RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
221. Itu Lebih Bagus


__ADS_3

Aksa, Aska, Iyan, yang memang sedang berkumpul di rumah Radit menukikkan alis mereka karena membaca pesan dari Restu.


"Berarti nih anak emang udah ada di sini." Aksa sudah membuka suara.


"Petugas gak bohong," timpal Aska.


Radit segera menghubungi sang Abang. RIndra membenarkan jikalau Restu dan Aleesa sedang berada di rumahnya.


"Ba."


Suara Restu kini terdengar.


"Jangan bahas perihal surat panggilan dari kepolisian, ya. Aku gak mau Aleesa sedih."


"Iya."


Radit menghela napas lega. Ternyata dia sepemikiran dengan Restu. Dia tidak ingin melihat Aleesa sedih.


.


"Bie."


Aleesa menghampiri ketiga pria yang tengah ada di halaman samping. Dia terbatuk dan membuat Restu segera mematikan bara api yang ada pada rokoknya. Diikuti oleh Rindra dan Rio.


"Kenapa ke sini?"


Aleesa sudah menutup hidungnya dan duduk di samping sang suami. Dia mengeluarkan permen untuk suaminya. Peraturan Aleesa untuk Restu, yakni boleh merokok, tapi setelahnya makan permen. Rio dan Rindra mengulum senyum ketika melihat Restu yang begitu menurut kepada Aleesa.


"Mau apa?" Restu mengusap lembut rambut sang istri yang nampak lesu.


Aleesa tidak menjawab. Dia malah melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Rindra menggelengkan kepala melihat tingkah keponakannya.


"Manja banget sih."


"Perasaan Sasa gak karuhan," ujarnya. Dia juga menatap ke arah Restu. Sang suami mencium kening Aleesa dengan begitu lembut.


"Itu hanya perasaan kamu aja, Lovely. Aku baik-baik saja."


Rindra dan Rio saling pandang untuk kesekian kalinya. Feeling Aleesa itu kuat. Jadi, tidak bisa dibohongi.


Tak lama berselang, ketiga paman dan ayah Aleesa datang. Aleesa sedikit terkejut. Sesaat berselang lengkungan senyum terukir di wajahnya dan beralih memeluk tubuh sang ayah.


"Nakal, ya. Pulang gak ngasih tahu Baba." Aleesa hanya tertawa.


Tatapan ketiga paman Aleesa hanya dijawab anggukan kecil oleh Restu. Mereka kompak menghela napas berat.


"Jujur ajalah," celetuk Aska. Semua mata pun melebar. Sedangkan Aleesa menatap bingung ke arah para pria itu.


"Maksudnya apa?" Aleesa sudah menaruh curiga. Biasanya feelingnya tak bisa berdusta.


Semua orang pun terdiam. Aleesa semakin menatap dalam ke arah sang suami. Meminta penjelasan kepadanya.


"Jujurlah! Suami-istri itu harus saling terbuka."

__ADS_1


Aleesa semakin tajam menatap ke arah sang suami. Hingga terdengar helaan napas kasar yang keluar dari mulut Restu.


"Suami kamu mendapat surat panggilan dari pihak kepolisian."


Kalimat Rindra membuat Aleesa terkejut dan tak bisa berkata. Matanya mulai berembun dan itu membuat Restu merasa bersalah. Dia segera menghampiri Aleesa dan memeluknya.


"Aku tidak akan dibui, Lovely. Tidak akan. Percaya sama aku."


Aleesa sama sekali tidak membalas pelukan dari Restu. Dia merasa sangat lelah dengan cobaan yang terus datang menghampiri.


"Kapan ini semua berakhir? Jantung aku tidak aman jika terus-terusan seperti ini." Aleesa mengeluarkan keluhannya.


"Aku janji, ini semua akan berakhir secepatnya."


Restu mencium kening Aleesa untuk kesekian kalinya. Dia juga masih memeluk erat tubuh sang istri tercinta.


Tak lama berselang, Nesha mempersilahkan masuk dua orang yang tidak dia kenal yang mengatakan bahwa mereka dipanggil Restu untuk datang ke rumah ini. Nesha membawa dua orang itu ke halaman samping.


"Res, ada tamu."


Bukan hanya Restu yang menoleh. Semua orang pun ikut menoleh. Mereka memicingkan mata, kecuali Rio dan Aleesa yang sudah tahu siapa mereka.


"Bie--"


"Aku akan menepati janjiku untuk menyelesaikan semuanya." Restu masih memeluk tubuh Aleesa.


Restu belum mau menjelaskan karena masih kurang satu keluarga dari Addhitama, yaitu Rifal. Alhasil, mereka menunggu Rifal datang. Ketika Rifal tiba, dia dikejutkan dengan sudah banyaknya orang di kediaman Rindra.


"Ada apa ini?"


"Maafkan saya."


Ratu menunduk dalam. Dia merasa sudah mencoreng nama baik keluarga Addhitama dengan muncul ke publik.


"Anda tidak salah. Apa yang Anda lakukan itu benar." Rifal menimpali.


