
Di malam yang sama ketika kebakaran terjadi, di lain negara ada pertikaian kecil antara Restu dan Aleesa. Aleesa sudah menatap tajam ke arah Restu. Ketika Restu kembali ke resort, Aleesa sudah melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan tajam. Nyali Restu pun tiba-tiba ciut.
"Kok, kamu--"
"Dari mana?" Pertanyaan yang penuh dengan penekanan.
"Nyari angin."
Aleesa mendekat ke arah Restu dan menelisik wajah kekasihnya itu dengan seksama.
"Kenapa sih, Lovely?" Restu ingin menarik tangan Aleesa, tapi Aleesa semakin mundur. Restu tahu kekasihnya ini sedang merajuk.
"Aku hanya cari angin," ulang Restu.
"Bohong!" Suara Aleesa sedikit meninggi.
Aleesa mendekat ke arah Restu dan menarik tangan kanan pria yang masih mengenakan jaket hitam itu.
"Ini apa?" Aleesa menunjuk ke arah punggung jari tangan Restu yang mengeluarkan darah. Restu pun terdiam.
"Jawab aku, Kak!" pinta Aleesa. "Aku gak ingin Kakak menjadi orang kejam. Aku gak ingin Kakak menjadi seorang pembunuh." Suara Aleesa sudah mulai melemah. Kepalanya pun menunduk dalam.
"Sa," panggil Restu. Dia mencoba untuk mendekat. Namun, Aleesa mundur kembali.
"Aku gak akan mau dekat Kakak sebelum Kakak bicara yang sebenarnya. Apa yang sudah Kakak lakukan?" tanya Aleesa lagi.
"Air mata harus dibalas dengan air mata 'kan."
Kepala Aleesa pun seketika menegak. Dia menatap ke arah Restu dengan penuh tanya.
"Maksudnya?"
"Kamu kemarin bilang 'kan, kalau kamu merasa ada orang yang terus memperhatikan kita." Aleesa pun mengangguk. "Aku habis menghajar orang itu karena dia disuruh untuk memata-matai kamu."
"Siapa yang menyuruhnya?"
"Yang jelas orang yang tidak menyukai kamu." Restu tidak akan memberitahukan siapa dalang dari semuanya.
Aleesa kini terdiam. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Padahal dia tidak pernah membuat masalah kepada orang lain, tapi kenapa orang lain senang sekali membuat masalah kepadanya. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aleesa. Restu mulai mendekat dan merengkuh pinggang sang kekasih. Aleesa pun menoleh kepada Restu yang sudah dekat dengannya.
"Salahku apa? Kenapa mereka tidak menyukaiku? Perasaan aku tidak pernah punya masalah kepada siapapun."
Restu tersenyum dan mengusap lembut rambut Aleesa. "Jangan dipikirkan. Selagi ada aku di samping kamu, kamu tidak perlu takut." Aleesa tersenyum dan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Restu.
Baru saja bermesraan, dering telepon terdengar dan membuat Restu berdecak kesal.
"Siapa sih telepon malam-malam," omelnya. Tangannya sudah merogoh saku celana di mana ponselnya berada. Seketika wajahnya menegang ketika melihat nama si pemanggil.
"Siapa?" Aleesa mulai kepo dan dia mencoba melihat ke arah layar ponsel Restu. Seketika kedua alisnya menukik dengan tajam.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu ngesave nomor cewek?" Nada tidak suka sudah terdengar jelas.
"Ini cem-cemannnya Rio." Aleesa nampak tidak percaya. Wajahnya kembali ditekuk dan membuat Restu takut.
"Lovely," panggil Restu. Seorang brandal takut ketika kekasihnya merajuk.
"Angkat! Terus loudspeaker." Restu jadi anak kucing ketika bersama Aleesa. Dia pun menuruti perintah Aleesa.
"Ayang Restu!"
Mata Aleesa hampir keluar dari tempatnya. Sedangkan Restu sudah tak berkutik. Ingin rasanya Aleesa membanting ponsel sang kekasih. Apalagi ucapan wanita yang ada di balik panggilan itu sangat manja.
"Aku senang deh karena telepon aku kali ini dijawab sama kamu."
Dada Aleesa sudah turun-naik, dan dia memutuskan untuk kembali ke kamar dengan menghentakkan kaki. Serta membanting pintu dengan keras membuat Restu terlonjak.
"Cewek si alan!" pekik Restu kepada wanita yang menghubunginya tersebut. Restu segera mengakhiri panggilannya dan mengetuk pintu kamar Aleesa.
"Lovely, buka pintunya." Restu terus memohon. Namun, Aleesa tak kunjung membukakannya.
Di dalam kamar, Aleesa merasa aneh karena baru kali ini dia merasakan cemburu yang luar biasa. Ketika bersama Yansen dia tidak seperti ini. Malah cenderung membebaskan Yansen. Namun, kali ini terasa berbeda.
"Ayang, ayang. Palanya peyang," ocehnya. Aleesa sangat tidak suka dengan perkataan wanita tadi yang menghubungi Restu.
