RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 132. Maafkan Yaya


__ADS_3

Ketika sang ayah pergi, Aleeya hanya sendirian makan malam di ruang makan. Sang Ibu tidak keluar kamar sama sekali sedari tadi. ibundanya tidak pernah menampakan diri hanya keluar ketika sang ayah ada di rumah. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam kamar.


rasa bersalah sudah bersarang di hati Aleeya. Dia sudah membuat ibunya sedih. Dia sudah membuat ibunya menangis karena sikapnya. Dia sangat menyesal Dia adalah anak durhaka sekarang. Mencoba untuk berbicara dengan sang Kakak, yakni Aleesa, tapi Aleesa seakan m menghindar darinya sedari pagi. Berbicara dengan Aleena dia tidak mau dia masih gengsi. Dia hanya bisa merenungi kesalahannya sendiri.


Pesan dari sang paman yang membuat dia merasa sangat bersalah tak terkira. Iyan terus mengingatkan jika Aleeya harus meminta maaf kepada sang ibu. Kalau bisa dia harus mencuci kaki ibunya sendiri sebagai permohonan maaf atas segala kesalahannya. Apalagi hingga membuat sang ibu menangis. Setetes air mata yang membasahi pipi seorang ibu itu akan menjadi penutup segala jalan jika tidak langsung meminta ampunan kepada wanita yang dimuliakan derajatnya oleh Tuhan .


Aleeya hanya memandangi makanan yang ada di atas meja. Dia pun memilih untuk menghampiri sang ibu di dalam kamar. Mengetuk pintu dan segera masuk walaupun tidak ada jawaban dari dalam. Sang ibu duduk di tepian tempat tidur dengan kepala yang menunduk itu membuat hati Aleeya menangis dengan keras. Air matanya luruh seketika membasahi wajahnya. Dia berlari memeluk sang ibu. Dia bersimpuh di hadapan sang bunda.


"Maafkan Yaya, Bu." Begitu lirih ucapan dari seorang Aleeya Addhtama. "Maaf sudah buat Bubu menangis," lanjutnya lagi. Dia pun menangis, tubuhnya


bergetar. Penyesalan sangat terlihat begitu jelas.


"Yaya salah, Bu." Itulah yang Aleeya katakan. Dia masih menunduk dengan air mata yang terus menetes. Begitu juga dengan Echa, ibunda dari Aleeya. Dia tak kuasa menahan tangis. Dia tak kuasa menahan sedih. Dia berharap anak-anaknya akan selalu akur, tapi kenyataannya semakin dewasa mereka semakin jauh. Kini, mereka malah saling beradu argumen dan penyebabnya karena satu laki-laki yang tidak tahu hatinya untuk siapa. Laki-laki yang plin plan.


"Maafkan Yaya, Bu. Yaya tahu Yaya salah. Yaya udah ngeyel. Maafkan Yaya." Ribuan kata maaf sudah keluar dari mulut Aleeya menandakan dia benar-benar menyesal.


Sesakit hati sesakit apapun hati seorang ibu jika anaknya meminta maaf pasti akan dibukakan maaf yang begitu lebar. Sama halnya dengan Echa. Tangannya sudah mengusap rambut dari Aleeya yang tengah menunduk sambil bersimpuh di pangkuannya. Dia tidak tega. Dia tahu Aleeya seperti ini pun karena ada sebuah kesalahan yang dia dan Radit perbuat. Tidak Sepenuhnya dia menyalahkan Aleeya. Pasti dia juga memiliki kesalahan yang mengakibatkan seperti ini. Sama-sama interospeksi diri. Itulah yang Echa dan Radit dilakukan. Mereka tidak ingin egois karena di usia Aleeya, Aleena dan Aleesa sekarang adalah usia di mana mereka tengah menggebu-gebu dalam menjalani suatu hal. Mereka harus tetap mendampingi ketiga anak mereka agar tidak kebablasan dan salah jalan.

__ADS_1


"Minta maaflah kepada kakakmu karena dia yang sudah menanggung sedih yang lebih dari dua tahun dipikul sendirian. Aleena yang terus berjuang untuk membuat kamu bahagia. Walaupun dia harus mengorbankan kebahagiaannya. Dialah yang tersiksa karena sikap kamu. Dialah yang selama ini menahan tangis agar kita semua tidak melihat betapa rapuhnya dia. Minta maaflah kepada kakak kamu sebelum semuanya terlambat."


"Iya, Bu. Yaya akan minta maaf sama kakak Na. Yaya emang salah. Yaya terlalu bodoh," sesalnya.