Rindra dan Radit tidak terkejut dengan berita ini. Mereka berdua sudah sangat yakin jika bukti yang dibawa Restu valid. Tidak akan Restu mengarang cerita. Satu hal yang menjadi permasalahan, Rifal. Dia tidak akan mudah percaya.


Mereka berdua merasa bersyukur ketika respon Rifal sama dengan mereka. Dia pun tidak memihak kepada siapapun.


"Saya tidak menyangka saja bahwa Om Satria sebejat itu."


Rifal kira kebejatannya hanya dilakukan dengan ibu sambung dari sang adik ipar. Ternyata ada wanita lain yang Om-nya permainkan dan menghasilkan anak, yakni Kalfa. Padahal mereka bertiga percaya saja.jika Kalfa adalah anak jalanan yang dipungut oleh Satria. Nyatanya, anak itu adalah anak biologis Satria dengan Ratu Karina.


"Sudah saatnya dunia tahu tentang yang sebenarnya." Restu seakan meminta ijin kepada keluarga dari pihak sang papih dan mertuanya.


"Aku juga lelah terus-terusan difitnah."


Dua anak Addhitama malah menatap ke arah Rifal yang sedari tadi hanya terdiam. Cukup lama dia tidak menjawab hingga dia mengangguk pelan.


"Apa masih banyak bukti kejahatannya?" Rifal sedikit penasaran.


"Om lihat aja nanti. Siapkan jantung aja."

__ADS_1


.


Kalfa, dia masih berdiam di pusara sang ibu yang telah merawatnya dari bayi. Ketika dewasa dia mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan. Sebuah kebohongan yang dia terima dari ayah kandungnya sendiri.


"Bu, aku ini anak siapa? Aku tak mengerti dengan drama ini," keluhnya. "Lebih baik Ibu jemput aku saja agar aku bebas dari kenyataan pahit ini."


Hati anak mana yang tidak akan sakit ketika orang yang dia anggap pahlawan dan panutan ternyata hanya pembohong besar. Mengangkatnya sebagai anak ternyata dia adalah anak kandungnya sendiri. Sangat jahat dan Kalfa tidak habis fikir ada manusia seperti itu di dunia ini.


Dia belum beranjak dari pusara sang ibu yang sudah tidak terawat. Dia masih betah duduk di sana hingga malam tiba. Tercetus sebuah ide di kepalanya. Dia menghubungi anak buah sang ayah yang kini berkubu kepada Restu.


"Berikan alamat orang yang tadi mengaku ibu kandungku."


.


Restu dan keluarga besar Addhitama beserta Ratu dan Raja tengah membicarakan perihal konferensi pers yang akan Restu adakan.


"Dia sudah memiliki pihak terkait perihal hasil tes DNA yang kamu miliki." Rindra memberitahukan Restu jika Satria selangkah lebih maju dari dirinya.


"Maaf, jika saya memotong." Ratu berbicara dengan sangat sopan.


"Sebelum ke sini ... Kalfa tadi menemui saya dan meminta tes DNA antara saya dan Kalfa."


Restu tersenyum puas. Tanpa dia bertindak, tenyata Kalfa sudah menginginkan terlebih dahulu.


"Dia masih tidak percaya jika saya ini adalah ibu kandungnya." Ada raut kecewa di wajah Ratu.


"Lakukanlah!" Restu menyetujuinya.


"Dia juga meminta jika tes DNA ini tidak diketahui oleh ayahnya."


"Itu lebih bagus." Rindra menimpali.


.


Konferensi pers dilakukan. Namun, Restu mengubah rencana awalnya. Dia tidak akan menaikkan perihal Ratu. Itu tanpa sepengetahuan keluarga Addhitama.


Aleesa tak mau melepaskan pelukannya kepada Restu. Untuk sekarang ini ke manapun Restu pergi, Aleesa pasti ikut. Tentu saja dengan pengawalan sangat ketat agar media tidak bisa meliput istrinya. Ditambah Aleesa akan selalu memakai masker dan topi jika menemani sang suami.


"Aku akan baik-baik saja. Doakan aku, ya." Aleesa mengangguk. Restu mengecup singkat bibir Aleesa sebelum pergi.


"Jaga istri saya."


Keluarga Addhitama dan Wiguna tidak ikut. Mereka hanya memantau di kediaman Rindra Addhitama.


"Gua udah siapin sepuluh pengacara." Aksa sudah membuka suara. "Christian CS akan membacking Restu."


Aksa adalah orang yang sangat gemas. Dia ingin menghancurkan Satria dengan caranya, tapi Restu tidak mengijinkan.


Konferensi pers pun dimulai. Para pria dewasa di sana fokus pada Restu. Mata mereka memicing ketika melihat bukan Ratu yang datang. Melainkan sebuah data yang sudah terpampang nyata. Ketiga anak Addhitama melebarkan mata ketika melihat data yang sekarang sudah ditunjukkan menggunakan proyektor.


"Bukannya itu kerugian perusahaan yang membuat kondisi Papih drop dua hari sebelum Papih meninggal."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2