"Sejak kapan sih tuh brandal nyimpen nomor cewek?" Lagi-lagi Aleesa mendumal. Dia tidak menyangka ternyata brandal yang dia sayang genit juga.
"Tahu lah!" Aleesa memilih untuk merebahkan tubuhnya. Dadanya masih menyimpan marah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Jangan peluk-peluk!" Aleesa mencoba melepaskan tangan kekar tersebut. Namun, tidak mampu. Aleesa melupakan sesuatu jikalau kekasihnya itu memiliki ilmu maling.
"Lepas!" Aleesa memberontak.
"Enggak, Lovely." Restu semakin erat memeluk tubub Aleesa dari belakang. Wajahnya pun dia letakkan di tebgjut leher Aleesa.
"Aku gak akan melepaskan kamu sampai kamu gak marah sama aku."
"Cewek mana yang gak marah cowoknya dipanggil ayang sama cewek lain." Restu malah tertawa mendengar Aleesa mengoceh, dan dia mulai membalikkan tubuh Aleesa dengan paksa. Hingga akhirnya mereka berdua saling tatap.
"Kamu cemburu?"
"Menurut kamu?" Aleesa masih sangat ketus.
"Cewek itu adalah cewek yang disukai sama Rio, tapi si ceweknya suka sama aku dari zaman SMA sampai sekarang. Akunya sama sekali gak suka karena aku lebih suka godain kamu." Tidak ada kata dusta yang terlontar dari mulut Restu. Aleesa pun dapat merasakannya.
Restu memberikan ponselnya kepada Aleesa. "Silahkan kamu hapus kontak wanita tadi. Aku tidak akan menghapus atau memblokirnya, kecuali kamu yang menghapus juga memblokir kontak itu untuk aku."
Betapa manisnya perlakuan Restu kali ini. Sungguh membuat Aleesa tidak bisa marah kepada pria yang masih memeluknya. Rasa cemburu masih bersarang di dada membuat Aleesa segera mencari kontak tadi. Sebelum dia menghapusnya, Aleesa mengirimkan pesan kepada nomor tersebut.
"JANGAN GANGGU SUAMI SAYA!!" Setelah centang dua dan berwarna biru barulah Aleesa memblokir nomor tersebut.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Restu ketika Aleesa menyerahkan ponselnya. Sang kekasih pun hanya mengangguk.
"Suka deh kalau kamu cemburu begini," ujar Restu yang sudah membenarkan rambut Aleesa. "Itu tandanya kamu beneran sayang sama aku." Aleesa masih terdiam dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kenapa lagi? Hm?" Tangan Restu sudah membelai wajah Aleesa yang begitu cantik.
"Jangan ikut pergi ke Jerman." Kalimat yang tiba-tiba keluar dari mulut Aleesa.
"Enggak, Lovely. Aku tidak ikut, hanya Philip dan Gemke yang pergi bersama Madam." Aleesa memeluk erat tubuh Restu. Perasaannya mulai tidak enak.
Hingga pagi menjelang pun Aleesa masih memeluk tubuh Restu. Sedangkan Restu tengah asyik membaca buku dengan tangan kirinya membelai rambut Aleesa.
"Seriusan gak mau ke mana-mana?" Aleesa menggeleng. Dia aduan merebahkan kepalanya di dada bidang Restu. Sedari semalam, perasaannya semakin tak karuhan.
"Kenapa?" tanya Restu. Lagi-lagi Aleesa menggeleng.
"Jawab, dong," pinta Restu. Dia sudah meletakkan bukunya dan menatap ke arah Aleesa.
Baru saja Aleesa hendak menjawab, ponsel Restu berdering dan membuatnya harus menjawab panggilan tersebut. Restu menunjukkan nama si pemanggil kepada Aleesa, dan dia pun sama sekali tidak beranjak dari samping Aleesa.
Tubuh Restu membeku ketika mendengar laporan dari anak buahnya. Mulutnya tiba-tiba kelu. Aleesa menatap bingung ke arah Restu.
"Bukannya kalian berangkat besok?"
....
"Baiklah, saya ke Jerman sekarang."
Aleesa terkejut dengan ucapan dari Restu. Dia mulai mendudukkan tubuhnya dan menatap Restu dengan tatapan bingung.
"Kita pulang sekarang, ya. Aku harus ke Jerman."
"Tapi, Kak--"
"Philip kecelakaan dan meninggal di tempat."
Mata Aleesa berair dan ternyata penglihatannya benar. Hantaman keras, tabrakan beruntun dan percikan api.
"Untungnya Madam selamat."
"Harusnya Kakak yang ada di mobil itu 'kan. Itu adalah mobil yang selalu Kakak bawa." Aleesa sudah mulai membuka suara. Restu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa.
"Apa ini alasan kamu melarang aku pergi?" Aleesa mengangguk dengan air mata yang sudah terjatuh.
Restu berhambur memeluk Aleesa. "Makasih, Sa. Kamu udah menyelamatkan hidup aku."
"Tetaplah hidup dan menemani aku. Kembalilah dengan keadaan selamat dan jangan pernah buat aku cemas."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...