RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 257. Cerita Berbeda Di Setiap Wisuda


__ADS_3

Di bulan kedelapan, akhirnya Aleesa bisa lulus dengan nilai yang baik. Wajah bahagia sangat terlihat begitu jelas ketika dia sedang didandani oleh MUA yang biasa merias keluarga Wiguna. Tangannya mengusap lembut perutnya yang sudah membesar.


"Makasih ya, Nak. Udah gak rewel nemenin Mami hingga Mami dinyatakan lulus." Kalimat yang begitu tulus yang keluar dari mulut Aleesa.


"Amih!"


Suara sang putra membuat Aleesa menoleh ke arah belakang. Di mana sang putra sudah berjalan cepat dan di belakangnya ada sang suami tercinta.


"Sudah selesai?" tanya Restu.


"Sedikit lagi, Tuan."


Aleesa sudah memeluk tubuh Abang Er. Dia mencium gemas pipi sang putra yang sudah semakin lancar berjalan dan sudah menguasai beberapa kata yang cukup jelas.


"Adek gak nakal 'kan?" Aleesa menggeleng seraya tersenyum. Aleesa memeluk pinggang sang suami.


.


Memakai baju senada dengan sang putra dan juga Restu membuat semua mata tertuju pada mereka bertiga. Ditambah tangan Restu yang terus menggenggam tangan istrinya. Hampir semua mahasiswa di kampus itu tak mengetahui bahwa Aleesa sudah menikah. Mereka terkejut apalagi perut Aleesa yang sudah membesar. Juga anak kecil yang digendong oleh pria yang menggenggam tangannya. Pria yang pernah menjadi trending topik beberapa bulan lalu.

__ADS_1


"Jadi, itu suaminya Aleesa?" Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. Akan tetapi, Restu dan Aleesa tidak mempermasalahkan.


Abang Er sangat anteng bersama sang ayah di kursi tamu. Mereka berdua akan melihat Aleesa memakai baju toga. Di samping mereka ada kedua orang tua Aleesa yang tentunya sudah tersenyum bangga kepada putrinya.


Ketika nama Aleesa Addhitama dipanggil, lengkungan senyum terukir di wajah Restu dan juga kedua orang tuanya. Mereka sangat bangga karena Aleesa benar-benar merealisasikan niatannya untuk lulus kuliah dan wisuda sebelum dia melahirkan.


"Mahasiswi ini sangat luar biasa. Walaupun perutnya membuncit, tapi tetap menyelesaikan skripsinya dengan sangat baik. Saya benar-benar bangga."


Rektor universitas di mana Aleesa menimba ilmu memuji Aleesa dengan begitu tulus. Radit tersenyum sangat lebar dan sangat bangga kepada anak keduanya itu. Echa sudah menyeka ujung matanya karena dia juga tak kalah bangga kepada putrinya itu.


"Kita tidak meminta apa-apa dari anak-anak, melihat seperti ini saja sudah membuat kita sangat bahagia," ujar Echa dengan begitu haru. Radit merangkul pundak sang istri dan setuju dengan ucapan sang istri.


"Itulah alasan kenapa Bubu mementingkan sekolah daripada yang lain. Bubu sangat yakin jika Ayah, Papah Gi, Mamah, Kakek pasti akan sangat bahagia melihat Bubu memakai baju toga apalagi dengan nilai kelulusan yang baik."


"Banyak cerita di setiap acara wisuda," gumam Echa.


Aleesa yang terus melengkungkan senyum ketika menyalami para dosen dan rektor kini malah mematung dengan sorot mata yang berair. Senyum tulus yang mengembang di wajah seseorang yang sudah satu tahun lebih dia rindukan menyapanya.


It’s been a long day without you, my friend

__ADS_1


(Hari-hari terasa lama tanpamu, teman)


And I’ll tell you all about it when I see you again


(Dan kan kuceritakan semuanya saat aku bertemu denganmu lagi)


We’ve come a long way from where we began


(Kami telah datang jauh dari tempat kita mulai)


Oh, I’ll tell you all about it when I see you again


(Oh, kan kuceritakan semuanya saat aku bertemu denganmu lagi)


When I see you again


(Saat aku bertemu denganmu lagi)


"Sensen--"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Kok aku nangis, ya 😭


__ADS_2