"Kamu boleh jatuh cinta Bubu dan Baba tidak melarang, tapi kamu juga harus tahu mana laki-laki mana yang harus kamu cintai dan laki-laki mana yang harus kamu lepaskan. Kamu ingatkan bagaimana pesan Baba." Evja menjeda ucapannya.


"Jangan pernah mencintai laki-laki yang sama karena itu akan membuat hubungan kalian dengan saudara kalian retak dan hancur. Apa yang menjadi ketakutan Baba terjadi. Kalian bertengkar, kalian tidak akur hanya karena satu laki-laki yang tak memiliki kepastian," jelasnya. "Orang tua berbicara seperti ini karena kami sayang kepada kalian bukan kami egois."


"Bubu dan Baba memberikan kebebasan kepada Aleesa karena Baba tahu siapa Restu Ranendra. Baba sangat tahu bagaimana sifat Restu. Bebas bukan berarti tidak diawasi. Aleesa penuh pengawasan. Restu pun sama. Mereka hanya tidak ingin saling jauh tidak karena mereka saling membutuhkan. Tidak ada salahnya sedikit memberikan ruang kebebasan, yang penting masih di bawah pengawasan orang-orang kepercayaan Baba yang tak terlihat."


Aleeya mengikuti saran dari sang paman. Dia mengambil tempat air yang berukuran sedang. Kemudian, membasuh kedua kaki ibundanya, dipikirannya kala itu hanya ada terputar sebuah kenangan. Di Mana dia bersama sang Ibu dan kedua kakaknya. Dimarahi, tertawa dan menangis bersama. Air matanya tak kunjung reda. Dia merasa kesalahannya sudah sangat fatal.


Setelah selesai memasbuhnkaki sang ibu, Aleeya mulai menatap dalam wajah sang ibu. Dia tersenyum. Dia meraih tangan ibunya. Kemudian, menciumnya dengan begitu dalam.


"Maafkan Yaya, Bu. Yaya sayang Bubu." Sebuah pelukan hangat Aleeya berikan untuk sang ibu. Echa membalasnya dengan memberikan sebuah kecupan hangat di kening Aleeya dengan begitu dalam dan penuh cinta.


"Kembalilah menjadi putri Bubu. Jangan biarkan Bubu dan Baba kehilangan Putri kami. Putri yang tidak kami kenali." Aleeya mengangguk dengan air mata yang menetes untuk kesekian kalinya

__ADS_1


Ketika Radit dan Aleesa tiba di rumah, mereka berdua terkejut ketika melihat sang Ibu dan juga Aleeya berwajah sembab dengan mata yang bengkak.


"Kenapa?" Mereka berdua bertanya dengan begitu kompak.


Tidak ada jawaban, hanya senyum manis yang mereka Echa dan Aleeya berikan. Radit dan Aleesa menghampiri mereka. Aleeya berhambur memeluk tubuh Sang kakak. Itu membuat Aleesa sedikit terkejut.


"Maafkan Yaya, Kak," ucapnya dengan begitu lembut dan lirih. Juga begitu serius. Aleesa yang awalnya terkejut kini membalas pelukan dari Aleeya. Bagaimanapun ikatan batin mereka sangatlah kuat. Mereka bertiga tidak bisa dipisahkan.


"Yaya salah. Yaya memang egois. Yaya emang be-go," kata Aleeya dengan penuh penyesalan. "Harusnya Yaya milijh keluarga bukan orang yang ingin merusak keluarga. Aleesa pun tersenyum. Dia hanya bisa mengusap lembut rambut Aleeya.


Radit menatap ke arah sang istri yang sudah dia rangkul. Echa hanya tersenyum dan senyum itu menular kepadanya.


"Baba dan Bubu itu tidak meminta banyak kepada kalian. Baba dan Bubu hanya ingin kalian tetap rukun, tetap akur satu sama lain. Kalian bersaudara tidak boleh terpecah oleh apapun. Jika, ada hal negatif yang membuat kalian bertengkar, jauhilah. Banyak hal-hal positif yang bisa menyatukan kalian lebih dekat lagi. Kalian bertiga adalah saudara. Ingatlah, ketika salah satu di antara kalian yang terjatuh, pasti saudara kalianlah yang akan mengulurkan tangan pertama. Saudara kalianlah yang akan membantu tanpa diminta dan tanpa syarat. Jadi, terus sayang menyayangilah juga saling mengasihi satu sama lain. Kekompakan kalian adalah kebahagiaan untuk kami berdua.*


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2