria yang dia cari sedang berdiri di sana. Senyum pun terukir di wajah Aleesa. Perlahan dia membuka pintu balkon tersebut.


"Kak," panggil Aleesa.


Restu menoleh dengan rokok di tangannya. Kepulan asap rokok itupun baru saja dia keluarkan. Tanpa ragu Restu mematikan puntung rokok tersebut dan membuangnya.


"Loh? Kenapa dibuang? Sayang 'kan masih panjang," ucap perempuan yang sudah mendekat ke arahnya.


"Kenapa kamu gak marah?" tanya Restu kepada Aleesa yang sudah berada di sampingnya. Aleesa yang tengah menatap keindahan Kota Zurich pun menoleh.


"Kenapa harus marah?" Dahi Restu mengkerut mendengar jawaban dari Aleesa. Padahal, perempuan yang kini sedang dia tatap sangat tidak suka jika dia merokok.


"Kamu 'kan paling benci kalau aku ngerokok," jawab Restu.


"Kamu aja bisa menerima kekurangan aku. Masa aku gak bisa menerima kekurangan kamu. Toh, aku juga tidak memaksa kamu untuk berhenti merokok, tapi aku akan menjadi alarm pengingat jika kamu sudah melewati batas."


Restu tersenyum dan semakin menatap dalam wajah Aleesa yang sangat cantik ketika bangun tidur.


"Manggilnaya udah aku kamu sekarang," goda Restu. Aleesa pun tertawa.


"Sah dong," lanjut Restu lagi. Kini, dia sudah menggenggam kedua tangan Aleesa dengan posisi saling berhadapan.


"Bukannya semenjak di Swiss aku sudah menjadi milik kamu." Tawa pun keluar dari mulut Restu.


"Iya, ya. Malah aku yang mencuri first kiss kamu." Aleesa cemberut dan membuat Restu semakin gemas. Dia memeluk tubuh Aleesa dengan begitu erat dan dibalas oleh Aleesa.


"Jahat banget aku, sudah mengkhianati Sensen di belakangnya."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Coba atuh komennya nyampe 100 gitu. Pasti makin semangat.


__ADS_2